
Waktu sudah sampai tengah malam. Bulan purnama sudah nyaris tepat berada di atas istana Pulau Berhala. Pintu istana pun terbuka, dan semua orang kini masuk ke dalam istana yang sangat terang benderang tersebut. Ya, mereka adalah orang-orang yang akan mempersembahkan korban-korbannya kepada Sang Penguasa Pulau Berhala di atas altar istana itu, di atas meja batu kisaran sebagai tempat persembahan. Ya, mereka adalah orang-orang yang menghendaki mendapatkan harta kekayaan dari Sang Penguasa Pulau Berhala.
Podin kebingungan mencari Maya. Maya terlepas dari Podin ketika ia berjingkrak-jingkrak di halaman istana tadi. Maya yang tentunya sangat senang dan terhanyut dengan kegembiraannya menikmati suasana yang memang sesuai dengan keinginan hatinya itu, maka ia tidak menghiraukan lagi keberadaan suaminya. Maya begitu saja pergi meninggalkan suaminya yang masih menggendong keranjang bayi.
"Maya ...! Maya ...!" Podin berusaha mencari dan memanggil istrinya.
Namun karena ponggawa kerajaan itu sudah keluar, dan semua orang sudah mulai diam, maka Podin pun ikut diam. Tidak lagi berani berteriak memanggil Maya. Podin takut kalau diusir atau ditangkap oleh para algojo atau pasukan kerajaan. Dan pastinya, acara persembahan pun akan segera dimulai.
Akhirnya Podin pun kembali konsentrasi untuk melihat persiapan di tengah altar istana yang sedang ditata oleh para punggawa kerajaan. Podin tidak menggubris Maya ada di mana. Yang penting dirinya akan bersiap untuk mempersembahkan bayinya, yang nanti ketika tempat persembahan di altar istana itu sudah siap, maka Podin berusaha langsung akan mempersembahkan bayinya.
Seperti yang pernah ia lakukan, saat ia mempersembahkan anak perempuan kecil, anak jalanan yang ia culik dari perempatan lampu lalu lintas, Podin sudah tahu dan bisa caranya mempersembahkan korban. Dan Podin sudah tahu bagaimana ia harus melakukan persembahan korban itu di atas batu kisaran yang ada di altar istana kerajaan Pulau Berhala tersebut. Podin juga yakin, kalau bayinya yang akan dipersembahkan itu nanti, akan mengeluarkan uang dan harta kekayaan yang sangat banyak jumlahnya.
Podin tidak menghiraukan istrinya. Ia yakin kalau Maya pasti menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di tempat itu, dalam rangka meminta harta kekayaan, meminta uang yang berlimpah ruah, meminta emas dan intan permata, yang nantinya akan mereka bawa pulang ke rumahnya masing-masing. Podin juga yakin, Maya pasti menyaksikan itu semuanya. Bahkan nanti, Maya akan melihat dirinya saat mempersembahkan bayinya kepada sang penguasa Pulau Berhala.
Persiapan di altar istana itu pun sudah selesai dilakukan oleh ponggawa kerajaan. Dan di sana sudah ada dua orang punggawa yang sudah menyiapkan peti-peti harta karun. Ya, itu artinya acara persembahan akan segera dimulai. Dan benar, acara persembahan itu dimulai.
Podin maju pertama kali. Dan Podin, yang sudah tahu, sudah pernah melakukan persembahan itu, ia langsung mendekat, akan melakukan pengorbanan bayinya untuk dipersembahkan bagi sang penguasa Pulau Berhala. Podin melangkah maju menuju altar persembahan yang paling awal. Podin membawa keranjang bayinya. Lantas bayi itu diangkat dari keranjangnya. Bayi yang polos, bayi yang masih merah warnanya, bayi yang baru saja keluar dari perut ibunya, bayi yang belum genap berumur satu minggu itu langsung diangkat oleh Podin, dibopong, lantas diletakkan di atas batu kisaran yang terletak di altar istana tersebut. Ya, Podin akan mempersembahkan bayinya yang baru saja dilahirkan itu.
Orang-orang lain yang yang hadir di dalam istana itu, pada menyaksikan bagaimana ritual korban persembahan itu dilakukan. Tentu mereka terkesima dan ingin tahu, bagaimana Podin akan melakukan persembahan itu. Pastinya orang-orang yang menyaksikan itu juga ingin tahu, seberapa banyak harta kekayaan yang mengalir dari batu persembahan itu mengucur masuk di peti harta karun.
Ya, seperti yang pernah dilakukan oleh Podin dulu. Setelah menaruh bayinya di atas batu kisaran, lantas ia mengambil pisau belati mata berhala yang menempel pada batu kisaran itu. Tangan Podin yang sudah memegang pisau belati mata berhala tersebut, dan tangan itu sudah terangkat ke atas, terangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya, dan sebentar kemudian, Podin lantas menghujamkan pisau belati mata berhala itu pada leher sang bayi yang belum punya dosa sama sekali tersebut.
"Oeee ......"
__ADS_1
Bayi itu hanya mengoek sebentar. Kemudian, darah segar mengalir deras dari leher sang bayi tersebut, yang mengucur di atas batu kisaran, dan dari lubang batu kisaran itu darah tersebut mengalir ke dalam peti-peti harta karun yang kemudian berubah menjadi koin-koin uang emas dan harta karun.
Namun, bersamaan dengan suara oekan bayi itu, dari ruang istana itu, Maya yang menyaksikan Podin yang berada di atas altar, Maya yang menyaksikan Podin yang membawa bayinya, Maya yang menyaksikan Podin yang katanya akan menyerahkan bayinya untuk sang raja, tentu sangat kaget. Maya tidak mengira kalau akan terjadi peristiwa seperti yang ia saksikan kali ini. Ya, Maya yang pada awalnya hanya menduga kalau bayinya itu hanya diserahkan begitu saja, hanya diberikan secara hidup-hidup, yang nantinya akan dirawat di istana, yang nantinya akan dipelihara di istana kerajaan, namun ternyata apa yang diperkirakan oleh Maya itu semuanya di luar dugaan. Semuanya di luar perkiraan. Dan tentu, hal itu membuat Maya kaget dan terkejut. Ya tentu Maya sangat-sangat terkejut ketika suaminya tega menghunuskan pisau belati itu pada leher anaknya sendiri.
"Bang ...!! Bang Podin ...!!! Jangan, Bang ...!! Itu anakku, Bang ...!!! Jangan, Bang ...!!" Maya berteriak-teriak berusaha menghentikan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Maya yang berteriak-teriak memanggil Podin, dan langsung menerobos melintasi orang-orang yang pada berdiri di ruang istana tersebut, tentu tidak ingin Podin membunuh anaknya. Maya tidak rela bayi itu dipotong lehernya oleh suaminya. Maya istri Podin, ibu yang melahirkan bayi yang sudah dikorbankan oleh suaminya tersebut, tentu ingin merebut kembali anaknya. Makanya, Maya menabrak orang-orang yang berusaha menghalangi jalannya untuk menuju ke tempat bayinya berada.
Begitu menyaksikan keributan yang terjadi di dalam istana itu, tentu para penggawa kerajaan, para algojo petugas keamanan, langsung menangkap wanita yang membuat onar itu. Mereka menangkap wanita yang berteriak-teriak itu, wanita yang menabrak setiap orang yang ada di dalam istana itu, wanita yang merusak suasana ritual yang sedang dilakukan pada saat upacara persembahan korban kepada Sang Penguasa Pulau Berhala tersebut. Ya, wanita itu adalah Maya. Dan tentunya Maya ditangkap oleh para punggawa kerajaan di istana Pulau Berhala itu.
"Bang Podin ....!!! Tolong, Bang Podin ......!!! Bang Podin ..., tolong Maya, Bang ....!!! Tolong aku, Bang ....!!!" begitu teriak Maya yang tentu dia sangat ketakutan dan meminta tolong pada suaminya. Tentu Maya tidak mau ditangkap oleh para algojo yang bengis dan menakutkan itu. Maya memberontak. Maya meronta-ronta. Dan tentunya, Maya ingin melepaskan diri dari tangkapan para punggawa kerajaan itu.
Namun apa daya, Podin yang berada di altar istana kerajaan itu, ia tetap konsentrasi pada ritualnya dalam upacara persembahan korban kepada sang penguasa Pulau Berhala. Podin tidak mendengar semua teriakan Maya. Podin tidak tahu apa yang dikatakan oleh Maya. Podin tidak mendengar kalau istrinya berteriak-teriak minta tolong. Bahkan Podin juga tidak tahu kalau di istana itu terjadi keributan. Dan tentunya, Podin juga tidak tahu, kalau Maya ternyata sudah ditangkap oleh para penggawa dan algojo istana.
Ya, memang, Podin tidak memperhatikan siapapun yang ada di bawahnya. Podin tidak menggubris orang-orang yang berasa di bawah altar istana itu. Toh nanti orang-orang itu pada gilirannya juga akan melakukan ritual korban persembahan yang sama seperti dirinya. Podin tidak memperhatikan apa yang terjadi di bawah altar istana itu. Yang diperhatikan oleh Podin adalah mengalirnya kucuran darah dari bayinya yang berubah menjadi koin-koin emas, berubah menjadi perhiasan, berubah menjadi permata, berubah menjadi harta kekayaan yang masuk satu persatu ke dalam peti harta karun yang sudah dipegangi oleh dua orang punggawa istana tersebut. Dan tentunya, Podin nanti akan pulang membawa semuanya itu. Podin akan menjadi kaya raya.
Saat turun dari altar istana itu, mata Podin melihat ke sana kemari. Tentu mencari Maya. Mencari istrinya. Namun Podin tidak juga menemukan istrinya. Podin tidak melihat Maya. Ya, memang karena di dalam ruang istana itu ada banyak orang, yang tentunya Podin tidak bisa mengamati di mana istrinya berada.
"Maya ...! Maya ...! Maya ...!" begitu teriak Podin saat turun dari altar istana itu, sambil memanggil istrinya, mencari Maya.
Namun ternyata, istrinya tidak juga muncul, istrinya tidak juga menghampiri dirinya. Sementara itu, di samping Podin sudah ada algojo yang menyuruh dan memaksa Podin untuk segera keluar dari ruang istana itu. Ya, tentunya karena Podin sudah memanggul peti harta karun, membawa hasil persembahannya. Maka Podin harus segera keluar dari ruang istana, meninggalkan tempat itu.
Terpaksa, Podin pun langsung keluar dari istana itu, meski ia tidak menemukan istrinya yang dia cari.
__ADS_1
"Dasar, Maya perempuan mantan pemandu karaoke .... Kalau mendengar musik-musik kayak gitu pasti jingkrak-jingkrak. Sekarang hilang entah di mana. Sekarang di mana ini orangnya? Kamu di mana, Maya? Payah ...! Masak jauh-jauh sudah datang ke istana, tidak mau mendampingi suaminya, tidak mau ikut dengan suaminya, malah jingkrak-jingkrak dengan orang lain. Sekarang ini sudah saatnya pulang .... Eee ..., Maya malah menghilang .... Saya harus nyari kemana ini?" gerutu Podin yang tentu jengkel karena Maya sudah tidak ada di tempat itu, dan Maya menghilang entah pergi ke mana, dicari-cari oleh Podin, dipanggil-panggil, tetapi tidak juga ketemu. Padahal dirinya sudah disuruh pulang oleh para algojo yang menjaga istana itu.
Akhirnya, Podin tetap melangkahkan kaki sendirian. Namun saat Podin melintas di pintu istana itu, tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggilnya.
"Bang .... Bang Podin .... Tolong saya, Bang .... Bang Podin .... Tolong Maya, Bang Podin ...."
Podin kaget. Podin mendengar ada suara teriakan yang memanggil dirinya dan meminta tolong kepadanya. Ya, itu pasti suara Maya. Podin pun hapal dengan suara Maya. Ya, Maya memanggil Podin untuk meminta pertolongan. Podin langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh ke kanan kiri, mencari asal suara itu. Dan ternyata, begitu kagetnya Podin saat melihat si Maya sudah diseret oleh dua orang algojo. Ya, Maya ditangkap oleh algojo istana itu. Ingin rasanya Podin menolong Maya. Namun saat itu, Maya sudah diseret masuk ke dalam kerangkeng penjara Pulau Berhala. Dan Maya sudah dijebloskan oleh dua algojo itu ke dalam penjara.
Podin melangkah menghampiri Maya, akan menolong istrinya. Namun Podin langsung dicegat oleh para algojo itu.
"Mau ke mana ...?!!" begitu bentak algojo itu, yang sudah mencegah Podin saat akan melangkah menuju ke tempat istrinya yang ditangkap oleh dua orang algojo.
"Saya akan menolong perempuan itu." kata Podin sambil menunjuk ke arah Maya.
"Tidak boleh ...!! Perempuan itu sudah kurang ajar ...!! Perempuan itu sudah berani melanggar larangan di istana Pulau Berhala. Dan perempuan itu sudah mencuri perhiasan-perhiasan yang ada di dalam istana. Maka ia pun pantas untuk dijebloskan ke dalam penjara Pulau Berhala!!!" begitu kata algojo itu, yang menghalang-halangi Podin. Podin pun langsung lemas sekujur tubuhnya, karena ternyata Maya sudah melakukan kesalahan besar. Ya, Maya, wanita yang gila harta itu, wanita yang matre itu, pastinya begitu ia menyaksikan istana yang sangat megah dengan hiasan emas dan batu-batu permata, maka tangan jahilnya pun langsung gatal untuk mengambil perhiasan-perhiasan yang ada di dalam istana itu. Dan tentunya, para algojo dan para punggawa kerajaan tahu kalau Maya ternyata sudah mencuri perhiasan di dalam istana Pulau Berhala itu. Maka pantas kalau Maya mendapatkan hukuman dari para penjaga kerajaan dan para algojo Pulau Berhala itu.
Akhirnya, Podin dengan gontai melangkah kembali ke jalan untuk menuju pantai, di mana di sana nanti perahu penyeberang pasti sudah menunggu Podin untuk mengantarkannya pulang. Ya, Podin pun akhirnya melangkah berjalan seorang diri sambil memanggul dua peti harta karun yang ia bawa dari Pulau Berhala tersebut.
Setelah sampai di pantai, benar seperti yang diduga oleh Podin. Di sana sudah ada perahu yang menunggu. Ya, perahu yang selalu mengantar dan menjemput orang-orang yang akan datang ke Pulau Berhala. Podin pun langsung menaruh peti-peti harta karun itu ke dalam perahu, dan ia pun segera naik perahu itu. Meski Podin masih menyempatkan untuk menoleh ke arah istana, tentu berharap bisa melihat Maya. Namun itu hanya harapan kosong belaka. Perahu yang dinaiki sudah mulai menengah. Dan hanya sekali dorong galahnya saja, si tukang perahu itu sudah melajukan perahunya dan langsung sampai di tepian seberang Pulau Berhala.
Podin langsung mengangkat dua peti harta karun itu, memanggulnya, lantas menuju ke mobilnya yang sengaja diparkirkan di semak-semak pinggir laut. Podin langsung masuk dan langsung menjalankan mobilnya. Ia pun pulang seorang diri, tanpa Maya yang saat berangkat menemaninya.
"Maya ..., Maya .... Dasar wanita matre, dasar perempuan gila perhiasan, dasar wanita yang selalu gila dengan kemewahan .... Tahu kalau di istana, tahu di tempat kerajaan yang dijaga ketat oleh para punggawa kerajaan dan para algojo, masih saja berani mencuri perhiasan-perhiasan. Yah, kalau sekarang ditangkap dan dihukum di penjara oleh para algojo itu, pantaslah .... Maya ..., kamu memang pantas untuk dihukum. Kamu memang tidak tahu diri. Wanita yang selalu memandang harta kekayaan itu sebagai sesuatu yang sangat berharga. Dan kini, kamu sudah tidak punya harga diri lagi. Kamu sudah masuk dalam penjara istana Pulau Berhala. Kamu tidak bakal bisa keluar, Maya ...." begitu umpat Podin di dalam mobilnya seorang diri. Ya, Podin jengkel dengan kelakuan Maya itu.
__ADS_1
Akhirnya, Podin langsung menjalankan mobilnya itu, untuk pulang menuju Jakarta. Namun, seperti kala dulu yang pernah ia lakukan pada saat mempersembahkan bocah jalanan, Podin pasti tidak kuat untuk langsung kembali ke Jakarta. Seharian dia sudah menyetir dari Jakarta sampai di pantai selatan. Dan kemudian kini, di tengah malam yang sangat melelahkan, pasti Podin tidak sanggup untuk mengendarai mobilnya, menyetir seorang diri tanpa teman menuju Jakarta. Maka Podin langsung melajukan mobilnya menuju ke penginapan yang dulu pernah ia tempati, yang dulu Podin pernah menginap di sana. Ya, Podin akan menginap barang semalam atau dua malam di hotel kecil di pinggir kota daerah Tasikmalaya. Di sana nanti, Podin akan tidur untuk menenangkan dirinya, akan istirahat agar dia tidak mengantuk lagi dan tidak kecapean.
Akhirnya, mobil Podin pun berhenti di sebuah hotel kecil di pinggir kota, tempat yang pernah ia inapi, dan ia pun langsung masuk serta memesan kamar kepada si penjaga ia bangunkan karena orangnya sudah tertidur. Sama seperti dulu pernah ia lakukan di situ. Dan tentunya, pegawai hotel itu pun langsung memberikan kamar kepada Podin. Tentu Podin senang. Podin bisa istirahat. Podin bisa menghilangkan lelah dan capeknya. Dan yang pasti, Podin bisa memeluk dua peti garta karun yang baru saja didapatkannya.