
Rina kaget. Rina terjingkat. Ia langsung bangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdebar-debar. Darahnya mengalir dengan deras ke sekujur tubuhnya, karena saking ketakutannya. Ya, baru saja Rina bermimpi, mimpi buruk yang menakutkan. Rina dikejar-kejar oleh bocah perempuan yang selalu datang ke rumahnya, yang selalu meminta belas kasihan Rina dan selalu diberi makan oleh Rina.
Ya, dalam mimpi itu, seakan Rina kembali didatangi oleh si bocah perempuan kecil itu, dengan wajah pucat pasi. Bahkan sekarang wajah itu tidak sekedar pucat pasi, tetapi juga terlihat samar-samar. wajah itu terlihat sudah mulai buram. Wajah itu tidak nampak jelas lagi, seperti saat wajah bocah perempuan cilik yang selalu diberi makan oleh Rina yang bahkan pernah dibelikan pakaian oleh Rina. Tetapi kini, bocah itu tidak lagi datang dan menemui Rina di depan rumahnya.
Namun, dalam mimpi itu, anak kecil itu berdiri di tengah pintu kamarnya, bocah itu tidak menginjak lantai. Tubuhnya seakan melayang begitu saja, melintas di depan Rina tanpa berhenti. Namun ia berkali-kali melauang, terkadang maju mundur, terkadang kekanan dan ke kiri. Bahkan terkadang juga naik dan turun. Anak itu seperti melayang-layang, seperti tidak menapakkan kaki di tanah, sehingga dengan mudahnya ia melayang ke sana dan kemari.
Rina yang ketakutan langsung tergagap bangun dari tempat tidurnya. Kemudian mengambil segelas air dingin yang ada di dalam kulkas, dan meminumnya hingga habis, untuk menenangkan pikirannya. Dan Rina mulai tenang. Yah, itu mungkin hanya karena bayang-bayang Rina saja. Mungkin juga karena Rina telah membuang peti yang ia temukan, yang kemudian ia bingung, antara mau membuang peti itu atau tidak. Namun keputusannya, Rina pun tetap membuang peti itu di tempat sampah. Dan saat membuang peti itulah ada pikiran Rina yang tentu was-was dengan bocah perempuan kecil yang selalu datang ke rumahnya, benarkah ada hubungan antara peti yang dibuangnya dengan bocah kecil itu. Teteapi para tetangga maupun orang-orang yang berlangganan makan di warungnya, menyuruh membuang peti yang dianggap jadi rumah setan itu.
Dan pagi itu, saat Rina sempat mengejar bocah perempuan kecil yang masuk ke rumahnya, dan ternyata anak itu pun hilang di dalam kamarnya, dan Rina kehilangan anak yang dikejarnya itu. Rina hanya menemukan dua buah peti yang ada di kolong tempat tidurnya. Benarkah anak perempuan kecil itu memang tinggal di dalam peti itu? Benarkah seperti yang dikatakan para pelanggan warungnya, kalau anak itu adalah siluman yang menghuni peti itu? Atau peti itu tidak ada apa-apanya? Dan anak itu menghilang begitu saja di dalam kamarnya, yang artinya anak itu merupakan arwah yang menempati kamar milik Rina? Ya, kamar yang ia pakai untuk tidur tersebut.
Pikiran Rina mulai kacau, antara takut tidur di kamarnya sendiri, atau akan tetap tidur di situ, karena memang tempat tidurnya yang biasa ia gunakan adalah kamar yang ia pakai itu. Namun karena saking takutnya, dan tidak ingin kembali mimpi buruk, Rina pun akhirnya berpindah menempati kamar yang satunya, yang dulu pernah dipakai oleh Puput, pembantu yang melayani di rumah makannya. Ya, setelah Rina minum air dingin habis satu gelas, akhirnya Rina kembali merebahkan dirinya untuk tidur. Namun kali ini ia tidur di kamar yang lain, kamar sebelahnya, dengan harapan dia tidak akan bermimpi ditemui oleh perempuan cilik yang menghantuinya, yang tadi pagi sudah menghilang di dalam kamarnya.
Namun, ketika Rina sudah berpindah ke kamar sebelahnya, di tempat tidur yang dulu digunakan untuk tempat tidurnya Puput, lagi-lagi Rina kembali bermimpi, kalau dalam mimpinya itu Rina kembali ditemui oleh perempuan cilik yang selalu datang kepadanya. Tetapi kali ini, perempuan cilik itu benar-benar sudah tidak terlihat wajahnya. Bahkan wajah perempuan itu bukan lagi samar-samar, tetapi seakan memang tidak mempunyai wajah. Wajahnya gadis cilik itu rata, datar tanpa ada mata, tanpa ada hidung, tanpa ada mulut. Ya, ibarat sebuah gambar orang, baru terbentuk lengkungan wajah saja, belum dilukis kelengkapan indera di wajahnya. Dan bagian kepala yang lainnya, tertutup oleh rambut yang tidak pernah dikeramasi.
Rina kembali berjingkat kaget dan ketakutan. Dia kembali bangun dari tidurnya dan duduk sambil merenung. Tentu ia bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa sebenarnya? Kenapa mimpi-mimpi ini selalu terjadi?
__ADS_1
Kemudian Rina bangkit dari kasur, lantas berjalan keluar, duduk di kursi ruang tamu, sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Ya, Rina sudah enggan dan tidak berani lagi untuk tidur di dalam kamarnya sendiri, maupun di tempat tidur yang lain. Dia takut kalau harus tidur kembali, dan pastinya akan mimpi ketemu dengan anak itu lagi yang semakin menakutkan. Bagaimana tidak menakutkan, kalau dulu Rina sering ketemu secara langsung, ia selalu memberikan bungkusan makanan kepada anak itu, bahkan ia juga memberikan pakaian, dan ia juga mengajak bicara kepada anak perempuan kecil itu. Kala itu, anak tersebut jelas seperti manusia, seperti wujud seorang bocah yang sebenarnya cantik, tetapi tidak terawat dengan rambut yang agak kumal, mungkin tidak pernah mandi, dengan wajah yang pucat pasi, serta pakaian yang kumuh tidak pernah dicuci itu. Rina masih bisa menerima kehadiran bocah itu.
Tetapi saat Rina melihat anak itu di dalam mimpinya, ia ketemu bocah itu yang hanya mengenakan pakaian lusuh dan wajahnya samar-samar, wajahnya tidak terlihat jelas. Tentu hal itu menjadikan Rina ketakutan. Ya, Rina yakin kalau bocah itu adalah hantu. Kalau anak yang ditemuinya itu adalah arwah gentayangan. Kalau perempuan cilik itu bukan manusia, melainkan kemungkinan besar dia adalah jelmaan anak yang meninggal sebelum saat penentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan mungkin anak itu adalah arwah yang mau minta pertolongan.
Maka Rina yang sudah menyalakan lampu ruang tamunya, sehingga ruangan itu kelihatan terang. Lantas Rina yang duduk sambil menyandarkan kepala pada sofanya, tetapi Rina kembali menyaksikan perempuan cilik itu berada di tengah pintunya rumahnya. Anak itu seakan menempel di pintu yang tertutup itu, pintu yang rapat, pintu yang terkunci. Namun kenyataannya, bocah itu berada di pintu tersebut. Ternyata bocah itu sudah berada di depan pintu itu. Bocah yang berpakaian kumal dengan wajah yang sudah tidak kelihatan lagi itu ternyata ia memang tidak menginjakkan kakinya di lantai. tidak menapak pada tanah, tetapi tubuhnya seakan melayang di angkasa.
Ya, benar. Anak itu melayang-layang, mengambang di udara. Lantas bocah perempuan yang wajahnya sudah hilang itumelayang mendekat ke arah Rina. Dan tiba-tiba, gadis cilik yang mendekat ke arahnya, setelah sampai di depan Rina, bocah itu mengangkat kedua tangannya, kemudian memegang kepalanya. Dan tiba-tiba, tangan anak itu bisa melepas kepalanya. Dan tangan anak itu memegangi kepalanya, seakan mau diberikan kepada Rina.
Tentu Rina sangat ketakutan.
"Rina ...!!"
"Pok Rina ...!!"
"Kamu tidak apa-apa, Rina ...?!"
__ADS_1
"Rina .... Tolong jawab ...!! Kamu tidak apa-apa, Rina ...!!"
"Waduh .... Ini Pok Rina kenapa ...?!"
"Atau kita dobrak pintunya ...?!"
"Coba di duka pelan-pelan ...."
"Di kunci semua ...."
"Rina ...!! Bangun, Rina ...!!!"
Para tetangga ribut mengerubung ke rumah Rina, tentu karena mendengar suara jeritan Rina yang sangat keras dan mengagetkan para tetangganya yang sedang tidur pulas. Pastinya, para tetangga bingung, khawatir dengan kondisi Rina.
Bagaimana nasib Rina? Apakah ia bisa terselamatkan?
__ADS_1