PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 181: NASIB KANG ZAKI


__ADS_3

    Kang Zaki memang berhasil masuk ke Pulau Berhala. Bahkan Kang Zaki juga sampai di istana Pulau Berhala. Tentunya ia terkagum dengan keindahan yang ada di tengah Pulau Berhala. Dan yang pasti, Kang Zaki juga mendapatkan harta kekayaan dari dalam istana Pulau Berhala. Yah, tentu Kang Zaki girang tidak karuan. Karena apa yang dibayangkan sebelumnya, untuk mendapatkan harta kekayaan yang didamba-dambakan, kini terkabul sudah. Dan pastinya, harapannya untuk menjadi orang kaya raya, kini benar-benar menjadi kenyataan.


    Kang Zaki pun pulang dengan suka cita. Harta benda yang berupa emas permata, aneka perhiasan yang indah dan banyak jumlahnya, yang ia peroleh dari istana Pulau Berhala, yang awalnya ia dapatkan dari dalam peti harta karun, langsung ia masukkan ke dalam bagor kain bekas tempat wadah tepung gandum. Ya, Kang Zaki sudah menyiapkannya dari rumah. Maka ia tidak repot membawa peti harta karun, yang bentuknya aneh, seperti halnya peti-peti yang pernah disimpan oleh Podin. Dan tentunya, peti harta karun itu ditinggalkan begitu saja di Pulau Berhala. Kang Zaki hanya mengambil isinya, perhiasan-perhiasan dari dalam peti harta karun, yang langsung dimasukkan ke dalam kantong kain bekas bungkus tepung gandum yang mudah dipanggul maupun dicangking.


    Tujuan Kang Zaki memasukkan harta karun yang diperolehnya ke dalam kantong kain adalah agar mudah membawanya, apalagi saat naik angkutan umum maupun bus. Dan pastinya, orang-orang yang naik angkutan atau bus bersamanya, tidak menyangka kalau benda yang ada di dalam kantong kain bekas itu berisi harta karun yang tak ternilai harganya. Paling-paling orang lain menganggap kalau yang ada dalam kantong kain yang dibawa oleh Kang Zaki itu hanyalah barang rongsokan. Apalagi kalau melihat Kang Zaki yang dari perawakan maupun pakaian yang dikenakan, tidak pantas sebagai orang kaya.


    Namun sebenarnya, ada rasa was-was dan deg-degan pada diri Kang Zaki. Tentu karena ia membawa harta karun yang tak terhingga banyaknya. Pastinya, saat naik angkot maupun bus, Kang Zaki selalu memegang erat kantong kain bekas wadah tepung gandum itu. Dan matanya tak lepas memandangi kantong kain berwarna putih lusuh itu. Tentu Kang Zaki tidak ingin kehilangan barang yang baru saja diperolehnya tersebut. Ya, barang itu adalah belahan nyawa Kang Zaki. Barang berharga yang nantinya akan merubah nasib hidupnya bersama keluarganya. Barang yang sampai jauh ia cari, hanya untuk membuktikan bahwa dirinya adalah orang kaya, yang bisa membangun rumah gedung, dan bisa membelikan pakaian yang bagus-bagus kepada anak dan istrinya. Yang jelas, Kang Zaki tidak akan hidup miskin lagi.


    Maka pagi itu, Kang Zaki yang pulang menuju kampung halamannya, di Parung, dengan berganti-ganti angkot dan bus, tetap menjaga matanya agar tidak terpejam. Meski sebenarnya rasa kantuk itu menempel terus di matanya. Tetapi apa boleh buat, ia harus tetap menjaga barang yang tidak boleh terlepas dari tangannya itu. Mungkin rasanya terlalu lama naik angkot maupun bus. Rasanya ingin berteriak kepada sopir, agar menancap gas supaya mobil angkutan itu bisa berjalan cepat. Apalagu kalau angkutan itu mendadak berhenti, dan lama berhenti menunggu penumpang atau ngetem, tentu Kang Zaki merasa jengkel dan ingin memarahi sang sopir. Namun itulah kenyataan naik angkutan. Penumpang tidak bisa memaksa sopirnya.


    Hingga akhirnya, sore hari, saat matahari sudah condong separo ke langit barat, Kang Zaki akhirnya kembali menginjakkan kakinya di kampung halamannya. Tentu dengan senyum riang. Ia berjalan kaki dari jalan besar kampung yang dilintasi angkudes, melenggang menuju jalan ke arah rumahnya. Tentu sambil memanggul kantong kain bekas tempat tepung gandum berwarna putuh lusuh, yang dijaganya sejak pagi. Ya, kantong bagor gandum yang berisi harta karun. Pastinya, Kang Zaki berjalan tergesa, ingin segera sampai di rumahnya, ingin segera memberitahukan hasilnya mencari harta karun kepada istrinya, dan ingin menghitung, berapa banyak emas permata, perhiasan yang ia bawa dalam kantong kain lusuh itu.


    "Kebakaran ...!! Kebakaran ...!! Kebakaran ...!!" terdengar teriakan orang-orang kampung, yang memberitahukan kalau ada kebakaran. Banyak warga berlarian, tentunya ingin membantu orang yang kebakaran.


    "Apa yang kebakaran ...?" tanya Kang Zaki pada salah seorang warga yang ia temui.


    "Belum tahu .... Katanya rumah penduduk ...." sahut anak muda yang terus berlari, ingin menyaksikan, dan mungkin juga menolong rumah yang kebakaran.


    Begitu menyaksikan banyak warga yang berlarian, yang tentunya menuju ke tempat yang dikabarkan terjadi kebakaran, Kang Zaki pun ikut berlari kecil sambil memanggul kantong gandum yang berisi harta karun di atas pundaknya, mengikuti arah orang-orang yang berlari tersebut.


    "Kebakaran ...!! Kebakaran ...!! Kebakaran ...!!"


    "Kita bantu ...!!"


    "Kita tolong ...!!"


    "Siram air ...!!"


    "Tolong bawa ember ...!!"


    Orang-orang terdengar ribut, pada berteriak. Dan tentunya semua terlihat tergesa. Pastinya ingin menolong orang yang sedang mengalami musibah kebakaran. Maklum, ini musibah kebakaran. Pasti semua orang ingin menolong. Setidaknya harus menyelamatkan orang yang ada di dalamnya, dan juga harta benda.


    Semakin dekat di tempat kejadian, tentu suasana semakin ramai. Kang Zaki yang ikut berlarian menuju ke arah orang-orang berlari, mulai ragu.

__ADS_1


    "Apa yang kebakaran ...?" tanya Kang Zaki kepada pemuda yang menyangking ember berisi air.


    "Rumah ...." jawab pemuda yang menyangking ember itu sambil berlari ke arah tempat kebakaran. Pastinya ia ingin segera menyiramkan air di rumah yang mengalami kebakaran tersebut.


    "Rumah siapa yang kebakaran ...?!" Kang Zaki berteriak menanyakan rumah yang kebakaran. Namun pemuda yang menyangking ember itu terus berlari tanpa menghiraukan orang yang bertanya kepadanya.


    "Zaki ...!!!" tiba-tiba ada seorang laki-laki agak tua, menepuk pundak Kang Zaki dan memanggil namanya agak keras.


    "Abah .... Rumah siapa yang kebakaran ...?" Kang Zaki menoleh laki-laki yang menepuk pundaknya itu, dan kembali bertanya tentang rumah siapa yang sedang mengalami kebakaran.


    "Yang tabah ya, Zaki .... Yang sabar .... Yang tawakal ...." kata laki-laki itu sambil kembali menepuk pundak Kang Zaki.


    Kang Zaki terdiam. Dalam pikirannya, ada yang aneh dengan kata-kata laki-laki yang dipanggilnya abah tersebut. Ia mulai ragu. "Jangan-jangan ...." begitu pikir Kang Zaki, yang mulai ragu.


    "Abah ...?! Rumah siapa sebenarnya yang kebakaran ...?!" Kang Zaki menanya dengan tegas kepada si abah, yang tentunya ingin jawaban yang jelas.


    "Rumah kamu, yang kebakaran ..., Zaki ...." kata si abah itu lemas.


    "Nyak .......!!! Dadang ........!!!" Kang Zaki berteriak keras, langsung berlari ke arah rumahnya.


    Si jago merah berkobar menjilat-jilat ke angkasa, melalap rumah Kang Zaki yang memang semua bangunannya terbuat dari kayu dan bambu. Bahkan pagar rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu langsung ludes terbakar. Orang-orang warga kampung, laki-perempuan, tua-muda, semua membantu, menyiramkan air ke rumah Kang Zaki yang kebakaran tersebut. Semuanya bahu membahu untuk memadamkan api yang tidak mau kompromi dengan orang-orang yang menyiramnya. Dan di tempat itu, rumah Kang Zaki sudah berubah menjadi lautan api.


    "Nyak .......!!! Dadang ........!!!" Kang Zaki berteriak keras memanggil istri dan anaknya. Dan tentu ia juga berlari menuju ke arah rumahnya yang terbakar.


    "Kang Zaki ..., jangan, Kang ...!!!" orang-orang pada berteriak, melarang Kang Zaki yang akan menerobos api yang membakar rumahnya. Bahkan beberapa orang langsung memegangi tubuh Kang Zaki, mencegah agar tidak masuk ke area rumahnya yang terbakar.


    "Tenang .... Sabar, Kang Zaki .... Jangan gegabah .... Bahaya ...!" kata seseorang mencoba menenangkan Kang Zaki.


    "Ya ampun .... Huhuhu .... Istri saya bagaimana? Anak saya bagaimana? Huhuhu ...." Kang Zaki mencoba meronta, meratapi rumahnya yang terbakar. Dan tentunya ia juga menanyakan anak dan istrinya.


    "Sabar, Kang Zaki .... Tunggu sebentar .... Biar apinya padam dulu .... Jangan membahayakan diri sendiri .... Nanti justru kita yang ikut terbakar .... Kita yang celaka sendiri ...." kata salah seorang laki-laki, yang masih memegangi Kang Zaki, tentunya ingin menenangkannya.


    "Ayo ..., terus disiram ...!!"

__ADS_1


    "Ambil air yang banyak ...!!"


    "Airnya jangan berhenti ...!!"


    "Terus diguyur pada bagian apinya ...!!"


    "Ayo .... guyur terus sampai apinya padam ...!!"


    Orang-orang terus menyiram api yang sudah meluluh lantakkan rumah Kang Zaki. Semua warga bahu membahu, membantu memadamkan api. Hingga akhirnya, setelah cukup lama, api itu pun padam bersama lenyapnya rumah Kang Zaki yang sudah berubah menjadi abu serta puing-puing yang masih mengepulkan sisa-sisa asap. Rumah Kang Zaki ludes terbakar.


    "Huhuhu ...." Kang Zaki masih terus menangis, tentu sedih menyaksikan rumahnya yang habis terbakar.


    "Yang sabar, Kang Zaki ...." seseorang yang menemani terus menghibur Kang Zaki.


    "Istri dan anakku dimana ...?? Huhuhu ...." kembali Kang Zaki menanyakan istri dan anaknya.


    "Yang tabah, Kang Zaki ...." kata laki-laki itu yang masih menghibur.


    "Habis ..., Pak ...." ada seorang pemuda yang barusan menengok puing bekas kebakaran.


    "Bagaimana ...?!" tanya Pak Lurah yang sudah mendekat kepada Kang Zaki.


    "Habis semua, Pak ...." jawab pemuda itu sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal setelah menengok tempat yang terbakar, mengamati sisa puing-puing yang tentunya masih panas.


    "Astaghfirullahal 'adziim .... Ampunkan semuanya ya Allah .... Innalillahi wa inna ilaihi rojiun ...." kata Pak Lurah begitu mendengar penjelasan dari pemuda itu.


    "Istri saya bagaimana ...?! Anak saya di mana ...?! Huhuhu ...." Kembali Kang Zaki menanyakan istri dan anaknya.


    "Yang sabar ya, Kang Zaki .... Tabahkan hatimu, ya ...." kata Pak Lurah yang kini menepuk pundak Kang Zaki.


    "Istri dan anak Kang Zaki tidak bisa diselamatkan ...." kata pemuda yang baru saja memberikan laporan kepada Pak Lurah tersebut.


    "Hua ..., huhuhu .... Nyak .......!!! Dadang ........!!! Huhuhuhu ...... Nyak .......!!! Dadang ........!!! Hua ..., huhuhu ...." Kang Zaki menjerit histeris, menangis meraung-raung, begitu mendengar kalau istri dan anaknya tidak terselamatkan, ikut terbakar dalam kebakaran yang sudah menghanguskan rumahnya. Ia pun langsung tersungkur, sambil memukuli kantong gandum yang dibawanya. Tentu ia menyesal sudah pergi mencari harta karun. Karena ternyata istri dan anaknya menjadi tumbal dari harta kekayaan yang dibawanya itu.

__ADS_1


__ADS_2