PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 155: SANTAI SAJA


__ADS_3

    Usaha Podin untuk membuka toko sembako sudah dimulai. Pembangunan sudah dilakukan oleh pengembang yang dipercaya oleh Cik Melan. Dan pastinya pembangunan toko itu berjalan dengan lancar, yang jelas tidak ada masalah. Tentu karena didukung oleh uang yang dimiliki oleh Podin sangat infinitif. Ya, ibarat kata, uang yang dimiliki oleh Podin tidak ada habisnya. Itu pula yang pernah dicurigai oleh Cik Melan, istrinya yang selalu menggunakan penalarannya.


    "Pah ..., tadi saya ditelepon oleh pihak pengembang, katanya bangunan sudah selesai seratus persen. Seperti biasa, Pah, sesuai kontrak, untuk pembayaran pelunasan kontrak harus segera diberikan." kata Cik Melan pada Podin.


    "Iya ..., Mah ...." jawab Podin santai.


    "Tapi nanti kita masih harus menahan uang jaminan garansi bangunan, Pah .... Setidaknya tiga bulan." kata istrinya lagi, yang menjelaskan kalau pembayarannya masih ada sebagian yang ditahan sebagai jaminan.


    "Iya ..., Mah .... Pokoknya yang ngatur Mamah ...." jawab Podin yang tetap santai.


    "Iih .... Papah kok santai saja, sih ...?!" kata istrinya yang tentunya gemas melihat sikap suaminya yang sangat santai tersebut.


    "Lah, Mah .... Kalau kayak gitu, saya memang pasrah. Tidak sanggup mikir. Yah, maklum, Mah ..., saya agak bodoh kali, ya ....." kata Podin yang tetap saja santai.


    Dengan jawaban Podin seperti itu, tentu Cik Melan maklum. Ya, memang suaminya itu kaya, suaminya itu uangnya banyak, tetapi soal mengelola uang, apalagi bisnis, Podin tidak paham apa-apa. Cik Melan menganggap kalau suaminya itu adalah orang beruntung. Bagaimana tidak, seorang dari kampung, dari desa, tidak bersekolah, dan tentunya juga tidak pandai, namun kenyataannya diberi anugerah pandai mencari uang. Sehingga ia bisa kaya raya. Ya, semua nasib yang menentukan adalah yang maha kuasa. Dan pastinya Podin adalah salah satu orang yang sudah diberi kekayaan secara berlebihan oleh Yang Maha Kuasa.


    "Yah, kalau memang yang harus mikir saya, tidak apa .... Tapi soal keuangan Papah yang ngasih loh, ya ...." sahut Cik Melan yang yang tentunya sambil berkelakar pada suaminya.

__ADS_1


    "Iya, Mah .... Santai saja ...." jawab Podin yang benar-benar santai, seakan tidak ada masalah dengan uang. Sehingga saat istrinya mempersoalkan pembayaran bangunan tokonya, Podin tetap saja santai. Mungkin saja uang Podin masih segudang.


    "Maksud saya ..., bangunan kita sudah selesai, Pah .... Berarti, sebentar lagi kalau bangunan itu diserahkan kepada kita oleh pemborong itu, kita siap-siap belanja barang .... Kita mau mengisi toko itu, Pah .... Pastinya, kita juga butuh modal lagi, Pah .... Untuk belanja semua perlengkapan, semua bahan, dan semua barang yang akan kita jual di toko itu. Istilahnya kulakan .... Dan itu modalnya juga besar, Pah ...." kata Cik Melan kepada Podin, yang tentunya ia juga menyampaikan kebutuhannya.


    Memang, dalam membuka usaha toko itu tidak hanya dibutuhkan membangun tokonya saja, membangun gedung saja, menyediakan tempat saja, tetapi dalam membuka toko, selain tempat, selain gedung yang akan digunakan untuk berjualan, di situ juga harus dilengkapi dengan berbagai rak dagangan, berbagai etalase yang akan digunakan untuk menaruh barang-barang. Itu baru keperluan perlengkapan prasarananya saja. Belum lagi kalau harus mengisi yokonya, mengadakan barang-barang dagangan, barang-barang yang akan dijual di toko itu, pasti harus berbelanja dengan modal yang sangat besar. Katakanlah toko sembako, yang harus dijual itu tidak hanya beras saja, tetapi juga ada minyak goreng, ada bumbu-bumbu dapur, ada gula, ada garam, ada kecap saos, serta ada kebutuhan-kebutuhan sehari-hari lainnya, yang setidaknya pasti membutuhkan modal yang sangat besar untuk berbelanja memenuhi dagangan itu. Dan paling tidak, nantinya, untuk mendatangkan barang-barang yang akan dijual itu, mereka akan membutuhkan uang dalam jumlah yang besar lagi dalam berbelanja.


    "Iya ..., Mah .... Saya tahu itu. Santai saja ...." kata Podin yang tentu juga pernah mengalami hal yang sama saat ia bersama Lesti membuka toko sembako di ruko tempat ia tinggal.


    Meski berkata santai seperti itu, namun pastinya Podin juga sadar bagaimana butuh dana besar untuk mengisi dagangan tokonya. Podin ingat, saat ia dimintai uang oleh Lesti untuk berbelanja mengisi tokonya, ia harus lari ke Jakarta untuk menanyakan masalah uang, untuk menanyakan keuntungan di tempat usahanya, Podin pun kala itu bertanya kepada Cik Melan. Namun kala itu, kebetulan tempat usaha yang keuangannya dikelola oleh Cik Melan, sebagai karyawan bagian keuangan, tempat hiburan karaoke itu sedang butuh dana juga. Ya, karena kasus kebakaran, maka Cik Melan yang dipasrahi mengurus tempat itu, harus memperbaiki semua sarana prasarana yang ada di tempat hiburan karaoke itu. Waktu itu, Podin tidak mendapatkan dana sama sekali. Podin tidak mendapatkan uang untuk menambah modal yang dibutuhkan oleh Lesti. Malah saat dirinya pulang, ia mendapati istrinya sedang bermesraan di kamarnya bersama laki-laki lain. Itulah yang mengakibatkan Podin naik pitam. Podin marah. Podin emosi, dan akhirnya Lesti, istrinya yang mengajaknya untuk usaha membuka toko itu langsung ditinggalkan begitu saja.


    Kini Podin kembali mengalami hal yang sama. Setelah ia sanggup membangunkan tempat usaha, membuat gedung, membangunkan toko, untuk berjualan sembako, dan kini Podin harus kembali memikirkan modal untuk berbelanja sembako itu. Podin harus berusaha mencari uang sebagai modal untuk melengkapi dagangan di tokonya.


    Mendengar kata-kata istrinya itu, Podin tersenyum. Istrinya yang baru ini, Cik Melan, memang berbeda dengan istri-istrinya yang terdahulu. Kalau ketika membuka usaha dengan Lesti, saat itu kekurangan dana untuk berbelanja barang-barang kebutuhan yang akan dijual, barang-barang dagangan yang harus diadakan untuk memenuhi warungnya, Lesti memaksa Podin agar bisa memberikan uang guna memenuhi barang dagangan itu. Lesti memaksa Podin harus bisa memenuhi tokonya itu dan bisa mendatangkan semua barang-barang untuk mengisi tokonya.


    Berbeda saat Podin mendengar penjelasan dari istrinya yang baru itu, Cik Melan, sungguh sebuah kata-kata yang sangat bijak. Tentu Podin lega mendengar hal itu. Dan Podin pun sangat acung jempol kepada istrinya yang baru itu. Podin senang dengan langkah-langkah yang diambil oleh istrinya tersebut. Ya, memang pola pikir orang berbeda-beda. Tetapi pola pikir yang diberikan oleh Cik Melan adalah pola pikir yang modern, pola pikir yang maju, pola pikir yang bisa menerima kenyataan yang ada, pola pikir yang bisa menerima keadaan suaminya. Tentu Podin merasa bahwa istrinya ini adalah istri yang baik hati. Dan tentunya, Podin semakin senang mendapatkan istri perempuan cantik yang seakan sempurna seperti Cik Melan tersebut.


    "Iya ..., Mah .... Saya tahu .... Memang untuk membuka usaha, kita butuh dana yang besar, butuh modal tidak sedikit. Dan itu pernah saya alami." kata Podin pada istrinya. Tentu Podin masih ingat dengan masalahnya yang dialami saat Lesti membuka toko.

__ADS_1


    "Pah ..., kalau boleh tahu, uang Papah masih berapa? Kira-kira cukup apa tidak untuk belanja barang-barang dagangan." Cik Melan balik bertanya pada suaminya.


    "Memang masih sedikit .... Yah, kalau memang kita tidak sanggup untuk membayar barang dagangan, coba nanti kita cari jalan lain. Semoga saja ada jalan." kata Podin kepada istrinya.


    "Tapi, Pah .... Saya tidak mau kalau kita mengambil kredit di bank. Itu bunganya terlalu tinggi, Pah. Kalau kita ngambil kredit di bank, nanti keuntungan kita akan habis digunakan untuk membayar hutang, mengangsur pinjaman bank. Saya kurang setuju, Pah." kata Cik Melan kepada suaminya, yang memang dia kurang setuju kalau usaha itu harus hutang di bank.


    Ya, memang yang namanya mengajukan kredit di bank itu enak di depan. Kelihatannya saja begitu terima uang hasil pinjaman, jumlahnya sangat besar. Angsurannya kelihatannya kecil. Tetapi itu hanya hitungan sesaat. Belum menghitung sampai akhir pelunasannya. Walaupun angsuran itu kecil, kalau dikalikan sekian kali angsuran, maka jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat dari jumlah pokok pinjaman itu. Pasti kalau tahu hitung-hitungan itu akan mengerikan. Dan Cik Melan, orang yang ahli dalam keuangan, yang tahu hal itu, pasti dia tidak akan setuju kalau disuruh kredit di bank.


    "Apa sekiranya kita bisa mengambil dana keuntungan dari tempat usaha kita yang ada di Jakarta, Mah?" tanya Podin kepada istrinya, yang tentunya ia bermaksud ingin mencoba menanyakan kepada istrinya terkait keuntungan yang ada di tempat usaha hiburan karaoke.


    "Kalau bisa jangan, Pah .... Itu kalau bisa .... Tetapi nanti akan saya lihat, ada berapa banyak keuangan yang ada di tempat hiburan kita. Tapi hemat saya, berapapun modal kita, sebaiknya kita memulai dari sedikit demi sedikit. Nanti uang hasil penjualan itu akan bergulir, keuntungan yang kita peroleh kita belanjakan lagi. Sehingga lama-kelamaan toko itu pun akan penuh dengan barang dagangan." kata Cik Melan kepada suaminya.


    Memang, tentunya uang Podin hanya terbatas untuk membangun toko sembako yang sudah menghabiskan satu miliar rupiah lebih. Itu bukan jumlah uang yang sedikit. Apalagi Podin juga baru saja selesai membangun rumahnya yang menghabiskan uang hampir dua milyar. Dan kemudian, Podin juga harus mengisi barang-barang dagangan di tokonya. Walaupun semuanya dipasrahkan kepada istrinya, yaitu Cik Melan, namun tentunya soal keuangan semuanya ditanggung oleh Podin. Tentunya itu semua dilakukan demi cintanya poden kepada Cik Melan, yang tentu Podin tidak ingin mengecewakan Cik Melan. Ia tidak ingin mengecewakan istrinya yang cantik itu. Dan Podin pun juga menganggap bahwa Cik Melan adalah istri terbaiknya, istri tercantiknya, dan istri yang paling pintar.


    Ya, Cik Melan memang perempuan yang baik, perempuan yang pintar, perempuan yang cerdas, dan perempuan yang sanggup membuat Podin percaya dengan semua perkataannya. Cik Melan adalah perempuan yang semuanya bisa. Apapun yang diinginkan oleh Podin dapat dilakukannya. Dan tentunya, Podin lebih tertrarik dan percaya itu semua, karena Cik Melan adalah orang yang berpendidikan, orang yang sekolah, orang yang pintar. Setidaknya Cik Melan adalah seorang sarjana keuangan. Ya, tentu Podin tidak bisa mengingkari kebaikan istrinya itu. Podin tidak bisa mengalahkan kepandaian Cik Melan.


    "Terus ..., kita harus bagaimana?" tanya Podin pada istrinya.

__ADS_1


    "Santai saja, Pah ...." sahut Cik Melan membalas kata-kata suaminya.


__ADS_2