
Kedekatan antara Podin dan Maya sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka berdua sudah menjalin hubungan yang sudah terlalu jauh. Ibarat kata, sudah seperti suami istri. Dan pada akhirnya, Maya pun menuntut Podin untuk dinikah. Maya meminta kepada Podin untuk dijadikan istri keduanya.
Podin tidak bisa menghindar. Tentu karena Podin sudah menikmati segalanya dari tubuh Maya. Yah, Podin sudah menghisap manisnya madu yang dimiliki oleh Maya.
"Bang Podin ..., pokoknya aku minta dinikah .... Aku mau jadi istrinya Bang Podin ...." kata Maya yang terlentang di tempat tidur, berada di samping Podin yang juga masih terlentang di tempat tidur.
"Nikah bagaimana ...? Kan saya sudah punya istri dan anak ...." sahut Podin yang tentu langsung teringat dengan istri dan anaknya di rumah.
"Ya, pokoknya saya jadi istrinya Bang Podin ...." rajuk Maya yang tentu sambil mengelus-elus dadanya Podin.
"Terus, caranya bagaimana ...?" tanya Podin.
"Ya, terserah Bang Podin .... Pokoknya saya mau jadi istrinya Bang Podin. Kalau begini terus rasanya nggak enak, Bang .... Masak kalau mau tiduran berdua saja kita harus curi-curi waktu .... Dan kalau setiap saat harus pergi ke hotel kan juga sayang uangnya, Bang ...." kata Maya yang tentu memberi logika baik kepada Podin.
"Iya .... Benar juga, sih ...." gumam Podin.
"Dari pada uangnya untuk sewa hotel, kan mendingan buat beli rumah, Bang ...." kata Maya, yang tentu dirinya ingin dibelikan rumah oleh Podin. Setidaknya kalau sudah dibelikan rumah, Maya sudah memiliki rumah sendiri. Tidak perlu kost ataupun sewa rumah yang kalau di Jakarta harganya tentu sangat mahal.
"Benar juga, ya .... Kalau kita beli rumah, malah kita bisa lebih leluasa, kan .... Wah, pemikiranmu bagus itu, Maya ...." kata Podin yang tentu merasa akan lebih nyaman saat berhubungan dengan Maya.
Memang, jika membayangkan biaya hidup di Jakarta, mulai biaya kontrak atau sewa rumah, biaya makan, serta biaya-biaya lain, terutama biaya bagi perempuan yang ingin tampil cantik dan seksi, pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Kalau hanya mengharapkan uang bayaran dari kerjanya sebagai perempuan yang berprofesi sebagai pemandu karaoke, tentu sangat kurang. Itulah sebabnya, Maya mulai berpikir untuk mencari orang yang bisa dijadikan tempat sandaran hidup, terutama untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Yah, menjadi istri simpanan ataupun istri kedua, adalah jalan pintas yang paling menguntungkan bagi Maya.
"Bang .... Kalaupun misalnya Bang Podin sudah punya keluarga, sudah punya istri dan anak ..., saya mau kok ..., kalau misalnya dijadikan istri kedua ...." kata Maya yang lagi-lagi memanja kepada Podin.
"Begitu, ya ...?" sahut Podin yang mulai tenang. Artinya keluarganya tetap akan utuh, tidak terganggu oleh kehadiran Maya.
"Iya .... Jadi istri kedua saja saya sudah senang kok, Bang ...." sahut Maya yang tentu merajuk agar Podin mau menikahinya.
"Tapi kalau istri yang sah, pasti tetap akan sulit .... Karena kalau pernikahan istri kedua itu harus ada izin dari istri pertama. Dan kalau saya minta izin istri pertama, pasti akan geger .... Malah rahasia kita ketahuan semua, Maya ...." kata Podin yang tentu juga khawatir jika hubungannya dengan Maya selama ini akan ketahuan istrinya.
"Terus ..., bagaimana, Bang ...? Aku gak mau kita begini terus-terusan, Bang ...." kata Maya yang tentu tetap ingin dinikah.
"Bisanya kita hanya nikah siri ...." kata Podin.
"Nikah siri ...?! Sah apa tidak, Bang ...?!" tanya Maya.
"Ya sah, lah .... Banyak kan artis-artis yang pada nikah siri dengan para pejabat .... Tujuannya apa? Biar istri pertama pejabat itu tidak tahu .... Begitu, Maya ...." kata Podin yang menjelaskan nikah siri yang dilakukan oleh para pejabat dengan para artis.
Mendengar penuturan Podin seperti itu, yang akan mengajak dirinya untuk nikah siri, tentunya Maya sudah tenang, ayem. Setidaknya nanti ia tetap akan punya hak sebagai istri muda. Paling tidak kalau mau minta dibelikan rumah, pasti Podin juga akan setuju.
Seperti yang pernah disampaikan oleh Maya, kalau dirinya dengan Podin itu menikah, maka pastinya ia akan meminta rumah. Kalau mereka punya rumah sendiri, setidaknya biaya hidupnya akan berkurang. Tidak harus membayar kontrakan tiap bulan, yang akan buang-buang uang saja. Melainkan uang itu bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain. Selain itu, jika nantinya jadi nikah, dan sudah punya rumah sendiri, tentu segala tingkahnya lebih bebas dan tidak khawatir dimarahi oleh ibu kost. Mau mengatur rumah tangga seperti apa saja tidak ada yang mengusik.
"Iya ..., aku setuju, Bang .... Yang penting kita segera sah menjadi suami istri. Sehingga tidak harus sembunyi-sembunyi seperti sekarang ini ...." kata Maya yang akhirnya setuju jika akan dinikah siri oleh Podin.
__ADS_1
Akhirnya, Podin dan Maya melaksanakan nikah siri. Nikah siri merupakan pernikahan yang dilakukan oleh sepasang kekasih tanpa adanya pemberitahuan atau bukti tertulis di Kantor Urusan Agama (KUA). Nikah siri atau yang sering juga disebut dengan istilah nikah di bawah tangan, adalah sebuah pernikahan yang tidak dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya hanya dilakukan oleh modin.
Kata siri itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti rahasia. Jadi nikah siri itu nikah yang dirahasiakan, dengan tujuan agar tidak diketahui oleh keluarga atau istri pertama. Keberadaan nikah siri dikatakan sah secara norma agama, karena yang menikahkan adalah modin atau ahli agama. Tetapi nikah siri sebenarnya tidak sah menurut norma hukum yang berlaku di Indonesia. Karena pernikahan siri ini tidak dicatat di Kantor Urusan Agama.
Nikah siri merupakan pernikahan yang dilakukan secara rahasia. Pernikahan siri ini biasanya memang dilakukan secara rahasia atau tersembunyi. Pernikahan yang tidak terang-terangan. Pernikahan yang ditutup-tutupi. Nikah siri ini dilakukan secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan karena biasanya ada pihak lain atau orang lain yang tidak boleh diberi tahu. Misalnya saja tidak boleh diketahui oleh istri tua atau istri pertama. Bahkan juga pernah berkembang yang perempuan sudah punya suami.
Tentu Podin tidak ingin pernikahannya dengan Maya ini diketahui oleh Isti sebagai istrinya yang pertama. Demikian juga, Podin tidak ingin anak-anaknya yang masih kecil-kecil mengetahui permasalahan ini. Podin khawatir, kalau sampai pernikahannya dengan Maya diketahui oleh istrinya yang pertama, maka akan terjadi keributan. Dan setidaknya, pasti Isti akan meminta cerai. Atau sebaliknya, yang sangat ditakuti oleh Podin, Isti tidak setuju dan meminta agar istri mudanya, yaitu Maya, disuruh menceraikan. Kalau itu sampai terjadi, tentu Podin akan kelabakan.
Yah, tentunya Podin tidak ingin kehilangan Maya. Podin tidak mau kalau sampai harus meninggalkan Maya. Podin tidak rela kalau dirinya harus berpisah dengan Maya. Tentu karena Podin sudah merasakan nikmatnya hidup bersama dengan Maya. Podin sudah mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan dari Maya. Tentu Podin tidak mau kehilangan perempuan yang dianggapnya cantik itu, perempuan yang seksi, perempuan yang pandai mengolah kehidupan suami istri. Yang jelas, Podin sudah tergila-gila dengan Maya. Bagi Podin, di dunia ini tidak ada wanita yang paling bisa menggairahkan hidupnya, selain Maya.
Permintaan pertama Maya pada Podin adalah dibelikan rumah sendiri. Yah, alasannya, kalau punya rumah sendiri urusan rumah tangga pasti lebih beres, tidak ada yang mengganggu, dan tidak memikir biaya kontrak. Kalau uang dibuat kontrak rumah, akan habis yanpa punya rumahnya. Tapi kalau saja dana kontrak itu dibuat uang muka beli perumahan, maka rumah itu tidak akan hilang, dan pasti menjadi miliknya sendiri. Meski setiap bulannya harus mengangsur.
Yah, Podin setuju. Toh hampi setiap seminggu dua atau tiga hari, Podin pasti ke Jakarta. Ia juga butuh rumah. Walaupun bisa tinggal di ruang karaoke, tetapi benar yang dikatakan oleh Maya, istri sirinya itu, tidak leluasa, tidak nyaman dan tidak bisa bebas. Padahal Podin saat ini sedang getol-getolnya untuk bermesraan dengan Maya. Ibarat kata dokter, agar obatnya manjur, maka obet itu harus diminum sehari tiga kali. Demikian juga Podin sama Maya, yang maunya sehari tiga kali.
Maka, Maya dibelikan rumah oleh Podin. Tidak terlalu besar. Hanya perumahan tipe tiga enam. Tetapi sudah sangat lumayan untuk sebuah perumahan di daerah pinggiran Jakarta. Rumah sederhana tetapi sangat bagus. Desain serta gaya arsitekturnya sangat indah. Rumah yang sangat nyaman untuk ditempati, apalagi keluarga kecil. Terlebih lagi untuk pengantin baru seperti halnya Podin dan Maya. Itu sudah sangat layak sekali. Rumah dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Meski kamar tidurnya yang ditempati hanya satu saja, tentu dengan springbed yang empuk dan mewah. Di bagian belakangnya ada dapur yang meskipun kecil tetapi indah dan nyaman. Di bagian depannya ada ruang tamu dan garasi. Pada bagian terasnya ada dua buah kursi dan meja kecil. Ya, rumah yang indah dan menarik.
Di rumah itulah, kini Maya tinggal. Meski lebih sering bersama dengan Podin, tetapi tidak setiap malam. Tetapi tentunya bagi Maya, hal itu tidak masalah. Yang penting bagi Maya, kini dirinya sudah punya rumah.
"Bang .... Nanti malam balik sini, kan ...?" tanya Maya saat mengantarkan keberangkatan suami barunya.
"Iya, lah .... Masak istri baru ditinggalin nganggur .... Gak enak, kan ...." jawab Podin yang tentu sudah tunduk dengan kerlingan mata Maya.
"Asik ...." sahut Maya yang tentu terlihat senang.
"Bisa dapat kehangatan lah, Bang .... Gak tidur sendirian ...." sahut Maya.
"Ya sudah ..., Abang berangkat duluan ...." kata Podin yang sudah masuk ke dalam mobil, siap berangkat ke tempat kerjanya.
Namun Maya, sekali lagi masih mendekati Podin yang sudah masuk di mobil itu. Lantas ia merendahkan tubuhnya, kepalanya mendekat ke wajah Podin. Maya mengecup bibir Podin.
Dasar Podin, laki-laki yang sudah dimanja oleh Maya, begitu melihat istrinya yang merendahkan tubuhnya ke sopiran mobil, tentu Podin langsung menyaksikan keindahan barang yang dimiliki oleh Maya, yang menempel di dadanya. Apalagi saat itu, bibir maya sudah maju melahap bibir Podin, pastilah Podin kembali bergejolak. Podin kembali mematikan mesin mobilnya. Lantas membuka pintu mobil itu. Kemudian tangannya yang perkasa itu sudah menyeret tangan istrinya. Podin kembali mengajak istrinya masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian, setelah Podin kelelahan. Akhirnya Podin membatalkan keberangkatannya ke kantor. Lagi-lagi, jerat asmara Maya sudah mengalahkan Podin.
"Bang .... Kalau misalnya tempat hiburan itu, tempat karaoke milik Abang itu, Maya yang ngurusi bagaimana?" kata Maya pada Podin yang masih kelelahan setelah bekerja keras bersama Maya.
"Maksud Maya bagaimana ...?" tanya Podin.
"Ya, setidaknya saya membantu ngurusi manajemen tempat usaha Abang .... Saya kasihan sama Abang, yang sering pulang balik ke Tasik. Setidaknya, Abang tidak kecapaian kalau berkali-kali pulang balik .... Saya yang bantu ngawasi, Bang ...." kata Maya, yang tentu ia ingin ikut menangani usha Podin, bisnis karaoke itu. Setidaknya Maya sudah punya pengalaman sebagai pemandu karaoke di tempat itu.
"Seperti itu, ya .... Benar juga katamu ...." kata Podin yang tentu juga sangat setuju, karena istrinya pasti tidak terlalu curiga kalau dirinya terus-terusan ke Jakarta. Malah suatu kebetulan, bisa bagi waktu untuk istri tua dan istri muda.
"Iya, Bang .... Kan lumayan, Bang .... Bisa istirahat nyenyak di Tasik, dan juga nyenyak di Jakarta ...." kata Maya yang juga memberi pertimbangan.
__ADS_1
"Tapi kalau misalnya saya kepengin ketemu Maya ..., bagaimana?" kata Podin yang tangannya sudah mencolek pipi Maya.
"Halah, Bang .... Cuman kayak gituan aja kok bingung .... Aku siap setiap saat, Bang ...." kata Maya yang tentu langsung kembali menindih tubuh Podin.
Podin tersenyum. Tentu karena apa yang diinginkannya pasti akan dilayani oleh Maya. Dan tentunya Podin setuju dengan rencana Maya itu.
Namun itu semua, sebenarnya adalah akal-akalan dari Maya. Besok, suatu saat jika sudah mulai jalan, usaha karaoke itu akan diminta untuk dikelola oleh Maya. dan tentunya, tempat karaoke itu nantinya akan dikuasai oleh Maya. Tentu Maya langsung tersenyum. Niatannya untuk mendapatkan banyak keuntungan dari Podin, pasti akan tercapai. Statusnya sebagai istri siri, tentunya akan mempermudah bagi dirinya untuk meminta berbagai kebutuhan dalam bergaya dan menjadi orang dengan status sosial yang lebih mewah.
Rumah tangga Podin bersama Maya terus berjalan. Memang Podin merasakan kenikmatan yang selalu diberikan oleh Maya. Bahkan kata-kata Maya, seakan semuanya adalah sihir yang menjadikan Podin lebih merasa enak, lebih nyaman, dan tidak menyusahkan. Semua kata-kata Maya selalu terdengar manis. Usulan dan pendapat yang diberikan oleh Maya, selalu dipandang oleh Podin sebagai saran yang membuat hidupnya lebih enak tanpa beban. Semuanya serba dirasa baik dan menyenangkan. Yah, mungkin seperti itulah guna-guna istri muda yang selalu terasa mengenakkan.
Dan kini, tentu setelah Maya sudah mulai mengelola usaha Podin, bisnis karaoke, Maya pun menambah berbagai permintaan, yang katanya untuk memajukan usahanya, agar bisnis karaoke yang ia kelola semakin terkenal dan semakin laris.
Tentunya, untuk menunjang gaya hidup seorang pengusaha, agar terlihat lebih keren dan meyakinkan, maka tentunya dibutuhkan sarana transportasi yang baik dan berkelas. Makanya, Maya langsung mengajukan permintaan mobil kepada Podin.
"Bang ..., untuk mengelola bisnis kita agar lebih terkenal, saya mesti hubungan dengan para artis, Bang .... Agar mereka mau datang ke tempat karaoke kita, gitu .... Setidaknya, kalau para artis itu pada datang ke tempat hiburan kita, itu untuk promosi, Bang ...." kata Maya pada Podin, yang tentu memberi masukan pada suaminya itu.
"Memang artis-artis mau datang ke tempat kita ...?" tanya Podin yang tentu meragukan istri mudanya itu.
"Ya mau lah, Bang .... Itu semua tergantung dari bagaimana kita melobinya, Bang ...." kata Maya yang meyakinkan Podin.
"Caranya bagaimana ...?" tanya Podin.
"Ya, kita mesti melakukan pendekatan kepada para artis itu, Bang ...." kata Maya yang mulai merayu Podin.
"Kalau memang bisa, para artis itu pada datang ke tempat karaoke kita ..., wah .... Pasti tempat hiburan kita bisa tambah ramai ...." kata Podin yang tentu tertarik dengan kata-kata istri mudanya itu.
"Nah ..., kalau mau mendatangkan artis-artis itu, kita mesti dekat dengan mereka .... Setidaknya kita mau memberikan kesempatan kepada mereka secara gratis bernyanyi di tempat hiburan kita ini .... Nah, saat mereka mau datang ke tempat kita, kita sebar berita .... Pasti orang-orang pun mau berdatangan untuk bertemu artis-artis itu. Begitu caranya, Bang ...." jelas Maya yang menggebu-gebu, seolah-olah dia sanggup mengundang artis itu secara gratis.
"Wah ..., keren itu .... Saya setuju .... Saya pun mau ketemu sama artis-artis itu .... Nanti difoto atau selfi kalau saya kenal dekat dengan artis-artis itu." kata Podin yang tentu tersenyum puas.
"Tapi, Bang .... Untuk bisa dekat dengan artis itu, saya mesti punya mobil, Bang .... Paling tidak untuk meyakinkan, bahwa tempat karaoke kita itu miliknya orang kaya .... Bisa dipercaya .... Di Jakarta itu, bisnis harus meyakinkan." kata Maya pada Podin.
"Maksud Maya ...?" tanya Podin.
"Aku dibelikan mobil, Bang ...." kata Maya yang ujung-ujungnya adalah minta dibelikan mobil.
Saat Maya meminta mobil, Podin mulai bingung. Tentu karena keuangan di perusahaannya itu tidak cukup untuk beli mobil. Jangankan untuk beli mobil, untuk memenuhi biaya kebutuhan dan gaji pegawai saja hanya pas-pasan. Keuntungannya terlalu sedikit. Itu saja masih harus mengirim bagian usaha yang menjadi ketentuan pemilik awal. Sebenarnya usaha itu hanya cukup untuk sekedar hidup saja. Kalau dibilang untungnya besar, untuk membayar karyawan saja masih banyak yang di bawah UMR.
Podin akhirnya harus berpikir keras, bagaimana caranya mencari uang lagi, untuk memberikan pemenuhan kebutuhan hidup Maya. Ya, Maya yang menjadi istri muda dari Podin, memang selalu menuntut minta segala macam harta benda, perhiasan, untuk ini untuk itu. Yang katanya demi penampilan, yang katanya demi gengsi, yang katanya untuk kepercayaan pelanggan, dan entah minta apa lagi. Dan kini, Maya meminta mobil.
Padahal, untuk memenuhi semua kebutuhan Maya itu, Podin harus mengeluarkan uang yang banyak. Podin sudah menguras harta karunnya. Podin harus menjual banyak perhiasan yang disimpan dalam petinya itu, untuk memenuhi segala macam permintaan Maya. Tentu hal itu mengakibatkan perhiasan yang tersimpan dalam peti harta karusn yang diperoleh dari Pulau Berhala tempat ia meminta kepada kakek tua itu, lama kelamaan mulai menipis dan semakin habis.
Podin kepalanya cekut-cekut.
__ADS_1