
Betapa senangnya hati Podin bisa membeli sebuah villa yang cukup besar, cukup bagus dan sangat artistik. Ya, villa yang dibeli oleh Podin ini, model bangunannya seperti rumah zaman kuno, bangunan model tangsi Belanda di zaman penjajahan. Tentunya sangat unik, menarik dan sangat indah jika dipandang. Ya, seperti bangunan peninggalan zaman kompeni. Bangunan
Menyaksikan villa seperti itu, tentu Podin sangat senang. Menyaksikan bangunan itu, yang berada di tengah lahan cukup luas, dengan dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi, tentu sangat asri karena rerimbunan tumbuhan itu. Ibarat kata, villa yang dibeli oleh Podin itu berada di tengah hutan. Ya, villa yang menyendiri di tengah lebatnya pohon-pohon besar, jauh dari perkampungan. Inilah tempat tinggal yang dikehendaki Podin. Tentunya Podin akan tenang saat melakukan ritual.
Vila yang sangat tersembunyi, yang cukup jauh dari jalan raya. Bahkan untuk masuk dari jalan besar menuju villa itu hanya berupa jalan makadam yang terbuat dari tatanan batu selebar mobil. Tanpa aspal maupun semen. Tentu sangat unik dan tidak dilalui orang umum. Di halaman yang hanya bisa untuk memarkirkan mobil, juga hanya tertata batu-batu alam. Memang sangat alami. Di sekelilingnya ditanami bunga-bunga. Ada mandevila dengan bunga warna merah, ada morning glory dengan bunga warna biru keunguan, ada bunga petrea volubis dengan bunganya yang berwarna ungu. Semua tertata sangat dekoratif, sehingga terlihat indah dan estetis.
Di bagian dalam villa, pembagian ruangnya juga terlihat bagus. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan di tengah ada ruang keluarga yang cukup luas. Di setiap ruang ada jendela-jendela kaca, yang tentunya untuk ventilasi cahaya dari sinar matahari dan udara. Tentunya jendela-jendela itu juga terlihat artistik. Pasti dulu yang membuat seorang insinyur yang sangat pintar.
Begitu masuk ke ruangan villa itu, Podin langsung menatap ruangan tengah itu. Yang tentunya, angannya langsung terbersit, nanti pasti ruangan itu akan ia gunakan sebagai tempat untuk bermeditasi, untuk duduk bersila di situ, untuk menghadapi peti-peti, dimana Podin akan melakukan ritual, untuk memanggil tuyul-tuyul yang ada di dalam peti keramatnya tersebut.
Podin sangat senang. Podin tersenyum bahagia. Villa itu jauh dari tetangga, jauh dari perkampungan. Kalaupun nanti, Podin harus membakar kemenyan, pastinya tidak ada orang yang akan mengharu biru, tidak ada masyarakat yang protes, tidak ada warga yang berdatangan melarang Podin membakar kemenyan.
Malam itu, Podin kembali ingin melihat makhluk gaib yang muncul dari dalam peti keramatnya. Podin kembali ingin ketemu dengan makhluk gaib yang diharapkan mampu memberikan harta kekayaan bagi dirinya. Podin ingin bicara dengan makhluk gaib yang dia inginkan bisa mengumpulkan uang dan memasukkannya ke dalam peti, makhluk gaib yang diharapkan mau memberikan uang yang menumpuk di dalam peti itu. Ya, pastinya Podin berharap makhluk-makhluk itu yang akan menjadikan dirinya menjadi kaya raya. Tentunya, dari peti-peti yang bisa menghasilkan uang, dari peti-peti yang sanggup mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya itu, Podin kembali berkeinginan untuk melakukan ritual, untuk memanggil para tuyul, dan meminta serta menyuruh para tuyul itu untuk mencari uang dan mengisi serta memenuhi empat buah peti yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Sebelum tengah malam tiba, Podin sudah menyiapkan peti-peti keramatnya, ditata di tengah ruangan villa itu, yang sudah tertata, kursinya sudah dipinggirkan, kemudian digelari karpet merah, sehingga ruangan itu menjadi luas tanpa ada benda lain. Lantas di bagian tengah ruangan yang sudah digelari karpet tersebut, tertata empat buah peti yang dipuja-puja oleh Podin, sebagai benda keramat.
Podin mengawali ritualnya dengan membersihkan peti-petinya. Podin mengawali ritualnya dengan mengusapkan minyak wangi pada peti-peti itu. Podin mulai menuangkan minyak wangi pada secarik kain putih, kain mori yang biasa digunakan untuk membungkus mayat. Lantas kain kafan yang sudah basah dengan minyak nyong-nyong yang baunya sangat menyengat itu, diusap-usapkan pada petinya. Terutama peti yang baru ia bawa dari Karawang, peti yang sempat dibuang istrinya, karena arwah bocah perempuan cilik yang selalu menakut-takutinya. Ya, Podin memang sangat penasaran dengan arwah bocah itu. Dan pastinya, Podin ingin meminta bocah itu mencari uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi petinya.
Sekanjutnya, Podin mulai menata peti yang sudah ia usapi minyak wangi tersebut, di tengah-tengah ruangan. Podin mulai bersila di hadapan peti itu. Lantas di depan peti itu, di depan tempat ia bersila, Podin mulai membuka sebungkus bunga sesaji. Bungkusan daun yang berisi bunga mawar merah putih, bunga melati, bunga kantil, bunga boreh pandan wangi. Ya, bunga sesaji yang akan digunakan untuk acara ritual dalam rangka mengundang makhluk gaib penghuni peti keramat.
Selanjutnya, Podin membuka bungkusan kertas kecil, yang berisi kemenyan. Ia membelinya dari bakul bunga sesaji yang tentunya penjual itu sudah paham makna bunga sesaji. Tentu tujuannya untuk mengirim sesaji kepada arwah orang yang sudah meninggal. Dan biasanya, langsung diberi kemenyan dalam paketan penjualan bunga sesaji itu. Sesaji kemenyan ini ditujukan untuk ritual pemujaan ruh orang yang sudah meninggal.
Lantas Podin mulai menyalakan api dari batang korek. Api yang menyala itu langsung disulutkan pada kemenyan yang berada di dekat taburan bunga sesaji. Kemenyan itu mulai meleleh. Kemudian menyala. Bau harum wangi yang sangat lekat mulai menusuk hidung.
Selanjutnya, Podin meneruskan ritualnya. Setelah membuka bungkusan bunga, setelah membakar kemenyan, Podin mulai komat-kamit membaca mantra. Podin mulai merapal kata-kata ritualnya, untuk mengeluarkan penghuni yang ada di dalam peti itu. Dan tentunya Podin juga berharap, makhluk yang menghuni dua peti yang dia bawa dari Karawang itu akan luluh, akan menurut, akan mau menerima perintah-perintahnya. Dan tentunya, nanti Podin akan meminta bocah perempuan cilik itu untuk mencari uang, seperti halnya tuyul kecil bayinya yang telanjang dan gundul, yang sudah menghasilkan uang, yang sudah mengisi peti-peti tempat huniannya dengan uang yang sangat banyak. Dan tentu, Podin juga berkeinginan yang sama dengan bocah perempuan yang sudah menghuni peti itu. Yyang tentunya sudah cukup lama berada di tempat itu, jauh sebelum Podin mengorbankan bayinya yang baru saja dilahirkan oleh istri keduanya, yaitu Maya.
Tentunya Podin juga berharap, karena tubuh bocah perempuan itu yang lebih besar dari bayinya, pasti kalau menjadi tuyul, dia akan menghasilkan uang yang lebih banyak, dia akan menghasilkan uang yang berlembar-lembar, dia akan menghasilkan uang dalam waktu yang lebih cepat. Pastinya Podin sudah tidak sabar menantikan pekerjaan tuyul dari bocah perempuan itu. Pastinya Podin tidak sabar ingin mengetahui bagaimana cara kerja dari bocah perempuan itu dalam mencari uang, dalam mengisi peti-petinya, dengan lembaran-lembaran uang, sehingga Podin akan menjadi kaya raya. Dan yang jelas, nantinya Podin juga akan menyuruh tuyul bayinya ikut bekerja. Sehingga Podin mempunyai dua tuyul yang semuanya bekerja, mengisi empat peti yang setiap malam akan dipenuhi dengan lembaran uang-uang yang banyak jumlahnya, dari dua makhluk yang sudah ia rawat, yang sudah ia pelihara itu. Ya, makhluk-makhluk yang ada di dalam peti tersebut.
__ADS_1
Podin terus merapal. Podin terus memandangi dua peti yang sangat ia dambakan itu. Podin terus menatap tutup peti yang diharapkan akan terbuka kembali. Ya, rapalan mantra-mantra Podin rupanya memang sangat ampuh. Bahkan juga, mungkin karena didukung dengan bunga sesaji yang dipersembahkan untuk menyambut makhluk yang ia pelihara dalam peti itu. Dan juga bau harum kemenyan yang dibakar, yang menyelubungi ruangan villa, serta menyelimuti peti-peti itu, yang tentu itu adalah cara-cara ritual di dalam memanggil arwah para penunggu benda-benda gaib.
Dan kenyataannya memang benar. Podin mulai melihat tutup peti itu bergerak. Podin mulai menyaksikan tutup peti itu mulai terangkat. Mata Podin membelalak dan tidak mau berkedip. Tentunya untuk melihat petinya, yang perlahan mulai terbuka. Podin tidak mau melepaskan penglihatannya. Podin terus menatap dua buah tutup peti yang membuka secara bersama-sama itu. Dan Podin ingin menyaksikan bocah perempuan cilik yang akan keluar dari dalam peti itu, saat tutupnya membuka.
Benar, sebentar kemudian tutp peti itu terbuka lebar. Dari dalam salah satu peti itu, keluar bayang-bayang putih, bayang-bayang makhluk gaib, bayang-bayang roh dari arwah bocah perempuan cilik. Ya, arwah Itu keluar. Dan bocah perempuan cilik yang keluar dari peti itu, kembali menatap Podin yang sudah bersiap untuk mengamatinya.
Namun, lagi-lagi Podin gemetar kembali. Podin merasa agak aneh dalam menyaksikan bocah yang baru saja keluar dari dalam peti itu. Memang sangat berbeda dengan bocah yang pernah ia culik di perempatan jalan. Bocah perempuan itu, keadaannya tidak seperti saat ia memandangi bayinya sendiri yang keluar dari dalam peti dan langsung menurut Podin saat diperintahkan untuk mencari uang. Tetapi pecah perempuan kecil itu, mungkin karena tubuhnya yang lebih besar, mungkin karena bocah ini bukan bayi lagi, maka ia rupanya akan melawan perintah Podin. Tidak seperti bayi yang menurut begitu saja.
Kembali Podin yang mengawasi arwah bocah itu, Podin yang menatap arwah bocah yang keluar itu, jantungnya berdetak semakin kencang. Namun kali ini, Podin sudah siap, sudah waspada. Podin sudah bisa menerima kenyataan. Dan ia pun menduga, kalau bocah perempuan kecil yang keluar dari peti itu, seperti yang kemarin ia saksikan, bocah itu pasti akan mengangkat tangannya, kemudian tangan itu memegangi kepala, dan kepalanya akan dilepas dari lehernya, selanjutnya kepala itu akan diserahkan kepada Podin. Ya, Podin sudah siap semuanya, jika sampai kepala itu akan diserahkan kepada dirinya, maka Podin akan membaca rapalan-rapalan mantra untuk menyuruh bocah perempuan cilik itu mencari uang. Podin sudah merencanakan hal itu.
Namun ternyata, dugaan Podin semuanya salah. Yang diperkirakan oleh Podin ternyata tidak benar. Bocah itu tidak melepas kepalanya. Bocah itu tidak menakut-takuti Podin. Tetapi bocah perempuan kecil itu, tiba-tiba menghilang.
"Plasss ...."
__ADS_1
Bocah itu lenyap seketika, bersama dengan menutupnya dua buah peti yang dihadapi oleh Podin.
Podin kaget. Podin terkejut. Tentu ia kecewa, karena belum sempat berkomunikasi dengan bocah itu. Ia kembali gagal, tidak sanggup menyuruh tuyul perempuan itu untuk mencari uang.