
Mendengar kata-kata Cik Melan yang menyampaikan kepada Podin untuk mengatakan kepada orang-orang kampung, perempuan-perempuan yang berdatangan ke rumah Podin, kalau Cik Melan adalah calon istri Podin, tentu di dalam hati Podin mengatakan, ini ucapan yang sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar sandiwara, bukan sekadar cara yang dia lakukan untuk memberitahu kepada perempuan itu, kata-kata itu bukan hanya sekadar untuk mengusir perempuan-perempuan dari kampungnya yang banyak berdatangan di rumahnya itu. Tetapi kata-kata itu sudah menusuk ke dalam jantung hati Podin, yang biasanya menganggap Cik Melan adalah karyawati bagian keuangan di tempat usahanya, perempuan cantik yang dianggap sebagai karyawan paling pintar dan mampu menyelesaikan semua masalah perusahaan. Bahkan saat-saat kritis, bahkan pada saat terjadi kebakaran di gedung karaokenya, Cik Melan sanggup mengatasi semua masalah yang dihadapi di tempat usahanya itu secara maksimal. Dan hasilnya sangat memuaskan.
Tetapi kali ini, Podin sudah berfikir lain. Podin sudah menganggap kata-kata Cik Melan itu bukan lagi kelakar, bukan lagi kata-kata sandiwara, karena apa yang ia katakan kepada perempuan-perempuan kampung itu, ternyata terasa aneh di bibir Podin. Seakan kata-kata itu langsung menambat di dalam jantung, merasul ke dalam kalbunya. Dan itu artinya, ada rasa lain yang muncul dalam benak Podin. Ia sudah mulai tertarik dengan Cik Melan, Ada sebersit keanehan polah dalam diri Podin. Kemungkinan, Podin sudah mulai jatuh cinta kepada Cik Melan.
"Pak Podin, ini saya harus segera pulang ke Jakarta, ke tempat kerja. Taksi di luar sudah menunggu saya. Pastinya nanti tidak baik terlalu lama taksi itu berhenti, karena sopir taksi juga butuh mencari uang. Terima kasih Pak Podin .... Saya berpesan agar Pak Podin mulai berhati-hati dalam meladeni perempuan-perempuan orang-orang se kampung itu, yang pada berdatangan di rumah Pak Podin. Ingat, Pak ..., mereka datang kemari pasti punya harapan. Jangan sampai Pak Podin mengecewakan mereka." begitu kata Cik Melan yang berpamitan kepada Podin akan pulang kembali ke Jakarta, kembali ke tempat usahanya. Dan pastinya Cik Melan akan mengelola tempat usaha Podin sebaik mungkin.
"Kenapa pulang, Cik Melan ...?" tanya Podin yang tentu agak kecewa, karena Cik Melan berpamitan pulang.
"Ya ..., saya kan harus mengelola usaha Bapak, tempat karaoke yang ada di Jakarta. Kalau saya tidak balik ke Jakarta, tempat usaha Bapak nanti seperti apa jadinya?" kata Cik Melan yang tentu beralasan tepat.
"Tapi ..., saya ingin ditemani makan sama Cik Melan." kata Podin yang pastinya sudah mulai memendam rasa tidak ingin ditinggalkan oleh bendaharanya itu. Dalam hatinya, Podin mulai merasakan ada getaran-getaran yang berbeda. Dalam hatinya Podin mulai merasakan akan merindukan Cik Melan.
"Tapi, Bapak ..., taksi itu sudah menunggu saya. Kasihan kalau dia terlalu lama menunggu. Pak sopirnya butuh penumpang untuk ngejar setoran." kata Cik Melan yang pasti ingin menghindari berlama-lama bersama Podin di rumahnya yang baru itu, karena Cik Melan jengkel dengan sikap Podin itu. Dan tentu kalau terlalu lama di rumah Podin, nanti dia akan diomong, akan digunjing oleh para perempuan tetangga Podin yang ada di kampung itu, terutama perempuan-perempuan yang tadi banyak berdatangan ke rumah Podin.
Berkata demikian, Cik Melan sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya, dan pastinya dia akan menuju ke taksi yang sudah menunggunya dari tadi. Dan tanpa menunggu jawaban dari Podin, tanpa menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Podin, Cik Melan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan itu, keluar dari rumah Podin, dan langsung menuju ke taksi yang sudah menunggunya sejak datang mengantarkannya tadi.
Podin tidak bisa berbuat banyak. Bahkan Podin tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Bahkan juga Podin yang sebenarnya ingin melarang kepergian Cik Melan, tetapi kali itu lidahnya kelu. Bibirnya hanya bisa gemetar, tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Podin hanya bisa keluar dari rumahnya dan memandang Cik Melan yang sudah masuk ke dalam taksi.
__ADS_1
Kenapa Podin gemetar saat mendengar kata-kata Cik Melan yang menyuruh dirinya berkata kalau Cik Melan itu calon istrinya? Kata-kata itu benar enggak? Demikian tuluskah kata-kata yang dikeluarkan oleh Cik Melan? Tetapi mengapa kata-kata itu seakan membelenggu perasaan batinnya? Kata-kata itu seakan sudah menusuk-nusuk ke dalam jantung hati Podin? Ya, seperti layaknya sebuah anak panah yang meluncur kencang dan tepat mengenai sasarannya, seperti itulah kata-kata Cik Melan yang disuruh mengucapkan Podin, sebuah panah asmara yang menusuk tepat ke jantung hati Podin. Ya, panah asmara. Rupanya Podin sudah mulai terkena panah asmara pada Cik Melan.
Sedan taksi warna biru itu pun pergi meninggalkan halaman rumah Podin. Podin hanya mepatung memandangi kepergian mobil sedan taksi warna biru yang ditumpangi oleh Cik Melan itu. Podin tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk melambaikan tangan saja ia tidak sanggup. Tubuhnya benar-benar kaku seperti patung. Hanya bibirnya yang mampu bergetar, menyebut nama perempuan karyawati bagian keuangan di tempat usahanya itu, lirih tanpa bisa didengar, "Cik Melan ...."
"Lho .... Pak Podin, kok calon istrinya pulang?"
"Kok perempuan itu pergi?"
"Kok katanya calon istri ... Tapi kok hanya sebentar ...?!"
"Perempuan macam apa itu? Masak nengok calon suami kayak begitu ...?!"
"Marah, apa ...?!"
"Cemburu sama kita ...."
Begitu celoteh perempuan-perempuan para tetangga Podin, yang masih pada tinggal di rumah
__ADS_1
Podin. Tentu banyak omongan jelek yang keluar dari mulut mereka. Yang pastinya, perempuan-perempuan itu tentunya tidak mau disaingi oleh perempuan cantik yang baru saja meninggalkan rumah Podin itu. Dan pastinya, mereka sangat berharap bisa menarik hati Podin.
Tetapi ternyata, suara-suara para perempuan yang mengejek Cik Melan itu justru sudah merubah sikap Podin, sudah berubah pikiran Podin, sudah merubah pendirian Podin. Kalau hari kemarin hingga baru saja tadi, Podin banyak tersenyum, Podin banyak tertawa, senang dan girang menerima kehadiran perempuan-perempuan entah itu gadis ataupun itu janda, yang berdatangan ke rumahnya, tetapi kali ini, setelah kepergian Cik Melan, Podin justru memandang orang-orang yang ada di rumahnya itu sebagai perempuan-perempuan hina, sebagai perempuan-perempuan yang tidak tahu diri, sebagai perempuan-perempuan murahan.
Benar seperti yang dikatakan oleh Cik Melan kepadanya tadi, kalau perempuan-perempuan yang berdatangan seperti itu adalah perempuan yang tidak punya harga diri, perempuan yang hanya berharap mendapat perhatian dari Podin, perempuan yang punya tujuan ingin menjadi istri Podin. Karena mereka hanya melihat kekayaan Podin semata. Dan perempuan-perempuan semacam itu bukanlah perempuan yang baik, bukanlah perempuan yang mempunyai hati yang tulus, tetapi mereka hanya memandang Podin dari harta kekayaannya. Mereka mau mendekat kepada Podin itu semua lantaran karena Podin adalah orang kaya. Kalau sampai perempuan-perempuan itu bisa menjadi istri Podin, pastilah yang mereka harapkan hanya dari harta kekayaannya saja, bukan cinta yang tulus, bukan hati yang baik.
Maka Podin seketika itu tidak menggubris kata-kata dari perempuan-perempuan yang ada di rumahnya itu. Podin masa bodoh, tidak mengurusi lagi perempuan-perempuan yang pada duduk di kursi ruang tamunya, bahkan juga di teras rumah. Tetapi Podin langsung masuk rumah. Podin langsung ke ruang makan.
Di meja makan itu, Podin membuka bungkusan plastik kresek yang dibawa oleh Cik Melan yang sudah ditaruh di atas meja itu. Podin ingin tahu apa isinya. Dan ternyata, isinya adalah ketoprak. Ya, makanan khas Jakarta kesukaan Podin, sengaja dibawakan oleh Cik Melan jauh-jauh dari Jakarta, hanya untuk mengirim sebungkus ketoprak kepada Podin. Tapi bukan sebungkus, ada dua bungkus. Ya, Podin memandangi dua bungkus ketoprak yang ada di dalam plastik kresek itu. Pastinya tadi Cik Melan ingin makan letoprak itu bersama dengan bosnya. Tapi sayang, Podin sudah dikerubuti banyak perempuan. Pasti Cik Melan sakit hati. Pasti Cik Melan tidak mau melihat perempuan-perempuan yang ada di rumah Podin itu. Dan pastinya, Cik Melan langsung pergi meninggalkan begitu saja dua bungkus ketoprak di meja makan itu. Bahkan tanpa sempat menyampaikan kalau dirinya membawakan makanan kesukaan Podin.
Tentu Podin menyesal. Tentu Podin kecewa. Podin benar-benar sangat menyalahkan dirinya, kenapa semua ini bisa terjadi? Mestinya Podin bisa makan ketoprak bersama Cik Melan, tetapi kini orang yang diharapkan mau makan bersamanya itu justru sudah pergi, sudah pulang meninggalkan dirinya, walaupun alasannya akan mengurusi tempat usahanya.
Tetapi bagi Podin, tentu peristiwa itu sudah mengecewakan hatinya. Dan Podin menyesal karena dirinya sudah membuat Cik Melan marah. Dan kini, Podin hanya bisa memandangi dua bungkus ketoprak itu, tanpa bisa makan bersama dengan orang yang membawanya.
Ya ..., Cik Melan memang gadis cantik, gadis cerdas, gadis pintar. Sayang, puding sudah menyia-nyiakan kesempatan itu. Akankah Podin mengejar Cik Melan? Apakah Cik Melan juga mempunyai perasaan yang sama dengan Podin? Lantas, kepada siapa Podin akan menanyakan cinta Cik Melan?
Yah, jika Podin memang ingin tahu tentang cinta yang ada di dalam hati Cik Melan, ia harus bergegas pergi ke Jakarta, menyusul perempuan yang sudah membuat hatinya itu bergetar.
__ADS_1