
Hari terus berganti, hingga menjadi minggu. Dan minggu pun telah berubah, menjelma jadi bulan. Puput sudah sebulan berada di tempat Rina. Ia pun mulai menerima bayaran,ya sebagai upah dari kerjanya menjadi seorang pelayan di warung Rina. Namun waktu itu,setelah menerima bayaran, setelah Rina menyerahkan amplop berisi uang gaji, Puput bilang pada Rina kalau dirinya ingin pulang.
"Bu ..., saya mohon izin mau pulang saja ke desa." kata Puput pada Rina, saat menerima amplop berisi uang bayarannya.
"Kenapa ...? Apa bayarannya kurang banyak?" tanya Rina kepada Puput.
"Bukan, Bu .... Tapi saya tidak betah di rumah ini .... Saya tidak betah menjadi membantu Ibu di warung makan ini." begitu kata Puput yang tentu mengagetkan Rina.
"Kenapa sampai tidak betah? Ada apa?" tanya Rina.
Tentu Rina bertanya-tanya, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Puput? Rina juga berpikiran mungkin apa makannya yang kurang? Apa minumnya yang kurang? Atau apa yang membuat Puput tidak betah, sehingga ia ingin pulang.
"Memang kenapa. Put? Apa makanannya di sini tidak enak? Apa kamu kurang bebas untuk menikmati makanan-makanan di warung ini? Ibu kan sudah bilang, kalau kamu mau makan apa saja, pengen apa saja, silahkan ambil, tidak usah sungkan-sungkan." begitu kata Rina kepada Puput.
"Bukan, Bu .... Saya bukannya kurang makan. Saya bukannya kurang minum. Semuanya enak kok, Bu. Semuanya saya nikmati, dan saya juga sudah kenyang di sini." kata Puput sambil menundukkan kepala, tentu ada rasa takut kepada majikan perempuannya itu, kalau-kalau ia dimarahi.
"Lah, terus kenapa kok kamu pengen pulang?" tanya Rina pada Puput yang tentu ingin tahu alasannya.
"Anu ..., Bu .... Anu ...." kata Puput yang tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Anu ..., anu ..., kenapa?!" tanya Rina yang tentu bingung dengan jawaban Puput.
"Saya tidak betah di sini, Bu .... Saya kangen sama orang tua di desa." begitu jawab Puput yang beralasan tidak kerasan dan kangen ingin selalu ketemu orang tuanya.
"Ah ..., yang benar saja, Put ...?! Masak sampai sebegitunya kangen sama orang tua ...?! Kamu kan sudah besar, kamu itu kan sudah dewasa. Di sini kamu kerja mencari uang ..., dan uangnya bisa kamu kirimkan kepada orang tua kamu yang di desa .... Tetapi kamu mencarinya uang tetap di sini .... Apa di desa ada pekerjaan-pekerjaan seperti di sini? Apa kamu bisa mencari pekerjaan di sana ...?! Saya khawatir, Put ..., nanti kalau kamu pulang, kamu malah disuruh pergi ke sawah, disuruh pergi ke ladang sama orang tua kamu. Kasihan dirimu, Put ...." begitu kata Rina yang sebenarnya juga memberi alasan, memang sebaiknya kalau Puput mau bekerja, kalau Puput mau mencari uang, mestinya ya cari uang di kota besar, seperti halnya di pinggiran Jakarta. Atau kalau memang bisa, kamu masuk sekalian di Kota Jakarta. Di sana upah kerja lebih besar, bayarannya lebih banyak, dan tentunya tidak seperti kalau orang bekerja di desa, yang susah payah masuk ke sawah, tetapi upahnya tidak seberapa." jelas Rina yang memberi gambaran cari uang di kota besar bila dibandingkan dengan desa.
Namun Puput tidak menjawab kata-kata dari Rina. Ia justru kembali menunduk dan meneteskan air mata. Puput justru sesunggukan menangis.
"Kenapa kamu malah menangis?" begitu tanya Rina yang melihat kalau pembantunya itu kini justru menangis. Padahal Rina merasa tidak memarahi, dan juga tidak melarang seandainya Puput itu akan pulang ke desa. Rina hanya memberi gambaran kalau kerja di desa itu memang lebih susah, sedangkan di kota itu lebih mudah untuk mencari uang.
Puput tetap tidak mau menjawab. Ia masih saja menundukkan wajahnya, dan bahkan tangisan itu justru terdengar isak tangisnya.
"Loh ..., kamu itu kenapa. Put ...? Boleh kok, kamu pulang .... Saya tidak melarang kamu pulang ...." kata Rina yang kini justri jadi bingung melihat Puput yang menangis.
Kembali Puput menundukkan wajahnya, tidak berani menjawab apa-apa. Bahkan dia mulai terdengar suara tangisnya yang semakin mengeras. Tentu hal itu justru membuat Rina semakin bingung.
Beruntung, saat itu tiba-tiba saja saudara Puput yang kerja di pabrik, yaitu Pak Mitro, yang datang ke warung itu. Pak Mitro memang barusan pulang dari pabrik, dan sengaja mampir ke warung Rina. Tidak sekedar untuk makan, tetapi rupanya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Rina, terkait dengan Puput yang berkeinginan untuk pulang.
"Pak Mitro ..., ini lho, Puput mau pulang itu bagaimana toh, Pak Mitro?" tanya Rina kepada Pak Mitro yang baru saja datang, dan duduk di dekat kursi tempat Puput berada.
"Iya, Mpok Rina .... Mohon maaf, saya ingin menyampaikan masalah Puput. Memang sebenarnya Puput senang tinggal di Jakarta seperti ini, tetapi kemarin dia bilang ke saya kalau dirinya ingin pulang. Katanya sih kangen sama bapak dan ibunya yang ada di desa." begitu jawab Pak Mitro yang menegaskan kalau keponakannya itu ingin pulang ke desa seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Puput kepada Rina. Alasannya hanya karena kangen kepada orang tuanya yang ada di desa.
"Kok begitu, Pak Mitro ...? Masak Puput yang sudah segede ini, sudah perawan besar, dia hanya kangen pada orang tuanya, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah ia dapatkan. Bahkan saya membayar Puput tidak sedikit loh, Pak Mitro .... Ini sudah lumayan jauh dari cukup kalau dibandingkan dengan gaji yang ada di daerah sini. Setidaknya ini sudah di atas UMR, Pak Mitro ...." begitu kata Rina yang menjelaskan kalau sebenarnya gaji Puput pun sudah besar.
Memang kalau dihitung-hitung bayaran Puput yang hanya dibayar tiga juta itu sudah cukup besar bila dibandingkan dengan para pekerja pabrik. Tentu Rina membayar tiga juta itu sudah sangat-sangat lebih dari cukup, mengingat Puput hanya bekerja membantu di warung makan. Apalagi kalau dihitung yang lainnya, Rina memberikan segalanya kepada Puput, baik mulai dari makan minum bahkan juga tidur. Sehingga gaji Puput Itu utuh semuanya dibandingkan dengan pekerja pabrik yang bayarannya paling-paling hanya empat juta, tetapi untuk makan dia harus membayar sendiri, untuk tidur pun dia harus membayar kost atau kontrakan. Itu jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan gaji Puput yang utuh, tidak dipakai apa-apa.
"Benar, Mpok Rina .... Saya juga berterima kasih. Saya senang, Mpok Rina itu memberikan gaji yang lumayan kepada Puput, dan bahkan kalau saya katakan, itu gaji yang besar bila dibandingkan kalau kerja di desa yang tidak seberapa bayarannya. Tetapi masalahnya Puput tidak betah di sini, Mpok Rina. Ini yang saya juga agak sedih, saya juga prihatin. Saya mohon maaf, Mpok Rina." kata Pak Mitro yang tentunya juga agak kecewa dengan sikap keponakannya itu, yang meminta untuk berhenti dari pekerjaannya.
"Loh ..., memangnya kenapa sih, Pak Mitro? Ada masalah apa dengan Puput di sini? Kurang apa saya ini?" begitu tanya Rina yang tentu tidak rela kalau dirinya masih dianggap kurang memberikan bayaran kepada Puput.
__ADS_1
"Bukan begitu, Mpok Rina .... Kami yakin, kami percaya bahwa Mpok Rina itu baik. Tetapi Puput pernah bercerita ke saya, dia tidak betah di tempat ini, di rumahnya Mpok Rina, bahkan pernah dia ingin tidur di tempat kost saya. Tapi saya tidak mengizinkan, karena memang itu khusus tempat kost untuk laki-laki, karyawan-karyawan pabrik. Lah, kalau Puput sampai tidur di tempat kost saya, bisa berabe saya, bisa dikeroyok sama orang-orang satu kos-kosan." begitu kata Pak Mitro yang tentu memberi sesuatu masukan kepada Rina.
"Memangnya ada apa, Pak Mitro ...? Saya kok malah jadi bingung ini. Kok kayaknya ada sesuatu yang disembunyikan. Apa masalah bocah pengemis itu?" tanya Rina kepada Puput dan Pak Mitro yang ada di situ.
Beruntung sore itu belum banyak orang yang pada berdatangan di warung. Tentu masih pada mandi setelah pulang dari pabrik yang merasa badannya kotor dan berkeringat. Biar segar lebih dulu. Bahkan biasanya orang-orang pada makan setelah maghrib. Paling hanya satu dua orang saja yang kalau pulang kerja langsung mampir ke warung. Makanya, mumpung sepi Pak Mitro menyempatkan diri untuk bicara pada Rina. Bahkan juga di tempat itu tidak terlihat Podin, suaminya Rina.
"Mpok Rina tanya saja kepada Puput. Saya tidak bisa cerita, biar Puput sendiri yang bicara, biar Puput yang menjelaskan kepada Mpok Rina. Ayo, Nduk ..., kamu cerita sama Mpok Rina, bagaimana sebenarnya yang terjadi di sini." begitu kata Pak Mitro kepada Rina, dan tentu langsung menyuruh keponakannya itu untuk bercerita sendiri kepada majikan perempuannya.
"Iya, Put ..., ada apa sebenarnya? Saya ingin tahu yang kamu alami. Jadi kalau nanti kamu pulang, saya tidak bingung, saya tidak merasa bersalah. Tolong sampaikan saja kepada saya, sebenarnya ada apa yang terjadi pada kamu?" begitu kata Rina yang meminta Puput untuk menceritakan masalahnya.
"Begini, Bu .... Saya mohon maaf, sekali lagi tolong saya jangan dimarahi. Tolong saya jangan dibenci .... Anu, Bu ...." kata Puput yang tentu agak kebingungan untuk menyampaikannya kepada Rina. Pastinya ada rasa takut. Makanya Puput langsung menghentikan kata-katanya.
"Anu apa ...? Ayo terus terang saja, mumpung ini sepi, tidak ada orang .... Hanya pamanmu saja, nanti kalau sudah banyak orang pada berdatangan malah kamu tidak bisa bicara." kata Rina yang semakin penasaran dengan apa yang dialami oleh Puput.
"Iya, Bu ..., maaf .... Saya minta maaf, Bu .... Bukan maksud saya untuk tidak sopan, bukan maksud saya untuk kurang ajar. Tetapi saya tidak berani apa-apa, Bu .... Saya hanya takut .... Saya hanya khawatir ...." kata Puput yang kemudian dia terdiam lagi, menunduk dan bingung untuk menyampaikannya.
"Iya .... Ada apa? Terus terang saja .... Saya tidak akan marah, kok." kata Rina yang lagi-lagi penasaran dan memaksa kepada Puput untuk segera menceritakan apa yang terjadi.
Tetapi Puput terdiam tidak berani berkata-kata. Ia hanya memandangi pamannya Pak Mitro yang duduk di sampingnya.
Tentunya Pak Mitro tahu apa yang dimaksud oleh keponakannya itu, tentunya Puput tidak berani menyampaikan apa yang dialami. Dan ia pun tidak berani terus terang kepada majikan perempuannya, yaitu Rina. Maka Pak Mitra pun mencoba untuk berkata-kata dari hati dan pelan-pelan agar Rina tidak emosi. Maklum, Pak Mitro sudah sangat dewasa dan imannya kuat, sehingga bisa mengendalikan emosinya.
"Begini, Mpok Rina .... Sebenarnya Puput itu sering digoda oleh Mas Podin. Saya tidak tega mendengar cerita Puput yang mengadu kepada saya, karena saya juga khawatir kalau sampai hal ini terjadi, nanti justru akan menjadi keributan di antara Mpok Rina dan Mas Podin. Oleh sebab itu biarlah Puput yang mengalah untuk pulang ke desanya." kata Pak Mitro yang mulai berterus terang kepada Rina.
"Memang, Mas Podin kenapa, Pak Mitro?" tanya Rina kepada Pak Mitro yang menyebut-nyebut nama Podin.
"Biar Puput yang berterus terang menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Put, ayo bicara pelan-pelan kepada Mpok Rina, biar Mpok Rina tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu, sehingga Mpok Rina tidak marah pada kamu." begitu kata Pak Mitro yang meminta kepada keponakannya untuk bicara terus terang kepada majikan perempuannya itu.
"Apa yang terjadi pada kamu? Ada apa kamu, Put?" tanya Rina pada Puput yang penasaran ingin segera tahu.
"Anu, Bu Rina .... Pak Podin ...." Puput menyebut nama Podin.
"Iya ..... Pak Podin kenapa?" Rina semakin penasaran. Tentu ia sudah mulai khawatir dengan suaminya itu.
"Anu ..., Bu Rina .... Pak Podin sering sentuh-sentuh saya, Bu ...." kata Puput pelan-pelan, sambil menundukkan wajahnya.
"Pak Podin kenapa ...?!" Rina langsung bertanya keras kepada Puput, tentu Rina ingin cerita yang runtut dan jelas.
"Kalau malam hari, saat saya tidur, Pak Podin sering menelusup ke kamar saya, Bu." kata Puput yang sudah mulai membuka rahasianya.
"Benar itu yang kamu omongin ...?! Yerus ngapain Pak Podin ke kamar Puput ...?" tentu Rina mulai emosi mendengar kata-kata Puput tersebut.
"Iya, Bu Rina .... Bahkan Pak Podin tidak hanya menelusup masuk ke kamar, tetapi anu juga, Bu .... Saya malu untuk mengatakannya, Bu ...." kata Puput yang langsung menghentikan kata-katanya.
"Kenapa, Put ...? Ayo katakan saja ..., Mas Podin ngapain ...?! Cepat katakan ..., tidak usah takut .... Ayo katakan saja ...!" Rina mulai naik pitam. Rina mulai emosi. Kata-katanya mulai keras dan tidak terkendali.
"Saya malu, Bu .... Saya tidak mau mengatakan .... Saya lebih baik pulang saja, Bu .... Pokoknya Bu Rina sama Pak Podin biar tentram, biar nyaman. Saya tidak mau mengganggu keluarga Bu Rina." kata Puput yang tetap merahasiakan apa yang sudah dilakukan oleh Pudin pada dirinya.
"Lhoh ..., kok begitu ...? Tapi setidaknya kasih tahu Ibu, biar saya mengerti alasanmu, Puput ..." Rina memaksa Puput untuk bicara.
__ADS_1
"Pak Podin mau memperkosa saya, Bu ...." jawab Puput sambil menunduk.
"Mas Podin ....!!! Mas Podin ...!!!" Rina berteriak keras memanggil suaminya yang ada di kamar. Spontan emosinya langsung meluap mendengar kata-kata Puput.
"Iya, Rina .... Ada apa ...? Kok teriak-teriak kayak orang kesurupan saja." begitu kata Podin yang keluar dari kamarnya, dan menuju ke ruang warung makan di meja yang sudah dikelilingi oleh Rina, Puput dan Pak Mitro.
"Sini, Mas Podin ...!! Saya mau tanya .... Kamu melakukan apa saja kepada Puput ...?!! Ayo ngaku ...!!!" bentak Rina kepada suaminya.
Podin langsung menundukkan kepala, pertanda sudah ketahuan salahnya.
"Tidak kok .... Saya tidak ngapa-ngapain .... Saya hanya ngecek saja, apakah Puput digigit nyamuk apa tidak .... Saya hanya ngawasi ...." kata Podin yang tentu berbohong kepada istrinya.
"Dasar laki-laki buaya ...!!! Tidak tahu diri ...!!! Kurang ajar kamu ya, Mas ...!!!" begitu kata-kata Rina langsung membentak suaminya dengan suara yang sangat keras. Bahkan tangan Rina sudah menampar wajah suaminya itu.
"Sabar. Mpok Rina .... Sabar ...." Pak Mitro mencoba menghentikan tangan Rina yang sudah berkali-kali menampar suaminya.
Otomatis, suara Rina itu langsung didengar oleh banyak orang. Dan sore itu, orang-orang langsung pada berdatangan ke warung Rina. Tidak seperti biasanya, mereka berdatangan tidak untuk memesan makanan, tetapi mereka tentunya kaget mendengar suara Rina yang berteriak keras, seakan ada sesuatu yang sedang terjadi di warungnya. Bahkan di warung itu terlihat ada keributan. Maka orang-orang pun langsung berkerumun menuju ke tempat empat orang yang berada di situ.
"Ada apa ...?!"
"Kenapa ...?!"
"Ini memangnya kenapa ...?!"
"Apa yang terjadi, kok teriak-teriak ...?!"
"Ada maling, ya ...?!"
Orang-orang pun langsung pada mengajukan pertanyaan. Mereka tentu penasaran, apa sebenarnya yang sedang terjadi di warungnya Rina. Apalagi saat mereka melihat Puput yang menangis di tengah warung itu, pasti orang-orang pada mengira kalau Puput punya salah, kalau Puput dituduh mencuri, atau bahkan mungkin Puput mempunyai kesalahan yang fatal di warungnya Rina tersebut.
"Tenang-tenang .... Ndak usah ribut .... Kalau mau makan, duduk saja dulu, biar diladeni ...." begitu kata Pak Mitro yang tentu lebih bisa menguasai diri. Bahkan juga bisa mengendalikan emosi. Maka orang-orang yang datang itu justru disuruh duduk untuk memesan makan oleh Pak Mitra. Bahkan Pak Mitro tidak mau menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.
Rina mulai meneteskan air mata. Rina mulai menangis. Sama seperti halnya dengan Puput yang sejak tadi sudah menangis. Tentunya karena mereka tidak bisa menahan malu dan takut aibnya diketahui orang banyak.
"Lah ..., iya .... Ini sebenarnya ada apa? Kenapa Puput menangis? Kenapa Pok Rina teriak-teriak? Ada apa yang terjadi?" orang-orang masih pada bertanya, yang tentunya ingin tahu peristiwa yang sebenarnya terjadi.
"Sudahlah .... Nggak ada apa-apa .... Ini hanya salah paham. Sudah, ayo sana yang mau makan pesan saja." begitu kata Pak Mitro yang Tentu juga tidak ingin ketahuan apa sebenarnya yang terjadi pada keponakannya ini.
"Lho .... Ditanyai pada tidak mau jawab, tidak mau terus terang .... Puput menangis kenapa? Kamu kenapa, Put ...?" tanya salah seorang yang mendekat ke Puput.
"Mau pulang kampung ...." jawab Puput yang tetap bisa menyimpan rahasia. Itulah baiknya kepribadian Puput, walau hanya orang desa.
"Oalah .... Lha cuman mau pulang kampung kok sampek teriak-teriak ...." sahut orang yang lain.
"Iya ..., karena Mpok Rina tidak mengizinkan ...." sahut Pak Mitro.
"Halah .... Pok Rina ya gitu .... Pulang sebentar saja kok tidak boleh ...." sahut yang lain.
"Tuh .... Dengerin itu .... Puput itu mau pulang, tetapi Mpok Rina tidak mengizinkan karena tidak punya pembantu .... Takut kalau repot .... Dah ..., denger tuh." tandas yang lainnya, yang sok tahu.
__ADS_1
"Kenapa kok berdiri diam di situ saja kayak ketakutan, kayak munyuk di tulup .... Ayo makan .... Sekalian makan malam, mumpung Puput masih di sini .... Masih ada yang bikinkan kopi enak ...." begitu kata yang lain.
Akhirnya, orang-orang yang sudah pada datang ke warung Rina itu pun langsung memesan makan. Rina sambil dengan memendam perasaan jengkel, meladeni para pembeli. Demikian juga Puput, masih mau melayani para pelanggan warungnya. Dan rahasia Puput serta keluarga Rina, tetap terjaga. Dan tentunya, itu semua berkat kebijakan Pak Mitro, yang tentunya dia bisa melindungi nama baik Mpok Rina dan Podin, agar tidak tercemar karena ulah Podin yang sudah melakukan hal-hal tidak terpuji kepada keponakannya, yaitu Puput.