PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 177: BAPTISAN BERDARAH


__ADS_3

    Podin sudah sembuh dari sakitnya. Berangsur tubuhnya mulai mempunyai kekuatan, dan berangsur tenaganya kembali pulih. Ia mulai bisa menggerakkan tubuh-tubuhnya, mulai bisa berdiri, bahkan berjalan, meski sedikit demi sedikit.


    "Haleluya ...."


    "Haleluya ...!"


    "Puji Tuhan ...."


    "Tuhan memang sungguh ajaib."


    "Iman Pak Podin juga sangat menakjubkan ...."


    "Cik Melan .... Sebaiknya Pak Podin ini segera dibaptiskan." kata Pak Pendeta pada Cik Melan.


    "Iya, Pak .... Terima kasih, Pak Pendeta ...." sahut Cik Melan.


    "Dibaptiskan ...?!" Podin yang tidak tahu, pasti bertanya-tanya.


    "Iya, Pah .... Baptis atau permandian suci merupakan salah satu bentuk ritual untuk memurnikan atau menyucikan diri." sahut Cik Melan yang tentunya memberi tahu pada suaminya.


    "Lebih tepatnya adalah menyucikan diri dari dosa .... Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul Paulus, baptisan adalah tanda pertobatan manusia yang ingin masuk ke dalam hidup baru bersama Kristus." tambah Pak Pendeta yang ikut menjelaskan kepada Podin.


    "Ooo ..... Saya sudah bertobat ..., Pak Pendeta ...." kata Podin yang tentunya merasa senang sudah didoakan dan kenyataannya mulai bisa gampang bicara.


    "Iya, Pak Podin .... Baptisan itu, nanti Pak Podin akan ditenggelamkan ke dalam air .... Itu dipahami sebagai mati dan bangkit bersama Kristus." kata pendeta itu lagi.


    "Iya, Pak Pendeta .... Saya mau di baptis .... Agar saya selamat ...." kata Podin lagi, yang tentunya ia juga ingin selamat, seperti kotbah-kotbah yang selalu disampaikan oleh Sang Pendeta.


    Memang, sebenarnya baptisan itu sudah ada sebelum zaman Yesus. Seperti misalnya saja baptisan yang dilakukan oleh Yohanes sang pembaptis. Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan yang dilakukan di Sungai Yordan. Kendati demikian, orang yang hidup jauh sebelum zaman Yohanes telah mengenal adanya baptisan dengan adanya adat "pembasuhan" seperti yang dilakukan oleh Nabi Elisa terhadap Naaman.


    Sedangkan Yohanes Pembaptis mengajar orang-orang tentang Yesus Kristus. Dia menyuruh mereka untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan dibaptis. Yohanes Pembaptis membaptiskan mereka yang bertobat dari dosa-dosa mereka. Orang-orang menanyakan kepada Yohanes Pembaptis, bagaimana cara untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Yohanes Pembaptis memberi tahu kepada mereka agar ia mau berbagi dengan yang miskin, mengatakan kebenaran, dan adil terhadap orang lain. Dia mengatakan bahwa Yesus Kristus akan segera datang. Yesus akan memberi mereka karunia Roh Kudus.


    Suatu hari ketika Yohanes Pembaptis sedang membaptis orang-orang di Sungai Yordan, Yesus datang kepadanya. Dia meminta Yohanes agar membaptis-Nya. Yohanes tahu bahwa Yesus selalu mematuhi perintah-perintah Allah dan tidak perlu bertobat. Yohanes berpikir bahwa Yesus tidak perlu dibaptis. Namun Yesus mengatakan kepada Yohanes Pembaptis,  "Allah telah memerintahkan semua orang untuk dibaptis", sehingga Yesus menyuruh Yohanes untuk membaptis-Nya. Ketika Yesus keluar dari air, Roh Kudus datang kepada-Nya. Allah berfirman dari surga, mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Yohanes Pembaptis juga bersaksi bahwa Yesus adalah Putra Allah.


    Dalam Al-kitab, Yesus meminta murid-murid-Nya untuk pergi ke seluruh penjuru bumi, mengaabarkan Injil Kerajaan Allah, dan membaptis orang-orang percaya. Pembaptisan ini dilakukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tujuan dari pembaptisan atas perintah Yesus adalah Yesus ingin agar keselamatan diperluas meliputi seluruh bangsa-bangsa di dunia.


    Sang Pendeta itu menjelaskan secara gamblang tentang baptisan. Tentunya hal itu dimaksudkan agar Podin paham tentang makna baptisan. Dan tentunya, Podin juga sangat berkeinginan untuk dibaptiskan, karena ia ingin diselamatkan. Terutama Podin ingin terbebas dari jerat perjanjian dosa dengan iblis penguasa Pulau Berhala.

__ADS_1


    Satu bulan kemudian, setelah Podin sehat, di gereja tempat ia bersembahyang, diadakan acara baptisan. Tidak hanya Podin, tetapi warga jemaat yang memang belum dibaptis, mereka mengikuti acara baptisan itu. Dan tentunya para jemaat juga antusias untuk mengikuti baptisan tersebut.


    "Pah .... Tidak usah takut .... Itu pemandian baptis biasa .... Hanya seperti orang yang diselamkan dalam air sebentar saja." kata Cik Melan pada suaminya.


    "Iya, Mah .... Dulu waktu saya kecil di kampung, sudah biasa ceburan mandi di kali ...." sahut Podin.


    "Iya, Pah .... Tapi nanti ..., saat berdoa sebelum dibaptis, mintalah pengampunan dosa pada Tuhan .... Dan mintalah agar diselamatkan oleh Yesus ...." kata Cik Melan mengajari suaminya.


    "Iya, Mah ...." jawab Podin sambil mengangguk.


    Acara baptisan pun dimulai. Orang-orang yang akan dibaptis mengenakan kain putih semacam jubah. Semuanya mengikuti Pak Pendeta, ke samping bangunan utama gereja. Di sana ada kolam baptis yang bagus. Terbuat dari keramik. Lumayan besar. Seperti layaknya kolam renang untuk anak-anak.


    Sang Pendeta itu pun lantas berdoa untuk memulai acara. Orang-orang yang akan dibaptis, yang sudah mengenakan pakaian jubah baptis, berbaris di tepi kolam. Jemaat yang lain, ikut menyaksikan acara baptisan itu. Tentu ramai dan memenuhi area baptisan yang ada di samping gereja. Dan pastinya, mereka melantunkan puji-pujian. Tidak ketinggalan, Cik Melan yang pastinya ikut menyaksikan suaminya yang akan dibaptiskan.


    Dan acara baptisan pun dimulai. Sang Pendeta yang sudah siap, menerima salah satu jemaatnya yang akan dibaptiskan. Salah seorang yang sudah mengenakan pakaian baptis, ia masuk ke dalam kolam baptisan tersebut. Lantas Sang Pendeta pun menyerukan doa.


    “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” begitu doa yang dipanjatkan oleh sang pendeta.


    Lantas tangan sang pendeta yang sudah memegangi orang itu, menenggelamkan jemaat tersebut ke dalam kolam baptisan.


    "Haleluya ...!"


    "Haleluya ...."


    "Haleluya ...!"


    Begitu seterusnya. Satu persatu jemaat yang dibaptis, mereka masuk kolam dan dibaptiskan oleh sang pendeta tersebut.


    Hingga giliran yang terakhir, Podin, yang mulai melangkahkan kaki memasuki kolam baptisan. Podin yang mendaatkan kesempatan untuk dibaptiskan paling akhir.


    "Mari ..., Pak Podin ...." kata laki-laki yang membantu menuntun Podin masuk dalam kolam, dan menyiapkan dibaptis.


    "Terima kasih." jawab Podin.


    Tangan pendeta itu sudah memegang punggung Podin. Dan tangan yang satunya memegang dua tangan Podin yang berada di dada. Mata Podin tertutup. Mulutnya komat-kamit. Pastinya Podin berdoa. Lantas Sang Pendeta itu pun membabtiskan Podin.


    "Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus." ucap pendeta itu yang kemudian menenggelamkan seluruh tubuh Podin ke dalam air baptisan.

__ADS_1


    "Haah ...?!!"


    "Ya ampun ...?!"


    "Ada apa ...?!"


    "Lihat ...!!"


    Orang-orang yang menyaksikan baptisan itu terkejut, kaget, dan pastinya heran. Saat Podin dibenamkan dalam air, tiba-tiba saja air itu bergelora, bergemuruh, seperti air yang sedang mendidih. Tidak hanya itu. Tetapi air yang ada di dalam kolam baptisan berubah warnanya menjadi merah. Ya, airnya yang tadinya jernih telah berubah menjadi darah. Tentu hal itu membuat orang-orang yang menyaksikan acara baptisan itu bingung tidak karuan.


    Namun ternyata tidak sekedar terjadi air yang berubah darah dan bergemuruh saja. Ada hal lain lagi yang membuat orang-orang semakin bingung. Di dalam kolam itu, Podin menggelepar-gelepar, Podin kelojotan. tangannya bergerak kian kemari, seolah seperti mau berenang. Demikian juga kakinya yang menendang-nendang, menyepak kian kemari. Entah apa yang menyebabkannya, tetapi sang pendeta yang tadinya merebahkan tubuh Podin, kini kewalahan, tidak sanggup memegangi Podin.


    "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus ..., aku perintahkan kuasa kegelepan pergi dari tubuh Bapak Podin ....!!" doa pendeta itu yang berusaha mengusir roh jahat yang menguasai tubuh Podin.


    Beberapa laki-laki dewasa langsung turun ke dalam kolam baptisan. Mereka membantu Pak Pendeta yang sudah tidak sanggup memegangi tubuh Podin. Mereka pun langsung ikut memegangi Podin yang terus meronta-ronta tidak karuan. Bahkan lima orang yang sudh turun ke dalam kolam yang kini airnya telah berubah darah itu, hampir tidak sanggup menenangkan Podin.


    "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus ..., wahai penguasa kegelapan, roh-roh jahat ..., aku perintahkan pergi dari tubuh Bapak Podin ....!! Jangan ganggu anak-anak Allah ...!" kembali pendeta itu berdoa mengusir roh jahat yang menguasai tubuh Podin.


    "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus ...!!"


    "Haleluya ...."


    Dan orang-orang para jemaat yang mengelilingi kolam baptisan itu, yang tadinya mereka bingung, kaget dan heran, kini mereka semua ikut mendoakan Podin. Bahkan Cik Melan, yang tentunya menangis menyaksikan hal aneh yang melanda suaminya itu.


    "Ya Tuhan .... Tunjukkan kuasamu .... Tunjukkan bahwa Engkau lebih kuasa dari pada setan .... Tunjukkan bahwa Engkau lebih hebat dari pada kekuatan iblis ...."


    Dan setelah beberapa saat peristiwa itu membingungkan semua orang jemaat yang ada di gereja itu, perlahan gerakan Podin mulai surut. Gerakan Podin mulai melemah. Dan akhirnya berhenti. Podin sudah pingsan.


    "Ayo bantu diangkat ...!"


    "Pak Podin lemas ...."


    "Pak Podin pingsan ...."


    "Langsung dibawa ke rumah sakit ...!"


    "Betul ..., biar dirawat tenaga medis."

__ADS_1


    Akhirnya, Podin yang tadi bergejolak di dalam kolam baptisan, dan kini pingsan, langsung digotong, dibawa ke mobil dan langsung dibawa ke rumah sakit.


    Dan keanehan itu kembali terjadi, air kolam baptisan kembali menjadi tenang dan jernih.


__ADS_2