
Ternyata tidak hanya Podin saja yang tergeletak di altar istana Pulau Berhala itu. Bukan hanya orang yang ada di samping badan Podin. Tetapi selang satu detik kemudian, sudah ada yang jatuh lagi dan tergeletak di samping sebelah Podin. Kembali, ada dua orang laki-laki yang secara bersamaan seakan terlempar dan jatuh tepat ada di samping Podin dan di sebelah laki-laki yang tadi sudah terjatuh lebih dahulu. Kini di sebelah Podin, sudah tergeletak empat orang yang berada di altar istana itu.
Bukan empat orang, tetapi ada lagi yang terlempar. Kini seorang perempuan yang juga jatuh terlempar dan langsung berada di atas altar itu. Dan ternyata ada lagi. Satu orang lagi yang terjatuh di atas altar. Kini seluruhnya ada tujuh orang yang tergeletak di altar istana Pulau Berhala tersebut.
Podin yakin, pasti nasib mereka itu sama dengan dirinya. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah lama tidak datang ke Pulau Berhala, orang-orang yang sudah lama tidak membawa dan menyerahkan persembahan ke Pulau Berhala. Sama halnya seperti dirinya yang sudah lama tidak pernah datang lagi ke Pulau Berhala. Apalagi Podin yang selalu diajak oleh istrinya ke gereja, beribadah menyembah Tuhan, sudah berniat untuk bertobat. Podin yang sudah berniat ingin meninggalkan jalan sesatnya itu, Podin yang sudah berniat untuk tidak lagi berseteru dengan setan, Podin yang sudah berniat tidak ingin meminta lagi harta kekayaan dari penguasa Pulau Berhala tersebut. Ya, pasti enam orang yang lainnya, yang ada di kanan dan kiri Podin, ini adalah sama seperti dirinya.
Podin merasa tenang karena ada teman. Podin tidak khawatir karena ada orang lain yang berada di sampingnya. Podin tidak takut karena ada orang-orang lain yang nasibnya sama dengan dirinya, yang tergeletak di altar istana, yang dikelilingi oleh para algojo yang berputar-putar sambil menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, seakan mau memangsa orang-orang yang bernasib sial itu, yang tergeletak tanpa daya di altar istana.
Dan sementara itu, para ponggawa istana terus menarik bulan. Dan bulan itu pun sudah sangat mendekat, sudah hampir sampai di atap istana. Dan bulan itu semakin membesar, lebih besar dari tambir. Seakan bulan itu sudah memenuhi atap di istana. Dan tiba-tiba, bulan bulat yang warnanya merah kegelapan itu, berubah menjadi bayangan hitam kelam, seperti kelelawar raksasa, yang terus membesar dan semakin besar, dan berubah menjadi makhluk raksasa yang sangat menakutkan orang yang melihatnya.
Jantung Podin berdetak kencang. Tentu karena saking takutnya. Ia pun yakin, enam orang yang ada di kanan dan kirinya itu juga merasakan hal yang sama, mereka pasti ketakutan dengan datangnya makhluk raksasa yang serba hitam dan menyeramkan tersebut. Perwujudan makhluk aneh, yang berupa penjelmaan dari bulan yang tadinya berwarna merah gelap, dari gerhana bulan yang diseret oleh para ponggawa istana, dan menempel di atap istana itu.
Itulah, perwujudan perubahan makhluk gaib, dari bayangan gerhana bulan yang menjelma menjadi kelelawar raksasa dan kemudian berubah bentuk lagi menjadi sebuah burung raksasa, dengan sayap seperti layaknya sayap kelelawar raksasa, sedangkan pada bagian kepala, wujudnya seperti kepala naga, yang dari lubang hidung keluar lidah-lidah api. Kakinya sangat besar seperti cakar elang raksasa, dengan kuku-kuku yang tajam. Terdapat tangan yang juga terlihat menakutkan dengan sisik-sisik seperti ular. Tangan kanannya memegangi tombak, dengan ujung yang bercabang tiga. Tombak itu biasa disebut dengan trisula. Yah, tombak yang biasa dibawa oleh makhluk dari neraka. Bagian ekornya yang besar dan panjang, di ujung ekor itu terdapat mata anak panah yang tajam menakutkan. Ekor dengan ujung runcing itu mengibas ke kanan dan ke kiri, seakan-akan hendak menyabet orang-orang yang berani melawannya.
__ADS_1
Dan kini, makhluk gaib itu sudah menguasai istana Pulau Berhala. Seluruh ponggawa istana yang tadi menarik tambang yang mengikat rembulan yang sedang mengalami gerhana itu, kini mereka bersujud menghaturkan sembah kepada makhluk raksasa hitam dengan mata merah yang mencorong seperti layaknya sebuah bola api itu. Mereka langsung menundukkan kepalanya, seperti layaknya sedang menyembah rajanya, dengan bersujud di hadapan makhluk aneh yang menakutkan itu. Demikian pula para algojo yang tadi menari-nari dan bernyanyi berputar mengelilingi orang-orang yang bergeletakan di altar istana. Mereka pun langsung bersujud dan menyembah kepada makhluk yang berubah dari bulan merah kehitaman itu, bulan yang sebesar tambir, yang sedang mengalami gerhana, yang tadi diseret oleh para punggawa, dan diletakkan di atas atap istana, dan bulan merah kehitaman yang sedang gerhana tadi sudah berubah wujud menjadi makhluk yang menyeramkan. Inilah makhluk penguasa istana Pulau Berhala, makhluk yang kemungkinan berasal dari alam kegelapan, makhluk yang kemungkinan berasal dari lubang terdalam bumi, makhluk yang mungkin berasal dari neraka jahanam. Pasti makhluk itu adalah perwujudan iblis yang akan memangsa orang-orang yang ada di atas batu kisaran itu, orang-orang yang berada di altar istana berhala tersebut.
Ya, pasti makhluk aneh ini, makhluk jadi-jadian ini, makhluk dengan bentuk yang tidak karuan ini, makhluk perwujudan iblis ini, pastinya akan memberikan hukuman yang pantas, sangsi yang layak yang sesuai bagi pengikutnya yang sudah ingkar janji, bagi orang-orang yang pernah mendapatkan harta kekayaan, tetapi ia sudah melupakan sang penguasa dan tidak mau memberikan persembahan kembali. Pasti makhluk menyeramkan itu akan memakan satu persatu dari tujuh yang tergeletak di altar istana itu.
Dan tiba-tiba saja, makhluk raksasa yang bersayap seperti kelelawar itu, sudah membentangkan sayapnya yang besar, lantas menghentakkan kakinya yang memiliki cakar seperti layaknya rajawali raksasa yang berkaki kuat dan siap mencengkeram mangsanya. Kepalanya yang mirip naga dengan mulut menyeringai serta taring-taring yang tajam, dan menyemburkan asap api dari dua lubang hidungnya. Pastinya, sekali mengunyah mangsanya, akan ***** dan hancur. Mata merah menyeramkan, yang seakan merupakan bola api yang siap membakar orang yang ditatapnya. Pasti, siapapun yang melihat mata makhluk dari neraka itu, ia akan ketakutan dan kepanasan. Tangannya yang membawa tombak trisula, siap menusuk siapapun yang berani melawan atau membangkang dari perintahnya. Ya, makhluk ini memang benar-benar menyeramkan.
Dan yang lebih mengagetkan, makhluk menyeramkan itu terjun dari atap istana itu, dan langsung anjlok ke altar istana. Makhluk itu duduk di singgasana, kursi besar yang terbuat dari emas. Benar-benar kursi yang sangat besar dan kokoh serta tinggi. Tahta dari seorang raja, penguasa Pulau Berhala. Dan bersamaan dengan duduknya makhluk aneh itu, para punggawa istana dan para algojo kembali bersujud, kembali menyembah makhluk yang sudah duduk di kursi Kencana tersebut. Mereka seakan menyembah pimpinannya, menyembah sang raja, menyembah makhluk yang sangat menakutkan itu. Dan mereka semuanya tampak ketakutan.
Lantas makhluk aneh yang duduk di kursi kencana itu, tangannya mengacungkan tombak trisula ke arah tujuh orang yang sedang terkapar di altar istana tersebut.
Tentu tujuh orang yang berada di atas batu kisaran tempat mempersembahkan korban bagi para pemujanya itu, mereka langsung ketakutan. Tentu karena makhluk menyeramkan itu, dengan mata yang menyala seperti api, dan mulutnya yang mendesirkan lidah api itu, sudah membentak orang-orang yang tentunya kini menjadi tersangka, orang-orang yang bersalah, orang-orang yang telah ingkar pada perjanjiannya dengan sang penguasa.
"Hai ..., orang-orang serakah ...!! Berani sekali kamu menentang aturanku ...!! Berani sekali kalian mengingkari perjanjian denganku ...!! Berani sekali kalian menolak semua syarat-syarat yang sudah aku berikan ...!! Apa kalian ingin menjadi korban persembahan bagi diriku ...?!! Apa aku harus menghisap darahmu hingga habis ...?!" kembali makhluk aneh itu membentak tujuh orang yang tergeletak di batu kisaran, ibarat tujuh orang ini seperti korban yang akan dipersembahkan.
__ADS_1
Tentu tujuh orang yang terkapar itu menjadi ketakutan. Keder hatinya. Jantungnya pun berdetak semakin kencang. Mereka tidak berani berkata apa-apa. Mereka tidak berani bergerak, bahkan untuk bernapas saja seakan terasa sesak. Dan tentunya mereka sangat khawatir, karena makhluk itu yang tadinya duduk di kursi kencana, tahta tempat duduknya itu, sekarang sudah berdiri, sudah mendekat ke arah tergeletaknya tujuh orang yang ada di batu kisaran itu, sambil mengacungkan tombak trisula. Seakan tombak itu mau menusuk jantung orang-orang yang terkapar di atas batu kisaran.
Podin sangat ketakutan. Podin sangat gelisah. Podin sangat khawatir, karena tombak trisula itu ujungnya sudah hampir mengenai dada daripada jantung Podin.
"Iya ..., iya ....... Ampuuunnn ....... Ampuuunnn ......." Podin ketakutan meminta ampun.
Tiba-tiba, ekor makhluk menyeramkan itu mengibas, dan menyapu orang-orang yang ada di atas batu kisaran tempat persembahan korban itu. Tentu tujuh orang itu terhantam ekor yang ujungnya runcing bagai anak panah.
"Wadauooowww ..........!!" mereka menjerit kesakitan.
Dan tujuh orang yang semula berada di atas batu kisaran itu, langsung kocar-kacir tersabet ekor makhluk menyeramkan yang sangat kuat itu. Orang-orang itu pada berjatuhan dari atas batu kisaran.
"Kalian berani melawanku ....!!! Kalian berani menentangku ........!!!" makhluk jelmaan iblis itu kembali membentak. Dan langsung mengibaskan sayapnya, menyapu manusia-manusia pengikutnya itu, hingga ke tujuh orang itu terlempar cukup jauh. Tentu ada yang tubuhnya membentur dinding istana, ada yang menghantam pilar besar, bahkan ada juga yang melayang dan menghantam atap.
__ADS_1
Tubuh Podin terlempar jauh ke luar istana.