PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 37: MENYIKSA TIADA HENTI


__ADS_3

    Setelah gagal mempersembahkan anaknya di Pulau Berhala, Podin tanpa menghiraukan lagi ke mana anaknya hilang, ke mana anaknya pergi, dia tidak urusan. Dasar orang tua yang tidak sayang dengan anaknya, orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anak-anaknya, orang tua yang tidak mikir keselamatan anaknya. Sungguh keterlaluan ketika anaknya hilang, ia tidak ingin tahu apakah anaknya itu sudah pulang, sudah kembali ke rumahnya, sudah bersama dengan ibunya, selamat atau mengalami musibah. Tetapi Podin justru cuek begitu saja, seolah-olah tidak ada hal yang terjadi. Yah, bagi Podin saat ini, anak-anaknya adalah aset harta kekayaan. Ia hanya menginginkan anak-anaknya itu untuk dipersembahkan kepada pengauasa Pulau Berhala. Ya, anaknya yang akan dikorbankan di atas batu persembahan.


    Maka sepeninggal dari Pulau Berhala itu, Podin pun menjalankan mobilnya menuju ruko di perumahannya. Podin hanya ingin melihat dari jauh, ingin memastikan anaknya masih hidup atau tidak. Tentunya saat ia sampai di depan ruko itu, Podin tidak masuk ke dalam halaman parkir ruko, tetapi justru berhenti di pinggir jalan, berhenti agak jauh dari ruko itu, agar tidak terlihat oleh istri maupun anak-anaknya. Ya, Podin hanya mengamati anak-anaknya dari kejauhan. Ia hanya ingin memastikan kalau anaknya sudah sampai di rumah, kalau anaknya sudah ada yang mengantarkannya pulang. Dan ternyata, anak-anaknya selamat. Anak-anaknya sudah sampai rumah. Podin pagi itu menyaksikan dari kejauhan, ia melihat Dewi, anaknya yang sudah bersekolah itu mengenakan seragam merah putih, hendak berangkat ke sekolah. Lega rasa hati Podin, karena anaknya sudah kembali ke rumahnya dengan selamat. Bahkan Dewi yang mau berangkat sekolah itu terlihat ceria dan lincah. Tentunya Podin tidak sekedar senang karena anaknya selamat, tetapi juga gembira karena harta-karun-harta karun itu kembali terlihat di depan mata.


    Setelah Podin yakin menyaksikan kalau anak-anaknya sudah pulang, maka ia pun langsung menjalankan mobilnya, kembali ke Jakarta. Tentu dia akan mengurusi bisnisnya kembali, Bisnis hiburan karaoke yang selama ini sudah dikelola oleh istri mudanya. Ya, istri muda yang selalu meminta berbagai macam kebutuhan yang tentunya juga dengan berbagai macam alasan.


    Benar, Maya perempuan muda yang masih eksis, terutama untuk mengelola dunia hiburan, pekerjaan yang identik dengan senang-senang, hura-hura, foya-foya. Maya memang sudah sangat aktif di dalam mengelola usaha karaokenya, dalam mengelola dunia hiburan yang menjadi hobinya. Makanya, saat suaminya datang, ia pun langsung mengungkapkan keinginannya untuk memajukan usahanya itu.


    "Bang, mestinya kita masih harus nambah banyak sarana untuk membuat usaha kita maju, Bang .... Kita perlu nambah ini nambah itu, untuk ruang karaoke. Mestinya kita perbesar tempatnya, dan di ruang karaoke yang sana itu, soundnya harus diganti yang lebih bagus, supaya para penyanyinya, para pelanggan-pelanggan kita, bisa mendengarkan suara mereka itu lebih bagus, lebih merdu, dan menarik, Bang .... Kalau soundnya hanya murahan gitu ..., orang-orang nggak suka, Bang .... Orang-orang juga malas datang ke sini. Makanya, Abang harus ganti itu sound system-sound system supaya lebih bagus, lebih keren begitu, Bang ...." kata Maya kepada Podin saat suaminya sampai di rumahnya.


    Memang secara logika, untuk membuat dunia hiburan lebih menarik, lebih keren dan lebih seru, seharusnya semua peralatan karaoke itu diperbaiki dengan peralatan-peralatan yang serba moderen dan menarik, untuk menunjang kemewahan dalam berkaraoke. Terutama, untuk menciptakan suasana berkaraoke yang enak dan nyaman, mestinya sound systemnya memang harus diganti dengan sound system yang bagusm dengan sound system yang jika didengarkan di telinga, itu akan mengubah suara penyanyinya menjadi sangat indah dan sangat merdu. Sehingga menyenangkan orang yang menyanyi. Jika sound sistem-sound system itu diganti dengan yang bagus, pastinya para pelanggan-para pelanggan yang datang ke tempat hiburan itu akan merasa senang. Dan mereka pun ingin selalu datang ke tempat karaoke itu untuk bernyanyi bergembira dengan suara sound system yang benar-benar merdu.


    Namun tentunya, untuk membeli sound system yang sebagus itu, pasti butuh biaya yang sangat mahal, pasti butuh uang yang cukup besar agar bisa membeli sound system yang berkualitas dan bisa mendengarkan suara yang merdu. Jika demikian, pasti ujung-ujungnya Maya akan meminta tambahan uang, akan meminta kembali biaya-biaya untuk memperbaiki tempat karaokenya tersebut.


    "Waduh ..., Maya .... Abang ini kan uangnya sudah habis .... Uang Abang sudah kau pakai semua .... Sabarlah Maya .... Tunggu nanti hasil dari tempat usaha kita cukup uang .... Setidaknya nanti uang yang terkumpul itu bisa kau pakai lah .... Jangan menuntut Abang terus .... Abang ini uangnya terbatas, Maya ...." begitu jawab Podin yang tentu akan merasa berat untuk dimintai uang terus-terusan oleh Maya. Dan memang, saat ini Podin tidak mempunyai banyak uang untuk membenahi dan memperbaiki tempat usaha. Tidak ada uang untuk menyempurnakan tempat hiburannya, yaitu memperbaiki sarana prasarana karaoke yang tentu harus ditunjang dengan sound system yang lebih bagus.


    "Ya usaha lah, Bang .... Itu kan yang meminta perbaikan seperti itu para artis yang datang kemari, Bang .... Dia yang memberi masukan kepada kita, Bang .... Kalau tempat karaoke kita harus lebih bagus. Mereka minta ruangannya agar diperbaiki, paling tidak suasananya itu nyaman, suasananya menyenangkan, dan tentunya suasana yang ada di ruangan karaoke kita itu bisa menjadi sebuah tempat hiburan bagi pelanggan-pelanggan kita, Bang .... Terus juga sound systemnya itu kurang bagus .... Itu kata para artis yang datang kemari, Bang .... Karena sound system itu berpengaruh pada suara yang dihasilkan. Kalau orang-orang yang datang kemari, yang bernyanyi, yang berkaraoke mendengarkan suaranya itu berubah menjadi lebih bagus, mendengarkan suaranya itu menjadi lebih merdu, dia akan senang, Bang .... Kalau dia itu merasa menyanyi di sini itu lebih asik, merasa menyanyi di sini itu lebih enak, lebih merdu suaranya, juga terdengar lebih bagus, dia akan datang ke sini terus, Bang .... Dan satu hal lagi, Bang ..., cafenya mesti yang romantis ...." begitu kata Maya, yang tentunya dia ingin agar tempat karaokenya itu menjadi laris, dan tentu kalau tempat karaokenya itu menjadi laris pasti dia akan punya penghasilan yang besar.


    "Iya ..., Maya .... Sabarlah .... Kita harus cari uang untuk beli sound system itu. Butuh biaya mahal, butuh biaya besar untuk merenovasi memperbaiki ruangan-ruangan itu, juga butuh biaya banyak. Coba kamu bayangin, uang dari hasil kita itu belum cukup untuk memperbaiki ruang, untuk mengadakan sound system, apalagi bikin cafe yang kamu bilang romantis itu, Maya .... Apalagi, uang hasil usaha itu selalu kamu pakai ...." begitu kata Podin yang tentu juga memprotes usulan dari istri mudanya itu, yang selalu banyak menuntut.


    Dan kini, Podin kembali pusing. Ia harus berpikir lagi untuk mencari uang yang banyak, karena dia harus menuruti apa yang menjadi keinginan istri mudanya tersebut. Podin terdiam, belum bisa berkata-kata lagi. Tentu karena tuntutan istrinya hari itu belum bisa dipenuhinya.

__ADS_1


    "Makanya, Bang ..., cari uang lah yang banyak ...." kata Maya yang menuntut agar Podin kembali untuk mencari uang.


    Podin menjadi bingung, dari mana lagi ya harus mendapatkan uang yang banyak untuk memenuhi permintaan istrinya itu. Podin melamun. Dia memikirkan cara untuk mendapatkan uang seperti yang diminta oleh istrinya itu. Pastinya Podin berusaha memutar otak bagaimana caranya bisa memenuhi tuntutan istrinya itu. Ya, setidaknya Podin tetap ingin membesarkan tempat usahanya itu. Dan setidaknya Podin juga akan mencari uang untuk membeli sound system yang bagus serta memperbaiki sarana prasarana yang ada di ruang-ruang karaokenya tersebut. Bahkan bila perlu, Podin juga akan membuat ruang cafe yang lebih besar, dan nanti sekaligus bisa digunakan untuk disco.


    Seketika itu, terlintas di benak Podin untuk bisa mendapatkan uang yang banyak. Ya, pastinya hanya ada satu cara lagi dalam waktu mendadak seperti ini. Ya, apalagi kalau bukan menjual ruko yang sekarang ditempati oleh istri tua dan anak-anaknya. Itulah satu-satunya cara yang paling cepat untuk mendapatkan uang secara gampang. Akhirnya Udin kembali ke Tasik. Tentunya dia ingin mendatangi istrinya dan akan meminta ruko itu. Podin akan menjual ruko yang saat ini dipakai usaha oleh istrinya tersebut.


    Seharian Podin mengendarai mobilnya sana kemari yang tentunya karena niatnya yang hanya ingin mendapatkan uang secepatnya. Podin yang kebingungan karena harus memenuhi tuntutan dari istri mudanya itu, pasti dia pun mengalami kebingungan untuk mendapatkan uang. Ya, seperti yang sudah direncanakan oleh Podin yang akan menjual ruko istrinya. Podin akan menjual tempat usaha dan tempat tinggal yang digunakan oleh istri dan anak-anaknya. Podin tetap nekat akan menjual ruko itu. Dan tentu uang hasil jualan ruko itu, akan ia berikan kepada istri muda yang sudah sangat ya harapkan bisa memberikan segala-galanya. Bahkan Podin sudah menganggap jika istri mudanya itu lebih cakap, lebih cantik, lebih bisa mengelola bisnis. Padahal secara terus-menerus Podin dimintai uang. Secara terus-terusan Podin dimintai biaya. Secara terus-terusan Podin dimintai dana, tetapi rupanya Podin tidak pernah memperhatikan watak Maya yang seprti itu. Podin hanya memperhatikan dari satu sisi saja, kalau istri mudanya itu selalu memberikan kenikmatan biologisnya. Ya, Podin hanya menilai dari satu sisi saja yaitu pemenuhan kebutuhan biologis yang ia rasa sangat menyenangkan jika bersama dengan Maya sang istri muda mantan pemandu karaoke itu.


    Cukup lama Podin menyetir mobilnya. Bolak-balik dari Tasik ke Jakarta, dan setelah sampai di Jakarta ia harus balik ke Tasik lagi. Tentu hanya satu tujuan, yaitu akan menjual ruko yang ditempati oleh istri dan anak-anaknya. Setelah sampai di ruko, Podin langsung memarkirkan mobilnya di depan ruko istrinya.


    Isti tahu kalau suaminya datang kembali ke rukonya. Pasti ada sesuatu yang iya ingin lakukan yang tentunya pasti menyakitkan hati istri dan anak-anaknya. Ya, seperti itulah kelemahan dari Podin yang sudah terbius oleh Racun Asmara dari Maya, sang istri muda yang pandai bersilat lidah dengan cara menjual madi di bibir merah.


    "Ada apa, Pak ...?" saut istrinya yang masih bisa menahan amarahnya.


    "Saya akan menjual ruko ini. Ya, kalian harus pindah dari tempat ini. Karena ruko ini akan segera saya jual." begitu kata Podin yang langsung blak-blakan mengusir istrinya.


    Tntu jantung Isti langsung bergetar, jantung Isti seakan berhenti sesaat, jantung Isti seakan tidak mau berdetak lagi. Ya, Isti tentu kaget manakala suaminya yang baru saja datang sudah mengatakan niat tidak baik lagi, yaitu akan menjual ruko yang selama ini ia tempati, ruko yang dijadikan sebagai tempat untuk mencari nafkah, untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya. Isti tentu sangat tidak senang dengan sikap suaminya itu. Kalau ruko itu akan dijual, dan ia bersama anak-anaknya diusir, terus akan tinggal di mana lagi? Akan usaha apa lagi? Bagaimana dengan dagangannya? Bagaimana nanti bisa menghidupi dan membiayai anak-anaknya? Jika ruko itu dijual, itu suatu petaka, itu sesuatu yang menyakitkan hati seorang wanita yang harus bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya. Maka emosi Isti pun pecah.


    "Ya ampun, Pak .... Dasar laki-laki tidak tahu diri ..., saya itu pakai ruko ini untuk menghidupi anak-anakmu. Sekarang akan kamu minta, akan kamu jual. Pasti ini gara-gara perempuan simpanan kamu itu .... Iya kan ...?!!" kata Isti yang tentu sudah tersulut emosi. Dugaannya pasti ruko itu dijual demi istri mudanya. Ya, Isti pasti tidak bisa berbuat banyak selain harus marah, meluapkan emosinya kepada suaminya itu.


    "Ya kalau memang saya jual untuk istri muda saya, memang kenapa ...? Ruko ini yang beli saya .... Uang yang nyari juga saya .... Dan sekarang kalau saya jual dan untuk kebutuhan saya, untuk memenuhi permintaan istri muda saya, itu hak saya kan ...." Podin juga emosi, karena sudah dituduh kalau penjualan ruko itu pasti untuk memenuhi kebutuhan istri mudanya. Walaupun memang itu untuk memenuhi kebutuhan istri mudanya, tetapi ia tidak ingin kalau istri mudanya disalahkan oleh istri tua. Maka Podin pun emosi mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Isti.

__ADS_1


    "Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab ...! Coba bayangkan besok kalau ruko ini kamu jual, terus anak-anakmu siapa yang akan memberi makan ...?! Anak-anak yang katanya kamu ajak piknik saja kenyataannya kamu tinggal begitu saja ...! Kamu tidak mengurusi anak-anakmu ...! Katanya ngajak piknik, malah ditinggal pergi, tidak diurusi .... Terus anak-anakmu itu nasibnya seperti apa kamu tidak pernah mengurusi anak ...! Tidak pernah memberi makan anak ...! Sekarang malah mau membunuh anakmu lagi dengan cara tidak memberi tempat usaha, tidak memberi tempat tinggal ...!! Laki-laki macam apa kamu itu ...?!!" begitu kata Isti yang tentu sudah marah-marah kepada suaminya.


    Ya kala itu Podin yang katanya mengajak anaknya berwisata, tetapi justru anak-anaknya ditinggalkan begitu saja di pantai tanpa diurusi, tanpa tanpa diantar pulang. Itu sangat keterlaluan. Beruntung anak-anaknya ada yang menolong. Beruntung anak-anaknya ada yang mengantar. Kalau tidak, lantas akan kemana anak itu? Dengan siapa anak itu? Pasti anak yang masih kecil-kecil itu ketika ditinggalkan di pantai begitu saja oleh orang tuanya, dia akan bingung, dia tidak akan bisa pulang, bahkan mungkin anak-anaknya sudah mati terseret oleh ombak laut.


    Podin terdiam. Podin merasa bersalah. Ya, dirinya memang keliru, karena kala itu tidak mengamati anak-anaknya. Kala itu ia tidak mengawasi anak-anaknya yang bermain di pantai. Dan jika nasibnya kurang beruntung, tentu anak-anak itu hilang begitu saja. Podin tidak tahu siapa yang menolong anaknya, siapa yang mengantar anaknya?


    Walau sebenarnya Podin juga kecewa karena di malam bulan purnama kemarin itu, ia tidak bisa mempersembahkan anak-anaknya, tidak bisa membawa anak-anaknya ke Pulau Berhala untuk ditukar dengan harta kekayaan yang diberikan oleh penguasa Pulau Berhala. Ya, Podin juga kecewa walaupun sebenarnya Ia juga merasa salah ketika dimarahi oleh istrinya, saat ia meninggalkan anak-anaknya itu di Pulau Berhala dan tidak mengantarkannya pulang.


    Tetapi yang namanya Podin, laki-laki yang sudah berhati jahat itu, laki-laki yang sudah bermata gelap itu, laki-laki yang sudah tidak menghiraukan anaknya lagi, laki-laki yang bahkan akan mengorbankan anaknya untuk dijadikan tumbal. Maka ia pun tidak urusan dengan nasib anaknya. Ia tidak urusan dengan apa yang dialami oleh anak-anaknya. Bahkan sekarang, Podin tidak akan mengusirnya lagi, Podin akan menyuruhnya pergi lagi istri dan anak-anaknya, karena ruko itu akan ia jual.


    Maka Podin yang sudah berhati jahat itu, Podin yang sudah gelap mata itu, Podin yang perasaannya sudah tertutup oleh godaan harta kekayaan dan wanita itu, ia pun tetap bersikeras akan menjual ruko yang ditempati oleh istri dan anak-anaknya tersebut.


    "Sudah ...!!! Saya tidak urusan lagi ...! Terserah ...! Mereka pergi sendiri ...! Mereka tidak menurut saya ...! Mereka tidak mendengarkan kata-kata orang tuanya ...! Kalaupun mereka hilang, itu urusan mereka ... Karena mereka itu tidak mau diatur oleh bapaknya ...! Pokoknya hari ini juga, ruko ini harus segera kamu kosongi ...! Ruko ini harus segera dibersihkan ...! Karena saya akan menjual ruko ini!" begitu bentak Podin pada istrinya, yang tentu bagi perempuan yang bernama Isti itu, perempuan yang sebenarnya adalah istri sah dari Podin itu, ia menangis tentu karena saking sakit hatinya, tentu karena perasaannya yang terluka ketika suaminya menjual rumah untuk yang kedua kalinya. Isti diusir oleh suaminya, supaya pergi meninggalkan tempat tinggalnya.


Ya, Isti pun menangis tersedu, karena saking pedihnya hati dan perasaannya, karena lagi-lagi, suaminya yang tega mengusir dirinya.


    "Pak ..., kalau saya kamu usir lagi, kalau Bapak menyuruh saya pergi, terus saya harus tinggal di mana, Pak ...?! Terus anak-anakmu itu juga mau tidur di mana, Pak ...?!" begitu tanya Isti yang tentu memikirkan nasib anak-anaknya, memikirkan bagaimana nanti anak-anaknya akan tidur.


    "Saya tidak urusan .... Saya tidak mau tahu .... Silakan kamu pikir sendiri ..., silakan kamu usaha sendiri .... Pokoknya, ruko ini, dulu saya yang beli, maka sekarang akan saya jual ...! Itu urusan saya .... Pokoknya besok kalian harus pergi meninggalkan tempat ini!!" begitu kata Podin yang sudah dibutakan mata hatinya, tidak tahu dengan urusan keluarganya, tidak tahu dengan bagaimana istrinya bersusah payah mengurusi hidup dan anak-anaknya. Ya, seperti itulah ketika watak seseorang sudah dibalut oleh setan yang menguasai hatinya.


    Isti, lagi-lagi hanya bisa menangis. Tentu ia sangat bersedih menyaksikan perlakuan suaminya itu, yang tidak tahu diri, yang tidak pernah melihat sejarah hidupnya di masa lalu. Ketika bersama anak-anak dan istrinya, dalam suka dan duka dialami bersama. Tetapi kini, ketika ia berubah menjadi kaya, justru ia mulai berulah. Bahkan harta kekayaannya itu semuanya dikuasai dan digunakan untuk mengurusi istri mudanya. Ya, memang Podin sudah mengalami perubahan drastis. Podin sudah menjadi manusia yang tidak tahu siapa dirinya sebenarnya. Ibarat kata kacang lupa akan kulitnya, katak yang lupa dengan daratan. Bahkan, Podin tidak mau lagi mempedulikan nasib istri dan anak-anaknya yang menderita. Justru ia menambah beban penderitaan yang lebih berat lagi.

__ADS_1


__ADS_2