PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 143: MENCARI RUMAH DI KAMPUNG


__ADS_3

    Setelah mendapatkan pengembalian uang dari pemilik villa yang seluruhnya dikembalikan secara utuh kepada Podin, tentunya Podin kembali bingung lagi. Karena dia tidak punya tempat tinggal. Podin tidak punya rumah untuk singgah. Maka sementara waktu, Podin kembali tinggal di kantornya, di tempat usahanya, di ruang tempat dulu ia bekerja. Dan tentunya sambil menunggu untuk mendapatkan rumah, untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru. Dan pasti, kembali lagi kepada Cik Melan, Podin harus meminta bantuan kepada Cik Melan untuk mencarikan rumah sebagai tempat tinggalnya.


    "Cik Melan, saya harus minta tolong kembali untuk dicarikan rumah. Siapa tahu ada iklan atau penjual yang menawarkan rumah, yang kira-kira cocok untuk saya. Tidak perlu yang mahal-mahal, tidak perlu yang mewah, tidak perlu yang ada di tengah kota. Tetapi yang penting bagi saya rumah itu nyaman dan tidak terlalu padat penduduknya." kata Podin kepada bandaranya yang cantik itu.


    "Wah ..., kalau Pak Podin menghendaki akan tinggal di rumah yang jauh dari penduduk, mau cari rumah yang jauh dari para tetangga, mestinya sebaiknya Pak Podin mencari tempat tinggal yang agak ke arah kampung, Pak. Tinggal di daerah pedesaan, yang tentunya di situ tidak begitu banyak penduduk, dan pastinya juga tidak terlalu banyak orang. Bahkan juga tidak ada rumah-rumah yang berdekatan." kata Cik Melan kepada Podin yang tentunya memberi gambaran kalau rumah yang jauh dari tetangga itu biasanya hanya ada di daerah kampung yang masih jarang penduduknya, seperti halnya pada desa-desa atau perkampungan yang jauh dari perkotaan. Memang tempat seperti itu masih jarang penduduk dan pastinya juga jauh dengan kemajuan modernisasi seperti halnya daerah perkotaan.


    "Tidak apa-apa .... Yang penting saya bisa hidup tenang. Saya sudah mulai usia, yang pasti saya harus mulai menata hidup untuk masa tua. Saya harus mulai menjauh dari keramaian. Dan setidaknya, saya bisa jauh dari masalah. Saya itu inginnya hidup tidak banyak tuntutan, tidak terlalu terganggu oleh keramaian, dan yang penting bagi saya sekarang adalah menikmati hidup yang menyenangkan, menikmati masa tua." begitu kata Podin kepada Cik Melan.


    "Iya, Pak Podin .... Saya akan berusaha mencarikan rumah yang ada di penawaran iklan di internet. Siapa tahu ada di daerah-daerah yang masih lumayan sepi dan masih lumayan tidak begitu jauh dari daerah perkotaan Setidaknya kalau Bapak mau ke sini tidak terlalu jauh." begitu kata Cik Melan kepada Podin, yang tentunya bisa memberi gambaran daerah yang kira-kira nanti akan dikehendaki oleh bosnya itu. Ya, tentunya iklan juga ada yang sesuai dengan keinginan Bosnya itu, mana kala waktu Podin beli villa, yang jauh dari perkampungan. Namun sayang, ternyata villa yang dia beli justru bermasalah.


    Memang keinginan seperti itu, untuk tinggal di perkampungan yang masih sepi setidaknya sangat bagus dan nyaman serta tenang. Walaupun tempat yang sepi, yang jarang penduduk, tetapi masih terjangkau dari kota, itu tentunya tidak gampang untuk dicari. Namun bagi perempuan muda yang cantik itu, yang pandai dan bisa menyelesaikan banyak persoalan, pasti bisa mencarikan keinginan Podin.

__ADS_1


    "Tapi mohon maaf, Pak .... Saya mau tanya Bapak. Pak Podin sekarang ini kan hidup sendirian, kalau tinggal di daerah yang jauh dari tetangga, tinggal di daerah pedesaan, apa Bapak tidak kesepian?" tanya Cik Melan kepada Podin.


    "Saya tidak mau berpikir tentang hal itu, Cik .... Biar itu nanti berjalan seiring waktu. Saya sudah malas untuk memikirkan tentang istri. Apalagi saya sudah berkali-kali kecewa dengan perempuan. Saya khawatir, nanti kalaupun saya punya istri lagi, saya akan dikecewakan lagi. Daripada sakit hati, mending saya hidup menyendiri dulu. Seandainya nanti dapat jodoh, ataupun nanti saya tidak ketemu dengan perempuan yang cocok, itu urusan nanti. Yang penting sekarang saya bisa punya tempat tinggal yang nyaman." begitu kata Podin yang tentu menjawab pertanyaan dari karyawatinya itu, dan pastinya dia juga memberi gambaran bahwa hidupnya yang selalu mengalami permasalahan-permasalahan dengan perempuan-perempuan yang ia nikahi, makanya Podin frustrasi.


    Padahal, sebenarnya Cik Melan berharap akan jawaban bosnya itu, yang mungkin tertarik dengan perempuan, setidaknya dirinya juga masih gadis lajang yang belum punya suami. Akhirnya Cik Melan pun mulai mencari informasi di internet, mulai mencari iklan yang dipasang di internet. Namun tentunya, kali ini Cik Melan tidak gegabah. Kalaupun ada penawaran, kalaupun ada iklan, kalaupun ada yang akan menjual rumah atau pekarangan yang jauh dari perkampungan, setidaknya dia akan mencari informasi, akan melakukan konfirmasi yang lengkap, yang komplit, dan paling tidak harus lebih hati-hati lagi. Tanah ataupun bangunan yang didapatkan itu aman dan tidak beresiko. Apalagi sampai tanah itu ternyata adalah tanah yang bermasalah dengan hukum, seperti halya yang terjadi dengan pembelian villa di Cisarua, yang ternyata justru bermasalah dengan kondisi lahannya. Tentu Cik Melan trauma dengan pembelian rumah kembali.


    Setelah dua hari mencari informasi dari internet, setelah sekian lama bertanya-tanya, mencoba menghubungi berbagai informasi, menghubungi beberapa orang penjual yang menawarkan tanahnya dalam internet, maka pagi itu Cik Melan bicara langsung dengan Podin. Yang pastinya ingin menyampaikan hasil yang diperoleh dari informasi-informasi penawaran yang ada di internet.


    "Tetapi, Cik ..., untuk membangun rumah baru apakah tidak membutuhkan waktu yang lama?" tanya Podin kepada perempuan cantik yang menjadi bendahara di perusahaannya tersebut.


    "Saya kira tidak masalah, Pak. Nanti untuk pembangunannya kita serahkan kepada pengembang, kita serahkan kepada pemborong bangunan. Pastinya dia sudah punya gambar, dia sudah punya karyawan, dia sudah punya pekerja, dan tentunya mereka akan bekerja secara cepat untuk membangunnya. Paling tidak dia sudah punya target waktu. Biasanya rata-rata untuk membangun rumah itu antara dua sampai tiga bulan. Nah kalau Bapak mau, nanti kami akan cari pengembang. Saya akan tanah yang cukup luas yang ada di daerah agak ke kampung, jauh dari keramaian, tetapi juga tidak terlalu jauh untuk ke kota. Dan setidaknya nanti kita juga bisa melihat melalui Google Map. Kalau daerah itu masih cukup sepi dan tidak terlalu ramai dengan penduduk yang padat." begitu kata Cik Melan kepada bosnya, yang pasti memberikan gambaran membangun rumah yang baik.

__ADS_1


    "Kalau memang bisa, saya kira tidak apa-apa .... Sementara waktu nanti saya tinggal di sini juga tidak masalah." jawab Podin.


    Ya, kenyataan memang untuk mencari rumah yang bagus secara langsung itu sangat sulit. Tetapi kalau memang menghendaki membuat bangunan-bangunan di lahan kosong, di tempat yang akan dibeli, pastinya cara membangun sendiri itu justru lebih baik. Paling tidak kalau membangun sendiri itu bisa mengatur lokasi, bisa mengatur pekarangan, bisa mengatur posisinya, dan juga bisa memesan gambar bangunan itu sesuai dengan desain yang dikehendaki oleh pembelinya.


    "Baik, Pak .... Nanti saya akan berusaha mencari tanah dan mencari pengembang yang kira-kira bisa membuatkan rumah untuk Bapak. Dan tentunya saya juga akan meminta gambar yang baik, setidaknya rumah itu pas dan cocok untuk Bapak. Dan yang pasti bangunan itu tempatnya jauh dari pemukiman penduduk dan tidak terlalu banyak keramaian. Kalau misalnya Bapak setuju, Pak Podin menghendaki bangunan dengan tanahnya yang kira-kira seluas berapa? Dan bangunannya juga sebesar ukuran berapa, Pak?" tanya Cik Melan kepada Podin.


    "Saya tidak bisa berpikir. Saya pasrah sama Cik Melan. Silakan Cik Melan yang bisa memperkirakan, rumah yang menarik bagi saya, rumah itu enak, nyaman ditempati dan tenang sebagai tempat tinggal." jawab Podin yang tentu memang tidak pernah membangun rumah. Memang dia pun dahulu saat masih miskin, rumah yang seperti gubug saja itu dibangunkan oleh warga.


    "Baik, Pak, kalau begitu nanti saya akan konsultasi dengan pengembang. Dan paling tidak nanti saya juga akan minta pertimbangan, kira-kira tempat mana yang pas, yang cocok, yang sesuai dengan keinginan bapak. Kalau boleh tahu, Bapak pengen rumah yang anggaran pembeliannya berapa, Pak?" tanya Cik Melan kepada Podin.


    "Ya ..., sekitar satu sampai dua miliar. Saya tidak masalah dengan harga. Yang penting tanahnya luas, dan siapa tahu nanti saya bisa bercocok tanam di sana. Atau setidaknya saya bisa memelihara ayam atau memelihara ikan di kolam. Ya ..., saya ingin mencoba untuk menikmati hidup nyaman dengan lingkungan alam yang menyenangkan." begitu jawaban Podin kepada Cik Melan. Simpel dan sederhana.

__ADS_1


    "Baik, Pak .... Kami usahakan siap mencari rekanan yang bisa mencarikan lahan dan membangunkan rumah buat Bapak. Semoga saja ada lahan yang dijual, dan cocok lokasinya, yang berada di kampung, yang viewnya bagus." begitu kata Cik Melan yang tentunya langsung bergegas untuk membantu bosnya.


__ADS_2