
Hari itu, Podin pulang ke Tasik, untuk menemui istri dan anak-anaknya. Ya, mereka berkumpul bersama di rumah yang mewah yang berada di Perumahan Permata itu. Tentunya anak-anak Podin merasa kangen, merasa rindu pada bapaknya. Anak kecil-kecil tiga orang itu, yang selalu ditinggalkan oleh bapaknya, karena bisnisnya di Jakarta. Tentu anak-anak yang masih kecil-kecil itu, anak yang nutuh kasih sayang dari seorang bapak itum anak yang masih mengharap belaian bapaknya itu, karena sering ditinggalkan oleh bapaknya, maka mereka pun ketika bertemu dengan bapaknya langsung minta dipeluk, minta dicium, minta disayang. Kini mereka berlima berada di ruang makan, menikmati makan bersama satu keluarga. Pasti anaknya merasa senang dan gembira bisa makan bersama dengan bapaknya.
Namun tentunya berbeda dengan Isti, istrinya Podin yang sudah lebih matang pikirannya. Sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu rumah tangga, tentu merasakan adanya perbedaan adanya perubahan dari diri Podin, suaminya yang sudah jauh berubah dengan saat ia berumah tangga dulu. Ketika keluarganya hidup rukun dengan mesra, dengan penuh kasih sayang, saat mereka selalu bersama di rumahnya.
Tetapi, kini setelah Podin berbisnis di Jakarta, setelah Podin setiap minggunya lebih banyak berada di Jakarta ketimbang pulang di rumahnya, aemuanya menjadi berubah. Bahkan kadang-kadang Podin selama satu minggu tidak pulang. Podin lebih senang tinggal di Jakarta, karena alasan bisnisnya yang ada di Jakarta.
Isti melihat perubahan sikap suaminya yang sangat drastis tersebut. Isti merasakan bahwa ada yang aneh pada diri Podin. Ya, tentu Podin sudah tidak begitu sayang dengan istri dan anak-anaknya. Podin sudah tidak begitu mesra dengan istrinya. Podin sudah tidak begitu dekat lagi dengan dirinya dan juga anak-anaknya. Tentu, Isti pun mulai menaruh curiga kalau suaminya itu kemungkinan besar sudah mempunyai istri muda. Ya, Isti yakin kalau Podin pasti sudah dekat dengan wanita lain, suaminya sudah kecantol sama perempuan lain.
Namun tentunya, Isti hanya bisa diam. Dia tidak berani menanya. Bahkan dia juga tidak mau merusak keharmonisan rumah tangganya. Isti tidak mau anak-anaknya yang sedang rindu dengan bapaknya itu terusik karena kata-kata ataupun pertanyaan yang akan disampaikan kepada suaminya.
Hungga malam pun semakin larut. Anak-anaknya sudah pada tidur. Demikian Isti, yang juga beranjak ke tempat tidur. Tanpa mempedulikan suaminya. Pa tidak ingin memaksa suaminya untuk tidur bersamanya, bahkan ia sudah mulai tidak mau mengurusi suaminya yang tingkahnya sudah berubah, yang sudah aneh, yang sudah tidak pernah meminta untuk tidur bersamanya lagi. Isti diam, bahkan Isti berpura-pura tidur di atas tempat tidur itu. Ya, istri tidak menggubris suaminya lagi.
Podin menyusul ke kamar tidurnya, ya di mana di kamar itu istrinya sudah merebahkan tubuhnya, tiduran. Namun Pudin tidak ikut merebahkan tubuh ke tempat tidur itu. Podin justru mengambil kunci dari sakunya, kemudian membuka lemari yang menjadi miliknya. Ya lemari khusus di kamarnya, lemari pribadi, lemari yang selalu ia kunci, lemari yang dirahasiakan, lemari tempat menaruh peti harta karun miliknya. Kemudian ia mengambil peti harta karun yang ada di dalam lemari itu. Setelah itu, ia menaruh ke lantai dan kemudian membuka peti harta karun itu. Namun ternyata, setelah Podin membuka tutupnya, dia kecewa dengan harta karun yang dilihatnya di dalam peti itu.
"Bu..., Bu...!! Ini kok perhiasan yang ada di dalam peti harta karun kita sudah tinggal sedikit ...?! Siapa yang mengambilnya ...?" tanya Podin kepada istrinya.
Istrinya diam tidak menggubris. Tidak menjawab, dan masih berpura-pura tidur.
"Bu ...!!! Ini, lho .... Kok peti harta karus saya barang-barangnya tinggal sedikit ...?! Ini bagaimana, Bu ...?!" kata Podin yang sudah mengangkat petinya itu dan ditunjukkan kepada istrinya yang berbaring di tempat tidur.
"Saya tidak tahu ...." kata istrinya.
"Tapi kan, Ibu yang ada di rumah .... masa Ibu tidak tahu siapa yang mengambil harta ini ...?!" begitu tuduh Podin pada istrinya.
"Ya ampun ..., Pak .... Saya itu kan ada di ruko .... Saya bersama anak-anak setiap hari berada di ruko. Saya tidak pulang ke rumah kalau tidak dijemput oleh Bapak .... Bahkan saya juga sudah pasrah bersama anak-anak sering tidur di ruko. Kalau tidak ada yang menjemput, kalau tidak ada yang mengantar pulang, jabagimana saya bisa pulang. Jadi, saya jarang di rumah, Pak .... Bapak saja tidak pernah pulang dan tidak pernah mengurusi kami." kata istrinya, yang tentu ingin menunjukkan keadaan senyatanya.
"Tapi ini .... Peti ini sudah hampir habis ...!" Podin emosi, karena merasa dituduh istrinya tidak mengurusi rumah tangganya.
"Ya, Saya tidak tahu toh, Pak ...! Yang megang kuncinya kan, Bapak ..., yang membawa kunci lemari itu kan juga Bapal, Bapak yang tahu persis dengan peti itu .... Kan Bapak yang bisa membuka lemari. Saya tidak pernah menyentuh lemari itu, Pak ..... Kenapa Bapak tanya ke saya? Bisa jadi harta kata karun itu sudah kamu berikan kepada istri muda Bapak ...?!" seketika itu, Isti berkata tidak terkontrol pada suaminya.
"Plak ...!!!" Isti ditampar oleh suaminya.
"Huuhuhu ...." Tentu Isti langsung menangis. Sakit hati Isti. Remuk redam rasa di dada. Baru kali ini suaminya menampar mukanya. Sungguh sangat keterlaluan sikap suaminya itu.
Podin yang tentu jengkel saat dikatakan harta bendanya diambil istri muda, tentu sangat marah kepada istrinya. Walaupun sebenarnya, Podin juga menyesal sudah menampar istrinya. Tetapi apa mau dikata, memang saat ini Podin lebih senang dan bahagia hidup bersama dengan istri mudanya, yaitu Maya. Makanya, ia tidak rela kalau istri mudanya itu dituduh menghabiskan harta kekayaannya. Karena tentu Maya belum tahu rahasia tentang peti harta karun itu.
Memang sebenarnya, Podin sendirilah yang setiap saat pulang, selalu mengambil perhiasan-perhiasan yang ada dalam peti yang ia rahasiakan itu. Maka tidak heran kalau harta karun yang ada di dalam peti wasiat miliknya itu memang sudah tidak sebanyak yang dia perkirakan. Jumlahnya semakin habis, semakin tinggal sedikit, bahkan hampir habis. Tentu Podin merasa sangat kurang kalau harus memenuhi kebutuhan Maya, yang saat ini minta mobil mewah.
Masalah ini memang sebenarnya hanyalah alasan saja. Yang jelas, Podin memang sudah punya istri muda. Dan yang lebih jelas lagi, istri mudanya itu selalu menuntut ini dan itu. Ya, Podin pun selalu memenuhi permintaan Maya yang tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya.
__ADS_1
Isti yang merasa tersakiti, tentunya tidak rela kalau dirinya dan anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Podin setiap hari. Tentu sebagai perempuan yang sudah merasa disusahkan oleh suaminya, ia pun protes.
"Pak .... Dulu hidup kita susah, saya tidak pernah menuntut kepada Bapak. Sekarang menjadi kaya, saya juga tidak banyak menuntut pada Bapak. Semuanya terserah Bapak .... Tetapi kenapa Bapak selalu marah-marah pada kami ...? Justru seharusnya kami yang marah-marah pada Bapak. Kami sudah tidak pernah diberi uang oleh Bapak. Kami sudah tidak pernah diberi nafkah oleh Bapak. Bahkan anak-anak pun, kalau menanyakan keberadaan Bapak, saya tidak bisa menjawab apa-apa, Pak .... Saya hanya bisa bilang kalau Bapak ada di Jakarta. Bapak kerja di Jakarta. Bapak membuka bisnis di Jakarta. Tapi kali ini Bapak sungguh keterlaluan. Bapak menuduh kami mengambil barang-barang milik Bapak, padahal kami tidak pernah menyentuhnya. Itu tidak benar, Pak .... Kalau memang Bapak sudah tidak betah tinggal bersama kami, Bapak tidak suka sama saya, Bapak bosan di sini, dan Bapak lebih senang tinggal di Jakarta, silahkan saja .... Kami tidak keberatan. Saya akan merawat dan mengurusi anak-anak sendri." kata istrinya yang tentu juga tidak mau disalahkan oleh Podin.
Podin terdiam. Podin tidak berani mengatakan apa-apa lagi kepada istrinya. Podin sudah tidak berani marah lagi kepada istrinya. Dia hanya mampu mendekap peti harta karun miliknya, yang ada di pelukannya itu. Lantas Podin membawanya keluar dari kamar, dan menuju garasi. Peti harta karusn itu dimasukkan ke dalam mobil. Kemudian ia pun menyalakan mesin mobil itu. Dan malam itu juga, Podin pergi meninggalkan rumahnya. Podin menuju Jakarta. Pastinya dia akan menemui istri mudanya di Jakarta.
Isti yang merasa kecewa, dan pasti sangat hancur hatinya, dia pun melepas kepergian suaminya begitu saja. Lantas kembali menutup pintu garasi yang ditinggalkan begitu saja oleh suaminya yang menyetir mobilnya keluar tanpa berpamitan.
*******
Akhirnya Podin pun berangkat ke Jakarta. Ya, tentu kembali menemui istri mudanya kembali, menemui Maya yang memang meminta untuk dibelikan mobil.
Maya senang saat tahu kehadiran Podin di rumahnya. Pasti Podin membawa uang banyak, untuk membelikan mobil buat dirinya. Ia pun bergegas membuka pintu garasi, agar mobil Podin bisa langsung masuk ke garasinya. Maya langsung menyambut kehadiran Podin.
"Hai ..., Abang pulang ...." kata Maya yang pasti dengan mesra menyambut kedatangan Podin. Tentu mesara dan bahagia, karena harapannya, sebentar lagi Maya akan dibelikan mobil baru. Ya, lagi-lagi apa yang dikehendaki oleh Maya, tentunya akan menjadi kenyataan dalam impian hidupnya yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Halo, Maya ....." sahut Podin yang sudah memasukkan mobilnya ke garasi. Dan tentunya, pintu garasi itu langsung ditutup oleh Maya.
"Bang Podin datang membawa uang ...." begitu kata Maya yang sudah menyambut kehadiran Podin, tentu dengan memeluk dan menciumi Podin sepuasnya saat laki-laki yang jadi suaminya itu turun dari mobil. Karena ia merasa bahwa apa yang dimintanya, bahwa apa yang diinginkannya, ketika Podin datang, pasti akan membelikan mobil baru untuknya.
Podin yang disambut oleh Maya seperti itu, dipeluk dan diciumi oleh istri mudanya itu, tentu ia sangat gembira, ia sangat bahagia menerima sambutan seperti itu. Sambutan yang sangat jauh berbeda dengan ketika ia pulang ke rumahnya menemui istri tuanya. Ya, istrinya sudah tidak mesra. Jauh berbeda dengan Maya yang selalu memberikan kemesraan, memberikan pelayan-pelayan kasih sayangnya.
Dan akhirnya, Podin masuk ke dalam rumah bersama Maya. Langsung menuju kamar. Podin yang berencana ingin membelikan mobil baru untuk Maya, Ia pun saat keluar dari mobil, sambil mengangkat peti harta karun dari dalam mobilnya itu, dan dibawa masuk ke dalam rumah, masuk ke kamar bersama dengan Maya.
"Ini yang namanya peti harta karun ...." kata Podin menjelaskan kepada Maya.
Lantas mereka berdua, di dalam kamar, dan tentu kamar itu dikunci oleh Podin, agar tidak ada orang yang mengetahui, agar tidak ada orang yang melihat rahasianya ketika mereka membuka peti harta karun itu.
"Hah beneran ini peti harta karun, Bang ...?!" tanya Maya yang tentu sangat ingin tahu isinya. Maya sangat terkesima menyaksikan peti harta karun yang baru dimelihatnya pertama kali itu, yang di bawah oleh Podin.
"Beneran, Maya .... Ini memang peti harta karun. Tentu isinya juga barang-barang harta karun ...." kata Podin pada Maya. Tentu seketika itu, angan Maya langsung melayang, akan memiliki harta karun yang banyak.
"Abang punya peti harta karun ini dari mana? Siapa yang memberikan peti ini pada Abang?" tanya Maya kepada Podin yang tentunya Maya ingin tahu bagaimana Podin bisa sampai memiliki harta karun yang sebesar itu.
"Ini rahasia, Maya .... Jangan bilang-bilang .... Tapi kamu saya kasih tahu .... Abang punya seorang kakek tua yang baik hati dan murah, suka memberi kepada saya, memberikan harta-harta karunnya kepada saya." kata Podin pada Maya.
"Bang ..., aku mau, Bang .... Aku mau semua ini, Bang .... Ini harta karun mau diberikan ke saya ya, Bang ..." kata Maya yang tentu dia sangat tertarik dengan peti harta karun yang di bawa oleh Podin itu. Dan pastinya, ia sudah memeluk Podin sambil menciuminya. Pasti, itu trik agar Podin bertekuk lutut padanya.
"Ya, tentu lah ...., Maya .... Kau kan istri Abang yang paling ku sayang .... Saya akan berikan semuanya kepadamu." kata Podin yang sudah pasrah, tunduk di pelukan Maya.
__ADS_1
"Ayo, Bang ...,kita buka, Bang .... Aku ingin tahu, isinya seperti apa, Bang ...? Aku kepingin melihatnya, Bang .... Ayo, Bang ..., cepat kita buka ...." begitu kata Maya yang sudah tidak sabar, meminta agar Podin segera membuka peti harta karun itu.
Akhirnya, mereka berdua duduk bersila di lantai kamarnya, menghadapi peti harta karun itu. Kemudian Podin membuka tutup peti harta karun yang imereka hadapi. Podin ingin menunjukkan kepada Maya. Tentunya Maya yang sudah sangat ingin tahu, menyaksikan isi peti harta karun itu, sudah menjulurkan kepalanya lebih dahulu untuk melihat apa isi dari peti harta karun itu. Podin perlahan membuka tutup peti harta karun itu. Dan ketika dibuka, terbelalaklah mata Maya saat menyaksikan isi dari peti harta karun itu. Ya, peti harta karun itu berisi perhiasan-perhiasan emas permata dan koin-koin uang yang terbuat dari emas.
"Wow ..., Bang .... Bagus sekali ini, Bang .... Ini benar-benar luar biasa, Bang ...." kata Maya yang tentu sangat gembira, sangat terheran dengan isi yang ada di dalam peti harta karun itu.
Maya mulai mengambil satu persatu perhiasan itu. Perhiasan-perhiasan yang ia jumput, ditariknya naik ke atas, ditaruh di depan matanya, kemudian dilihat secara seksama. Maya ingin tahu bahwa perhiasan-perhiasan itu adalah perhiasan-perhiasan yang asli. Perhiasan-perhiasan yang memang terbuat dari emas permata. Perhiasan yang tidak ternilai harganya. Perhiasan yang akan ia pakai untuk bisa dipamerkan sebagai wanita sosialita yang penuh gemerlap dengan aneka perhiasan yang indah.
"Bang ..., bagus banget ini, Bang .... Wah ..., keren ini, Bang .... Aku suka, Bang ...." kata Maya yang sudah mencoba untuk mengenakannya gelang-gelang yang indah itu di pergelangan tangannya. lantas katanya sambil menunjukkan tangannya, "Wah ..., Bang .... Ini buat aku ya, Bang ...." begitu kaya Maya yang tentu dia tidak ingin barang-barang itu lepas dari tangannya.
"Iya ...." kata Podin yang tidak bisa menjawab dengan berbagai kata-kata. Apalagi Maya sudah langsung memeluk dan mencium Podin dengan sepuas-puasnya.
"Terima kasih ya, Bang ..... Abang baik .... Abang cakep .... Abang ganteng .... Terima kasih ya, Bang." begitu kata Maya yang sudah memulai mencumbu Podin.
Tentunya, Maya yang sudah merasa puas karena diberi harta perhiasan-perhiasan emas permata yang sangat cantik-cantik itu, pastinya menganggap kalau suaminya, bosnya dulu itu, yang sudah terbius jerat asmaranya itu, pastilah orang yang sangat kaya raya, dengan harta yang sangat berlimpah. Pasti dalam batin Maya, sebentar lagi, pasti dirinya akan dibelikan mobil yang bagus oleh suaminya itu. Jadi istri kedua tidak masalah. Yang penting harta bendanya melimpah.
Namun di sisi lain, sebenarnya hati podin mulai resah, mulai gelisah, karena kalau nanti sampai harta karun itu dijual semuanya pun, mungkin belum tentu bisa membelikan Maya sebuah mobil yang bagus. Ya, tentu karena jumlah harta karun yang ada di dalam peti itu sudah tidak sebanyak saat Podin mendapatkannya pertama kali. Sudah tidak sebanyak saat Podin membukanya bersama istri tuanya. Memang harta-harta karun itu sedikit demi sedikit sudah diambil oleh Podin. Sudah dijual, dan sudah digunakan untuk membelikan ruko buat istrimya, kemudian membayar tempat karaoke, tempat hiburan yang dijanjikan oleh pemilik lamanya kalau tempat karaoke itu akan menjadi milik Podin. Lantas Podin juga sudah mengambil banyak harta karun untuk membelikan rumah buat istri mudanya, yaitu Maya. Bahkan Podin juga tidak segan-segan memberikan banyak uang, memberikan pakaian yang bagus-bagus, bahkan setiap kali Maya minta ini minta itu, Podin hanya bisa mengiyakan. Ia pun harus mengambil harta-harta karun itu, dan menjualnya.
Makanya, ketika sekarang ia bersama Maya membuka peti harta karun itu, dan isinya tidak begitu banyak, isinya hanya tinggal sedikit, Podin merasa bingung. Dari mana lagi akan mencari tambahan untuk membelikan mobil?
"Bang, terus kita beli mobil barunya kapan ...?" tanya Maya kepada Podin.
"Ah ..., ini .... Harta karun ini harus kita jual dahulu .... Nanti uang penjualannya kita pakai untuk beli mobil." jawab Podin.
"Jadi ..., kita harus menjual barang-barang ini dulu, Bang ...? Waduh .... Apa tidak sayang, Bang ...?" tentu Maya kaget. Karena perhiasan-perhiasan itu ternyata akan dijual untuk membeli mobil baru.
"Iya, Lah ..., Maya .... Abang tidak ada uang .... Bisnis kita juga sedikit uang .... Satu-satunya cara, kita mesti jual perhiasan ini terlebih dahulu, Maya ...." jawab Podin.
"Tapi ini sayang kalau dijual, Bang ...." bantah Maya.
"Lhahm kalau kita tidak jual, ya beli mobilnya ditunda ...." kata Podin yang tentu tidak mungkin lagi untuk mencari uang.
"Masalahnya perhiasan ini bagus-bagus, Bang .... Sayang kalau ini dijual. Ini perhiasan-perhiasan yang sangat bagus-bagus, Bang .... Ini perhiasan yang sangat langka ..... Kenapa dijual, Bang ...?" kata Maya yang tentu sangat tidak ingin Kalau harta karun itu dijual oleh Podin.
"Tetapi kan, Maya minta mobil .... Maya butuh mobil .... Bagaimana kalau tidak kita jual? Abang benar-benar tidak punya uang, Maya .... " kata Podin yang semakin bingung.
"Ih, Abang .... Sayang banget, Bang .... Ini perhiasan bagus-bagus, Bang .... Mendingan perhiasan-perhiasan ini Maya yang pakai, Bang .... Jangan dijual lah, Bang ...." tentu Maya terus merajuk.
"Terus, mobilnya bagaimana ...?" tanya Podin yang pasti akan bertambah bingung memikirkan cara mencari uang untuk beli mobil.
__ADS_1
"Tetap dibelikan, lah, Bang ...." kata Maya yang sudah asik mencoba berbagai perhiasan itu.
"Tapi jangan sekarang, ya .... Abang harus cari uang dahulu ...." sahut Podin yang semakin kebingungan.