PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 98: BERUNTUNG


__ADS_3

    Setelah gagal mendapatkan harta karun, gagal membawa kekayaan, Podin pun meninggalkan istana Pulau Berhala. Ia juga meninggalkan kejengkelannya, karena tidak mendapatkan apa-apa. Lantas Podin kembali melangkahkan kakinya, melintasi jalan kecil yang masih gemerlap diterangi lampu hias, untuk menuju ke tepian pantai, tempat yang biasa ia gunakan untuk menunggu perahu yang datang menjemputnya dan mengantarkan pulang.


    Podin tidak menghiraukan lagi bocah kecil yang tengik itu. Podin tidak memikirkan lagi bocah kecil yang ternyata kelakuannya sudah melebihi hewan itu. Podin tidak mau menoleh lagi pada bocah kecil yang sudah membuat dirinya malu, karena gagal untuk mempersembahkan korbannya. Dan Podin meninggalkannya begitu saja bocah yang masih menggelimpang sambil muntah-muntah di tepi halaman istana Pulau Berhala tersebut.


    "Om .... Tunggu, Om .... Om .... Tolong, Om .... Jangan tinggalkan saya, Om ...." begitu kata bocah pengemis kecil yang sudah ditinggal oleh Podin itu.


    Meski anak itu berteriak minta tolong, minta agar diajak serta oleh Podin, tetapi Podin tidak menghiraukannya. Podin tetap melangkah tanpa menoleh lagi, tanpa melihat bocah yang sudah tak berdaya, yang menggelempang di tepi halaman istana itu. Pastinya bocah itu tidak mungkin sanggup untuk berdiri dan berjalan. Pastinya kalaupun ia akan berjalan, jalannya geloyoran karena kondisinya tak berdaya, dan akan jatuh lagi. Tentu karena anak itu memang sedang dalam keadaan mabuk berat, yang paling-paling hanya bisa terkapar di tanah.


    "Om .... Tolong tunggu, Om ...! Om .... Tolong bantu saya, Om ....! Jangan tinggalkan saya, Om ...!" anak itu berteriak lagi. Pastinya memanggil Podin agar mau membantunya.


    Namun lagi-lagi, Podin tidak menoleh. Poden tidak menghiraukan teriakan anak itu. Bahkan Podin berjalan semakin cepat, tentunya agar segera sampai di tepi pantai, dan tidak mau lagi mendengar teriakan bocah koplak itu.


    "Om ...!! Tunggu saya, Om ...!! Om ...!! Jangan tinggalkan saya, Om ...!!" anak itu berusaha bangun, sambil berteriak-teriak, yang tentunya ia juga mulai khawatir kalau sampai ditinggal oleh laki-laki yang membawanya ke tengah pulau itu, dan pastinya karena ia juga takut kalau sampai tidak bisa pulang, tidak bisa keluar dari pulau itu. Maka dengan memaksakan dirinya, anak itu pun mulai bangkit, bahkan berkali-kali jatuh. Lantas bangkit lagi agar bisa mengikuti Podin. Bahkan juga, ia merangkak sambil berteriak-teriak, meminta agar laki-laki yang sudah pergi meninggalkan dirinya itu, mau menunggunya.


    Namun pada saat itu, rupanya datang para penjaga istana Pulau Berhala, yang pastinya merasa terganggu dengan teriakan anak itu. Para penjaga istana tentu punya kewajiban untuk menjaga ketentraman dan ketenangan Pulau Berhala. Dan ketika para penjaga itu mendengar suara anak yang berteriak-teriak, maka para penjaga langsung menuju ke arah suara itu. Karena keributan dari suara teriakan si bocah yengik itu sudah merusak ketentraman dan ketenangan di Pulau Berhala. Maka dua orang ponggawa kerajaan datang menghampiri anak itu, dan tentu langsung membentaknya.


    "Hee ..., jangan teriak-teriak di situ ...!! Kamu sudah mengganggu suasana tentram ...!! Kamu sudah membuat keributan, membuat kebenaran ...!! Siapa kamu ...?!" kata-kata si penjaga itu, yang langsung membentak anak yang berteriak-teriak di dekatnya.


    "Anu, Pak .... Saya ditinggal sama Om itu .... Saya ditinggal sendirian di sini .... Saya takut ditinggal Om itu .... Om itu akan meninggalkan saya di sini ...." jawab anak itu yang tentunya sambil menunjuk ke arah Podin pergi meninggalkannya, yang tentu akan menuju pantai untuk pulang dari istana itu.


    "Ya kamu kejar, sana .... Pergi dari sini .... Jangan teriak-teriak di sini .... Jangan bikin onar di sini .... Jangan bikin keributan di sini ...." kata dua orang ponggawa kerajaan itu lagi, yang tentunya tidak ingin suasana di tempat yang ia jaga ada keributan.

__ADS_1


    "Tidak bisa, Pak .... Saya tidak bisa jalan ...." kata anak itu, yang tentunya setiap kali mencoba bangun untuk jalan, ia jatuh lagi. Ya, seperti itulah yang dialami oleh anak itu, manakala ia mencoba bangun, namun karena kondisinya yang sedang mabuk, maka ia tidak kuat untuk berdiri, bahkan berkali-kali jatuh tersungkur.


    Sedangkan dua penjaga istana yang sudah berada di situ, masih berdiri memperhatikan dan mengawasi anak yang berada di atas tanah, yang tergeletak di pinggir pelataran istana. Pastinya si penjaga istana tersebut mengawasi anak itu, mengamati apa yang akan dilakukan oleh bocah yang tak berdaya karena mabuk tersebut, Tapi tentunya, para ponggawa istana itu membawa tombak yang sudah diarahkan ke tubuh bocah yang tidak mampu berdiri tersebut. Sehingga, pasti bocah itu ketakutan, kalau tombak itu akan ditusukkan pada tubuhnya.


    "Tolong ..., Om ...!! Tolong, Om ...!! Saya mau dibunuh tentara-tentara ini, Om ...!! Jangan tinggalkan saya, Om ...!! Tunggu saya, Om ...!!" anak yang ketakutan itu tentu malah berteriak semakin keras, dengan harapan suaranya bisa didengar oleh Podin.


    "Jangan berteriak-teriak ...!!! Kamu sudah mengganggu ketentraman di istana ini ...!!! Kamu sudah membuat gaduh ...!! Kamu membuat onar ...!! Kamu berteriak-teriak terus, itu mengganggu ritual persembahan ...!!!" kata dua orang yang menjaga istana itu, dan tentunya sudah menempelkan tombaknya pada tubuh anak itu.


    Bocah itu pastinya semakin ketakutan. Dan karena saking takutnya, bocah mabuk itu pun kembali berteriak minta tolong, dan pastinya ia ingin ikut bersama dengan laki-laki yang membawanya masuk ke pulau itu, Podin yang sudah berjalan duluan akan pulang.


    "Om ...!! Tolong, Om ...!! Om ..., tolong saya ...!! Jangan tinggalkan saya, Om ...!!! Huhuhuhu .... Huahuhuhu ...." begitu anak itu berteriak lagi, bahkan teriaknya semakin keras, dan kini karena saking ketakutannya, bocah itu pun menangis sejadi-jadinya.


    Bocah itu memang sudah tidak melihat Podin lagi. Ia sudah tidak melihat laki-laki yang membawanya ke tempat itu. Dan pastinya bocah itu yakin kalau dirinya akan ditinggal oleh laki-laki itu. Makanya, wajar kalau bocah itu justru berteriak semakin keras, dan juga menangis karena ketakutan. Walaupun mabuk, tetapi pikiran anak kecil masih takut jika ditinggal sendirian. Apalagi, kini yang ia hadapi adalah penjaga kerajaan yang sudah siap menusukkan senjata tombak ke tubuhnya.


    "Grupyuk ....!" begitu suara yang terdengar. Aanak yang dilempar tadi jatuh di tepi pantai. Kebetulan saat itu perahu yang menjemput Podin baru saja tiba.


    Podin yang sudah naik ke atas perahu, tentunya kaget mendengar suara orang jatuh yang ada di belakangnya. Lantas Podin pun menoleh ke belakang untuk menengoknya. Dan ternyata benar, anak kecil yang ia bawa itu terjatuh di tepian pantai, tepat berada di belakang perahu yang sudah ia tumpangi.


    "Tolong saya ..., Om .... Jangan tinggalkan saya, Om ...." begitu kata anak itu, yang sudah tidak berdaya lagi. Mungkin karena mabuknya, atau mungkin juga karena ia baru saja terjatuh dilempar oleh dua penggawa kerajaan Pulau Berhala itu.


    Kebetulan sekali, anak itu jatuhnya tepat saat gelombang laut datang menghempas ke pantai. Sehingga tubuh anak kecil itu jatuh tepat berada di atas air gelombang, sehingga tidak begitu sakit. Seperti layaknya orang yang melakukan loncat indah. Meski meloncat dari tempat yang tinggi, tetapi ketika jatuh di air tidak mengalami apa-apa. Yah, sangat beruntung sekali bocah itu, bisa jatuh bersamaan dengan datangnya gelombang.

__ADS_1


    Namun rupanya, tukang perahu itu tidak tahu tentang ada bocah yang jatuh di belakang perahunya. Maklum, tukang perahu itu tidak punya kepala. Pastinya tidak punya mata dan telinga. Makanya apapun yang terjadi, ia tidak menghiraukan siapapun di sana. Karena tugas dan kewajiban dari tukang perahu itu hanyalah menjalankan perahunya, setelah penumpangnya masuk ke dalam perahu. Ia hanya melaksanakan perintah dari penguasa Pulau Berhala.


    Podin yang sudah berada di atas perahu itu pun, tidak menghiraukan lagi bocah yang jatuh di belakangnya. Bahkan dia kembali menatap ke depan, tanpa menoleh ke belakang, tanpa mengamati nasib bocah yang ada di belakangnya, yang baru saja jatuh di tepi perahu yang akan berangkat tersebut.


    Tukang perahu itu sudah mulai mendorongkan galahnya, untuk menjalankan perahunya menuju seberang lautan. Sekali kayuh, dua kali kayuh dan tiga kali dorongan galah yang dipegang oleh tukang perahu itu, maka perahu yang ditumpangi Podin sudah sampai di tepi pantai, tempat di mana Podin akan turun dan akan kembali ke rumahnya.


    Podin langsung melompat turun dari perahu itu. Tepat di atas batu yang selalu ia jadikan pijakan untuk naik dan turun dari perahu yang mengantar dan menjemputnya. Dan setelah Podin melompat, perahu itu pun melaju pergi dan menghilang.


    "Om ..., tolong, Om ...."


    Tiba-tiba Podin dikagetkan dengan suara bocah tengik yang menurut perasaan Podin sudah ditinggal di Pulau Berhala. Namun setelah Podin menoleh ke arah suara itu, ternyata bocah itu sudah terkapar berada di tepi pantai. Aneh, tentu Podin heran. Bagaimana bocah ini bisa sudah berada di pantai, dan tergeletak di hamparan pasir. Padahal anak ini tadi sudah tertinggal?


    Podin mengamati sebentar, melongokkan kepalanya, melihat dan memastikan kalau bocah yang terdapar di pantai itu memang bocah tengik yang sudah membuatnya jengkel. Dan kenyataannya memang benar. Bocah cilik yang tergeletak di atas pasir pantai itu memang bocah yang ia bawa dariu stasiun pompa bensin. Bocah yang rencananya akan ia jadikan korban persembahan untuk sang penguasa Pulau Berhala. Podin hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh beruntung sekali bocah itu. Bisa-bisanya ia sanggup kembali keluar dari pulau berhala.


    "Om ..., tolong saya, Om ...." suara bocah yang tak berdaya itu kembali merintih meminta tolong pada Podin.


    Podin yang mendengar permintaan tolong bocah itu, tidak menghiraukannya. Ia justru berpura-pura tidak mendengar. Dan kini Podin sudah tidak memandangi anak itu lagi. Ia langsung memalingkan muka, berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan bocah yang tak berdaya tersebut. Dalam pikiran Podin, masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin anak itu bisa selamat dan sampai di pantai?


    Sebenarnya, yang namanya keberuntungan memang sedang berpihak pada pengemis cilik yang tengik itu. Bayangkan saja, saat akan disembelih oleh Podin di atas batu persembahan, bocah itu bisa selamat gara-gara ditolak oleh penguasa Pulau Berhala. Ya, tentunya anak itu sudah tidak suci lagi, dan saat itu kondisinya sedang mabuk oleh minuman keras. Bocah itu pun selamat dari tikaman pisau belati mata berhala.


    Selanjutnya, ketika ia ditinggalkan oleh Podin, tergeletak di pinggir pelataran istana, bocah itu berteriak-teriak agar Podin tidak meninggalkan. Akibatnya, bocah itu didatangi oleh dua orang penjaga istana. Dan anak yang tidak mau diam itu pun akhirnya dilemparkan oleh dua ponggawa itu. Dan jatuhnya, tepat di air gelombang yang sedang naik.

__ADS_1


    Saat anak itu terjatuh, ternyata ia jatuh di dekat, bahkan hampir menempel pada perahu yang mengangkut Podin. Walau Podin tidak mau mengangkat anak itu, meski Podin tidak mau menolong anak itu untuk dimasukkan ke dalam perahu, rupanya nasib berkata lain. Saat perahu itu mulai berjalan, ternyata pakaian bocah tengik itu tersangkut pada kayu bagian belakang perahu. Otomatis anak itu terseret oleh perahu yang dijalankan oleh tukang perahu misterius. Dan saat sampai di tepian, tiba-tiba saja gelombang laut juga mendorong tubuh bocah itu. Akhirnya, bocah tengik itu terhempas gelombang ke tepi pantai. Tubuhnya tergeletak di hamparan pasir pantai itu.


    Itulah kisah bagaimana bocah tengik yang kurang ajar tersebut bisa selamat dari pulau berhala. Lantas bagaimana setelah Podin meninggalkannya begitu saja tubuh kecil yang menggeletak di pasir pantai itu? Nasib baik seperti apa lagi yang akan dialami oleh bocah begundal itu?


__ADS_2