
Cik Melan memang pantas untuk disebut sebagai orang jenius, disebut sebagai orang yang pintar, disebut sebagai orang yang bisa mengatasi segala masalah dan persoalan, terutama yang dialami oleh Podin. Ya, tentunya Podin, orang yang berasal dari desa, yang tidak tahu seluk beluk tentang usaha, yang tidak tahu seluk beluk tentang bisnis, yang tidak tahu seluk beluk tentang bagaimana cara mencari keuntungan. Tentunya Podin mesti bersyukur punya karyawati yang cantik dan pintar itu. Karyawati yamg bisa diandalkan untuk mengatasi semua persoalan. Tidak hanya persoalan perusahaannya saja, tetapi juga persoalan-persoalan pribadi Podin yang selama ini selalu saja ada dan selalu saja muncul. Dan kini, yang terakhir adalah masalah pembelian villa yang ada di kawasan Puncak.
Tentunya Podin yang sudah menemukan koper berisi kerangka manusia, ia merasa khawatir, ia merasa takut dengan temuan kerangka manusia yang dibungkus plastik yang ada di dalam koper, dan kemudian dipendam di dalam tanah di bawah pohon besar, yang juga ditutupi dengan batu yang sangat besar. Apalagi setelah Podin dikeroyok oleh banyak hantu, setelah Podin dikeroyok oleh para arwah gentayangan yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan sampai ia pingsan, pastinya Podin beranggapan kalau villa yang ia beli itu, villa yang ia tempati itu, adalah villa yang angker, villa berhantu, villa yang digunakan untuk mengubur banyak korban. Pasti dulu villa ini bukanlah villa orang baik-baik. Yang punya villa ini dulu, pastinya orang jahat. Yang punya villa ini sudah melakukan banyak pembunuhan. Dan kenyataannya, pasti mayat-mayat itu, jasa-jasad dari orang yang dibunuh itu, dikuburkan secara tidak sah, dikuburkan secara tidak wajar, dan berada di pekarangan sekitar villa tersebut.
"Selamat siang, Bapak .... Apakah benar ini Pak Anton?" kata Cik Melan saat menelepon orang yang dulu pernah berkomunikasi saat penjualan villa yang kini sudah dibeli oleh Podin.
"Betul .... Ini saya bicara dengan siapa ya?" jawab orang yang ditelepon itu, yang tentu sudah tidak menyimpan nomor HP Cik Melan.
"Mohon maaf, saya Melan, yang dulu pernah membeli villa yang Bapak jual kepada kami, villa yang ada di Cisarua, beberapa waktu yang lalu." kata Cik Melan pada orang itu di teleponnya.
"Oh, ya .... Ya ..., ya .... Saya ingat .... Ibu dari Jakarta yang beli villa saya, ya .... Gimana, apa ada yang bisa saya bantu? Apa ada masalah dengan bangunannya?" tanya orang ditelepon oleh Cik Melan tersebut, yang dipanggil Pak Anton oleh Cik Melan.
"Betul, Pak .... Kami ada masalah. Tentu masalah ini mungkin tidak seberapa artinya bagi Pak Anton, tetapi bagi kami, masalah ini sangat krusial, karena ternyata villa yang Bapak jual kepada kami, ada sesuatu yang berkaitan dengan masalah hukum." kata Cik Melan yang tentu mulai menyentuh langsung pada masalah villa yang dibelinya.
"Masalah hukum yang bagaimana? Ada apa dengan villa kami? Ada masalah hukum bagaimana? Itu villa bagus, vila tidak ada masalah apa-apa. Bahkan semua surat-suratnya komplit, tidak ada yang palsu. Bahkan semua administrasinya sudah beres, dan kita sudah deal. Kita sudah sepakat. Masalah apalagi?" kaya orang yang diajak bicara, yang tentu sudah mulai menaikkan tensi ketika dikatakan kalau villa yang ia jual ternyata ada masalah.
__ADS_1
"Begini, Bapak .... Saya yakin Bapak sudah tahu masalahnya, sehingga Bapak sampai jual harga villa itu dengan sangat murah sekali. Tetapi Bapak sengaja menutupi masalah yang ada di villa itu. Saya ingin Bapak kembalikan uang kami, dan villa itu akan saya kembalikan kepada Bapak. Dan terus terang, ini kita belum balik nama." kata Cik Melan kepada pemilik villa yang lama itu, yang menjualnya kepadanya.
"Lhoh ...?! Kok begitu ...?!" kata orang yang ditelepon.
"Kalau Bapak tidak setuju, tidak apa-apa .... Tapi saya akan ungkap masalah ini ke pihak berwajib." kata Cik Melan yang tentunya mulai mendesak kepada pemilik villa yang lama.
"Ini, Ibu jangan mengada-ngada .... Anda jangan membuat masalah dengan saya. Masalah pembelian villa, kesepakatan kita sudah clear. Sudah beres semua. Kita sudah nggak ada masalah di dalam jual beli. Dan kita sudah melakukan kesepakatan itu di awal saat Ibu membeli. Dan saya menjualnya secara sah. Kita sudah sepakat harga, sudah menandatangani perjanjian jual beli. Terus, masih ada apa lagi? Villa itu saya jual dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah standar harga pada umumnya. Dan saya rugi besar itu ...." kata orang yang ada di telepon tadi.
"Ya oleh karena itulah, Pak .... Ternyata Bapak menjual murah villa itu, karena memang villa itu bermasalah. Dan ini bukan masalah administrasi, Pak. Ini bukan masalah bayar membayar. Ini bukan masalah uang. Tapi ini masalah yang berkaitan dengan hukum. Kami tidak mau masuk penjara gara-gara Bapak. Dan kalau Bapak mau berurusan dengan hukum, pasti nanti saya yang akan menyeret bapak untuk masuk ke dalam penjara, karena kasus villa yang Bapak jual kepada kami." begitu Cik Melan menegaskan, dan tentunya juga bisa bersuara keras. Cik Melan juga bisa mengancam laki-laki lain yang sudah marah kepadanya.
"Saya tidak mengancam, Pak .... Tetapi saya hanya ingin uang pembelian villa dari kami dikembalikan, dan seluruh administrasi akan saya kembalikan kepada Bapak. Saya tidak mau menanggung resiko, dan saya pun tidak ingin Bapak juga terkena resiko. Oleh sebab itu, kita baik-baik saja. Uang kami dikembalikan, surat-surat kami kembalikan. Saya tidak menuntut ganti rugi, saya tidak menuntut tambahan, uang saya cukup dikembalikan utuh, uang yang kami bayarkan untuk villa Bapak itu dikembalikan saja sesuai jumlah semula. Saya tidak akan meminta untung apapun, asal Bapak mau mengembalikan seluruh uang pembelian kami." begitu kata Cik Melan yang tentunya dia mulai bersuara keras untuk menuntut uang pembelian villa yang ternyata villanya itu bermasalah.
"Maaf, Bu ..., saya mau tanya. Tolong sampaikan terus terang kepada saya, sebenarnya ada masalah apa dengan villa yang saya jual itu? Sehingga Ibu mau meminta kembali uang pembeliannya, dan mau mengembalikan villa saya lagi. Tolong jelaskan secara gamblang, saya ingin tahu masalah yang Anda hadapi." kata laki-laki yang ada di telepon.
"Baik, Pak .... Kalau memang Bapak menghendaki seperti itu, saya akan sampaikan. Tapi Bapak tidak bakal bisa keluar dari masalah ini manakala uang kami tidak dikembalikan. Bapak sudah menjual villa dengan harga murah, tetapi ternyata di situ ada mayat perempuan yang dikubur secara tidak wajar. Dan pasti itu adalah hasil pembunuhan." begitu kata Cik Melan kepada laki-laki yang ia telepon, laki-laki yang menjual villanya kepada Cik Melan, yang ditempati oleh Podin.
__ADS_1
Laki-laki yang ada di dalam telepon itu, dia tidak menjawab. Itu artinya Pak Anton sedang mengalami goncangan berat saat mendengar kata-kata yang disampaikan oleh Cik Melan, kalau ternyata di villa itu ada jenazah yang terkubur secara tidak wajar. Dan pastinya, itu sudah memukul berat si pemilik villa yang dulu. Entah ia tahu atau pun tidak, namun kenyataannya bahwa di villanya memang pernah terjadi pembunuhan. Ya, laki-laki yang ditelepon oleh Cik Melan itu tentunya berpikir berkali-kali untuk memberikan jawaban kepastian kepada Cik Melan. Apakah ia setuju untuk mengembalikan uang hasil penjualan villa itu, ataukah ia bertahan untuk tidak akan mengembalikan uangnya. Namun kenyataan bahwa pembeli sudah menyampaikan persoalan itu, artinya ada peristiwa pembunuhan yang sudah tercium orang lain, ada kematian yang tidak wajar yang dilakukan di villanya.
Ya, sebenarnya laki-laki pemilik villa itu memang tidak pernah melakukan pembunuhan. Sebenarnya laki-laki pemilik villa itu juga tidak mengetahui persoalan-persoalan yang timbul di villanya, sehingga terjadi pembunuhan. Ya, laki-laki itu memang mengetahuinya, kalau waktu itu memang di villanya itu sudah terjadi pembunuhan terhadap seorang perempuan. Yang tentunya mengakibatkan geger di tempat itu. Karena polisi, petugas keamanan pamong praja, dan banyak penduduk mengetahuinya, kalau di villa itu terjadi pembunuhan. Namun bagi laki-laki itu, kala itu dia tidak tahu menahu tentang kasus yang terjadi, karena waktu itu villa itu ditempati oleh orang lain. Villa itu ditempati oleh saudaranya. Tetapi kenyataannya, di tempat itu justru terjadi pembunuhan dan tentunya si pembunuh dihukum dalam penjara.
Karena kasus pembunuhan itulah, maka pemilik villa itu sudah bertekad, tidak akan menempati villanya lagi. Dia akan menjual villa itu, karena villa itu dianggap sudah tidak memberikan rezeki lagi, sudah kotor oleh kejahatan, sudah kotor oleh dosa-dosa yang dilakukan oleh saudaranya yang menempati villa itu.
Tetapi waktu itu, mayat tidak dikubur di tempat itu, melainkan setelah diketahui oleh pihak polisi dan saudara dari pemilik villa itu sudah ditangkap, kenyataannya mayat itu sudah dikembalikan kepada keluarganya. Mayat itu sudah dikubur dengan wajar di kampung halamannya. Tetapi bagaimana mungkin terjadi ketika orang yang membeli villanya mengatakan kalau di situ ia menemukan kerangka manusia yang dikubur secara tidak wajar? Tentu hal ini membuatnya terpukul kembali. Pasti nanti di tempat itu, di villa miliknya yang dulu itu, akan kembali menjadi geger, kembali menjadi ramai, dan pastinya masuk berita di berbagai media masa, karena di situ ditemukan korban-korban pembunuhan yang lain. Dan tentunya, dirinya pasti akan diseret ke sana kemari. Tentunya, dirinya juga akan menjadi tersangka sebagai pemilik villa yang tempatnya dijadikan tempat pembunuhan. Walaupun yang melakukannya adalah saudaranya sendiri, tetapi villa itu adalah miliknya, yang punya adalah dirinya, nama yang tercantum di dalam kepemilikan adalah dia sendiri.
Pasti, kali ini, laki-laki yang ditelepon oleh Cik Melan itu, menjadi bingung dan tidak bisa berbuat apa apa. Belum bisa mengambil keputusan.
"Oh ..., maaf, Bu .... Kami akan mempertimbangkannya, dan tentu untuk saat ini, untuk mengembalikan uang Ibu yang dipakai untuk membayar villa itu, kami terus terang belum bisa memenuhinya. Tetapi sebentar lagi dalam waktu satu sampai dua hari, saya akan memberikan jawaban, saya akan memberikan kepastian kepada Ibu, tentang masalah villa itu. Tapi terus terang, saya mohon ..., tolong berita tentang hal ini jangan diekspos. Dan tolong jangan sampai ada yang tahu masalah ini. Nanti kami akan memberikan ganti rugi kepada Ibu. Tetapi saya belum bisa menyampaikan hari ini, karena saya harus menjernihkan pikiran saya dulu untuk bisa berpikir secara normal. Terus terang mendengar berita barusan dari Ibu, saya stres." begitu kata laki-laki yang ditelepon oleh Cik Melan.
Tentunya Cik Melan sedikit lega, karena uang pembeliannya akan dikembalikan. Semoga saja orang itu, Pak Anton, pemilik villa itu, akan mengembalikan seluruh uang pembeliannya.
"Bagaimana, Cik ...?" tanya Podin pada karyawatinya yang cantik itu penuh harap. Tentu bagi Podin, walaupun ia sudah sering bercimbu dengan demit dan memedi, hantu bahkan arwah-arwah gentayangan, ia tetap tidak mau kalau harus beruriusan dengan kepolisian. Ia sudah kapok.
__ADS_1
"Sabar, Pak Podin .... Besok atau lusa, orangnya akan menghubungi saya." jawab perempuan muda yang cantik dan pintar itu.