PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 173: MENYINGKIRKAN PETI KERAMAT


__ADS_3

    Akhirnya, Podin pasrah dengan nasehat-nasehat istrinya. Ia juga tunduk pada doktrin Pak Pendeta. Memang seperti itulah ajaran kebenaran yang selalu disampaikan oleh para ahli agama. Tentunya Podin takut kalau kelak masik neraka. Makanya, ia pun berpikir memang harus segera menyingkirkan peti-peti itu.


    "Mah ..., sebaiknya peti-peti ini harus saya berikan kepada Bang Kohar. Ya ..., biar di simpan oleh Bang Kohar sebagai koleksi benda-benda antik." kata Podin kepada istrinya.


    "Memang, Bang Kohar itu siapa, Pah?" tanya Cik Melan kepada Podin.


    "Bang Kohar itu orang yang suka mengoleksi benda-benda antik. Dia suka menyimpan benda-benda yang keramat .... Ya ..., semacam orang yang suka dengan barang-barang seperti peti-peti harta karun itu. Makanya ..., orangnya juga antik .... Orangnya unik .... Bahkan dia tidak bisa hidup bersama istri dan anaknya ..., karena lebih senang hidup bersama dengan benda-benda keramat miliknya itu."kata Podin pada istrinya.


    "Kok sampai sebegitunya ...?! Tidak mau tinggal sama keluarga, malah memilih tinggal dengan benda-benda antik ...?!" tanya Cik Melan yang tentu merasa aneh mendengar cerita tentang Bang Kohar.


    "Memang, Bang Kohar itu begitu .... Bang Kohar itu dulu tetangga di Padalarang .... Tetangga Lesti waktu tinggal di Padalarang ...." sahut Podin.


    "Terus ....?! Kita harus mengantar benda-benda ini ke tempatnya Bang Kohar ...?!" tanya Cik Melan pada suaminya.


    "Sebaiknya begitu, Mah .... Karena tidak mungkin Bang Kohar kita undang datang kemari ...." jawab Podin.


    "Bang Kohar tidak bisa dihubungi dengan telepon ...?" tanya Cik Melan lagi.


    "Bang Kohar itu tidak punya HP .... Katanya HP itu mengganggu hidupnya .... Maka dia tidak pernah memiliki HP .... Sama seperti saya ...." jawab Podin yang tentu juga tahu kalau Bang Kohar itu memang orang antik yang tidak mau mengikuti perkembangan zaman.


    "Kalau misalnya ..., peti itu dibuang saja ...., bagaimana, Pah?" tanya Cik Melan kepada suaminya, yang tentu merasa berat kalau dirinya harus membawa peti-peti itu pergi ke tempat yang lumayan jauh, ke rumah Bang Kohar yang ada di daerah Padalarang.


    "Saya khawatir, Mah ..., berhala-berhala yang ada di dalam peti-peti itu nanti bisa mengamuk, karena tidak ada yang merawat atau mengurusi dirinya. Makhluk-makhluk semacam itu juga sama seperti kita, kalau tidak dikasih makan dia juga akan kelaparan, kalau tidak diurusi, nanti dia juga bisa marah. Makanya ..., saya pengin barang-barang itu saya berikan kepada Bang Kohar, biar barang-barang itu ada yang mengurusi, ada yang merawatnya,  ada yang memberi makan .... Setidaknya makhluk-makhluk yang berwujud arwah yang ada di dalam peti-peti itu tidak akan marah kepada saya." kata Podin yang tentu juga keberatan kalau peti-peti itu dibuang begitu saja.


    "Ya ...., sudahlah kalau memang niatan Papah seperti itu .... Kapan rencana Papah akan berangkat ke rumah Bang Kohar? Siapa yang mau mengantarkan ke sana? Saya tidak rela dan belum mengizinkan kalau Papah harus nyetir sendiri .... Kesehatan Papah belum pulih, masih mengkhawatirkan ...." kata Cik Melan yang tentu memesan kepada suaminya agar tidak menyetir sendiri pergi ke Padalarang.


    "Iya ..., Mah .... Saya nanti yang menemui Bang Kohar ...., biar ditemani oleh salah satu karyawan yang biasanya nyetir mengantarkan barang-barang." kata Podin pada istrinya.


    "Kalau begitu, biar besok Man Ujang yang mengantar Papah." kata Cik Melan kepada suaminya, memberi teman untuk menyetir mobilnya.

__ADS_1


    "Mamah ikut ...?" tanya Podin pada istrinya.


    "Kalau memang Papah pengen saya temani, ya ..., saya ikut .... Iyalah, ikut ...." jawab Cik Melan yang tentunya juga masih khawatir dengan kesehatan Podin.


    "Ya .... Mamah ikut saja .... Sekalian kita jalan-jalan .... Refreshing, Mah ...." jawab Podin yang tentu ingin bepergian bersama istrinya.


    "Ya ..., itu juga bagus, Pah .... sekalian kita ini menghilangkan penat, menghilangkan stress, menghilangkan pikiran yang tidak karu-karuan ...." sahut Cik Melan.


    "Setuju, Mah .... Kalau gitu telepon saja Mang Ujang ..., biar besok nganter kita." kata Podin pada istrinya.


    Akhirnya, Cik Melan pun mengangkat HP, dan langsung menelepon Mang Ujang memberitahukan kalau suaminya bersama dia menghendaki diantar ke Padalarang. Mang Ujang diminta untuk menyetir mobilnya. Dan tentu Mang Ujang yang hanya sebagai karyawan, tidak bisa mengelak karena disuruh oleh majikannya. Dan tentunya dia hanya bisa mau dan mau. Namun pastinya Mang Ujang hujan juga senang, karena kalau disuruh mengantar ke luar kota, berarti nanti akan diajak makan-makan enak. Itu yang selalu dilakukan oleh majikannya.


    Pagi itu, Mang Ujang bersama Podin dan Cik melan, berangkat menuju Padalarang. Tujuan utamanya adalah ke rumah kontrakan Bang Kohar. Yang tentunya Podin akan menyerahkan peti-peti harta karun sebanyak lima buah yang akan diberikan kepada Bang Kohar, agar peti-peti yang dianggap keramar itu agar dirawat oleh Bang Kohar sebagai barang antik, sebagai barang keramat, sebagai barang yang mempunyai nilai mistik tersendiri.


    Perjalanan yang tidak begitu jauh, namun juga lumayan lama. Bagi Podin perjalanan ini adalah perjalanan yang akan mengakhiri hidupnya dalam memiliki barang-barang keramat yang sudah pernah memberikan harta kekayaan, yang pernah memberikan uang yang berlimpah, yang pernah memberikan kenikmatan hidup kepada dirinya, yang sempat membuat dirinya menjadi orang kaya. Ya, tentu ada rasa lain di dalam hati Podin dengan mengantarkan benda-benda kesayangannya itu, benda-benda yang sangat dikeramatkan itu, dan sebentar lagi benda-benda itu semua, peti-peti harta karun itu semua, peti-peti yang sudah mengukir sejarah hidupnya, peti-peti harta karun yang sudah mengubah semua gaya hidupnya, dan pastinya Podin akan merasa sangat berat untuk melepaskan itu semuanya.


    Makanya, ia harus ikhlas untuk melepas peti-peti harta karun yang selalu ditambahkan untuk menghasilkan uang serta kekayaan itu. Ya, kini Podin harus pasrah menerima kenyataan. Itu semua harus dijalani dengan bekerja keras, jika ingin sukses, ingin berhasil, ingin menjadi kaya raya.


*******


    Mobil Panther tua itu berhenti di depan rumah yang terbuat dari kayu. Semacam rumah kuno yang terlihat artistik dan unik. Podin turun dari mobil itu, lantas menuju ke rumah itu. Diikuti oleh istrinya, Cik Melan yang juga turut ke teras rumah tradisional itu. Rumah itu pintunya tertutup. Tetapi dari keadaannya, di dalam rumah itu ada orangnya.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." suara Podin mengetuk pintu.


    "Bang Kohar ....! Bang Kohar ...!" begitu kata Podin memanggil si pemilik rumah.


    "Ehmmm ...."


    Terdengar suara orang berdehem dari dalam rumah.  Pasti itu suara Bang Kohar. Dan benar, sebentar kemudian Bang Kohar membukakan pintu.

__ADS_1


    "Uwehh ...., Pak Podin ..... Bagaimana kabarnya, Pak Podin ...?" begitu kata Bang Kohar saat membuka pintu dan melihat ternyata tamu yang datang adalah Podin.


    "Baik ..., Bang Kohar .... Ini istri saya .... Cik Melan ...." kata Podin sambil mengenalkan istrinya, Cik Melan yang ada di sampingnya.


    "Alah ..., Mak .... Rupanya Pak Podin orang yang sangat beruntung .... Lepas dari ibu Lesti, dapat istri yang lebih cantik .... Dan ini pasti orang baik ...." kata Bang Kohar sambil menyeringaikan mulutnya yang penuh tertutup brewok.


    Cik Melan tersenyum senang sudah dipuji oleh Bang Kohar. Lantas mengikuti suaminya menyalami Bang Kohar. Dan tentunya, Cik Melan juga senang mendapat pujian dari Bang Kohar. Memang, Cik Melan tentunya juga tahu siapa itu Lesti, tahu bahwa Lesti dulu istri Podin yang diceritakan oleh suaminya, lari meninggalkan dirinya. Dan Bang Kohar pasti juga tahu dan bisa menilai kalau Lesti itu perempuan yang tidak baik, perempuan yang tidak setia. Dan ketika Bang Kohar memberi pujian kepada *** Melan, pastinya Cik Melan juga senang,  merasa tersanjung.


    "Ayo masuk .... Ada kabar apa ini, Pak Podin ...? Mau apa ini, Pak Podin datang ke rumah saya ...? Pak Podin ini pasti bawa kabar yang mengejutkan ...." kata Bang Kohar yang mengajak tamunya masuk ke dalam rumahnya.


    Cik Melan yang ikut masuk ke rumah itu, tentu terkejut dengan isi rumah Bang Kohar. Ternyata benar seperti yang diceruitakan oleh seuaminya, kalau Bang Kohar ini kolektor benda-benda antik. Dan pastinya bergetar jantung Cik Melan, ada rasa takut menyaksikan benda-benda menyeramkan yang banyak menghias rumah Bang Kohar tersebut.


    "Beginim Bang Kohar .... Saya mau menyerahkan peti-peti keramat yang dulu sudah pernah diambil oleh Bang Kohar itu .... Peti keramat yang dulu pernah diberikan oleh Bang Kohar kepada saya ...." kata Podin kepada Bang Kohan, yang tentu sangat mengejutkan itu.


    "Ah ..., yang benar, Pak Podin ...?!" tanya Bang Kohar yang tentunya terkejut mendengar kata-kata Podin akan menyerahkan peti-peti harta karun itu kepadamya. Tentunya Bang Kohar setengah tidak percaya. Tentunya Bang Kohar kaget dan heran, kenapa Podin mau menyerahkan peti-peti yang bisa menghasilkan banyak uang itu?


    "Iya ..., Bang Kohar .... Saya memang berniat mau meminta tolong pada Bang Kohar untuk merawat peti-peti itu, dan bahkan sekarang saya tidak hanya menyerahkan dua peti itu saja, tetapi saya akan menyerahkan lima buah peti harta karun, Bang Kohar ...." begitu jawab Podin yang bahkan terlihat tersenyum bahagia saat mau menyerahkan peti-peti itu kepada Bang Kohar.


    "Saya tidak salah dengar ini, Pak Podin ...?! Pak Podin benar-benar mau memberikan peti-peti itu kepada saya ...?" tanya Bang Kohar yang masih meragukan Podin. Tentunya ia ingat saat Podin mencuri peti itu.


    "Iya, Bang Kohar ...." jawab Podin yang tetap tersenyum.


    "Memangnya kenapa, Pak Podin ...?" tanya Bang Kohar lagi.


    "Saya sudah sadar, Bang Kohar .... Istri saya inilah yang menunjukkan jalan kebenaran kepada saya. Makanya peti-peti itu saya bawa kemari. Sebentar, Bang ...., akan saya ambilkan semuanya." kata Podin yang kemudian keluar menuju ke mobil untuk mengambil peti-peti itu, dan pastinya dibantu oleh Mang Ujang.


    "Terima kasih, Pak Podin ..... Saya senang mendengar kata-kata Pak Podin .... Ya ..., ya ..., ya .... Jalan keselamatan .... Silakan dibawa masuk kemari." kata Bang Kohar, yang tentu juga senang diberi peti-peti harta karun oleh Podin, yang tentunya itu akan menambah lagi koleksi benda-benda antiknya.


    Cik Melan tersenyum senang. Peti-peti keramat milik suaminya itu sudah disingkirkan. Pastinya, kini di rumahnya sudah tidak ada berhala yang dipelihara oleh suaminya. Dan lebih dari itu, suaminya pasti akan mengikuti ajaran-ajaran agamanya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2