
Setelah berumah tangga dengan Podin, tentunya Cik Melan harus ikut dengan suaminya. Namun tentu jangan merasa untuk tinggal di Parung terlalu jauh. ya karena tempat usahanya yang ada di Jakarta bagian timur sangat lumayan jauh dari kawasan Parung tempat tinggal suaminya. untuk menempuh jarak dari rumah ke tempat usahanya pasti dibutuhkan waktu yang lumayan lama, dan harus mengikuti arus macet setiap har.i tentu hal itu membuat Cik Melan sangat tersiksa di perjalanan. hal itu tentu mengakibatkan Cik Melan tidak bisa mengelola usahanya secara maksimal tidak hanya sampai di situ saja, tetapi juga meningkatkan tensi tekanan darah serta emosinya di jalanan membuat dirinya semakin banyak masalah. dan tentunya hal itu membuat pikirannya juga tidak konsentrasi.
Namun bagi Podin sendiri untuk tinggal di rumah kecil yang empet-empetan di kawasan daerah Jakarta pastinya juga tidak leluasa. memang rumah Cik Melan yang ada di kawasan daerah Jakarta Utara itu berada di kampung yang penuh sesak dengan penduduk, penuh sesak dengan rumah yang berdesak-desakan. makanya pantas kalau daerahnya itu disebut dengan Gang Kelinci daerah yang padat penduduk dengan jalan-jalan sempit dan harus minggir ketika bersimpangan dengan sepeda motor saat jalan kaki. bahkan mobil saja tidak bisa masuk ke kawasan rumah Cik Melan dan tentunya Hal itu membuat Podin tidak betah dan tidak bisa hidup di daerah yang penuh sesak manusia itu. Dan setidaknya Podin juga mengalami kejengkelan-kejengkelan dan pastinya tidak bisa melakukan aktivitas untuk merawat ataupun membawa peti- peti harta Karunnya
"Mah, aku tidak sanggup untuk tinggal di rumah seperti ini. terlalu ramai dan pastinya ini rumahnya empet-empetan. Bagaimana kalau kita tinggal di rumah yang ada di Parung saja? walaupun tinggal di kampung, walaupun tinggal di desa, tetapi saya lebih nyaman dan tenang. tidak emosi seperti di tempat ini rumah ini ternyata di kampung yang padat penduduk terlalu rame untuk hidup saya. " begitu kata Podin kepada istrinya.
"Iya, Pah.... Saya tahu Papah memang sulit untuk hidup di tempat keramaian seperti ini. Tetapi bagaimana dengan pekerjaan kita, Pah? Masalahnya kita punya tempat usaha di Jakarta bagian timur yang tentunya jaraknya sangat jauh untuk ke rumah Papah yang ada di kampung.... kalau kita harus pulang pergi dari Parung ke Jakarta setiap hari pasti juga capek dan lelah karena kemacetan. " begitu jawab Istrinya, Cik Melan yang Tentu juga merasa keberatan kalau sampai harus pulang pergi daerah Parung dan Jakarta Timur ya pastinya ia juga tidak sanggup kalau harus pulang pergi Jakarta Parung.
"Apa Mamah yang tinggal di sini sehingga tidak terlalu jauh untuk ke tempat kerja dan sewaktu-waktu bisa pulang, kita pulang ke rumah yang ada di kampung, atau setidaknya kita weekend berada di Parung" begitu Kata Podin kepada istrinya.
__ADS_1
"Iya, Pah.... Saya ngikut saja .... yang penting kita nyaman. perusahaan Papah jalan dengan baik dan Papah juga nyaman dan tenang." kata Cik Melan yang tentu sangat bijak terhadap suaminya. setidaknya dia tidak ingin memaksa Podin untuk tinggal di rumah yang kecil, di tempat yang penuh dengan keramaian. Dan Cik Melan sadar kalau suaminya memang tidak suka hidup di tempat yang ramai. Dia inginnya itu menyendiri di tempat yang sepi pasti Melan memahami hal itu
Akhirnya Podin pun kembali ke rumahnya yang berada di kampung di pinggiran perladangan yang sepi, jauh dari rumah penduduk. namun kali ini ya pulang bersama dengan Cik Melan yang sudah menjadi istrinya dan pastinya Podin juga akan menjaga dirinya bahwa ia tidak akan lagi menyakiti hati istrinya tidak akan lagi menerima tamu-tamu perempuan-perempuan dari keluarga kamu yang sering berdatangan seperti dulu sebelum ia menikah tentunya Podin tidak mau itu terjadi karena memang dia sudah punya istri yaitu Cik Melan.
Dan kenyataannya warga Kampung pun bisa menerima. Walaupun mungkin ada beberapa perempuan yang merasa cemburu dan sakit hati karena tidak bisa mendapatkan cinta yang diharapkan, tidak bisa menjadi istri dari Podin, orang yang dianggap paling kaya di kampungnya itu. Tetapi itu hanya sebentar mereka boleh berharap, kenyataannya Tuhan lah yang mengatur. Jodoh adalah pemberian yang kuasa. Dan tentunya Podin bukanlah jodohnya orang-orang kampung di situ tetapi perempuan yang sangat cantik, perempuan yang baik perempuan yang bekerja bukan pengangguran.
Namun tidak seperti Maya, yang hanya menguasai Uangnya saja. Sedangkan Cik Melan ini benar-benar mengatur tempat usahanya untuk mendapatkan keuntungan dan untuk memajukan tempat hiburan karaoke tersebut.
Karena jarak dari tempat usahanya ke rumah suaminya yang ada di Parung memang cukup jauh, maka terkadang Cik Melan tidak mau pulang ke Parung, tetapi masih menempati rumah yang ada di kawasan Jakarta Utara walaupun rumah itu kecil, walaupun Rumah itu berada di tempat yang padat penduduk, tetapi tidak begitu jauh untuk pulang pergi ke tempat usahanya dan potensial itu.
__ADS_1
Podin tidak keberatan dengan niatan istrinya untuk beberapa hari tinggal di rumahnya yang lama, dan beberapa hari akan pulang ke tempat rumah Podin yang ada di Parung. justru hal itu menjadi kesempatan bagi Podin untuk bisa memanfaatkan peti-peti yang ia kecamatan, peti-peti yang sudah dipuja-puja peti-peti harta karun yang dia keramatkan yang berisi arwah arwah yang bisa disuruh untuk mencari uang kesempatan itulah yang akan digunakan oleh Podin untuk meminta harta kekayaan itu kembali mengumpulkan uang yang dimasukkan ke dalam peti-peti harta karun tersebut.
Ya, seperti malam itu, ketika Cik Melan tidak pulang, ketika Cik Melan tetap tinggal di Jakarta, Podin pun melakukan ritual ketika malam tiba. Ia memang butuh uang untuk kehidupannya, untuk menambah kekayaannya, untuk menambah jumlah rekeningnya. Maka di malam itu, saat ia berada di rumah sendiri, Podin yang sudah menempatkan benda-benda keramat itu di dalam sebuah kamar tersendiri, Kamar yang sengaja ia gunakan untuk melakukan ritual, kamar yang sengaja untuk ruang rahasia pribadinya sendiri, tanpa boleh dimasuki oleh orang lain, kamar yang digunakan untuk menyimpan peti-peti keramat itu, kamar yang dia gunakan untuk melakukan acara khusus rahasia, yaitu ritual mencari uang.
Di tengah malam yang sepi itu, Podin masuk ke dalam kamar Rahasianya itu, dan tentunya dia akan melakukan ritual. Podin mengambil salah satu petinya, dan yang dipilihnya adalah peti yang sudah menghasilkan banyak uang, peti yang berisi arwah dari bayinya yang dikorbankan di atas altar istana Pulau Berhala. Ya, peti yang selalu keluar tuyul bayi kecil yang gundul dan telanjang itu, yang sudah banyak menghasilkan uang untuk dirinya.
Malam itu pun Podin kembali melakukan ritual di depan peti itu. Dan pastinya, Podin menghendaki dua peti itu nanti akan penuh dengan berisikan uang hasil yang didapatkan oleh tuyul bayinya tersebut.
Podin menghadapi dua peti keramat kesayangannya itu, hingga waktu berlalu. Dan ternyata memang benar. Apa yang diharapkan oleh Podin terlaksana. Apa yang diharapkan oleh Podin berjalan sesuai rencana, tuyul pujaannya itu pun keluar dan mencarikan uang untuk dirinya. Dan peti-petinya, malam itu benar-benar berisi uang. Podin kembali mendapatkan uang yang sangat banyak. Dua peti itu pun terisi uang semuanya. Tentunya Podin tersenyum gembira. Podin senang. Podin puas, Podin bisa kembali menikmati uang hasil kerja tuyulnya yang ia banggakan. Tuyul yang ia puja-puja, tuyul yang selalu memberikan uang kepadanya.
__ADS_1