PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 107: DIPELUK TUYUL


__ADS_3

    Saking penasarannya dengan apa yang diceritakan oleh Bang Kohar, yaitu bahwa di dalam peti yang dulu pernah ia bawa ke sana kemari, yang dulu pernah ia gunakan untuk menyimpan pakaian, yang sebenarnya peti itu berasal dari Pulau Berhala, yang sebenarnya peti itu adalah peti harta karun yang ia dapatkan dari Pulau Berhala, yang sebenarnya peti itu adalah peti harta karun yang berisi kucuran darah anaknya sendiri, bayi yang dikorbankan untuk dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala. Maka Podin benar-benar penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Bang Kohar, yang katanya peti itu adalah peti keramat yang bisa mendatangkan uang, peti keramat yang bisa digunakan untuk mendatangkan kekayaan. Podin penasaran dengan cerita tuyul yang ada di dalam peti itu. Tuyul yang menghuni peti itu. Seperti apa sebenarnya tuyul yang keluar dari dalam peti yang pernah ia bawa itu.


    Dan tentunya, Podin juga sudah tahu cerita tentang tuyul. Makhluk kecil dengan kepala gundul, yang bisa mengambil uang dari mana-mana, dan memberikan uang itu kepada pemiliknya. Sehingga pemiliknya tanpa bekerja, tanpa bersusah payah, langsung menjadi kaya raya karena dia mendapatkan uang yang disetorkan oleh tuyul itu. Tentu Podin ingin tahu tentang tuyul itu.


    Malam itu, akhirnya Podin harus menginap di rumah Bang Kohar. Ia benar-benar ingin tahu tentang makhluk penghuni dari peti yang sudah dirawat oleh Bang Kohar itu. Peti yang dulu pernah menjadi miliknya, yang hampir saja dibuang oleh istrinya karena dianggap sebagai barang tidak berguna, dianggap sebagai barang yang hanya menu-menui tempat dagangannya, dan akhirnya justru di beli mahal oleh Bang Kohar. Podin ingin membuktikan rasa penasarannya.


    "Kapan, Bang Kohar, akan keluar arwah yang ada di dalam peti itu?" tanya Podin kepada Bang Kohar.


    "Sabar, Pak Podin .... Kita harus menunggu waktu .... Dan ini nanti, biasanya akan keluar pada tengah malam, di pergantian hari nanti .... Pak Podin bisa menyaksikan, betapa peti itu sangat berharga, dan betapa peti itu sangat mahal harganya jika kita saksikan betapa peti itu bisa menghasilkan banyak uang. Uang yang bisa diperoleh secara mudah, dan tiba-tiba saja mincul di hadapan mata kita." kata Bang Kohar yang mulai menjelaskan betapa peti itu aneh, ajaib, pantas untuk dikeramatkan.


    "Ini beneran, Bang Kohar?" tanya Podin yang setengah kurang percaya.


    "Ya .... Coba Pak Podin boleh lihat peti ini .... Mari, Pak Podin ..., mendekat kemari. Lihatlah ini, keadaannya seperti ini ...." kata Bang Kohar yang mulai membuka peti itu.


    Podin pun mendekat ke tempat peti itu. Menuruti kata-kata ajakan Bang Kohar. Kemudian Bang Kohar mengelus peti itu secara lembut. Tidak hanya mengelus bagian luarnya saja, tetapi Bang Kohar lantas membuka peti itu, dan kemudian juga mengelus bagian dalamnya. Bang Kohar terus mengelus secara lembut dengan telapak tangannya.


    Podin yang mengamati Bang Kohar mengelus-elus peti itu, mulutnya terlihat komat-kamit, seakan Bang Kohar sambil membaca atau membisikan mantra-mantra pada peti harta karun yang dielusnya itu. Podin memperhatikan Bang Kohar secara seksama. Ia ingin tahu apa yang dilakukan oleh Bang Kohar.


    Laki-laki Brewok itu terus-menerus mengelus dan mengusap-usap peti kesayangannya, yang dulu pernah menjadi milik Podin itu. Bahkan kini, Bang Kohar juga mengusap peti itu dengan minyak wangi yang diteteskan pada kain putih. Dan pastinya, Bang Kohar sambil membaca mantra untuk mengundang arwah yang ada di dalam peti itu.


    "Pak Podin lihat sendiri kan, peti ini kosong, tidak ada isinya sama sekali, tidak ada uangnya sekeping pun." kata Bang Kohar kepada Podin yang kala itu memang Podin berada di samping Bang Kohar dan menyaksikan ritual yang dilakukan oleh Bang Kohar.


    "Betul, Bang Kohar ...." jawab Podin yang mungkin tidak paham apa sebenarnya yang dilakukan oleh Bang Kohar itu, karena mulutnya hanya umak-umik dengan kata-kata yang tidak jelas. Tetapi itu mungkin rapalan-rapalan mantra yang ditujukan untuk mengundang penghuni peti itu.


    Podin hanya memperhatikan dan melihat kalau peti yang dibuka dan diusap-usap oleh Bang Kohar itu memang kosong, tidak ada apa-apanya, tidak ada isinya sama sekali, tidak ada uang sebesar pun. Ya, seperti yang ditunjukkan oleh Bang Kohar, peti itu benar-benar kosong. Lantas Bang Kohar pun kembali menutup kedua peti yang dipegangnya itu.


    "Pak Podin ..., mari kita mulai mengheningkan cipta sejenak. Kita menenangkan pikir, memusatkan konsentrasi kita. Kita bermeditasi sejenak, untuk mengantar makhluk kecil, makhluk kesayanganku yang ada di dalam peti itu, tuyul yang baik, biar nanti keluar dan bekerja mencari uang, untuk mengisi tempat singgahnya tersebut, mengisi peti yang kosong ini." kata Bang Kohar kepada Podin yang tentu hanya membisik perlahan, karena memang aktivitasnya sudah dimulai, tidak boleh ada suara keras.


    Podin menurut dengan kata-kata yang disampaikan oleh Bang Kohar. Podin langsung duduk bersila, melipat kakinya seperti yang dilakukan oleh Bang Kohar. Tangannya sedekap di dada. Lantas ia mengikuti semua yang dilakukan oleh Bang Koar, yang menarik nafas perlahan, mengatur nafasnya untuk berkonsentrasi, dan memulai mengheningkan cipta, mulai menenangkan diri, mulai berkonsentrasi. Hening, tanpa ada gerakan, tanpa ada suara. Hanya hembusan nafas perlahan yang terdengar dari dua orang itu.


    Yah, malam itu benar-benar sangat hening. Tidak ada suara yang mengganggu, tidak ada suara yang terdengar. Semuanya membisu, semuanya diam. Bahkan seakan tidak ada yang bergerak sama sekali.


    Namun tiba-tiba, Podin melihat dengan mata kepalanya sendiri, dua peti yang ada di hadapannya itu mulai terbuka tutupnya. Tutup-tutup peti itu terbuka dengan sendirinya, tanpa ada yang menggerakkan. Secara perlahan tutup itu terangkat, hingga terbuka secara penuh.

__ADS_1


    Dan alangkah kagetnya Podin, saat kemudian, tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya, bukan sulap dan bukan sihir, tetapi ini nyata seperti yang terjadi di depan mata Podin, tiba-tiba peti yang semula kosong, peti yang tadinya tidak ada isinya apa-apa, kini ada uang kertas yang masuk ke dalamnya. Lembar demi lembar uang-uang yang seakan berterbangan itu masuk ke dalam peti itu. Tentu Podin sangat heran.Podin sangat kaget. Podin sangat terkesima dan tentunya Podin tidak percaya dengan matanya sendiri yang menyaksikan keanehan itu. Dan lembaran-lembaran uang yang berdatangan masuk ke dalam peti itu tidak berhenti begitu saja. Tetapi uang itu seakan datang mengalir terus dan terus. Seakan uang itu turun dari langit dan berjatuhan masuk ke dalam peti itu. Beberapa saat lamanya, hingga akhirnya peti itu pun sudah penuh berisi uang. Dua buah peti yang sudah sarat dengan uang-uang itu pun lantas menutup kembali.


    Namun, tiba-tiba saja, Podin kembali dikagetkan. Secara tiba-tiba, dihadapannya muncul sosok makhluk kecil yang aneh. Makhluk dalam wujud kecil, sebesar bayi yang baru lahir, dengan kepala gundul dan tubuh mungil, sudah berdiri dan memandangi Podin, menatap dengan mata yang sangat tajam dan menyeramkan. Bocah itu sudah melompat ke kaki Podin. Tentu Podin ketakutan. Ya, Podin kaget dan tidak berani menatap makhluk itu. Makhluk aneh yang oleh Bang Kohar disebut sebagai tuyul itu tiba-tiba sudah berada di atas kaki Podin yang masih bersila.


    "Toloooong ....!" Podin menjerit kaget dan ketakutan.


    "Tenang, Pak Podin ...." kata Bang Kohar yang akhirnya juga harus berdiri.


    "Aku takut ...." kata Podin yang barusan menjerit ketakutan itu.


    "Pak Podin tidak usah khawatir .... Jangan takut, Pak Podin .... Tidak usah cemas .... Itu hanya makhluk yang hidup di luar alam kita. Tidak apa-apa .... Pak Podin tenang saja, jangan takut dan jangan lari." begitu kata Bang Kohar yang sudah mengelus pundak Podin yang ketakutan.


    Dan kini, setelah Podin berdiri, makhluk kecil dengan kepala gundul serta telanjang tanpa busana itu, masih saja memegang dan memeluk kaki Podin. Tentunya Podin masih ketakutan. Dan tentu, Podin tidak berani melangkah, tidak berani bergerak, karena makhluk itu masih saja menempel di kakinya.


    "Tenang, Pak Podin .... Tidak usah takut. Itu makhluk kecil yang baik, yang bisa menghasilkan uang cukup banyak, Pak Podin," kata Bang Kohar kepada Podin, yang tentunya meminta agar Podin tidak takut saat kakinya dipeluk oleh makhluk kecil itu.


    "Tapi saya takut .... Ini, makhluk kecil ini memeluk erat kaki saya. Dia menggandul di kaki saya, rasanya sakit." kata Podin yang tentu memang ketakutan dengan makhluk gundul yang kecil itu.


    Namun sebaliknya dengan Podin. Ia justru berpikiran, kalau makhluk kecil itu sebenarnya memang bayinya. Bayi yang dia kurbankan, ia persembahkan untuk penguasa Pulau Berhala. Bayi yang baru saja dilahirkan oleh Maya, bayi yang baru saja dikeluarkan dari kandungan perut Maya. Tentu Podin masih ingat persis dengan peristiwa korban persembahan di malam bulan purnama itu, di mana ia sudah menikam leher bayinya sendiri dengan menggunakan belati mata berhala di atas batu kisaran di altar istana pulau berhala. Malam bulan purnama itu yang menjadi saksi. Dan itu semua, demi Podin untuk mendapatkan harta kekayaan dari istana Pulau Berhala.


    "Tolong, Bang Kohar .... Bagaimana ini caranya supaya makhluk kecil ini bisa lepas dari kaki saya?" kata Podin yang tentunya dia ketakutan, karena ia sadar bahwa makhluk itu sebenarnya adalah bayi yang dia korbankan, dan kini pasti mencari dirinya.


    Lantas Bang Kohar berusaha mendekat kepada Podin, dan berusaha untuk melepas tuyul yang masih melekat, menggandul di kaki Podin tersebut. Namun memang tidak bisa dilepaskan. Sangat sulit untuk dilepaskan pegangannya. Tangannya memegang kaki Podin sangat erat. Bahkan yang memeluk bukan saja tangannya, tetapi juga kaki-kaki kecil makhluk itu. Semuanya menempel dan memeluk erat kaki Podin, yang seakan ia tidak mau lepas dari Podin.


    "Waduh .... Sulit sekali, Pak Podin .... tidak bisa dilepaskan, Pak Podin. Rupanya makhluk ini memang cocok dan senang ikut dengan Pak Podin. Pasti tuyul ini anaknya Pak Podin .... Hahaha ...." kata Bang Kohar yang tidak bisa melepaskan makhluk itu dari kaki Podin.


    "Lah, terus bagaimana, Bang Kohar ...? Nanti saya pulangnya bagaimana?" tentu Podin semakin bungung dan ketakutan.


    Tentunya, Bang Kohar sendiri juga bingung. Karena baru pertama kali ini ia menyaksikan kejadian ini. Dan tentunya, ia juga baru pertama kali ini meminta tuyul kecil itu untuk mencari uang. Ini ia lakukan hanya demi membuktikan ucapannya kepada Podin yang tidak percaya. Tapi kenyataannya, makhluk kecil aneh itum ternyata memang tuyul yang bisa mencarikan uang majikannya.


    "Tidak apa-apa, Pak Podin .... Yang penting makhluk ini sudah memberikan uang sangat banyak kepada kita .... Dua peti penuh, Pak Podin." kata Bang Kohar sambil menunjuk ke arah peti yang sudah tertutup rapat tersebut.


    Tentunya, menyaksikan itu, Podin jadi kecewa sudah kehilangan peti itu. Menyesal sudah menjual peti itu. Seandainya saja ia tahu kalau peti itu bisa menghasilkan uang seperti itu, karena ternyata di dalamnya ada tuyul yang bisa mencarikan uang, pastinya Podin tidak bingung-bingung mencari uang. Tinggal makan tidur, uang datang sendiri.

__ADS_1


    "Coba kita lihat .... Seberapa banyak uangnya, Bang Kohar .... Jangan-jangan malah kosong peti itu." kata Podin yang tentunya ingin melihat kebenaran uang yang masuk ke dalam peti itu.


    "Tenang, Pak Podin ...." kata Bang Kohar.


    Lantas Bang Kohar mendekat ke peti itu. Kemudian Bang Kohar kembali membuka peti yang sudah tertutup. Peti yang sudah terisi uang yang dikumpulkan oleh tuyul itu. Dan tentunya, sama seperti dengan Podin, Bang Kohar juga ingin tahu uang yang ada di dalam peti itu.


    Namun saat Bang Kohar membuka tutup peti itu, tiba-tiba saja bersamaan dengan terbukanya tutup peti harta karun itu, ternyata makhluk kecil yang melilit di kaki Podin langsung melepaskan diri, dan meloncat ke dalam peti. Selanjutnya, hilang begitu saja, seakan masuk kembali ke dalam rumahnya yang ada di dunia lain, yaitu peti yang berisi uang tersebut.


    "Lah ..., tuyulnya hilang ...." kata Podin yang justru kaget dengan perginya makhluk kecil yang membelit kakinya tadi.


    "Iya. Pak Podin .... Ternyata gampang untuk melepas anak gaib tadi .... Hanya membuka tutup peti ini, anak itu langsung hilang. Pastinya dia pulang ke rumahnya, Pak Podin ...." kata Bang Kohar.


    Lantas Podin kembali mendekat ke peti itu, yang sudah dipegang oleh Bang Kohar. Tentu tergiur mengamati uang yang banyak jumlahnya di dalam peti itu.


    "Lihat, Pak Podin .... Lihat ini, Pak Podin .... Ini uang beneran, Pak Podin .... Uang yang sangat banyak .... Ini bisa membuat orang kaya, Pak Podin ...." kata Bang Kohar yang sudah mengambil beberapa lembar uang, dan ditunjukkan kepada Podin.


    "Saya minta, Bang Kohar .... Saya sudah ketakutan diikuti tuyul itu tadi .... Gantinya takut, saya mesti dikasih bagian, Bang Kohar ...." kata  Podin yang tentu kepengin uang itu.


    "Tenang Pak Podin .... Uang ini kita bagi dua ...." kata Bang Kohar yang tentunya tidak serakah.


    Lantas Bang Kohar mengambil lembaran uang yang ada dalam peti harta karun itu, dan membagikannya kepada Podin dan dirinya sendiri. Tentu Podin kembali dapat uang banyak. Satu tas kresek besar. Beruntung Bang Kohar tidak serakah.


    Malam itu, Podin benar-benar menyaksikan tuyul yang bisa mengumpulkan uang yang sangat banyal. Tentu Podin ingin memiliki peti harta karun itu lagi. Yang pastinya bisa ia gunakan untuk menumpuk uang sebanyak-banyaknya.


    "Bang Kohar .... Bagaimana kalau peti itu saya beli lagi? Saya ganti dengan harga yang lebih tinggi." kata Podin kepada Bang Kohar.


    "Jangan, Pak Podin .... Tidak baik pelihara tuyul .... Nantu kalau tuyul itu mendekap Pak Podin, dan tidak mau lepas. bagaimana? Pak Podin yang akan celaka ...." kata Bang Kohar yang tidak setuju.


    "Tapi, Bang Kohar ...?!" Podin masih berharap.


    "Pak Podin, saya sangat keberatan peti ini dibeli orang. Pasti nanti akan disalah gunakan. Saya khawatir, nanti yang memiliki peti ini akan merugikan orang lain .... Biar saja peti ini diam di rumah saya, Pak Podin .... Biar peti keramat ini tenang di sini. Percayalah kepada saya, Pak Podin, bahwa saya tidak akan memanfaatkan tuyul itu untuk menumpuk harta kekayaan buat diri saya. Saya hanya akan merawatnya dan saya hanya akan menyimpan peti keramat ini di dalam rumah saya." kata Bang Kohar yang tentu tidak kepingin kalau peti itu sampai terlepas, dan apalagi dipegang oleh Podin. Tentunya nanti akan bisa gunakan untuk mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar.


    Tentu, Podin sangat kecewa.

__ADS_1


__ADS_2