
Setelah Podin mendapatkan anak yang diculik dari perempatan jalan, anak jalanan yang ia iming-imingi dengan makanan dan pakaian, anak jalanan yang memang tidak terurus oleh orang tua, tentu Podin tinggal menunggu waktu. Ya, malam bulan purnama. Dalam menunggu waktu itu, Podin terpaksa harus menyembunyikan anak itu. Podin pun menyewa kamar untuk kost sementara waktu. Ya, kamar kost untuk menginap bersama gadis cilik yang ia bawa itu. Tempat kost di pinggiran kota. Dan tentunya, Podin juga memanjakan anak itu, dengan makanan dan tentunya membelikan pakaian untuk ganti beberapa hari. Tentu lumayan bagi Podin untuk mengeluarkan uang sebagai modalnya.
Dan akhirnya, hari yang ditunggu pun datang juga. Sebentar malam akan datang bulan purnama. Tentu Podin sangat senang, karena niatannya untuk membawa anak jalanan yang diculiknya itu, akan segera kesampaian.
"Kamu saya ajak piknik, mau ...?" tanya Podin pada anak perempuan yang masih kecil itu.
"Asik .... Mau, Pak ...." jawab anak kecil yang polos itu.
"Kalau mau, nanti kita berangkat piknik ...." kata Podin yang tentu sambil tersenyum pada anak kecil yang hanya tiduran di kamar yang disewa oleh Podin tersebut.
"Asik .... Piknik ke mana, Pak ...?" tanya anak itu yang tentunya sangat senang dan ingin tahu tempat pikniknya. Maklum, saat ia menjadi anak jalanan dan dipekerjakan oleh bos ilegal itu, tentunya tidak ada kata bersenang-senang. Bahkan mau makan dan tidur saja harus menyetorkan sejumlah uang lebih dahulu.
"Rencananya kita akan piknik ke laut .... Mau, kan ...?" kata Podin sambil menggoda anak itu.
"Iih ..., ya mau lah, Pak .... Saya senang piknik ke laut .... Nanti bisa bermain air ombak laut .... Asik ...." sahut anak perempua yang polos itu, dan tentunya akan sangat senang serta gembira jika ia akan diajak berwisata ke laut.
"Ya sudah kalau kamu senang, Bapak juga senang .... Sana, sekarang mandi, ganti pakaian. Kita akan segera berangkat." kata Podin yang tentu sangat senang, karena sebentar lagi niatannya akan kesampaian.
Dewi, si anak jalananan yang punya nama sama dengan anaknya Podin itu, ia pun segera berlari ke kamar mandi, yang berada di dekat sumur. Maklum, Podin hanya memilih tempat kost murahan. Sehingga kamar mandinya ada di luar kamarnya. Tapi namanya anak kecil, yang oleh Podin dikatakan sebagai anaknya, saat akan kost di tempat itu, maka Dewi itu pun pergi ke kamar mandi begitu saja, tanpa malu dengan orang-orang kost yang lain. Ya, memang rumah kost itu lumayan banyak penghuninya, terutama karyawan-karyawan pabrik yang berasal dari luar kota.
Setelah Dewi selesai mandi dan berganti pakaian, akhirnya Podin langsung mengajak anak kecil itu untuk berangkat menuju obyek wisata di laut.
"Ayo kita berangkat. Mumpung waktu masih cukup pagi. Udara masih segar, supaya nanti tidak kemalaman sampai di pantai ...." kata Podin yang mengajak anak culikannya itu.
"Iya, Pak ...." kata anak itu yang langsung naik ke mobilnya Podin. Pasti senang. Selama hidupnya, baru kali ini anak itu akan berwisata. Meski mungkin pernah dengar kata-kata piknik, tetapi itu hanyalah di dalam cerita dengan teman-temannya sesama gelandangan anak jalanan.
Tentunya Podin akan melakukan perjalanan sekitar delapan jam untuk menuju ke pantai seberang Pulau Berhala. Jarak yang sangat jauh, dari Jakarta menuju Pantai Selatan di kawasan Cipatujah Tasikmalaya. Sehingga kalau berangkat pagi, akan sampai di pantai itu sekitar sore hari. Ya, tentunya saat yang pas untuk menyeberang ke Pulau Berhala.
"Dewi ..., kita sarapan dahulu .... Supaya nanti tidak kelaparan ...." kata Podin mengajak anak itu untuk makan. Padahal sebenarnya, Podin sendiri yang perutnya sudah kelaparan.
"Iya, Pak ...." jawab anak perempuan kecil itu. Dasar anak dari jalanan yang biasanya dipaksa kerja tanpa dipikirkan makannya oleh bos-nya, apalagi sarapan, makan siang saja kadang-kadang terlambat.
"Ayo ..., kita makan dulu .... Kita sarapan, biar tidak lapar .... Karena hari ini kita akan melakukan perjalanan jauh." kata Podin kepada anak itu.
"Memang tempat pikniknya jauh, Pak?" tanya anak itu, yang tentu ingin tahu tempatnya di mana.
"Iya .... Kita ini nanti akan piknik ke pantai yang tidak di sini .... Tetapi pantai, lautan pergi ke pulau yang ada di daerah jauh sekali ...." begitu kata Podin kepada anak itu, memberi tahu kalau tempat pikniknya sangat jauh.
"Bukannya ke pantai itu dekat yang ada di Ancol itu, Pak .... Ya, jauh-jauhnya kalau kita piknik, kata orang pergnya ke daerah Kepulauan Seribu. Tapi saya belum pernah tahu tempat itu. Hanya dengar dari orang-orang yang bicara saja." begitu kata si anak perempuan kecil itu, yang tentunya dia hanya tahu yang namanya tempat piknik, tempat wisata itu hanya ada di daerah sekitar Jakarta. Yang dia tahu pun juga hanya pantai yang ada di Jakarta, seperti halnya Ancol yang memang terkenal dan banyak dibicarakan orang.
"Kalau ke Pantai Ancol, itu terlalu dekat .... Kamu sudah biasa lihat .... Tapi ini yang akan kita kunjungi, tempatnya sangat jauh. Itu saja, kita nanti akan ke tempat yang sangat jauh, dan nanti kita akan pergi ke sebuah pulau, dan nanti kita akan naik perahu untuk menuju ke sebuah pulau. Bagaimana ...? Mau apa tidak ...?" kata Podin yang menjelaskan tempat yang akan dituju.
"Wah ..., naik perahu, Pak? Asik itu, Pak .... Menyenangkan itu, Pak .... Saya suka, Pak .... Saya mau .... Saya belum pernah naik perahu, Pak." begitu sahut si anak perempuan kecil itu, yang tentunya dia sangat tertarik dengan iming-iming akan diajak naik perahu dan akan menuju ke sebuah pulau.
"Makanya ..., sekarang kita sarapan dahulu .... Kita cari makan yang enak, supaya nanti kita tidak kelaparan di jalan. Untuk sampai di tempat yang sangat jauh, kita butuh energi yang cukup. Oke ..., mau ya ...?!" kata Podin pada anak perempuan yang hanya menurut saja itu.
Podin akhirnya menghentikan mobilnya di depan sebuah warung makan. Tidak begitu besar, warung makan sederhana. Mungkin langganan para karyawan pabrik. Warung makan yang biasa digunakan oleh orang-orang umum, masyarakat biasa. Bukan warung makan miliknya para pejabat ataupun yang biasa dikunjungi oleh istrinya Podin kalau kumpul-kumpul dengan para selebritis, kelompok sosialita dari istrinya itu. Yah, tentu Podin juga memikirkan bagaimana kalau ia masuk ke rumah makan atau restoran yang mewah, pasti akan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Dan itu tentu bagi Podin sangat sayang, karena uang Podin saat ini sangat terbatas, dan tentunya juga dikelola oleh istrinya, yaitu Maya, yang tentu setiap pengeluaran atau permintaan uang yang dilakukan oleh Podin, itu akan dicatat oleh istrinya.
Ya, seperti itulah yang namanya istri muda kalau diserahi atau dipercaya menguasai harta kekayaannya. Istri muda yang diserahi untuk mengelola perusahaannya. Podin tidak bisa berbuat banyak. Podin tidak bisa apa-apa. Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah menghemat pengeluaran uang. Penggunaan uang yang sekiranya masih bisa dilakukan dengan cara berhemat, mengeluarkan sedikit mungkin. Termasuk seperti ketika ia harus mengajak makan pada anak perempuan kecil itu, yang dia pungut dari perempatan jalan. Tentu ia hanya sanggup mengajak anak itu makan di warung makan sederhana yang harganya pasti murah.
"Ya ..., mau, Pak .... Pokoknya yang penting saya minta makan sama ayam goreng." kata anak kecil itu.
"Ya .... Yang penting perutnya kenyang. Saya juga mau makan sama ayam goreng ...." sahut Podin yang tentunya menyamakan keinginannya dengan anak itu, karena ia ingin saat ini anak yang dibawanya itu benar-benar bahagia dan menurut kepadanya.
__ADS_1
"Ya, Pak .... Saya suka ayam goreng. Habis ..., enak sih ...." begitu kata si perempuan kecil itu, yang memang kalau namanya makan istimewa bagi anak jalanan seperti dia itu, adalah makan sama lauk ayam goreng. Itu adalah menu istimewa. Tentunya anak-anak seperti itu sangat jarang menikmati makanan-makanan yang enak dan berkelas seperti ayam goreng kentucky, atau menu-menu yang agak istimewa lainnya. Pastinya dia sangat berharap bisa makan enak. Apalagi ketika diajak orang, yang orang itu sudah menjanjikan kepada dirinya memberikan makan serta pakaian, dan kali ini bahkan Podin, laki-laki yang mengajaknya itu sudah akan mengajak untuk berpiknik, untuk berwisata, tentu Dewi, anak jalanan itu merasa senang, merasa bahagia, merasa gembira karena seakan hidupnya kini sudah berubah, dari anak jalanan yang menderita, anak jalanan yang diperas oleh bos mafianya, kini dia bisa menikmati makanan yang enak, dia bisa menikmati hidangan yang nikmat, dan tentunya ia bisa menikmati hidup dengan bersenang-senang, ya termasuk bisa piknik.
"Bu, pesan nasi sama ayam goreng kremes, dua ...." kata Podin yang memesan makan.
"Minumnya apa ...?" tanya pelayan yang ada di warung itu.
"Dewi ..., kamu mau minum apa?" Podin menawarkan kepada Dewi.
"Es teh, Pak ...." jawab Dewi.
"Neng .... Es teh satu, kopi hitam satu ...." begitu kata Podin yang memesan kepada pelayan itu.
"Ini nasinya, Pak .... Sama ayam goreng. Mau ditambah sayur apa?" kata penjual itu yang menyerahkan pesanan Podin.
"Ya ..., Bu .... Punya saya dikasih kuah sedikit ...." kata Podin yang langsung menerima piring pesanannya itu.
Lantas Podin memberikan sepiring nasi dan ayam goreng kremes kepada anak kecil yang dibawanya itu. Tentu sambil mengambilkan sendok garpu.
Tetapi dasar anak jalanan. Meski diberi sendok garpu, ia lebih suka makan memajai tangannya. Katanya lebih nikmat dan asik. Memang untuk memegang ayam goreng, itu kebih enak dengan tangannya langsung.
"Ini es teh pesanannya ...." kata pelayan itu yang menyerahkan es teh di meja dekat piring Dewi.
"Ini kopinya, Pak ...." pelayan itu juga menyerahkan secangkir kopi kepada Podin.
"Terima kasih, Neng ...." kata Podin yang menerima kopinya.
Mereka berdua makan secara lahap. Pastinya sudah pada kelaparan. Makanya, dalam waktu sekejap, nasi yang ada di piring Podin langsung habis. Demikian juga nasinya Dewi. Kini Dewi tinggal makan ayam gorengnya, yang tentu terlalu enak buatnya.
"Tidak, Pak .... Sudah kenyang." jawab anak itu.
"Untuk perjalanan, Dewi mau minta jajan apa? Nanti dimakan di mobil." Podin menawarkan jajan pada anak itu. Ya, tentunya untuk jaga-jaga kalau di perjalanan nanti perutnya kelaparan.
"Terserah Bapak ...." jawab anak itu, yang tentunya pasrah pada Podin untuk membelikan jajanannya.
Akhirnya Podin mengambil beberapa bungjus makanan ringan dan minuman, yang dimasukkan ke plastik kresek oleh si penjual. Dan setelah membayar, Podin pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuannya. Ya, Podin kini berkonsentrasi untuk menuju ke Pulau Berhala.
Hingga akhirnya, matahari sudah tinggal beberapa meter lagi akan tenggelam, saat Podin sampai di pantai, di seberang Pulau Berhala. Ia mengajak anak itu berjalan menuju pantai, di dekat gubug, di mana ia biasa menunggu perahu yang akan datang menjemputnya.
"Nah .... Ini dia pantai yang kita tuju. Kita sudah sampai ...." kata Podin pada anak perempuan itu, yang sudah ia genggam tangannya. Tentu agar tidak terlepas dan hilang, atau bahkan berganti menjadi domba.
"Waah .... Bagus sekali, Pak .... Apakah saya boleh bermain air?" tanya anak itu, yang tentunya ingin menceburkan diri ke air laut.
"Jangan dulu .... Kita akan ke pulau itu. Nanti pikniknya di sana .... Nah, kalau di Jakarta, pulau itu adalah Pulau Seribu .... Yang ramai dikunjungi wisatawan." kata Podin yang sudah mulai melancarkan aksinya, untuk membawa anak itu ke Pulau Berhala.
"Itu namanya pulau apa, Pak ...." tanya anak itu.
"Pulau Indah .... Karena di tengah pulau itu ada istana yang sangat indah dan megah." jawab Podin.
"Ada istananya ...?" tanya anak itu yang tentu keheranan.
"Iya .... Istana yang megah, istana yang besar, seperti yang ada di dongeng-dongeng itu." jawab Podin.
"Ayo, Pak .... Kita segera ke sana ...." kata anak perempuan kecil yang sudah tidak sabar ingin menyaksikan istana yang diceritakan Podin.
__ADS_1
"Ya ..., tunggu dulu .... Tukang perahunya belum datang. Kita harus naik perahu kalau mau ke tempat itu." jawab Podin yang tentunya sudah bersiap, hanya tinggal menunggu tukang perahu yang akan menjemputnya.
Matahari pun mulai memancarkan sinar lembayung. Pertanda sebentar lagi akan tenggelam. Di saat seperti itu, biasanya tukang perahu datang menjemputnya. Tentunya Podin mulai berharap-harap cemas.
Namun ternyata, harapan Podin terkabulkan. Dari arah matahari mau tenggelam, tiba-tiba terlihat bayangan si tukang perahu yang tampak seperti siluet. Hati Podin langsung gembira.
"Ayo ...! Mau ikut naik apa tidak ...?!" kata tukang perahu itu yang sudah merapatkan perahunya di tepian batu tempat pijakan kaki Podin.
"Ya ...!" sahut Podin yang tentu langsung menyeret tangan anak yang dipeganginya terus itu.
"Ayo, Dewi .... Kita akan naik perahu menuju istana ...." kata Podin yang sudah mengajak anak perempuan itu masuk ke perahu yang menjemputnya.
Tukang perahu itu langsung mendorong galahnya. Dan tentu seperti biasanya, hanya dua kali dorong saja, perahu itu sudah sampai di tepian Pulau Berhala. Podin langsung membawa anak perempuan itu turun dari perahu. Dan tentunya, setelah penumpangnya turun, tukang perahu itu pun berlalu dan menghilang.
Kali ini, Podin tidak mau dipermalukan lagi seperti yang lalu. Begitu turun dari perahu, Podin langsung mengamati anak perempuan yang dari tadi tidak terlepas dari genggamannya. Bahkan tidak hanya mengamati, tetapi Podin juga memeriksa anak itu dari ujung rambut hingga kaki. Podin ingin memastikan bahwa anak perempuan itu tidak berubah. Anak perempuan itu benar-benar sebagai anak manusia yang akan dipersembahkannya. Tentu Podin tidak ingin dikejar-kejar lagi oleh para laskar dan ponggawa istana.
"Kamu Dewi, kan ...?! Sehat, ya ...." kata Podin yang memeriksa seluruh bagian anak itu.
"Iya, Pak .... Memang kenapa ...?" tanya anak itu.
"Karena kita akan berjalan menuju istana .... Kalau Dewi tidak kuat jalan, maka akan saya gendong ...." kata Podin yang puas mendengar kata-kata anak itu, yang tentunya memang anak yang dibawanya itu tidak berubah seperti dulu lagi yang tiba-tiba berubah menjadi domba.
"Saya jalan sendiri saja, Pak .... Dewi masih kuat jalan, kok ...." sahut anak itu yang ingin jalan sendiri.
Hari mulai delap. Dari langit sebelah timur, sudah menyembul rembulan yang memancarkan sinar keemasannya. Ya, malam itu adalah malam bulan purnama. Lampu-lampu di tepi jalan yang dilalui oleh Podin bersama anak perempuan kecil itu, sudah menyala dengan aneka warna yang menarik. Tentu Dewi merasa senang menyaksikan keindahan lampu-lampu itu, yang serasa berjalan di tepi taman yang indah.
Dan setelah sampai di pelataran istana, tentu anak perempuan kecil yang diajak oleh Podin itu benar-benar terkesima. Anak itu benar-benar keheranan. Anak itu benar-benar terkagum saat menyaksikan bangunan istana yang sangat megah dan indah itu, menyaksikan istana yang gemerlap dengan cahaya yang sangat terang tersebut. Dan tentunya, Dewi juga gembira bisa bersenang-senang di pelataran istana tersebut.
Malam terus berjalan. Hingga akhirnya sampailah pada puncak acara, yaitu memberikan korban persembahan untuk Sang Penguasa istana Pulau Berhala. Podin yang sangat ingin tahu hasil persembahannya, maka ia langsung maju pertama kali. Tentu sudah membopong Dewi, anak perempuan yang ia culik dari jalanan. Lantas Podin langsung meletakkan anak kecil yang tak berdata itu di atas batu kisaran yang ada di altar istana, untuk melaksanakan ritual mempersembahkan korban anak manusia.
Dengan harap-harap cemas, dengan degup jantung yang mulai berdetak cepat, Podin mengambil bilah belati mata berhala. Ya, pisau belati dengan gagang tangan dari emas dan berhias intan permata, serta pada ujung gagangnya terdapat mata hyang seakan benar-benar hidup. Lantas tangan Podin yang memegang bilah belati itu langsung menancapkannya ke leher anak perempuan kecil yang sudah pasrah di atas batu persembahan.
"Aaachhhhh ......." hanya terdengar rintihan memelas sebentar. Selanjutnya diam. Seketika itu, leher bocah perempuan itu terputus oleh ganasnya belati mata berhala tersebut. Kepala anak itu pun langsung terpisah dari tubuhnya. Darah segar langsung magalir, membanjiri batu kisaran tempat persembahan itu.
"Krincing ..., krincing ..., krincing ...."
Terdengar suara gemerincing logam-logam yang berjatuhan dari batu persembahan itu, yang langsung masuk ke dalam peti harta karun yang ditadahkan oleh ponggawa istana. Suara gemerincing itu terus terdengar.
Podin tersenyum gembira. Pastinya ia akan mendapat harta karun yang banyak dari persembahannya itu. Podin terus memperhatikan jatuhnya aneka perhiasan, intan permata, dan juga koin-koin emas yang terus masuk ke dalam peti harta karun yang sebentar lagi akan dibawanya itu.
Hingga tetes darah terakhir. Uang emas jatuh dari batu persembahan, dan masuk ke dalam peti harta karun itu. Lantas ponggawa istana menutup peti harta karun yang penuh dengan barang-barang berharga tersebut. Kemudian memberikannya kepada Podin yang sudah mempersembahkan korban kepada penguasa Pulau Berhala tersebut.
Podin tersenyum puas. Ia langsung turun dari altar istana itu, yang tentunya bergantian dengan orang lain yang juga akan memberikan persembahannya. Lantas Podin berjalan keluar istana. Dan langsung menyusuri jalan setapak yang dipenuhi hiasan lampu, menuju ke pantai.
Di pantai, tukang perahu yang selalu mengantar dan menjemput, sudah menunggunya.
"Mau pulang ...! Ayo cepat naik ...." kata tukang perahu itu.
Podin pun langsung menaiki perahu yang bersandar itu, sambil memanggul peti harta karun yang diperolehnya. Tukang perahu yang cekatan itu pun langsung mendorong galah panjang yang dipegangnya. Sebentar saja, perahu itu sudah sampai di tepian.
Podin langsung turun, Dan tentu sangat girang tidak kepalang. Dengan memanggul peti harta karun itu, ia langsung meninggalkan pantai, dan menuju ke tempat mobilnya diparkirkan. Podin langsung bergegas meninggalkan tempat itu. Pulang dengan membawa harta karun yang sangat banyak jumlahnya.
Kini, Podin kembali menjadi orang kaya. Podin kembali menjadi orang yang bergelimang harta benda. Podin kembali mendapat harta kekayaan satu peti banyaknya. Ya, Podin kembali mendapatkan peti harta kekayaan.
__ADS_1