PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 36: KEDATANGAN SIA-SIA


__ADS_3

 Setelah tidak berhasil menemukan anak-anaknya, akhirnya Podin yang sudah melompat ke perahu yang mau berjalan itu, Podin pun masuk ke pulau berhala sendirian. Tanpa membawa anak anak-anaknya. Tentu ada rasa kecewa pagi Podin, karena ia tidak bakal mampu mempersembahkan anak-anaknya kepada penguasa Pulau Berhala. Ya, persembahan itu pun akhirnya gagal, tidak bisa dilaksanakan oleh Podin. Padahal malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu, yaitu malam bulan purnama, di mana nantinya pada saat bulan purnama berada tepat di tengah-tengah, tepat di atas Pulau Berhala, seharusnya Podin menyerahkan persembahan. Podin gagal untuk memenuhi syarat yang sudah diminta oleh penguasa Pulau Berhala itu.


    Namun karena ia sudah masuk ke pulau itu, maka ia pun tetap melanjutkan melangkahkan kakinya setelah turun dari perahu. Podin langsung berjalan menuju ke jalan yang biasa ia lalui. Jalan setapak yang halus dan mulus tersebut. Tetapi ada yang terlihat berbeda ketika Podin melintas di tempat itu saat bulan purnama. Ya, jalan yang ia lintasi dulu-dulu, tentunya sangat berbeda dengan saat ini. Jika dulu, Podin melintas dan melihat kepala-kepala yang berkelimpangan di atas jalan itu, namun pada malam itu, saat bulan purnama muncul dari langit timur, pada saat bulan itu memancarkan sinar kemasan dari langit timur, semuanya berubah, semuanya berbeda, semuanya lain daripada hari-hari sebelum. Ya, Pulau Berhala itu sudah disulap menjadi sebuah tempat yang penuh dengan keindahan. Pulau Berhala itu seakan sudah diubah menjadi tempat yang penuh dengan kemewahan. Pulau Berhala itu seakan sudah berubah menjadi tempat hiburan yang paling menyenangkan, bahkan di Jakarta pun tidak ada tempat yang  indah seperti ini.


    Podin yang menyaksikan keadaan Pulau Berhala itu merasa bahwa pulau itu benar-benar sudah berubah, benar-benar sudah berbeda. Tempat itu sangat rapi dan penuh dengan gemerlap lampu-lampu yang bersinar terang, dengan hiasan-hiasan yang sangat indah dan menawan. Rupanya, malam bulan purnama benar-benar merubah Pulau Berhala menjadi sebuah tempat wisata dengan hiburan yang paling menyenangkan. Tempat wisata yang penuh dengan gemerlap lampu. Tempat wisata yang penuh dengan hiasan-hiasan yang indah dan menawan. Dan tentunya, para wisatawan yang berdatangan ke tempat itu pasti akan senang menyaksikan semuanya itu.


    Podin heran, kenapa tempat yang dulunya sempat menakutkan dirinya, tempat yang dulu pernah ia saksikan ada tumpukan mayat-mayat bergelimpangan tanpa kepala, tempat yang dulunya jalannya dipenuhi dengan kepala-kepala manusia yang menggelinding di sanasini. Tetapi kali ini, tempat itu seakan-akan benar-benar disulap menjadi objek wisata yang paling menarik di dunia.


    Podin mulai ragu melangkahkan kakinya menuju ke tengah Pulau Berhala tersebut. Ya, pulau yang dulu pertama kali saat ia datang, ia menyaksikan sebuah istana yang sangat terang benderang sebuah istana yang sangat megah ini, malam itu istana yang indah itu kembali muncul dan kembali terlihat oleh mata Podin. Tentu Podin tidak percaya hal itu. Namun kenyataannya, seperti pada pertama kali ia datang, ia menyaksikan istana yang lebih indah dan lebih megah.


    Bahkan Podin, di malam purnama itu, Podin tidak sekedar menyaksikan istana yang lebih indah dan lebih megah, tetapi istana itu terlihat lebih besar. Istana di Pulau Berhala itu terlihat sangat luar biasa. Tidak sekedar megah bangunannya, tetapi juga ornamen-ornamennya yang sangat indah dan menarik. Bahkan di halaman istana itu terdapat lampu-lampu tanman yang terang. Sehingga istana yang megah dengan lampu yang gemerlap dan sangat terang benderang itu sudah terlihat dari kejauhan, sudah terlihat pada saat Podin menginjakkan kakinya memasuki pulau itu. Bahkan saat Podin melangkahkan kaki melintasi jalan kecil dengan hiasan lampu-lampu di kanan dan kirinya.


    Podin yang dulu pernah menyaksikan kepala-kepala menggelinding di sana sini, jalanan itu kini berubah seakan terbuat dari batu marmer yang sangat indah. Batu marmer yang bisa memancarkan sinar dari dalam. Sedangkan di kanan kiri jalan itu seakan-akan berdiri tiang-tiang yang terdapat lampu-lampu hias. Dan lampu-lampu hias yang ada di pinggir jalan itu menyala indah, seakan lampu taman yang sangat gemerlap, yang sangat indah dan sangat mengasyikkan.


    Podin pun tanpa ragu lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Ia melenggang santai, yang tentunya dia sudah paham bahwa dirinya akan sampai di depan istana yang megah tersebut. Dan tidak berapa lama kemudian, ia pun sudah sampai di depan istana. Istana itu jauh berbeda dengan beberapa kali saat ia datang ke tempat itu. Ya suasana di depan istana itu seakan berubah. Depan istana itu sudah menjadi sebuah halaman besar, halaman yang dipenuhi dengan lampu-lampu taman, halaman yang sangat halus dan bersih. Halaman istana itu seluruhnya dipasangi lantai yang terbuat dari batu marmer yang ditata indah. Bahkan di halaman itu sudah ada lampu-lampu hias yang menyorot ke berbagai penjuru, lampu warna-warni yang indah dan menawan.


    Masih ada satu hal lagi yang membuat Podin kaget adalah terdengarnya suara musik yang menggelegar di telinganya. Ya, dari halaman istana itu sudah terdengar jedag-jedug irama-irama musik. Tentunya bagi telinga Podin, irama musik itu agak aneh. Namun bagi Podin yang hidupnya di Jakarta, di dunia hiburan, yang hidupnya bersumber dari hiburan karaoke, tentu dia tidak kaget dengan musik-musik dari jenis apapun, ia bisa menerima suara musik apapun di telinganya. Tentu enak-enak saja, tidak ada yang merasa mengganggu telinganya. Bahkan Podin mulai berjingkrak, mulai bergoyang, mulai berjoget saat mendengarkan musik yang mendengung di pelataran istana tersebut.


    Namun ada hal aneh lagi yang baru dijumpai oleh Podin, saat masuk ke halaman istana itu, ternyata tidak hanya Podin sendiri yang datang ke tempat itu. Ternyata di halaman istana itu sudah banyak orang sudah berada di situ. Sudah banyak orang yang berjoget. Sudah ada orang-orang yang berdendang mengikuti irama musik yang diperdengarkan di istana itu. Ya, akhirnya Podin pun diseret oleh salah seorang yang berjoget di sana yang menghampiri dirinya yang baru datang.


    "Ayo .... Kemarilah ...! Kita berdansa bersama ...." begitu kata orang itu yang langsung menyeret tangan Podin untuk diajak berjoget bersama.


    Podin lantas menurut saja atas ajakan laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Tetapi yang jelas, Podin sudah mulai menerka bahwa orang itu tentu salah satu bagian dari orang-orang yang juga akan mengikuti acara persembahan untuk meminta harta kekayaan dari penguasa Pulau Berhala. Maka tiba-tiba Podin menyeletuk bertanya kepada orang itu.


    "Bapak datang ke sini sudah berapa kali?" tanya Podin yang tentu ingin tahu yang sudah dilakukan oleh orang yang mengajaknya berjoget oleh orang yang sudah menyeretnya untuk berdendang bersama.


    "Jangan tanya begitu ...!" jawab orang itu, yang tentu tidak mau diketahui rahasianya.

__ADS_1


    Akhirnya Podin tidak berani menanyakan hal yang sekiranya menyangkut rahasia pribadi orang lain. Ya, Podin teringat waktu itu ada laki-laki yang mengajaknya membakar duba atau kemenyan, dan menyebar kembang kiriman. Laki-laki itu pun mengatakan kepada Podin, ia tidak boleh menanyakan urusan orang lain. Maka kali ini ketika ia ditegur kembali oleh orang yang mengajaknya berjoget di depan istana itu, Podin pun langsung diam tidak bisa menjawab, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Podin sudah malu karena ditegur dua kali oleh orang yang sama-sama datang ke Pulau Berhala.


    Memang, datang ke Pulau Berhala itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Demikian juga, orang lain pun pasti tidak akan menanyakan rahasianya Podin. Pantas saja, meski di istana itu banyak pengunjung, tetapi saat menunggu perahu yang mengangkut, saat menunggu di pantai, dirinya tidak ketemu dengan siapapun. Tidak ada yang diangkut oleh perahu bersamaan. Dan Podin saat ini hanya bisa diam. Podin hanya mengikuti alunan musik itu, mengikuti ajakan orang itu untuk berjoget. Tentu Podin tetap sambil mengamati di sekitarnya, sambil melihat di sekelilingnya. Dan yang jelas Podin ingin tahu seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang malam itu berada di depan Istana itu.


    Waktu pun terus berjalan, hingga tanpa terasa tengah malam mulai tiba. Rembulan yang bersinar penuh dengan wajah yang bulat bundar telah menyorotkan sinarnya tepat berada di atas istana yang megah itu. Istana yang terkena oleh sinar bulan purnama itu warnanya berubah semakin indah, semakin terang, semakin gemerlap dan semakin menawan. Istana Pulau Berhala kini benar-benar berubah menjadi istana yang paling megah yang pernah dilihat oleh orang-orang di dunia. Istana itu seakan-akan memang ada di dunia fantasi, seakan-akan istana itu hanya istana yang ada di dongeng anak-anak, istana itu hanya merupakan cerita-cerita fiksi yang belum diketahui kebenarannya. Namun malam itu, orang-orang benar-benar menyaksikan istana yang sangat-sangat luar biasa.


    Bukan masalah berubahnya istana itu yang menjadi kekaguman Podin. Tetapi saat bulan berada tepat di atas istana itu, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi hening. Suara sound system yang menggelegar tadi, seketika berhenti. Tidak ada lagi suara musik lagi. Tidak ada lagi orang yang bersenang-senang. Tidak ada lagi orang-orang yang diperjoget-joget.


    Tiba-tiba saja pintu istana itu terbuka lebar. Dari dalam istana memancar cahaya yang sangat terang, cahaya yang gemerlap, cahaya yang menyilaukan mata. Ya, ruangan istana itu menjadi sangat terang.


    Orang-orang yang berada halaman pada mulai memasuki istana. Tetapi dengan tenang, tanpa ada suara. Orang-orang memasuki ruang istana yang sangat luas itu. Beberapa saat kemudian ada empat orang ponggawa kerajaan dengan mengenakan pakaian khas pakaian adat, layaknya seorang pegawai keraton. Empat orang ponggawa itu mengeluarkan batu besar dan menaruh batu besar itu di altar istana. Batu besar yang digotong ke tengah altar istana itu, bagian atasnya sangat datar dan halus, sedangkan pinggirannya ada semacam pembatas yang agak menonjol. Sedangkan pada bagian ujung batu kisaran yang besar itu, yang menyerupai sebuah meja, ada legokan seperti halnya talang.


    Memang  batu itu adalah batu kisaran yang dijadikan meja tempat untuk persembahan bagi sang berhala penguasa Pulau Berhala. Batu kisaran itu yang akan dipakai untuk acara pemotongan kepala korban persembahan yang akan dilakukan oleh orang yang menghendaki harta kekayaan dari penguasa Pulau Berhala.


    Selanjutnya, muncul dua orang ponggawa yang telanjang dada, mengenakan pakaian sehelai kain yang hanya menutup syahwatnya saja. Dua ponggawa membawa istana itu masing-masing membawa semacam peti harta karun. Ya, benar itu peti harta karun. Pasti dua orang ponggawa tanpa pakaian itu akan memasukkan harta karun ke dalam peti itu. Dua orang itu berdiri di bagian depan batu kisaran.


    Laki-laki itu membawa seorang bocah kecil berusia sekitar dua tahun. Laki-laki itu berjalan sambil memnopong anak itu mendekat ke tengah istana dan langsung menuju ke batu kisaran yang akan digunakan untuk mempersembahkan korban kepada Sang Penguasa. Ya, anak itu sudah diikat tangannya oleh laki-laki yang sangat keren itu. Anak laki-laki kecil itu diangkatnya dan ditaruh di atas batu kisaran. Dan dalam waktu sekejap laki-laki itu mengambil sembilan pisau belati yang tersedia di batu kisaran itu. Sebuah pisau belati yang sangat indah, mengkilap dan sangat tajam. Gagang belati itu terbuat dari emas yang dihiasi intang permata. Benar-benar belati yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi.


    Laki-laki itu sudah bersiap untuk mempersembahkan pengorbanannya. Tangan kanannya sudah terangkat ke atas dengan sebilah belati yang menyilaukan. Dia sudah mulai menancapkan pisau belatinya ke atas leher anak kecil yang hanya diam tak berdaya, yang digeletakkan di atas batu persembahan tersebut.


    "Oeee ..... Oeeee ..... Hiya .... Iya ..., iya ..., iya ..., iya ...., iya ....."


    Terdengar suara dari orang-orang yang ada di sekeliling halaman pelataran itu, dan mungkin juga para ponggawa serta laskar-laskar kerajaan. Dan tiba-tiba ....


    "Crakghht ....!!! "


    Pisau belati itu sudah menancap pada leher anak kecil yang langsung berkelojoyan di atas batu persembahan tersebut.

__ADS_1


    "Aaaach ..... !!" suara jeritan anak itu, yang itu merintih kesakitan karena lehernya sudah ditebas dengan pisau belati oleh laki-laki perlente.


    Bersamaan dengan itu tiba-tiba saja ....


    "Huahahahaha ....!! Huaahahahaha .....!!" terdengar gelak tawa menggelegar yang memenuhi ruangan istana tersebut. Pasti itu suara Sang Penguasa Pulau Berhala.


    Bersamaan dengan menghilangnya suara gelak tawa Sang Penguasa, tiba-tiba terdengar suara aneh.


    "Krincing .... Cring .... Cring .... "


    Terdengar suara gemerincing logam-logam yang berjatuhan dari atas batu persembahan itu. Ya, itu adalah uang-uang logam yang terbuat dari emas, perhiasan-perhiasan yang berjatuhan dari batu kisaran tempat persembahan itu. Suara-suara harta karun dari tempat orang itu memotong memenggal leher anak yang ditikam dengan pisau belati tersebut.


    Ternyata, dari darah yang mengucur, darah yang keluar di batu persembahan itu, darah korban yang mengalir itu sudah berubah dan keluar menjadi banyak sekali emas permata. Perhiasan-perhiasan, uang-uang logam, intan permata yang berjatuhan melewati talang batu kisaran itu langsung dimasukkan oleh dua orang longgawa istana itu yang sudah bersiap membawa peti harta karun. Lantas peti harta karun yang sudah dibuka tutupnya itu pun terisi penug dengan berbagai benda harta karun.


    Setelah semua harta yang mengalir dari batu kisaran itu berhenti, lantas dua orang mentup peti harta karunnya. Kemudian membawa peti harta karun itu dan selanjutnya langsung diserahkan kepada laki-laki yang sudah mempersembahkan pengorbannya. Dan laki-laki itu langsung menerima dua peti harta karun tersebut yang langsung membawanya keluar.


    "Terima kasih .... Terima kasih ...." kata laki-laki perlente itu sambil melangkah keluar meninggalkan istana.


    Ada hal yang sangat membuat Podin terkesima menyaksikan semua itu. Podin melihat dengan mata terbelalak. Memang benar apa yang dikatakan oleh ular raksasa penunggu istana, yang menyuruhnya untuk mengorbankan anak-anaknya. Itu artinya bahwa pengorbanan itulah yang akan berubah menjadi emas, permata, uang dan perhiasan yang sangat banyak jumlahnya. Ya, kalau satu orang saja yang dikorbankan sudah menghasilkan intan permata serta berbagai macam perhiasan dan uang-uang dari logam emas yang jumlahnya dua peti, bagaimana kalau misalnya yang dikorbankan dua anak? Tiga anak? Empat anak? Pasti hasilnya akan sangat banyak sekali. Tentu kalau tadi bisa membawa ketiga anaknya, Podin akan menjadi orang yang kaya raya dengan intan permata serta berbagai perhiasan dan uang-uang dari emas yang terus mengucur, terus mengalir dari batu yang digunakan untuk persembahan itu. Namun sayang, anak-anaknya yang diajak justru hilang entah ke mana.


    Setelah itu, datang dua orang ponggawa lagi, dengan tubuh besar dan kekar. Dua ponggawa itu bagaikan seorang algojo. Ia mendatangi batu persembahan itu, lantas algojo yang satu mengangkat tubuh bocah itu yang sudah tidak ada kepalanya. Dan yang satu lagi mencangking kepala bocah korban persembahan itu, Tentu dengan mata yang melotot dan lidah yang menjulur keluar. Katanya, anak ini tidak ikhlas, dan pasti nanti akan menuntut balas. Dua orang algojo itu pun melemparkan tubuh anak itu di luar pelataran. Demikian juga dengan kepala yang terlihat mengerikan itu.


    Waktu terus berjalan. Berganti-ganti orang yang datang ke tempat batu persembahan itu. Dan semuanya mengorbankan anak-anak, mengorbankan bocah kecil yang belum berdosa. Dan tentu hasil pengorbanan itu adalah kucuran-kucuran darah yang mengalir dari batu persembahan itu, yang di sana akan berubah menjadi harta kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya.


    Rembulan sudah bergeser posisinya. Arahnya sudah mulai miring ke barat. Ya, rembulan itu sudah melintasi pincak kulminasinya. Rembulan itu sudah turun dari titik zenit. Acara pesta persembahan di malam purnama itu pun berakhir. Setiap orang yang mempersembahkan dengan memenggal leher kepala anak-anaknya sudah berlalu. Acara yang sangat miris, sangat menakutkan, acara gilagilaan dan tentu membuat perut mual itu, hanya bertujuan untuk mendapatkan harta benda tanpa harus bekerja, tanpa harus bersusah payah. Namun, memang seperti itulah ulah manusia-manusia biadab, tingkah orang-orang serakah.


    Mereka kemudian berangsur pulang menuju tempat masing-masing. Mereka kembali menuju pantai. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Dan tentunya, semua orang yang berdatangan ke Pulau Berhala itu, yang berdatangan ke istana itu, mereka semuanya membawa peti harta karun. Kecuali satu orang yang tidak membawa peti harta karun, yaitu Podin. Podin tidak membawa apa-apa, tangannya kosong, hampa tanpa memperoleh apa apa.

__ADS_1


    Podin hanya sanggup menyaksikan orang-orang yang gembira karena mendapatkan harta kekayaan, semebtara dia hanya bisa melongong. Karena di malam purnama itu, Podin tidak sanggup membawa siapa-siapa, Podin tidak bisa mengorbankan anak-anaknya. Malam itu pastinya Podin hanya bisa menyaksikan saja tanpa bisa mendapatkan harta kekayaan. Kedatangannya tanpa hasil. Kedatangannya di malam bulan purnama itu sangat sia-sia.


__ADS_2