PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 129: KETAKUTAN


__ADS_3

    Podin yang sudah menyaksikan bocah perempuan kecil yang keluar dari dalam peti, melihat kenyataan gadis cilik yang pernah ia culik, melihat kembali bocah jalanan yang pernah ia bohongi, diajak piknik ke sebuah pulau, bocah yang pernah ia korbankan untuk persembahan kepada penguasa Pulau Berhala, bocah yang tidak diketahui siapa orang tuanya, yang pernah ia tukarkan dengan harta kekayaan, emas dan intan permata, kini bocah perempuan itu keluar dari dalam peti yang dipuja-puja oleh Podin. Ya, bocah yang diharap bisa menjadi tuyul itu, bocah yang diharap akan mencarikan uang itu. Tetapi ternyata, watak dan sifat bocah itu berbeda dengan bayi Podin sendiri, yang begitu dibacakan mantra langsung keluar dan pergi mencari uang, mengisi kitak peti itu hingga penuh dengan uang. Namun kenyataannya, bocah perempuan yang keluar itu tidak pergi untuk mencari uang, tetapi justru menakutkan buat Podin.


    Podin yang berharap bisa punya dua tuyul, Podin yang berharap bisa mendapatkan uang sebanyak empat peti setiap malamnya, namun ternyata apa yang diharapkan berbeda dengan apa yang terjadi. Ya, bocah perempuan kecil itu bukanlah tuyul besar. Bocah yang keluar dari peti itu bukan tuyul yang langsung mencari uang, tetapi benar-benar arwah gentayangan yang menakut-takuti Podin.


    Ya benar, seperti yang diceritakan oleh Bang Jarwo, kalau arwah bocah itu memang gentayangan menakut-nakuti Rina, mengejar-ngejar Rina, istrinya Podin. Dan kini, ternyata bocah itu tidak mau diperintahkan oleh mantera Podin untuk disuruh mencari uang. Ternyata bocah kecil itu bukan perwujudan dari sebuah tuyul, bukan perwujudan sesosok makhluk kecil tanpa pakaian dengan kepala gundul, bukan sosok makhluk yang selalu mencuri uang milik orang kemudian menumpuknya ke dalam peti milik majikannya, tetapi bocah perempuan kecil itu keluar dari peti dengan muka pucat, matanya menatap tajam Podin, memandang dengan amarah.


    Podin merapal mantra berkali-kali, tentunya agar tuyul itu mau pergi mencari uang. Tetapi bocah perempuan kecil itu tetap saja matanya melotot memandangi Podin. Bahkan mulutnya terlihat menyeringai, seakan mau menggigit Podin. Tentu Podin menjadi ketakutan. Tentu Podin kebingungan dan berubah menjadi gentar. Ya, gadis kecil itu sudah berdiri di depan Podin yang duduk bersila. Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya, lantas memegangi kepalanya. Sebentar kemudian, tangan-tangan gadis kecil itu sudah mengangkat kepalanya. Ya, kepala gadis kecil itu sudah terlepas dari lehernya. Bahkan tangannya yang kecil-kecil itu, sanggup menyangga kepalanya yang sudah terlepas dari tubuhnya, lantas menyerahkan kepala itu kepada Podin.


    Kepala yang terlepas dari leher bocah itu, yang diangkat dengan kedua tangannya, dan diserahkan kepada Podin, seakan mengingatkan Podin pada upacara korban persembahan di altar istana Pulau Berhala. Kepala yang diberikan kepada Podin itu ibaratnya mengngatkan Podin yang sudah memenggal kepala bocah itu. Kepala yang sudah dipotong dari lehernya oleh Podin.


    Kini, kepala itu akan dipersembahkan kepada Podin, dengan mata yang membelalak dan mulut yang menyeringai, diangkat oleh dua tangan kecil gadis itu, dan diserahkan kepada Podin. Tentu Podin ketakutan. Tentu Podin gemetar. Dan akhirnya, Podin lantas melompat dari tempat duduknya, tempat ia bersila, tempat dia bermeditasi membaca mantra. Bahkan tubuh Podin terpental jatuh di sudut ruang apartemennya.


    Podin kini hanya bisa diam dan ketakutan. Ia hanya sanggup memandangi bocah perempuan kecil itu yang menyodorkan kepalanya pada dirinya. Podin hanya sanggup melihat fakta yang dihadapinya, kalau bocah kecil itu sudah menyerahkan kepala kepadanya, dan seakan itu memberi tanda, bahwa Podin sudah pernah memenggal kepala gadis kecil itu.


    Ya, Podin sudah berhutang nyawa kepada perempuan kecil yang kini berusaha untuk menyerahkan kepala kepadanya. Makanya, karena saking takutnya, Podin berusaha menghindar dari sodoran kepala bocah perempuan itu. Saat berusaha menghindar, tubuhnya sudah membentur tembok ruang kamarnya. Tentu Podin kesakitan.

__ADS_1


    Dan setelah itu, Podin yang tidak sanggup berbuat apa-apa, Podin yang tidak berani mendekat, Podin yang tidak berani menyentuh perempuan kecil itu, ia pasrah. Podin yang semula berharap bocah itu menjadi tuyul yang bisa menghasilkan uang, dan mengisi peti-petinya itu penuh dengan uang, tetapi kini ia sudah tidak sanggup apa-apa lagi. Podin masih tidak berani bergerak. Dia masih ketakutan, duduk di sudut ruang apartemennya sambil mengelus kepalanya yang terbentur dinding. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok, tentu dengan jantung yang berdebar, dengan rasa deg-degan yang tidak karu-karuan.


    Karena rasa takutnya, berkali-kali Podin menarik nafas dalam-dalam. Dan tentunya ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan meditasinya. Podin tidak sanggup lagi merapal kata-kata mantranya. Podin tidak sanggup lagi untuk membaca hafalan kalimat mujarab perintah penyuruh tuyul. Podin tidak sanggup melanjutkan membaca mantra untuk menyuruh makhluk itu mencari uang. Dan kini, Podin hanya bisa berdiam.


    Namun rupanya, bocah kecil yang kepalanya sudah dilepas itu, yang kepalanya berada di telapak tangannya itu, masih saja berjalan mendekati Podin. Ya, seakan memang bocah perempuan itu mau menyerahkan kepala itu kepada Podin.


    Podin yang sudah tidak sanggup pergi, hanya mampu memandangi gadis cilik menakutkan itu, pastah tanpa daya. Podin tidak berani bangkit. Podin tidak berani mendekat. Bahkan Podin juga tidak berani melawan bocah yang kepalanya sudah terlepas itu, dan disodorkan kepadanya. Bahkan Podin tidak berani beranjak dari tempatnya.


    Pantasm seperti yang diceritakan oleh Bang Jarwo, kalau istrinya sempat pingsan beberapa kali, karena menyaksikan keanehan bocah itu. Apalagi istrinya tidak tahu persis tentang siapa sebenarnya gadis cilik yang sering datang menemuinya itu. Rina tahu dengan ulah Podin memenggal kepala bocah perempuan itu, yang dikorbankan oleh Podin tersebut. Dan tentu Rina yang tidak tahu tentang hal itu, hanya menganggap bahwa perempuan cilik itu adalah arwah gentayangan yang selalu menakut-nakuti Rina.


    Podin yang ketakutan sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dan sebentar kemudian, ia pingsan.


    Cukup lama Podin pingsan di sudut ruang apartemennya. Tubuhnya terduduk dan menyandar di tembok apartemennya. Hingga akhirnya, Podin tergagap bangun, saat dia mendengarkan banyak suara orang-orang yang berlalu Lalang di lorong apartemen. Tentunya para penghuni apartemen sudah sibuk akan berangkat bekerja. Ya, hari sudah lewat pagi. Hari sudah siang. Podin mulai sadar. Podin menggeliat. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia menyadari, kalau dirinya sudah pingsan semalaman tergeletak di ruang apartemennya.


    Beruntung Podin bisa sadar. Setidaknya untuk semalam ia tidak ketakutan dikejar-kejar bocah yang ingin menyerahkan kepalanya. Lantas, Podin kembali memandangi peti-peti yang ada di tengah ruangan apartemen itu. Dan Podin langsung berdiri, membuka koden jendelanya. Ya, begitu sorot sinar matahari dari jendela sudah masuk ke dalam kamar apartemennya, Podin merasa agak lega. Setidaknya ruangan itu menjadi terang benderang. Kata orang-orang, hantu tidak keluar saat ruangan itu terang.

__ADS_1


    Selanjutnya, Podin kembali menatap dua peti yang masih ada di tengah ruang apartemennya. Tetapi peti itu sudah tertutup. Ya, pasti bocah perempuan yang menakut-nakuti Podin, sudah kembali masuk ke dalam petinya. Kata Bang Kohar, itu adalah rumahnya. Dan Podin akan menata ruangannya kembali. Terutama ia akan menyimpan petinya. Barang yang dianggap sebagai peti keramat penghasil uang. Walaupun semalam gagal, Putin tidak kecewa. Setidaknya, Podin sudah tahu bahwa gadis yang keluar itu adalah gadis yang pernah ia korbankan, pernah ia persembahkan kepada penguasa Pulau Berhala.


    Ya, kini Podin sudah mulai tenang. Sudah bisa merasakan kehadiran bocah itu, dan sudah bisa menerima kenyataan. Memang seperti itulah fakta dari arwah gentayangan, yang tentunya akan menunjukkan bagaimana cara ia keluar dari peti. Dan Podin tentu tidak akan kaget lagi. Dan Podin tentu paham dan mengerti, bahkan Podin yang sudah terbiasa, beberapa kali mengorbankan bocah di istana Pulau Berhala, pasti dia juga sudah mulai bisa menerima kenyataan, itulah yang namanya arwah gentayangan. Podin juga harus bisa menerima, kalau dirinya didatangi oleh arwah gentayangan itu, Podin didatangi oleh bocah yang pernah ia korbankan. Mungkin bocah itu akan meminta upah.


    Memang, jika dipikir, itu salah Podin juga, karena ia membawa kembali peti-peti harta karun itu. Setidaknya, dalam peti harta karun itu, pastinya sudah kena ceceran darah dari bocah yang ia sembelih. Dan kata orang-orang, jika di situ ada ceceran darah korban, maka arwahnya akan tetap tinggal di tempat itu.


    Namun tentunya, karena Podin tertiur dengan cara Bang Kohar, yang bisa memanggil tuyul dari dalam peti itu, Podin tergiur dengan peti uang bisa menghasilkan uang, Podin tergiur dengan peti yang ada tuyulnya, maka niatan Podin pasti ingin memelihara tuyul itu. Dan pastinya Podin sebagai seorang pemalas, sebagai seorang yang maunya kaya begitu saja tanpa harus bekerja, maka begitu menyaksikan peti itu bisa menghasilkan uang, pasti Podin akan melakukannya dengan cara-cara seperti itu. Dan Podin akan melakukannya untuk menumpuk harta kekayaannya.


    Ya, itu sudah menjadi kebiasaan Podin. Bahkan ia rela untuk memenggal leher bayinya sendiri, lantaran dia juga ingin mendapatkan harta kekayaan. Itulah cara-cara orang yang mencari rezeki dengan melakukan hal-hal tidak halal. Cara-cara orang yang mencari harta kekayaan dengan mengandalkan kekuatan setan. Cara-cara orang yang ingin menumpuk uang sebanyak-banyaknya dengan meminta bantuan makhluk-makhluk gaib. Cara orang ingin kaya dengan meminta bantuan kekuatan-kekuatan setan.


    Mestinya, Podin sadar tentang hal itu. Dulu, anak pertamanya sudah pernah menjadi korban. Ya, ketika ia pulang dari pulau berhala dengan membawa peti harta karun, belum sampai di rumah, anaknya yang bersekolah di SD, terlindas truk dan kepalanya hilang. Dan saat ia datang kembali ke Pulau Berhala, tiba-tiba saja ada kepala yang menggelinding menemuinya, dan meminta tolong lepada Podin, dan katanya kepala itu adalah kepala Eko, anaknya Podin. Kemudian Podin juga mengorbankan bocah perempuan yang ia culik dari perempatan jalan. Dan yang terakhir, ia menyembelih bayinya sendiri yang baru saja dilahirkan oleh istrinya.


    Tetapi, Podin memang tidak mau sadar. Podin tidak mengenal kata menyesal. Podin tidak mengenal kata tobat. Podin ingin menumpuk harta sebanyak-banyaknya, walau dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sepantasnya ia lakukan. Ya, mencari pesugihan.


    Walau semalam ia ketakutan dengan bocah yang bisa melepas kepalanya dari lehernya itu, namun Podin masih menyempatkan membuka tutup peti itu. Pasti Podin ingin tahu, adakah uang yang masuk ke dalam peti itu? Namun ternyata, memang peti itu kosong tidak ada apa-apanya. Yah, Podin menerima kenyataan. Beruntung dirinya hanya pingsan.

__ADS_1


    Dan pasti, malam-malam berikutnya, Podin akan mencobanya lagi, untuk menyuruh bocah itu mencari uang.


__ADS_2