PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 66: PULANG KE JAKARTA


__ADS_3

    Setelah diusir dari rumah Rina, tentu Podin bingung akan tinggal dimana. Ia sudah tidak mungkin lagi untuk kembali ke rumah kontrakannya ataupun rumah kost. Yang rumah kontrakan tentu sudah dikontrakkan lagi untuk orang lain, dan ditempati oleh orang yang baru mengontrak. Karena Podin sudah meninggalkan rumah kontrakan itu sekitar 2 bulan yang lalu. Dan kalaupun mau ke tempat kost, juga sama. Podin sudah tidak kost di sana lagi. Pasti ada kamar karena dia sudah tidak membayar kost lagi di tempatnya yang dulu.


    Akhirnya Podin memutuskan untuk kembali ke Jakarta, ke tempat usahanya yang lama, yaitu di tempat hiburan karaoke. Podin juga akan menengok Maya yang tinggal di Jakarta. Ya, sekalian ia ingin melihat bagaimana perkembangan usaha hiburannya, yaitu tempat karaoke yang sudah diserahkan kepada Maya, yang pastinya dikelola oleh Maya secara maksimal untuk menghidupi diri Maya, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, serta setidaknya bisa untuk keperluan hidup sehari-hari.


    Namun tentunya, lagi-lagi Podin berpikir, kalau ia kembali ke tempatnya Maya, pasti Maya akan langsung meminta uang kepadanya kembali, meminta harta benda kepadanya lagi. Tapi apa boleh buat, itu adalah kenyataan bahwa Maya memang perempuan mata duitan. Dan bagi Podin yang sempat bertekuk lutut serta dihabisi semua harta bendanya oleh Maya. Tetapi di sisi lain, tentu Podin mempunyai kenangan kenikmatan yang pernah ia rasakan, enaknya menjalin asmara dengan Maya, sudah pernah hidup nikmat bersama Maya.


    Dan lagi, yang menjadi pertimbangan Podin adalah kemungkinan Maya sudah akan melahirkan bayinya. Bayi yang dulu pernah didamba-dambakan oleh Podin, yang konon katanya akan ia bawa ke Pulau Berhala, akan ia persembahkan kepada Sang Raja. Dan katanya pula, Maya sudah diiming-imingi, kalau nanti bayi itu sudah lahir, dan dipersembahkan kepada sang raja, maka mereka akan mendapatkan ganti uang yang melimpah, harta kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya, perhiasan-perhiasan yang sangat banyak jumlahnya. Pasti kalau sampai Podin kembali ke tempatnya Maya, istri ke duanya itu pasti akan menuntut tentang harta kekayaan yang dijanjikan dulu.


    Namun apa boleh buat, semua sudah terlanjur terjadi. Maya sudah hamil. Bahkan mungkin sebentar lagi akan melahirkan. Atau bisa jadi anak yang ada dalam kandungan Maya itu sudah lahir. Podin tidak tahu. Bodin tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Maya. Karena HP Podin yang mestinya bisa digunakan untuk komunikasi dengan Maya sudah dijual. Karena Podin tidak ingin lagi berhubungan dengan Maya.


    Ya, ketika Podin sudah menikah dengan Rina, memang Rina tidak menghendaki Podin berhubungan lagi dengan para pemandu karaoke yang ada di tempat kerjanya. Rina khawatir kalau terlalu sering berkomunikasi baiik WA maupun telepon dengan para perempuan cantik-cantik yang ada di tempat karaoke itu, nanti Podin jadi tergoda.


    Dan setelah berpindah menempati rumah baru yang dibelinya dan dijadikan warung makan oleh Rina itu, Podin memang sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Maya. HP-nya sudah dijual. Bahkan Putin tidak punya HP sama sekali. Ya, waktu itu Rina yang melarang Podin beli HP. Kenapa harus punya HP, sementara mereka berdua selalu berjejeran di rumah bersama-sama. Memang kalau tidak punya kolegan, tidak punya orang yang diajak kerja sama, tidak punya mitra, maka memang sebenarnya HP itu pun tidak perlu dan tidak dibutuhkan.


    Seperti halnya yang sudah dikatakan oleh Rina, kalau mereka berdua, yang selalu bersama, baik di rumah maupun di pasar, untuk apa bawa HP. Sementara mereka berdua komunikasinya gampang dan mudah, langsung bicara dan langsung berdekatan secara tatap muka. Bahkan mau cubit-cubitan atau pun pelik-pelikan, tidak perlu pakai HP. Setiap hari mereka selalu bersama.


    Kini, setelah Podin diusir oleh Rina dari rumahnya, setelah Podin harus pergi meninggalkan rumah yang ditempati bersama Rina, yang ia beli dengan harta kekayaannya, dan kini ia harus meninggalkan Rina, maka Podin pun jadi bingung. Kali ini, Podin mengalami hal yang sama ketika ia pernah mengusir istri dan anak-anaknya. Hari ini ia diusir oleh istri sirinya yaitu Rina. Mungkin seperti itu yang dirasakan oleh istri dan anak-anaknya saat diusir oleh Podin. Dan kini, Podin pun mengalami hal yang sama, harus pergi meninggalkan rumah, meninggalkan warung, dan meingnggalkan istri. Tentu Podin akan merasakan menderitanya orang yang diusir. Podin hanya membawa pakaian, dan tentu kotak harta karun yang ia tumpuki pakaian-pakaian itu. Memang di dalamnya masih ada beberapa harta karun yang dia simpan dalam peti harta karun itu, walau jumlahnya tinggal sedikit. Dan setidaknya di dalamnya juga terdapat buku rekening bank, yang memang ketika ia berada di tempat kost ia sudah diajari oleh teman-temannya waktu kost, agar uang dan kekayaannya itu bisa disimpan di dalam bank. Dan sengaja, kala itu Podin memang banyak menjual harta karun yang dia dapatkan dari Pulau Berhala, kemudian uangnya dimasukkan dan disimpan di dalam bank. Lumayan tidak diketahui oleh Maya. Podin pun mulai pandai dalam menyimpan rahasia itu. Tentunya Podin sudah mulai belajar tentang kehidupan, tentang modernisasi, sehingga ia sanggup menyimpan harta kekayaannya itu dalam bentuk rekening.


    Memang untuk menyimpan uang, apalagi dalam jumlah besar, lebih aman dan tidak diketahui oleh siapapun, bahkan Maya dan Rina yang sudah hidup bersama dan menikah, tinggal dalam satu rumah, juga tidak tahu harta kekayaan yang dimiliki oleh Podin. Apalagi Maya, jangan sampai tahu. Kalau nanti sampai Maya menanyakan tentang harta karun, Podin pun bisa beralasan kalau dirinya memang sudah tidak punya uang lagi, tidak punya kekayaan lagi, karena ia mengaku hanya menjadi kuli di tempat kerjanya. Paling tidak, Maya tidak tahu harta kekayaan yang disimpan oleh Podin. Paling-paling hanya beberapa perhiasan yang masih dia simpan di dalam peti harta karun yang ia bawa dari Pulau Berhala tersebut.


    Waktu sudah larut malam, sekitar jam sepuluh malam, ketika Podin sampai di Jakarta dan sengaja mampir ke gedung hiburan, ke tempat karaoke yang dulu pernah menjadi miliknya, yang dulu pernah menjadi tempat usahanya. Podin langsung masuk ke ruang gedung hiburan itu. Dan tentunya beberapa karyawan yang ada di situ langsung memberi hormat, bahkan menyalami kepada Podin yang sudah hampir empat bulan tidak pernah datang ke tempat hiburan tersebut, tidak pernah menengok karyawan-karyawannya, tidak pernah menengok tempat usahanya. Pasti para karyawan pun langsung menemui dan menanyakan kabar tentang dirinya.

__ADS_1


    "Wah ..., Pak Podin .... Akhirnya datang juga ke tempat ini lagi .... Bagimana kabarnya, Pak Podin? Sudah lama tidak pernah kemari ..., Pak Podin ke mana saja? Apa ke luar negeri, ya Pak?" tanya para karyawannya yang langsung menemui Podin di ruang office-nya.


    "Aah ..., ndak .... Saya cuman keluar kota .... Ya, cari-cari pandangan, kira-kira ada kesempatan untuk buka usaha lain apa tidak .... Ya ..., baru sekedar mencari .... Tetapi, ya namanya juga usaha, gampang-gampang susah .... Tidak semudah orang makan nasi Padang, langsung terasa enaknya, bayarnya juga murah ...." begitu sahut Podin yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para karyawan-karyawannya dulu.


    "Wah ..., Pak Podin itu loh ..., sukanya merendah. Kalau misalnya mau buka tempat usaha bari, saya diajak, Pa Podin ...." kata salah seorang karyawan yang sudah lama ikut Podin di tempat itu.


    "Aah .... Belum ada yang cocok .... Tidak mudah cari yang pas .... Memang seperti itu kenyataannya. Oh ya, saya mau tanya .... Ibu Maya sering datang kemari? Sering menyaksikan kalian?" tanya Podin kepada para karyawan itu.


    "Sudah satu bulanan ini tidak pernah ke tempat usaha kita, Pak. Katanya perutnya sudah mulai sakit-sakitan. Bu Maya tidak bisa nyetir sendiri untuk datang kemari, karena perutnya yang sudah semakin besar. Mungkin sebentar lagi mau melahirkan, Pak." sahut karyawannya yang tentu memberi kabar kepada Podin.


    "Memang Pak Podin belum ketemu Bu Maya?" tanya salah seorang karyawannya lagi.


    "Waduh ..., Pak .... Maaf ya, Pak Podin .... Terus terang sebenarnya kami tidak betah untuk kerja di sini lagi, Pak .... Tetapi karena kami butuh uang, karena kami butuh pekerjaan, maka saya terpaksa tetap kerja dan bertahan di sini, Pak." begitu kata karyawannya yang mengeluh kepada Podin.


    Podin pun merasa, pasti di tempat kerja ini ada sesuatu yang tidak beres. Di tempat karaoke ini pasti mengalami masalah yang tidak diinginkan oleh para karyawan.


    "Lah ..., memang kenapa?" tanya Podin kepada para karyawan yang sudah mengerubungi dirinya itu.


    "Begini, Pak Podin .... Bu Maya selalu meminta uang hasil pendapatan dari kerja kita di tempat ini. Jadi uang pemasukan semuanya diminta oleh Bu Maya, tanpa ada uang sepeserpun di bagian keuangan. Bahkan gaji kami kadang-kadang dipotong, gaji kami kadang-kadang dikurangi. Bahkan ada juga yang belum dibayar, Pak. Karyawan-karyawan di sini pada mengeluh. Sehingga, kami ini terus terang merasa berat untuk hidup di jakarta tanpa pegang uang, Pak Podin." begitu keluh kesah dari salah seorang karyawannya.


    "Kok bisa seperti itu ...?! Memangnya bagian administrasi keuangan bagaimana? Kan harusnya dia yang tanggung jawab untuk membayar kalian." kata Podin yang tentu juga merasa bersalah, karena karyawan-karyawan di tempat itu banyak yang kurang mendapat perhatian dalam hal pembayaran gajinya.

__ADS_1


    "Gini, Pak .... Saya memang di bagian keuangan, tetapi kami memang dipaksa oleh Bu Maya untuk mengeluarkan semua uang perusahaan, agar diambil dan diberikan kepada Bu Rina. Katanya yang nyuruh Pak Podin ...." begitu jawab karyawan yang berada di bagian keuangan.


    "Waduh .... Nggak bener ini .... Saya tidak pernah bilang seperti itu, dan selama saya pergi, saya nggak ngurusin tempat usaha ini sama sekali. Semuanya sudah saya serahkan kepada Maya ....Sebelum saya pergi semuanya saya pasrahkan Maya." begitu kata Podin yang tentu tidak mau disalahkan oleh para karyawan, karena dengan alasan katanya Maya mendapat perintah dari suaminya.


    "Lhah. terus .... Nasib kami bagaimana, Pak?" tanya para karyawan.


    "Ya sudah ..., kalau begitu, sekarang masalah keuangan kamu tangani secara baik, dan jangan sampai keluar tanpa sepengetahuan saya." jawab Podin.


    "Kalau Bu Maya datang dan meminta ...?!" tanya perempuan bagian keuangan itu.


    "Jangan dikasih. Bilang kalau yang melarang saya ...." jawab Podin menegaskan.


    "Tapi, Pak Podin ...." selah perempuan itu lagi.


    "Tidak ada yang boleh meminta uang. Semuanya sekarang akan saya kendalikan. Biar kalian bisa bayaran." kata Podin sekali lagi menegaskan.


    "Maksud saya ..., kalau Bu Maya datang kemari bagaimana?" tanya perempuan itu lagi.


    "Sekarang juga saya yang akan mengatur Maya. Saya yang akan melarang Maya untuk datang kemari." jawab Podin yang tentunya juga jengkel, karena tempat usahanya itu di ambang kebangkrutan.


    Podin meninggalkan gedung hiburan karaoke itu. Ia akan menuju ke rumahnya yang dulu pernah ditinggali bersama Maya. Dan pastinya, ia akan menyampaikan masalah di perusahaannya kepada Maya. Tentunya, Podin sudah menyiapkan amplop berisi uang. Nanti jika ia sampai di rumah, dan seperti biasanya, Maya pasti meminta uang, amplop itu yang akan diberikan kepada istrinya. Sedangkan yang lainnya, pasti akan disembunyikan oleh Podin.

__ADS_1


__ADS_2