
Podin yang sudah tertarik, bahkan mungkin mulai tergila-gila dengan perempuan pelayan warung makan itu, maka ia mencoba mencari kesempatan untuk bisa ngobrol bersama perempuan itu. Podin sengaja sarapan agak siang. Sekitar jam sembilan, tentu warung sudah sepi dari orang-orang yang mencari sarapan pagi. Saat itu, Podin masuk ke warung. Tentunya tujuan yang utama adalah untuk mencari sarapan pagi. Tetapi sebenarnya Podin juga ingin bisa mengobrol dengan perempuan cantik pelayan warung makan itu.
Ya, ketika dikatakan oleh temannya, diberitahu kalau perempuan itu adalah janda kembang, tentunya Podin ingin berkenalan lebih jauh dengan perempuan yang sebenarnya cantik itu. Pastinya karena Podin sudah jengkel dengan Maya. Ia ingin mencoba untuk memikirkan lari dari Maya, dan ingin berkenalan dengan perempuan lain. Memang saat itu hati dan perasaan Podin yang sedang jengkel dengan Maya, dan jika ingat bagaimana amplop berisi uang sepuluh juta dan kalung pemberian dari Podin dilempar oleh Maya, karena Maya merasa masih kurang, tentu Podin merasa sangat sakit hati. Itulah sebabnya, Podin langsung kembali ke tempat kostnya, dan memilih tidur di tempat kost.
Oleh sebab itulah, dan ketika Podin kenalan dengan perempuan pelayan warung makan yang menyebut dirinya bernama Rina itu, tentunya Podin ingin berdekatan lebih jauh dengan Rina.
"Pak Podin kerjanya di mana sih ...? Kok tidak kerja sama-sama dengan teman-teman yang lain ...? Dan juga, jam segini kok belum berangkat kerja?" tanya perempuan pelayan warung makan itu, yang tentunya ingin tahu tentang pekerjaan Podin.
"Iya ..., saya ini kan kerja di tempat hiburan. Kebanyakan ramainya kalau malam .... Jadi kalau siang saya istirahat, tapi kalau malam saya justru harus bekerja .... Seperti kelelawar .... Cari uangnya kalau malam hari. Yah ..., seperti itulah namanya juga mencari rezeki." kata Podin menjawab pertanyaan Rina si pelayan warung makan itu, yang tentu sambil senyum-senyum karena tentunya Podin sudah mulai menaruh hati dengan perempuan pelayan warung makan itu.
Dan tentunya, Rina juga tidak begitu sibuk, karena para pelanggan sudah pada berangkat kerja. Paling hanya satu dua orang yang beli, dan itupun kebanyakan minta dibungkus untuk dibawa pulang.
"Pak Podin berarti kerja di tempat hiburan malam .... Seperti apa sih, Pak ...?" tanya Rina yang ingin tahu.
"Itu loh ..., tempat karaoke .... Ya, kadang ada yang datang siang, tapi kebanyakan pada karaokean kalau malam hari." jawab Podin yang tentu juga ingin menjelaskan tentang tempat karaoke yang sebenarnya adalah miliknya, tetapi kali ini ia mengaku hanya sebagai pekerja di sana. Tentunya Podin tetap tidak ingin berterus terang sebagai pemilik dari tempat karaoke itu.
"Oh, begitu ..., Pak Podin .... Itu tempat karaoke gitu ya, Pak. Yang untuk nyanyi-nyanyi itu, ya ...." kata Rina si pelayan warung makan itu.
"Iya .... Itu yang datang ke sana sering ada artis-artis juga, lho ...." sahut Podin.
"Wah ..., asik dong .... Bisa nyanyi-nyanyi di tempat karaoke, malah sama artis segala .... Tempatnya mewah itu, Pak Podin?" tanya Rina yang mulai tertarik dengan obrolan bersama Podin.
"Ya ..., seperti itulah .... Namanya saja tempat hiburan. Yang jelas tempat hiburan itu menyenangkan." jawab Podin.
"Rina .... Pak Podin mau makan apa ...?" tiba-tiba Rina ditegur oleh pemilik warung.
"Eh, iya .... Ini Pak Podin mau makan apa ...?" tanya Rina.
"Soto Betawi saja .... Sama minumnya kopi hitam gulanya sedikit." jawab Podin.
"Baik, Pak Podin .... Kok gulanya sedikit ...?" sahut pelayan itu.
"Tidak apa .... Nanti minum kopi sambil lihat Rina, sudah terlalu manis ...." kataPodin menggoda pelayan itu.
"Iih .... Pak Podin mulai merayu ...." kata pelayan itu yang langsung ke dalam warung. Tentunya untuk membuatkan kopi.
Dan sebentar kemudiuan, Rina sudah memberikan pesanan Podin. Ia sudah membawa bagi berisi semoangkuk soto betawi dan segelas kopi hitam.
"Ini pesanannya, pak Podin .... Silakan dinikmati ...." kata Rina yang meladeni Podin.
"Pasti enak ..., dan senikmat yang melayani .... Hehehe ...." Podin kembali menggoda pelayan itu.
"Iih ..., Pak Podin sukanya menggoda ...." kata Rina yang tentu langsung lenggat-lenggot genit.
"Awas, ya .... Pak Podin mulai godain Rina ...." kata ibu pemilik warung makan, dari dalam warungnya.
"Hehe .... Salahnya Rina, Bu .... Habis cantik, sih .... Wajar kalau digoda .... Ya, Rin ...." kata Podin yang malah semakin menjadi.
"Hati-hati, Pak Podin .... Rina itu janda, lho .... Nanti kalau ngikut Pak Podin, gimana ...?" kata ibu itu lagi, yang tentu tahu presis tentang pelayannya yang cantik itu.
"Hah ...?! Memang Rina sudah janda? Walah ..., malah sudah tidak perlu ngajari lagi, Bu .... Hahaha ...." sahut Podin yang pura-pura belum tahu kalau perempuan itu sudah janda.
__ADS_1
"Iih .... Pak Podin itu, lho .... Sukanya nggodain orang ...." kata si Rina, yang tentu langsung mencubit pinggang Podin. Cubitan mesra, dengan harapan Rina ingin digoda lagi.
"Aduh ..., sakit, Rina ...." kata Podin yang pura-pura menjerit. Tetapi itu sebenarnya adalah tanda-tanda dua orang itu mulai membuka peluang. Ya, peluang untuk saling berdekatan, peluang untuk saling mengisi hati. Janda yang ketemu orang frustrasi karena istrinya yang galak.
"Eh, Pak Podin .... Kalau di tempat karaoke itu katanya banyak cewek-cewek cantik yang jadi PK, gitu ya Pak ...?" tanya Rina yang mulai tertarik dengan apa yang diobrolkan oleh Podin, dan tentunya Rina ingin banyak ngobrol bersama Podin.
"Waah ..., ya iyalah .... Memang yang namanya tempat karaoke itu ya pasti ada perempuan-perempuan yang bekerja menjadi pemandu karaoke. Tapi orang-orang lebih sering menyebut dengan istilah PK. Nah, kerjanya pemandu karaoke itu ya jadi pemandu orang-orang yang berkaraoke di tempat hiburan itu, seperti melayani bagaimana memilih lagu, mencarikan lagu-lagu yang diinginkan pengunjung, kemudian bahkan juga ngajarin nyanyi kalau pengunjungnya minta diajari. Seperti itulah pekerjaan pemandu karaoke, kalau ada tamu atau pelanggan yang kurang paham dengan teknologinya, dia yang membantu." jelas Podin kepada Rina.
"Oo .... Saya dengar kalau PK itu singkatan dari perempuan komersial ...." kata Rina lagi, yang sudah tertarik dengan obrolan Podin.
"Tidak semuanya begitu .... Memang kadang-kadang ada yang matre, terus mencoba merayu pelanggan laki-lakinya. Biasanya yang mudah dirayu itu laki-laki hidung belang. Dan tentu tujuannya dapat tip lebih dari pelanggannya." jelas Podin lagi.
"PK yang di tempat kerja Pak Podin ada yang merayu Pak Podin?" tanya Rina yang tentunya ingin menyelidiki laki-laki yang sudah menggoda hatinya itu.
"Ngrayu saya ...? Percuma, karena saya gak punya banyak uang .... Mosok karyawan begini dirayu PK .... Sia-sia ...." kata Podin yang tentu mengelak. Padahal dalam batinnya, benar juga kata Rina. Maya dulu juga PK yang sudah merayu dirinya.
"Memang kalau PK merayu itu pilih-pilih ...?" tanya Rina lagi, yang tentunya masih kurang percaya dengan kata-kata Podin.
"Ya iya, lah .... Ngrayu saya mau dapat apa .... Bayaran saja habis buat kos sama makan." kata Podin yang ingin meyakinkan kepada perempuan yang mulai didekatinya itu, kalau dirinya tidak dirayu oleh pemandu karaoke. Padahal itu merupakan pukulan bagi Podin, kalau dirinya sudah habis-habisan mengeluarkan banyak uang karena tergila-gila dengan pemandu karaoke yang sekarang menjadi istri sirinya itu, Maya.
"Masak begitu sih, Pak Podin ...? Memang PK itu mintain uang?" tanya Rina yang makin penasaran.
"Biasanya ...." jawab Podin yang juga sudah terkena dampaknya. Bahkan selalu dimintai oleh Maya sampai sekarang.
"Oo .... Kalau Pak Podin sudah punya istri?" tiba-tiba Rina menanyakan hal yang tidak diduga sebelumnya oleh Podin.
"Glegh .... Cleguk ...." Podin langsung tersedak mendengar pertanyaan Rina itu.
"Ndak kok, Bu ...." sahut Rina yang langsung berlari ke tempat si ibu pemilik warung itu.
"Ini, dikasih minum air putih ...." kata pemilik warung itu yang menyuruh Rini.
"Iya, Bu ...." kata Rina yang langsung membawa gelas berisi air bening dan diberikan ke Podin.
"Terima kasih, Rina Sayang ...." kata Podin yang menerima gelas berisi air bening itu, dan masih sempat menggoda pelayan yang cantik itu.
"Pak Podin genit ...." sahut Rina yang digoda, tapi tentunya juga senang saat digoda oleh laki-laki itu.
Itu baru pertama Podin mencoba mendekati pelayan warung makan yang mulai ada tanda-tanda akan berlanjut. Ya, Podin tentunya sudah mulai memberi harapan kepada Rina, yang hanya bekerja sebagai pelayan di warung makan. Tentunya perempuan yang berpredikat sebagai janda muda itu, begitu mendengar kata-kata yang dilontarkan Podin, kata-kata rayuan yang kembali membangkitkan gairah cintanya.
"Terereng .... Tuling ..., tuling ..., tuling ...." HP Podin berbunyi.
"Halo ...." jawab Podin saat mengangkat HP-nya.
Namun tentu Podin sangat berhati-hati untuk menjawab telepon itu. Setidaknya Podin juga menjaga agar Rina, meski agak jauh dari tempat duduknya, tidak mendengar suara dari dalam HP itu.
Ya, Podin menerima telepon dari Maya, istrinya yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Podin sengaja tidak pulang. Karena Podin sudah mulai malas dengan tuntutan-tuntutan Maya yang selalu meminta uang berlebihan. Apalagi setelah sekarang Podin kenal dengan Rina, perempuan janda muda pelayan warung makan itu. Tentunya Podin yang mulai melakukan pendekatan kepada Rina, ia akan berusaha menjauhi Maya. Dan tentunya hanya kata-kata Podin yang bisa didengar oleh Rina. Makanya, Podin langsung menjaga kata-katanya, seakan ia bicara dengan orang lain, bukan istrinya.
"Ya kerja, lah .... Cari uang ...." kata Podin menjawab telepon Maya, yang tentunya menanyakan keberadaan Podin saat ini. Tentunya Maya juga menyesal setelah tidak mau menerima amplop dan perhiasan kalung yang diberikan oleh Podin. Memang waktu itu niatan Maya agar Podin memberikan lebih banyak. Tetapi ketika Maya masuk kamar, yang sebenarnya kamarnya juga tidak dikunci, ternyata Podin justru pergi dari rumah dan meninggalkan dirinya begitu saja tanpa ada berita apapun. Makanya, setelah beberapa hari tidak ada kabar berita, Maya pun berusaha mencarinya.
"Saya kan cari uang .... Kalau belum dapat uang, ya kerja terus, biar dapat uang ...." jawab Podin yang langsung mematikan HP-nya. Khawatir kalau diketahui oleh Rina.
__ADS_1
"Ditelepon siapa, Pak Podin ...? Pasti istrinya ...." kata Rina yang mencoba menebak.
"Bukan .... Ada teman di kampung yang ingin tahu." jawab Podin sambil tersenyum.
"Oo .... Saya kira Pak Podin dicari istrinya ...." kata Rina yang tadinya pasti curiga.
"Istri saya sudah lama pergi meninggalkan saya, entah ke mana perginya saya tidak tahu." kata Podin yang tentu berpura-pura sedih.
"Lhoh .... Digondol orang ...?!" tanya Rina, yang tentu punya harapan bisa mendekati Podin.
"Mungkin saja .... Saya juga tidak tahu kemana sekarang .... Di tinggal ke Jakarta cari kerja, malah menghilang tanpa kabar berita." kata Podin yang kembali seolah-olah kelihatan sedih.
"Sudah, Pak Podin .... Diikhlaskan saja .... Kan masih ada saya ...." kata Rina tiba-tiba, yang seolah menawarkan diri untuk jadi penggantinya.
Podin langsung menatap perempuan itu, tentu dengan senyum yang penuh harap. Senyum yang memberikan tanda-tanda akan bersambut. Dan meskipun Podin hanya tersenyum begitu, rupanya Rina sudah tahu makna dari senyuman laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Rina .... Kamu jangan merayi-rayu Pak Podin ...." tiba-tiba ibu pemilik warung itu mengingatkan pelayannya.
"Tidak apa-apa, Bu .... Biar saja ...." kata Podin menyahut larangan ibu pemilik warung makan itu kepada Rina.
"Hati-hati, Pak Podin .... Rina itu janda, lho .... Pak Podin bisa terjerat nanti ...." kata ibu pemilik warung itu.
"Iih ..., Ibu .... Walau janda masih cantik, Bu ...." sahut Rina yang tidak mau diejek oleh majikannya itu.
"Janda bolong ...." ejek majikannya lagi.
"Ya iya, lah .... Kalau gak bolong malah gak bisa dimasukin, Bu ...." bantah Rina yang tentu tidak sakit hati saat dikatakan janda bolong.
"Yang bolong itu yang dicari orang, Bu ...." Podin ikut manyaut.
"Nah, kan .... Pak Podin saja nyarinya yang bolong, Bu ...." sahut Rina sambil nyengenges.
"Ooo ...." ibu pemilik warung makan itu hanya melongo.
Podin dan Rina, terus bercanda. Tentunya mulai menjurus ke rayuan-rayuan gombal. Apalagi Podin, yang sudah seminggu lebih belum bisa menyentuh tubuh Maya, pasti begitu diajak ngobrol oleh Rina, yang mestinya tidak kalah cantik dengan Maya, apalagi status Rina yang sudah janda, pasti ubun-ubun Podin langsung senut-senut.
Demikian juga Rina, janda bolong yang sudah dua tahun tidak pernah disentuh oleh laki-laki, maka begitu mendengar rayuan gombal dari Podin, bagian bawah pusarnya langsung basah. Yah, ingin rasanya bagi Rina untuk bisa berdekatan lebih jauh dengan Podin.
Yang pasti. dua orang itu saling melontarkan rayuan-rayuannya. Rayuan maut untuk menggaet orang yang ada di hadapannya. Rayuan maut Podin sudah menusuk hati Rina. Yang tentunya membuat Rina menjadi klepek-klepek. Seorang janda yang tidak pernah mendapatkan belaian, kini mulai mendengar kata-kata, bahkan lirikan dan senyuman manis yang membuainya. Tentu, Rina berharap untuk bisa lebih jauh, dicumbu oleh Podin.
"Kapan Rina punya waktu luang? Kita piknik, yok ...." tiba-tiba Podin menawarkan piknik. Rayuan mujarab yang bisa membuat perempuan langsung takluk.
Tentu Rina yang hanya bekerja sebagai pelayan di warung makan itu, mendengar ajakan piknik, pasti langsung melayang.
"Bu .... Saya mau diajak piknik Pak Podin ...." kata Rina pada majikannya.
"Emang kamu mau dipatuk ular kobra ...?!" kata ibu pemilik warung makan itu.
"Hah ...?! Pikniknya ke mana, Pak Podin ...?! Jangan piknik ke tempat ular ...." sahut Rina yang tidak tahu kata-kata kiasan dari majikannya. Tentu mendengar kata ular kobra, perempuan lugu itu langsung ketakutan.
"Ah ..., Ibu itu ada-ada saja .... Ularnya sudah jinak, Bu ...." sahut Podin yang tentunya secara tidak langsung ingin mendapat ijin dari pemilik warung itu.
__ADS_1