
Hingga hampir subuh. Hingga hampir menjelang fajar. Hingga sinar kemerahan di langit timur sudah akan muncul, orang-orang warga kampung, para tetangga Podin masih beramai-ramai mencari Podin yang hilang, yang katanya digondol oleh gerhana bulan. Tentunya para warga yang beramai-ramai mencarinya, hampir putus asa karena tidak menemukannya.
Dan saat itu, bersamaan dengan munculnya kembali bulan purnama, munculnya kembali rembulan setelah selesai mengalami gerhana, tiba-tiba saja di antara warga yang mencari Podin, ada yang berteriak-teriak, seakan melihat sesuatu.
"Pak Podin ...!!! Ini ..., ada Pak Podin di sini ...!!"
Tentu suara teriakan itu mengagetkan orang-orang yang lain, yang ikut mencari Podin.
"Hah ...?! Mana ...?!"
"Mana Pak Podin ...?!"
"Pak Podin ada di sini ...!!" begitu teriak orang yang baru saja merasa melihat sosok Podin.
"Mana ...?!"
"Di mana ...?!"
Tentu yang lain pun langsung berlarian mengerubut orang yang tadi berteriak, yang katanya melihat Podin.
"Itu ..., ada di atas dahan .... Pak Podin ada di atas pohon." kata orang tadi, yang tidak melepas cahaya baterainya, yang terus disorotkan ke atas dahan sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi. Tentunya orang yang merasa melihat tubuh Podin itu tidak ingin kehilangan penampakan orang yang dicarinya. Ia terus menyorotkan lampu senter ke arah Podin yang bertengger di dahan pohon besar tersebut.
"Mana ...?! Mana orangnya ...?!"
"Mana Pak Podin ...?!"
"Di mana ...?!"
"Itu ...!!" orang itu menunjukkan ke arah dahan besar dan tentu sambil menyorotkan lampu senternya.
"O, ya ...."
"Di mana ...?!"
"Itu .... Ya, benar .... Sudah melihat ...?!"
"Belum kelihatan ...."
"Ya .... Itu, ya ...?!"
"Betul itu ...."
__ADS_1
"Benar itu ...."
"Pak Podin ...!!!"
"Pak Podin ...!!!"
"Apakah itu benar, Pak Podin ...?!"
Orang-orang pun berteriak memanggil Podin. Tentunya para warga yang semalaman mencari itu, yang semalaman bingung, yang tentunya sudah pada mulai putus harapan, kini kembali muncul asanya bahwa mereka akan menumukan Podin, orang yang sudah digondol gerhana. Namun beberapa saat lamanya poden yang dipanggil-panggil, Podin yang diteriaki oleh orang-orang, dibengongoki oleh warga masyarakat, yang sudah disorot dengan banyak lampu senter, dan jelas bahwa di atas dahan itu memang sudah tergeletak orang yang seakan memang ditaruh di dahan, orang yang tersampir di dahan, Podin tidak juga bangun, Podin juga tidak bergeming, tidak bergerak sama sekali, bahkan tidak menyahut sama sekali dari panggilan-panggilan orang-orang yang ada di bawah pohon itu.
"Waduh ..., kok Pak Podin diam saja ...?!"
"Iya .... Bagaimana ini ...?!"
"Betul .... Pak Podin tidak bergerak .... Dia tidak menjawab ...."
"Apakah kita harus memanjatnya ...?!"
"Ya .... Kita coba panjat pohonnya ...."
"Tapi ..., gimana caranya ...?! Pohonnya besar .... Saya tidak bisa ...."
"Coba kamu ...."
"Wah ..., repot ini ...."
Kemudian beberapa orang mencoba melemparkan sandal ke arah tubuh yang tergeletak di dahan pohon besar itu. Tentu melempari ke arah orang yang seakan-akan disampirkan begitu saja di dahan besar. Tentu dari lemparan orang banyak itu, ada yang mengenai dan ada juga yang tidak tepat sasaran. Namun beberapa kali lemparan sandal, bahkan ada yang melempar dengan ranting, tetapi tubuh itu tetap saja tidak bergeming. Ya, katanya tubuh Podin mungkin sudah pingsan. Ada juga yang mengatakan mungkin Podin sudah meninggal. Ada juga yang mengatakan, mungkin tubuh Podin diikat oleh gerhana yang memangsanya. Banyak spekulasi yang diungkapkan oleh orang-orang yang mengerubung Podin yang masih tergeletak di pohon.
Hingga waktu pun terus berlalu. Dan terang pun sudah menguak gelapnya malam. Terang pun sudah memberikan sinarnya. Dan matahari yang sudah muncul ,matahari yang sudah menyorotkan sinarnya secara penuh, memperjelas penampakan orang yang ada di dahan itu, orang yang tersampir di pohon itu, orang yang seakan pingsan itu, atau bahkan orang yang dianggap meninggal dunia di atas pohon itu. Dan kenyataannya, orang tergeletak di dahan pohon itu, memang benar-benar dia itu adalah Podin.
Ya, para warga pun semakin ramai, orang-orang pun semakin banyak berdatangan, yang tentunya ingin menyaksikan Podin yang tersampir didahan pohon yang besar. Tak luput juga, Cik Melan datang ke situ, tentunya ingin menyaksikan keadaan suaminya.
"Papah ...!! Papah ...!! Bangun, Papah ...!! Turun, Pah ...!!" Cik Melan berteriak-teriak memanggil suaminya, namun laki-laki itu tidak ada reaksi sama sekali.
Akhirnya, orang pun beramai-ramai membawa tangga untuk memanjat pohon besar itu. Ya, ada dua buah tangga yang ditempelkan pada pohon besar itu. Dan langsung saja dua orang warga yang cekatan, yang terampil memanjat pohon itu melalui tangga, mereka akan mengambil Podin yang berada di atas pohon. Dan tentunya mereka akan berhati-hati, karena yang diperkirakan Podin itu pingsan, atau bahkan ada yang mengira kalau Podin itu sudah meninggal, karena memang terlihat tidak bergerak sama sekali. Ada juga yang membawa tali tambang besar, yang nantinya akan digunakan untuk mengikat tubuh Podin. Mungkin nanti, Podin akan diturunkan menggunakan tambang. Karena orang-orang khawatir kalau sampai Podin terjatuh dari pohon yang tinggi itu. Pastinya tubuhnya akan mengalami sakit-sakit.
"Ayo cepat panjat ...!!"
"Hati-hati ...!!"
"Awas .... Pelan-pelan saja ...!!"
__ADS_1
Orang-orang pun pada berteriak dari bawah. Semuanya pada memandang ke atas dahan. Semuanya menatap tubuh Podin yang tersandar didahan pohon itu. Ya, dua orang yang cekatan itu pun langsung menaiki tangga, memanjat menuju ke arah Podin, menuju ke arah dahan dimana Podin tersandar.
Dan akhirnya, dua orang yang memanjat menggunakan dua buah tangga itu pun sampai juga pada tubuh Putri yang tersampir ditahan itu
"Pak Podin ...! Pak Podin ...! Bangun ..., Pak ...!" dua orang itu mencoba untuk membangunkan Podin yang tersampir di dahan.
Namun ternyata memang tubuh Podin itu tidak bergerak, tubuh Podin itu tidak bergeming. Rupa-rupanya Podin memang sudah tidak bisa apa-apa. Mereka pun agak khawatir, jangan-jangan Podin ini pingsan. Bahkan mereka juga masih berpikiran, jangan-jangan Podin ini sudah meninggal, sehingga dia tidak bergerak sama sekali.
"Pak ..., ini Pak Podin tidak bergerak sama sekali ...! Bagaimana ini ...?!" tanya dua orang yang sudah berada di atas dahan itu, dan sudah memegangi tubuh Podin.
"Diikat tubuhnya ...! Turunkan dengan tali tambang ...! Tubuhnya diikat yang kuat, nanti kita kerek bersama-sama ...!" begitu kata orang-orang yang ada di bawah, memberi komando mengarahkan kepada dua orang yang sudah berada di dahan, yang sudah memegangi tubuh Podin tersebut.
"Ya, Pak .... Siap ...!"
"Tolong dibantu ya ...."
"Ya .... Tenang ...! Kami nanti semuanya akan membantu untuk menyeret tambang ini ...." kata orang yang berada di bawah. Mereka pun sudah bersiap akan membantu memegangi tambang yang digunakan untuk mengerek Podin.
Akhirnya, dua orang yang berada di atas pohon itu pun mengikat tubuh dengan menggunakan tambang yang besar. Mereka mengikat pada bagian bahu. Ya, mereka akan menurunkan tubuh Podin itu secara perlahan-lahan dari atas dahan agar bisa sampai di bawah dengan baik dan selamat.
"Papah .... Papah kenapa ...??? Huhuhu ...." teriak Cik Melan yang ada tepat di bawah pohon tempat suaminya bertengger itu, tentunya Cik Melan menangis karena merasa khawatir kalau sampai terjadi apa-apa dengan suaminya.
Dan akhirnya, tubuh Podin yang sudah diikat dengan tali tambang pada bagian badannya itu, perlahan-lahan diturunkan dari atas pohon. Tentu juga agak kerepotan dan lumayan berat. Dan yang jelas sangat berhati-hati, agar tidak terjatuh ataupun putus tambangnya.
"Tolong ditarik yang kencang .... Kami akan menurunkan secara perlahan ...."
"Ya .... Tenang .... Kami sudah memegang talinya ...."
"Lepaskan pelan-pelan ...!" begitu teriak orang-orang yang sudah mulai menarik tambang dari bawah pohon.
Sedangkan dua orang yang ada di atas dahan itu, perlahan-lahan mulai menggelindingkan tubuh Podin. Perlahan-lahan mulai menurunkan tubuh Podin, dengan ditahan para pemegang tambang yang ada di bawah pohon.
"Awas ..., pelan-pelan .... Jangan sampai nyangkut."
"Awas ..., awas .... Tolong yang di atas, untuk menggeser arah tubuh Pak Podin, agar tidak mengenai dahan di bawahnya ...." begitu orang-orang berteriak, semuanya membantu. Dan tentunya secara perlahan-lahan tubuh Podin mulai diturunkan dari atas dahan itu, dan tentu dengan hati-hati.
"Papah .... Papah kenapa ...??? Huhuhu ...." teriak Cik Melan kembali, dan tangisnya semakin menjadi. Dan pastinya ia sangat khawatir menyaksikan suaminya yang digeret dengan tambang dari atas dahan itu, yang tentunya dia mengkhawatirkan sekali kondisi suaminya yang tidak bergerak sama sekali, yang tidak ada tanda-tanda kehidupan itu.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian tubuh Podin yang diturunkan dengan tambang itu sudah sampai di tanah. Tentunya langsung dikeroyok oleh para warga yang ingin menyaksikan kondisi Podin. Tubuh yang baru saja menggeletak di tanah itu langsung dikerubut oleh orang-orang yang ingin tahu keadaan Podin. Dan pastinya, Cik Melan yang pertama kali menghampiri dan memeluk erat suaminya.
Namun kenyataannya, Podin diam saja. Podin tetap tak menampakkan tanda-tanda akan bangun atau siuman.
__ADS_1
"Papah .... Papah kenapa ...??? Huhuhu ...." Cik Melan semakin histeris menyaksikan keadaan suaminya yang tak sadarkan diri itu. Bahkan ia juga berfikiran suaminya tak bernyawa lagi. Makanya, Cik Melan menangis sejadi-jadinya, karena sangat khawatir dengan suaminya.