
Podin sudah terlanjur merasa senang dengan caranya mencari kekayaan dengan memelihara tuyul. Karena merasakan saking enaknya memelihara tuyul yang setiap malam bisa menghasilkan uang, kini Podin mulai berpikir, bagaimana seandainya peti yang ia miliki bukan hanya dua peti itu saja? Bagaimana seandainya dia memiliki lebih dari dua buah peti? Pasti ia akan lebih kaya, pasti uang yang dihasilkan akan lebih banyak jumlahnya.
Ya, kini watak terserah Podin mulai muncul kembali. Sudah terlihat sifat aslinya Podin. Podin sudah mulai muncul watak tidak puas kalau hanya memiliki dua buah peti saja. Podin ingin menambah peti-peti itu. Dirinya ingat, kalau ia masih punya dua buah peti lagi, yang dulu ia simpan di rumahnya Rina. Rumah yang ia beli untuk tempat usaha Rina. Podin ingat dengan peti yang di bawahnya dari Pulau Perahu, yang kala itu ia mengorbankan bocah perempuan cilik yang ia pungut dari perempatan jalan, dan ia persembahkan kepada penguasa istana Pulau Berhala. Dan tentu, kini Podin berkeinginan untuk mengambil dua peti yang ia simpan di rumahnya itu, yang kini ditempati oleh Rina yang membuka usaha berjualan warung makan.
Podin yang sudah tergila-gila dengan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh tuyul, yang selalu menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak, hanya dalam waktu sekejap malam, tentunya ia berkeinginan untuk mengambil kembali peti yang dia simpan di rumahnya kala ia menikah dengan Rina. Waktu itu, Podin membelikan rumah untuk tinggal bersama dengan Rina, yang kemudian istri sirinya yang kedua itu diajak membuka usaha warung makan. Istri siri keduanya itu berjualan dengan usaha warung makan. Maka Podin yang sudah tergila-gila dengan tuyul yang bisa menghasilkan uang, Podin yang sudah berkeinginan untuk segera kaya dengan memelihara tuyul, maka ia akan datang kembali ke Karawang. Podin akan kembali ke rumah Rina. Tentunya tujuannya bukan untuk kembali pada istri sirinya yang kedua itu, tetapi Podin hanya ingin mengambil dua buah peti yang ia sembunyikan di kolong tempat tidur.
Yah, dengan cara itulah, dengan mengambil dua buah peti itu lagi, maka Podin akan menjadi cepat kaya. Karena setiap malamnya dia akan mendapat uang sebanyak empat peti. Podin sudah berniat akan memanggil tuyul yang ada di petinya yang ia tinggalkan di rumahnya yang saat bersama dengan Rina. Podin akan memperlakukan dua peti itu sama seperti dengan peti yang pernah ia curi dari rumahnya Bang Kohar.
Pagi itu, Podin bersiap berangkat ke Karawang. Tentunya, ia langsung menuju ke rumah yang ditempati oleh Rina. Rumah yang dulu dia beli, dan yang kini ia tinggalkan, karena diusir oleh Rina dan para warga di sekitarnya. Yah, memang mestinya rumah itu milik Podin. Tetapi surat-suratnya kala itu ia serahkan kepada Rina. Dan tentunya saat ini surat kepemilikan itu ada di tangan Rina. Sedangkan Podin tidak membawa apa-apa, hanya mobil dan pakaiannya yang ia gunakan sebagai ganti. Bahkan pakaian pun tidak semuanya di bawa. Masih ada yang tertinggal di lemari pakaian di kamarnya.
Hari itu, Podin berharap bisa kembali ke rumah Rina. Walau mungkin malu dengan para tetangga, dan Podin juga merasa takut dan khawatir dengan Rina, istri sirinya yang sudah mengusirnya. Namun Podin tetap harus kembali ke rumah itu. Tentu Podin akan mengambil peti yang dia simpan di bawah kolong tempat tidurnya. Yang pastinya Rina tidak tahu kalau itu adalah barang berharga yang ia sembunyikan agar tidak diketahui orang lain.
Memang, kala itu Podin menyembunyikan peti itu karena tidak ingin diketahui oleh Rina. Podin tidak ingin kalau dirinya mencari pesugihan dengan cara yang tidak wajar di Pulau Berhala. Podin juga tidak ingin ditanyai oleh Rina tentang asal muasal peti itu. Dan tentunya, Podin juga tidak mau Rahasianya akan terbongkar oleh istrinya sendiri. Apapun alasannya, semuanya dirahasiakan oleh Podin. Bahkan termasuk peti yang dia simpan. Walaupun sebenarnya, peti itu memang sudah kosong. Tidak ada barangnya sama sekali. Dan kala itu, Podin juga belum mengetahui kalau ternyata peti itu punya kekuatan lain. Itulah sebabnya, Podin tidak kepikiran untuk memyimpan peti itu secara baik-baik. Namun kini, setelah ia mendapat ilmu rahasia dari Bang Kohar, maka Podin harus bersusah payah untuk kembali menemui Rina, kembali pulang ke rumahnya, hanya untuk mengambil peti itu.
Namun, saat Podin sampai di rumahnya yang dulu, rumah yang pernah dijadikan sebagai tempat usaha warung makan oleh istrinya itu, ternyata rumah itu sudah tutup. Warung makan yang dulu ramai, sudah tidak dibuka lagi. Warung itu sudah ditutup. Bahkan pagar bagian depan juga ditutup dan dikunci. Podin bertanya-tanya, ada apa sampai rumah ini ditutup? Di mana Rina? Kenapa dia tidak berjualan lagi? Apa dia sudah tidak membuka warung makan lagi? Terus, rumah ini kenapa ditutup semua? Ada apa dengan Rina? Begitu pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiran Podin.
Kebetulan saja, ada seorang perempuan yang lewat di depan rumah Rina, tetangganya kala itu. Dan tentunya langsung menyapa Podin.
"Wah, rupanya ada Bang Podin yang datang kemari, ini? Gimana kabarnya, Bang Podin?" kata perempuan itu yang tentunya sangat kenal dengan tetangganya itu, karena Podin sudah cukup lama tinggal di tempat itu, dan pastinya, Podin sudah banyak mengenal para tetangganya, bahkan juga akrab karena para tetangganya sering membeli makanan di warung istrinya.
"Iya, Bu ...." jawab Podin sambil membungkukkan badannya tanda menghormat.
__ADS_1
"Ada apa, Bang Podin datang kemari?" tanya perempuan itu, yang pastinya ingin tahu kedatangan Podin.
"Sebenarnya saya mau tengok rumah, saya kangen sama Rina .... Tapi kenapa rumah ini tutupan ya, Bu?" kata Podin yang langsung berterus terang.
"Sudah satu bulan ini, rumah ini ditutup, Bang Podin." sahut perempuan tetangganya itu.
"Rinanya ke mana ya, Bu ...?" tanya Podin lagi.
"Mpok Rina bangkrut .... Warungnya sepi .... Makanya terus tutup. Mpok Rina sekarang pulang kampung .... Warung ini sudah sepi tidak ada yang beli, Mpok Rina sudah tidak sanggup untuk berjualan lagi, karena tidak laku. Itu pasti gara-gara Bang Podin .... Ngapain juga Bang Podin itu udah punya istri cantik, Mpok Rina itu cantik loh, Bang ..., ngapain masih kurang .... Malah macam-macam sama pembantu ...." kata tetangganya itu yang tentu masih ingat betul peristiwa yang dilakukan oleh Podin pada pembantunya.
"Maaf, Bu .... Waktu itu saya kilaf .... Saya kerasukan nafsu setan .... Lupa daratan ...." kata Podin mencoba membela diri.
"Kilaf ..., kilaf .... Dasar keong racun ...." sahut perempuan tetangganya itu yang tentu gemas sama Podin.
"Iya .... Katanya mau dijual sama Mpok Rina .... Katanya Mpok Rina, mending tinggal di kampung saja, lebih nyaman, lebih tentram, lebih tenang ...." kata perempuan itu pada Podin.
"Ya sudah .... Saya mau mencoba masuk ke rumah ini, mau ambil pakaian, kok tidak bisa. Pintu pagarnya terkunci." kata Putin pada perempuan itu.
"Oo .... Masih punya pakaian di sini .... Ya silakan, Bang Podin .... Ini kan rumah Bang Podin sama Mpok Rina. Memang banyak pakaiannya?" kata perempuan itu.
"Soalnya itu ada pakaian saya yang bersejarah .... Punya arti tersendiri dalam hidup saya. Maka ingin saya ambil. Ya, namanya sejarah, pastinya saya ingin menyimpannya baik-baik, Bu." kata Podin yang berpura-pura dan berbohong kepada tetangganya itu.
__ADS_1
"Oh, iya .... Silahkan .... Memang kalau pakaian bersejarah seperti itu, ya itu kenangan. Silakan, Bang Podin .... Ini saya juga mau ke pasar. Mangga ...." kata perempuan itu yang kemudian pergi meninggalkan Podin.
Akhirnya, karena pagar depan terkunci, Podin terpaksa melompat pagar tersebut, untuk masuk ke rumahnya. Lantas Podin mencoba untuk membuka pintu rumah itu, tetapi memang rumahnya juga terkunci. Jendelanya semuanya tertutup dan juga terkunci. Bahkan warung makannya juga tertutup rapat dan terkunci. Tentu Podin bingung, bagaimana caranya untuk masuk ke rumah ini. Dan Podin memang sudah berniat untuk masuk, agar bisa mengambil dua peti miliknya itu. Ya, tujuan Podin hanya ingin mengambil peti-peti itu saja.
Namun kenyataannya, sesampai di rumahnya sendiri, ia tidak bisa masuk karena rumah itu semuanya terkunci rapat. Pastinya Podin kecewa, karena tujuannya akan mengalami kesulitan. Podin pun mulai mondar-mandir di depan rumah itu, ia berusaha mencari cara bagaimana agar bisa masuk. Podin memang tidak membawa kunci sama sekali. Semuanya diserahkan kepada Rina.
Podin mulai melepas napas. Lantas ia duduk di buk rumahnya itu, sambil berpikir mencari cara, bagaimana supaya bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri yang berkunci itu. Dan tiba-tiba saja, timbul niatan Podin untuk membuka paksa pintunya, dengan cara mendobrak pintu itu. Namun ia juga khawatir, nanti justru akan merusak pintu rumah itu sendiri.
Akhirnya, terpaksa Podin harus mencongkel jendela, dan dia akan masuk melalui jendela, seperti layaknya seorang pencuri yang masuk rumah orang.
"Maling ...!! Maling ...!! Maling ...!!" tiba-tiba saja ada orang yang berteriak maling.
"Ada pencuri ...!! Ada pencuri ...!!" yang lainnya juga ikut berteriak.
"Mana malingnya ...?!"
"Itu .... Masuk rumah Mpok Rina ...!!"
"Kita gebugi ...!!"
"Kita tangkap ...!!"
__ADS_1
Podin yang mendengar suara itu langsung kaget. Dirinya disangka pencuri.
Namun, warga sudah benyak berdatangan, dan tentu saja langsung menghakimi orang yang disangka maling tersebut. Warga sudah mengeroyok Podin yang baru saja melompat masuk ke rumah lewat jendela. Podin sudah dihakimi masa.