PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 85: MENOLAK WARISAN


__ADS_3

    Pagi itu, baru saja Podin, Lesti, bersama dengan bapak dan ibunya, baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Terdengar suara motor masuk ke halaman rumah Lesti. Ya, tidak lain itu adalah motor dari adiknya Lesti, Joni. Ya, pagi itu Joni datang kembali ke rumah orang tuanya, yang tentunya pasti dia akan meminta warisan, seperti beberapa hari kemarin, dia datang ke rumah orang tuanya, yang sudah mengancam orang tuanya untuk meminta warisan dari rumah yang ditinggali oleh orang tuanya bersama dengan Lesti dan Pudin.


    "Pak ...! Bu ...!" Joni berteriak lantang saat masuk ke rumah orang tuanya itu, bahkan secara tidak sopan ia pun langsung duduk metengkrang saja di kursi ruang tamu. Ya, memang Joni kelihatan sekali sudah tidak baik, yang tentunya datang ke tempat itu hanya akan menuntut warisan dari orang tuanya.


    "Eh ..., Joni .... Pagi sekali kamu datang kemari ...." kata bapaknya yang keluar dan langsung menyambut Joni yang sudah duduk di ruang tamu itu.


    "Iya, Pak .... Mana Teh Lesti? Sudah pulang, kan?" tanya Joni dengan nada kasar, sungguh tidak sopan.


    "Sudah .... Itu, di dapur ..., baru cuci piring. Kamu udah sarapan, belum? Sana, kalau belum sarapan .... Makan dulu." kata bapaknya yang menawarkan sarapan kepada anak bungsunya itu.


    "Udah .... Kalau udah sarapan, sekarang mana Teh Lesti? Mana ibu? Ayo, kita bicara bersama .... Mumpung kita komplit." kata Joni, yang tentu dia sudah tidak sabar untuk menanyakan masalah warisan yang kemarin hari sudah dibahas bersama ibu dan bapaknya.


    "Sabarlah, Joni .... Jangan tergesa-gesa .... Tidak baik .... Biar Teteh membuatkan minum untuk kamu dulu." kata bapaknya yang tentu menasehati anaknya agar sabar.


    "Saya penginnya cepat, Pak .... Dan saya juga banyak urusan, tidak hanya urusan di sini. Tadi di rumah juga ada urusan. Makanya kalau cepat selesai, saya akan cepat-cepat pulang." kata Joni yang memang dasarnya adalah sudah punya niatan yang tidak baik, bahkan mungkin dia sudah mulai menganggap orang tuanya ini sebagai orang yang tidak perlu dihormati. Makanya dia tampak sekali kalau tidak sopan.


    "Joni ...?! Barusan datang, ya?" ibunya pun datang menghampiri dan menyapa anak bungsunya yang sudah bertengger di kursi ruang tamu itu.


    "Iya, Bu .... Mana Teh Lesti ...? Cepetan kita bicara." kata Joni yang masih saja ingin segera membahas masalah warisan itu.


    Dan akhirnya, Lesti pun keluar menemui adiknya. Lesti mengulurkan tangannya, ingin bersalaman dengan adiknya itu. Namun si Joni tidak mau menyambut tangan kakaknya. Si Joni tidak mau bersalaman dengan kakaknya. Ya, ini adalah tanggapan tidak baik dari seorang Joni. Itu artinya, Joni tidak menganggap kakaknya itu sebagai saudaranya. Bahkan Joni yang seolah-olah sok baik, sok suci, tetapi tidak mau menganggap orang lain sebagai manusia. Bahkan Joni sudah menganggap kakaknya sendiri sebagai orang nista, sebagai orang jelek, sebagai orang hina. Haram bagi Joni bersalaman dengan orang penuh dosa.


    "Kumaha, atuh ..., Joni ...? Ada apa, pagi-pagi sekali sudah datang kemari?" Lesti pura-pura tidak tahu maksud kedatangan adiknya. Dan tentu Lesti juga merasa kecewa, karena adiknya tidak mau diajak bersalaman.


    "Ah, kebetulan kita sudah kumpul semua. Sekarang kita bicara ...." kata Joni yang sudah menggebu.


    "Sabarlah, Joni .... Jangan terburu napsu." kata bapaknya yang tentu ingin menyadarkan bahwa tingkah anaknya itu tidak baik.


    "Tapi yang penting hari ini kita harus selesaikan semua masalah warisan kita ini .... Saya tergesa-gesa, karena saya banyak urusan .... Pokoknya hari ini saya akan minta Bapak dan Ibu untuk memberikan warisan kepada saya. Bagian dari tanah dan rumah ini ..... Yang ini saya belum mendapat bagian warisan yang ada di sini. Makanya saya hari ini minta warisan ini, sebagian dari tanah dan rumah ini. Pokoknya tanah dan rumah ini dibagi dua .... Saya dapat bagian separuh, dan yang sebagian lagi itu urusan Bapak sama Ibu. Pokoknya saya minta, separuh dari tanah dan rumah ini menjadi milik saya." begitu kata Joni yang berapi-api, menuntut warisannya.

__ADS_1


    Lesti mendengarkan semua kata-kata adiknya yang marah-marah itu. Tetapi Lesti tidak ikut marah, ia malah tersenyum, bahkan senyum itu seakan memberi arti tersendiri yang tidak diketahui oleh Joni. Namun bagi Joni, senyum kakaknya itu justru dianggap sebagai ejekan.


    "Teteh Lesti ngapain ...?! Tidak rela kalau saya minta warisan lagi ...?!" kata Joni yang membentak kakaknya.


    "Tidak, Joni .... Saya mah, tidak akan mengurusi warisan ini. Saya mah, tidak akan meminta warisan ini. Saya mah, tidak akan meminta bagian warisan ini .... Dan saya juga tidak mau kalau diberi warisan ini. Apa artinya warisan ini ...? Ini mah, milik Bapak sama milik Ibu .... Bukan milik saya .... Kalau ibu sama bapak merelakan warisan ini diberikan kepada Joni, ya biar saja .... Saya tidak apa-apa .... Saya tidak dapat warisan juga tidak masalah .... Saya mah, tidak diberi warisan juga tidak apa-apa .... Kalau memang Bapak sama Ibu mau memberikan semua warisan ini kepada Joni, saya ikhlas, saya tulus, saya rela, saya tidak akan meminta, saya tidak akan merebut ...." begitu kata Lesti sambil tersenyum. Lesti tidak marah, bahkan ia tidak sedih, dan ia juga tidak menuntut untuk mendapat bagian warisan dari keluarganya.


    Tentu ucapan Lesti, kata-kata Lesti itu menghantam Joni yang dari tadi marah-marah. Adiknya yang sudah diberi warisan tanah yang sangat luas, tetapi masih minta lagi. Setidaknya Lesti ingin menunjukkan kalau dirinya tidak serakah seperti adiknya itu.


    "Iya ..., Joni .... Tadi malam kami sudah berembug bersama tetehmu, bersama ibu kamu dan juga bersama Akang Podin, suami dari Teh Lesti .... Kami akan memberikan semua warisan ini kepada kamu. Saya, ibu kamu, Teh Lesti, Akang Podin ..., tidak akan mengambil sedikitpun warisan ini. Silahkan kamu ambil semua .... Ini surat sertifikatnya, akan saya berikan kepada kamu." kata bapaknya yang langsung menyodorkan buku sertifikat kepada anak bungsunya itu.


    Joni tertunduk diam. Dia kaget dengan apa yang dikatakan oleh bapaknya. Ketika ia berangkat dari rumah, pasti dia sudah memikirkan kalau bapak dan ibunya keberatan, Teh Lesti akan marah-marah. Pasti teh Lesti tidak akan rela warisannya diminta oleh adiknya. Tetapi kenyataannya, pagi itu Joni yang sudah emosi, Joni yang sudah marah-marah, dan Joni yang sudah bersiap untuk memaksa pembagian warisan itu, ternyata orang tuanya, bapak dan ibunya, kakaknya, semuanya justru menyerahkannya dengan tulus ikhlas dan rela memberikan warisannya itu begitu saja. Bahkan bapaknya langsung menyodorkan buku sertifikat kepada dirinya.


    Namun, dasarnya Joni adalah orang bebal, Joni adalah anak yang tamak, orang serakah, maka begitu melihat sertifikat itu diulurkan oleh bapaknya, tangannya langsung segera merebut sertifikat itu. Ya, sertifikat yang oleh bapaknya diberikan secara baik-baik itu, langsung direbut begitu saja oleh si Joni.


    "Joni .... Saya minta waktu barang beberapa hari, untuk mengemas barang-barang kami, untuk membawa barang-barang, berpindah rumah. Minta waktu untuk mengangkut barang-barang yang ada di rumah ini." kata bapak dan ibunya, dan juga Lesti yang meminta waktu untuk pindahan.


    "Mohon kami diberikan waktu sedikit hari ..., agar kami bisa menata barang-barang ini, mengambil barang-barang kami, untuk kami bawa berpindah dari rumah ini. Silakan rumah dan tanah ini semuanya saya serahkan kepada kamu, Joni .... Saya tidak akan membawa secuil pun. Tapi mohon beri waktu sedikit untuk memindah barang." kata Lesti kepada adiknya yang sudah menggenggam erat buku sertifikat yang direbut dari tangan bapaknya tadi.


    Namun, alangkah kagetnya Lesti, alangkah kagetnya bapak dan ibunya, ketika mendengar kata-kata dari Joni yang memang sangat keterlaluan.


    "Tidak boleh .... Tidak bisa .... Pokoknya kalau sertifikat ini sudah diberikan kepada saya, rumah dan tanah ini sudah menjadi milik saya. Artinya semua yang ada di dalam rumah ini adalah milik saya. Ambil saja pakaian kalian .... Saya tidak akan memakainya. Najis nanti .... Dan cepat kemasi pakaian kalian, hari ini juga ..., Bapak, Ibu, kamu ..., silakan angkat kaki dari tempat ini. Silakan pergi dari rumah ini. Tinggalkan rumah ini ...!" Joni justru malah membentak orang tuanya dan kakaknya.


    Kata-kata Joni itu tentu sangat menyayat hati ibunya. Kata-kata itu seakan merobek perasaan perempuan yang sudah melahirkannya. Kata-kata itu sangat keterlaluan.


    "Joni ....! Kenapa kamu begitu tidak baik ...?! Huhuhu ...." kata ibunya yang langsung menangis mendengar kata-kata Joni, yang tersirat kalau anaknya itu sudah mengusir dirinya, mengusir orang tuanya dan kakaknya, agar segera pergi dari rumah yang mestinya menjadi warisan kakaknya itu.


    Demikian juga dengan bapaknya, yang seakan jantungnya diremas-remas. Rasanya sangat nyeri, terasa sakit. Orang tua yang sudah membesarkannya itu, ternyata kini justru dibalas dengan cara mengusir. Remuk redam rasa hati bapaknya.


    Tidak luput juga dengan Lesti, kakaknya yang selalu dihina, yang sudah mengalah, yang sudah berbaik, yang tidak mau berurusan dengan masalah warisan, yang sudah rela dan ikhlas memberikan semua bagiannya. Namun ternyata, adiknya masih juga terlalu jahat untuknya. Pasti hal ini juga membuat Lesti sakit hati. Bahkan Lesti pun ikut menangis. Ya, menangis karena akan diusir dari rumahnya sendiri. Bahkan mengusirnya pun dengan cara yang biadab. Adik macam apa yang jahatnya seperti itu? Manusia macam apa yang biadab seperti itu? Sungguh sangat keterlaluan dan sangat-sangat jahat si Joni itu.

__ADS_1


    Dalam pada itu, sebenarnya sejak kedatangan adiknya Lesti, yaitu si Joni, sebenarnya Podin sudah mengintip. Bahkan Podin menguping pembicaraan mereka dari kamarnya. Dan tentunya Podin mendengar semuanya, dan tahu kalau ibu mertuanya, bapak mertuanya, istrinya, bahkan juga dirinya, sudah disuruh untuk pergi dari rumah itu, hari itu juga. Mereka sudah diusir oleh adiknya Lesti, si Joni, yang serakah itu. Sebenarnya, ingin rasanya Podin marah. Ingin rasanya Podin membentak. Ingin rasanya Podin keluar dan memukuli adik iparnya itu. Namun rupa-rupanya, Podin masih bisa menahan diri. Podin masih bisa mengendalikan emosinya. Podin masih bisa menahan niatannya untuk memukul adik iparnya itu. Tetapi, ketika Podin mendengar ibu mertuanya itu menangis, Podin mendengar istrinya juga menangis, tetap tidak bisa berdiam. Podin langsung keluar dan pastinya akan memutuskan apa yang harus dilakukan mertuanya bersama istrinya. Di saat-saat yang kritis seperti itu, di saat-saat yang menyakitkan seperti itu, di saat-saat mereka ditusuk-tusuk duri oleh si Joni yang serakah dan tamak itu. Sungguh manusia biadab yang tidak mempunyai balas budi kepada orang tua. Begitu gumam Podin.


    "Maaf, perkenalkan .... Saya Podin, istri kakakmu." kata Podin yang keluar dari kamar, menuju ke ruang tamu dan mengulurkan tangan ingin menyalami adik iparnya itu.


    Namun, lagi-lagi, si Joni tidak mau menyambut uluran tangan kakak iparnya. Joni tidak mau bersalaman dengan Podin. Bahkan tatapan matanya juga menunjukkan amarah kepada Podin. Si Joni memandangi Podin dengan melotot.


    Podin pun juga terus menarik tangannya kembali, tidak jadi bersalaman. Hal itu tidak menjadikan masalah bagi Podin.


    "Tidak apa-apa .... Kalau memang tidak mau untuk diajak bersalaman dengan saya, tidak masalah ...." kata Podin tanpa memandangi Joni yang memang sudah sangat keterlaluan itu.


    "Kamu kok begitu, Joni ...." kata bapaknya yang tahu kalau anaknya itu tidak mau bersalaman dengan kakak iparnya.


    "Najis ...." sahut Joni seolah-olah menganggap dirinya paling suci.


    "Astaghfirullah .... Joni ...." tentu ibunya juga menyesal dengan sikap anak bungsunya itu.


     "Lesti ... Ibu .... Bapak .... Saya kira tadi, saya juga sudah mendengar, kalau kita hari ini sudah disuruh pergi dari rumah kita ini. Kita juga harus keluar dari rumah ini sekarang juga. Dan kita harus mencari tempat baru untuk berpindah, supaya kita bisa berteduh, supaya kita tidak kepanasan dan kehujanan, supaya kita bisa tidur. Maka sebaiknya, kita harus menuruti kata-kata dari anak Ibu dan Bapak yang bungsu ini. Kalau Bapak dan Ibu sudah menyerahkan semua warisan itu kepada anak ini, maka Bapak dan Ibu, mari segera mengemasi pakaian, kita pergi dari rumah ini sekarang juga." kata Podin yang mengajak orang tuanya, dan tentu juga mengajak istrinya untuk pergi meninggalkan rumah yang sudah diminta oleh anak bungsunya yang jahat itu.


    "Ya,  betul ...!! Segera saja pergi dari sini ...!! Segera saja tinggalkan rumah ini ...!! Makin cepat makin baik ...!!" Si Joni masih berlagak dan membentak-bentak, seolah-olah dia yang kuasa, seolah-olah dia yang berhak atas semuanya, seolah dia yang paling benar, bahkan anak ini sudah tega mengusir orang tuanya sendiri.


    "Ayo ..., Lesti .... segera kemasi pakaianmu, masukkan dalam koper. Ibu, Bapak ..., ayo berkemas .... Kita bawa pakaian saja, tidak usah bawa apa-apa." kata Podin meengajak ibu dan bapak mertuanya.


    "Saya mau bawa piring dan gelas, boleh ..., Lesti?" tanya ibunya yang tentu ingin membawa barangnya.


    "Tidak boleh ...!!!" Joni justru membentak keras, yang tentu ibunya jadi takut, karena tahu kalau anak busngsunya itu sedang kesetanan dengan warisan itu.


    "Iya, Bu .... Ayo Bu, kita menurut saja sama Akang Podin .... Kita pergi sama Akang Podin. Ibu ..., Bapak ..., ayo kita ikut Akang Podin ...." kata Lesti yang sudah mulai bisa menerima kenyataan. Dan tentunya, Lesti tidak akan meragukan apa yang dikatakan oleh suaminya. Podin pasti akan memberikan solusi yang terbaik.


    Akhirnya, bapak dan ibu mertua Podin, beserta dengan Lesti, hanya memasukkan pakaiannya saja ke dalam tas dan kantong plastik. Kain beberapa potong, yang bagi orang kampung sudah dianggap sangat berharga. Hanya itu yang mereka bawa.

__ADS_1


__ADS_2