
Tentunya Podin sangat penasaran dengan mimpi yang dialaminya. Apalagi saat ia menyaksikan bulan merah yang oleh istrinya dikatakan sebagai blood moon. Dan kala itu, Podin juga menyaksikan datangnya gadis cilik yang pernah bersamanya beberapa hari di tempat kost, sebelum anak kecil itu ia penggal lehernya di atas batu persembahan di istana Pulau Berhala. Namun tentunya Podin tidak bakal membuka rahasianya, tentang apa yang sudah dilakukannya terhadap anak itu. Ya, ritual dalam mencari harta kekayaan di Pulau Berhala.
Hingga akhirnya, Podin kembali duduk di warung angkringan, tempat ia menyaring berita dari orang-orang yang berkumpul di warung itu. Tentunya Podin ingin menanyakan kepada orang-orang yang nongkrong di warung itu. Siapa tahu ada yang memahami makna dari mimpi yang dialami oleh Podin.
"Bang ..., mau tanya nih, Bang .... Barangkali ada yang tahu maksud dari sebuah mimpi." Podin mengawali pembicaraan.
"Mimpi apa, Pak?" tanya orang yang ada di warung itu.
"Jadi begini, Bang .... Saya itu bermimpi, tiba-tiba dalam mimpi itu, saya didatangi oleh seorang anak kecil. Dan anak kecil itu rupa-rupanya bukan manusia normal atau anak biasa. Tetapi dalam mimpi saya itu, anak itu minta tolong kepada saya .... Karena kepalanya bisa terlepas dari tubuhnya. Dan kepalanya itu diangat dengan dua tangannya, lantas kepala tersebut seakan ditunjukkan dan mau diberikan kepada saya. Tentu saya sebagai orang normal ketakutan menyaksikan hal itu. Tetapi anak itu terus meminta tolong kepada saya, untuk membetulkan kepalanya yang sudah terlepas dari lehernya itu. Apa maksudnya ya, Bang?" begitu kata Podin kepada orang-orang yang ada di warung angkringan itu.
"Wah, itu dilihat jam berapa mimpinya ...." kata salah seorang yang ada di warung angkringan itu.
"Sore, Bang .... Ya, itu memang salah saya. Menjelang magrib itu sekitar jam limaan, saya tertidur. Ya, karena saking capeknya badan ini, dan ngantuknya saya. Maka saya tidak kuat lagi, dan saat itu saya tertidur." jawab Podin.
"Wah .... Kalau itu bukan mimpi yang ada artinya. Itu mimpi-mimpi biasa. Itu ibarat orang mengatakan, mimpi itu kembangnya orang tidur. Jadi kalau mimpi siang atau sore kayak begitu, gak ada artinya, Pak .... Yang ada artinya itu, mimpi yang bermakna itu kalau mimpi yang terjadi sekitar jam dua dini hari. Antara jam satu sampai jam dua dini hari. Nah ..., itu biasanya mimpi-mimpi yang ada maknanya. Tapi kalau hanya sore hari sudah mimpi, itu sampeyan kebanyakan tidur .... Hahaha ...." kata salah seorang yang mencoba untuk menjawab apa yang di utarakan oleh Podin.
"Gitu ya, Bang ...?" begitu saut Podin yang dibilang kalau kebanyakan tidur.
"Kalau boleh saya tahu, bapak ini tinggal di rumah itu sudah lama atau baru saja? Maksud saya, Bapak baru saja menempati rumah itu?" tanya salah seorang yang juga ada di warung itu.
"Sebenarnya saya baru saja kontrak rumah itu .... Ya setelah kemarin itu saya menikah dengan istri saya, sekitar seminggu yang lalu, terus saya kontrak di rumah itu kira-kira baru satu minggu ini." jawab Podin yang berterus terang kalau dirinya memang baru saja menempati rumah itu, rumah yang ia kontrak untuk hidup bersama istrinya, Rina.
"Ini bisa jadi pertanda. Yang pertama, kemungkinan rumah itu memang angker. Artinya di rumah itu dulu pernah ada kejadian seperti itu. Maka biasanya orang yang baru menempati rumah itu, dia akan ditemui oleh arwah-arwah gentayangan yang ada di rumah itu. Biasanya dia itu matinya tidak ikhlas. Matinya tidak sempurna. Matinya tidak sesuai dengan kodrat Ilahi. Itulah sebabnya, biasanya arwahnya akan gentayangan dan menemui siapa saja yang ada di tempat itu. Berarti kemungkinan besar, anak yang kamu ceritakan itu, dalam mimpi kamu itu, kemungkinan besar anak itu masih ada di situ. Entah itu jasadnya atau mungkin juga hanya arwahnya saja. Bisa jadi hanya sebagian saja. Mungkin seperti yang kamu katakan tadi, kalau anak itu menunjukkan kepalanya kepada kamu, kemungkinan besar yang ada di rumahmu itu, kalau tidak kepalanya ya tubuhnya. Bisa jadi kepalanya ada di situ tetapi tubuhnya ada di tempat lain. Atau sebaliknya, tubuhnya ada di situ kepalanya berada di tempat lain." begitu kata-kata dari orang yang juga membeli makanan di warung angkringan tersebut. Orang-orang lain yang ada di situ ikut mengangguk-anggukan kepala, tanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh orang tadi.
"Iya .... Itu bisa jadi benar. Karena memang kadang-kadang, rumah-rumah di Jakarta ini banyak yang seperti itu. Jadi, misalnya ada pembunuhan, misalnya ada perampokan sadis yang disertai kekerasan, itu akan memberi aura negatif di rumah itu. Pemandangan seperti itu kadang-kadang terjadi. Karena di Jakarta itu kan keras. Jakarta itu banyak kriminal. Bunuh membunuh itu sering terjadi. Hal-hal yang kayak begitu, bisa saja terjadi di rumah kamu. Dan mungkin anak itu memang mau minta tolong kepada kamu ...." kata yang lain.
"Pak .... Bapak ini tinggalnya di mana, sih? Rumahnya di mana? Saya kok jadi ngeri. Saya jadi takut. Mudah-mudahan saja di tempat saya tidak ada seperti itu." kata perempuan istri dari penjual warung angkringan itu.
"Rumah saya lumayan jauh dari sini, Bu .... Itu ke timur, lurus terus. ya masih lumayan jauh. Kalau dari sini paling tidak ada sekitar lima kilo. Itu, lho ..., di kawasan pabrik." jawab Podin.
"Oh ..., seperti itu ya, Pak. Kampung bulak, ya .... Kalau agak jauh jaraknya, ya kami tidak tahu ceritanya. Seandainya di daerah sini, di dekat-dekat sini, mungkin saya tahu satu persatu rumah-rumah yang ada di sini. Dulunya rumah itu seperti apa, rumah itu angker apa tidak, saya tahu .... Karena saya dari kecil memang tinggal di sini. Saya penduduk asli sini, lho." begitu kata wanita istri dari penjual angkringan tersebut.
__ADS_1
"Wah ..., iya ya .... Memang kalau kita tidak tahu sejarah rumah itu, kadang kala kita itu tinggal di rumah yang angker, tanpa sepengetahuan kita. Bisa jadi perumahan-perumahan yang ada di sana-sini, yang dijual murah oleh pengembang itu, dulunya adalah bekas kuburan. Bahkan bisa jadi juga tanah itu dulunya tanah sengketa. Sehingga kadang-kadang terjadi tindak kriminal di tempat itu. Misalnya saja karena rebutan warisan, sehingga terjadi bunuh-membunuh antara ahli waris yang saling berebut. Bahkan ada juga, yang kalah dalam rebutan warisan, ia memasang jimat untuk membuat orang yang tinggal di tanah itu tidak betah atau bahkan sakit-sakiten dan akhirnya terus meregang nyawa." kata yang lain lagi.
"Ya ..., semoga saja mimpi yang Bapak alami itu hanya mimpi biasa. Karena memang, kalau mimpi yang benar itu akan terjadi sekitar jam dua dini hari. Itu mimpi yang disebut dengan istilah puspa tejem. Biasanya punya makna, punya arti, dan bisa diterjemahkan bahwa mimpi itu ada kebenarannya." begitu kata salah seorang yang ikut duduk di warung angkringan itu.
"Ada apa ini, kok ramai sekali ...?" tiba-tiba ada yang datang lagi, dan langsung menimbrung ingin tahu. Memang di warung angkringan itu biasa ramai, sebagai tempat ningkrongnya orang-orang yang ingin melepas penat.
"Wah ..., lha ini, Pak Dosen .... Mungkin bisa memberi penjelasan." sahut yang sudah nongkrong dari tadi.
"Ini, lho, Pak Dosen .... Membahas mimpi ...." sahut satunya lagi.
"Mimpi apa ...?" tanya orang yang dipanggil Pak Dosen itu.
"Begini, Pak Dosen .... Saya itu mimpi didatangi anak kecil, perempuan, tetapi anak itu kepalanya lepas dari leher .... Kepalanya itu dipegangi dengan dua tangannya dan akan diberikan kepada saya ...." kata Podin yang langsung semangat lagi saat ada Pak Dosen itu datang.
"Mimpi adalah proses yang sangat emosional dari amigdala, yaitu pusat emosional yang ada di otak, yang aktif selama kita tidur. Kopinya satu, Ncik ...!" kata orang itu, yang langsung meminta kopi.
"Iya, Pak Dosen ...." sahut perempuan istri pedagang angkringan yang langsung membuatkan kopi untuk pembelinya.
"Alhamdulillah .... Terima kasih, Mang ...." kata laki-laki itu yang tentu bersyukur mau dibayari.
"Terus, makna mimpi itu bagaimana, Pak ...?" tanya Podin yang sangat ingin tahu.
"Tafsir mimpi itu sudah menjadi penguak rahasia sejak zaman nabi. Contohnya saja Nabi Yusuf. Tidak jarang para nabi menerima petunjuk dari Tuhan melalui mimpi. Namun begitu, jangan sampai mimpi membuat kita menjadi percaya dengan tahayul. Sebab ada juga mimpi yang berasal dari setan dan jin. Itu bahaya." kata laki-laki yang dipanggil Pak Dosen itu.
Orang-orang pun langsung terkesima, ingin tahu penjelasan dari Pak Dosen itu. Terutama Podin yang ingin tahu lebih jelas.
"Tafsir mimpi atau menjelaskan arti sebuah mimpi, itu termasuk disiplin ilmu pengetahuan yang paling sulit dipelajari. Sebab tidak semua mimpi bisa ditafsirkan, dan tidak semua orang berkompeten untuk bisa menafsirkan arti sebuah mimpi. Kalau keliru bisa berbahaya. Nah, sebenarnya mimpi itu ada tiga, yaitu mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Tuhan. Kemudian mimpi karena bawaan pikiran seseorang. Dan mimpi menyedihkan yang datang dari setan. Tapi biasanya, kebanyakan orang tidur itu mimpi karena tersibukkannya kita dalam memikirkan suatu objek tertentu, hingga apa yang kita pikirkan itu terbawa dalam mimpi. Tetapi, kalau kita lihat dari waktu atau saat kapan kita bermimpi, itu bisa dimaknai asal mimpi itu. Bila mimpi terjadi pada dini hari, sekitar jam dua hingga jam tiga, atau saat waktu sahur, kemungkinan besar mimpi itu adalah mimpi yang benar dan dapat ditafsirkan. Mimpi itu biasanya tentang kebaikan yang datang dari Tuhan. Sedangkan mimpi yang dianggap berasal dari bisikan setan, adalah mimpi yang terjadi pada awal-awal malam atau saat petang, saat matahari surup, saat matahari tenggelam." kata Pak Dosen itu yang menjelaskan tentang hakekat mimpi.
"Waah ..., berarti itu mimpinya adalah bisikan setan ...." kata orang-orang yang lain, saat mendengar penjelasan itu.
"Lhoh, kok bisa ...?!" tanya Pak Dosen yang baru saja menjelaskan.
__ADS_1
"Lhah, mimpinya Bapak ini terjadi pada saat matahari terbenam ...." sahut yang lain.
"Betul begitu, Mang ...?" tanya Pak Dosen itu kepada Podin.
"Iya, Pak .... Apa maknanya itu?" kata Podin yang tentu bingung.
"Berarti ada yang tidak beres dalam kehidupan Mang Podin .... Segera saja berdoa, minta petunjuk pada Tuhan." jawab Pak Dosen itu.
"Terus ..., maknanya apa, Pak?" tanya Podin yang ingin tahu arti dari mimpinya.
"Kalau saya yang menafsirkan mimpi itu ..., ini firasat buruk. Ada aura negatif yang terjadi pada Mang Podin .... Yang pertama, karena saatnya adalah bersamaan tenggelamnya matahari, berarti mimpi Mang Podin itu jelas-jelas bisikan setan. Yang kedua, yang datang itu bisa diibaratkan hantu, yang secara tidak langsung itu juga terkait dengan pekerti setan. Jadi saya berpesan, Mang Podin harus waspada dan hati-hati." kata Pak Dosen itu yang mencoba menebak mimpi Podin.
"Pindah saja, kontrakannya, Pak ...." sahut yang lainnya.
"Iya, benar .... Itu paling-paling rumahnya yang angker." timpal lainnya.
"Cari di dekat sini saja .... Kalau daerah sini saya jamin aman ...." istri penjual warung angkringan itu ikut nimbrung.
"Maaf, Mang Podin .... Itu hanya tafsir mimpi saja .... Jangan terlalu menjadi beban pikiran, dan tidak usah dimasukkan dalam hati." kata Pak Dosen itu yang tentunya tidak ingin orang yang mendengarnya malah ketakutan.
Podin tidak menjawab apa-apa. Meski Pak Dosen menyampaikan begitu, Podin tetap kepikiran. Mungkin benar yang dikatakan oleh Pak Dosen tadi, memang mimpinya itu bisa jadi benar-benar bisikan setan. Namun yang menjadi kepikiran bagi Podin adalah mungkinkah anak perempuan kecil yang sudah dikorbankannya di istana Pulau Berhala itu akan datang dan menemui dirinya? Apakah anak jalanan yang diculiknya itu akan mencarinya dan meminta pertanggung jawaban?
"Tenang, Mang Podin .... Paling-paling mimpi Mang Podin itu hanya ilusi saja dari badan Mang Podin yang capek, lelah, letih dan lesu. Apalagi Mang Podin harus kerja malam, pasti kurang fit." kata Pak Dosen itu yang tidak ingin Podin terus berlarut memikirkannya.
"Iya, Pak .... Terima kasih nasehatnya ...." kata Podin, yang selanjutnya membayar minum dan makannya, dan juga membayari kopi Pak Dosen. Podin mengeluarkan uang seratus ribuan, dan diberikan kepada penjual warung angkringan itu.
"Ini masih sisa banyak, Pak ...." kata si penjual, yang akan memberikan kembaliannya.
"Sisanya untuk mbayari Bapak-bapak yang lain ...." kata Podin yang terus keluar.
Podin langsung melajukan mobilnya, pulang dengan membawa beban pikiran yang lumayan berat. Terutama saat mendengar penjelasan dari Pak Dosen tadi, kalau mimpinya bisa jadi termasuk bisikan setan. Meski demikian, tentunya ia tidak berani mengungkapkan sebenarnya apa yang terjadi. Podin tidak berani mengatakan kalau sebenarnya ia telah memenggal leher anak itu dan tentu hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Bagaimanakah Podin nantinya? Akankah ia sadar bahwa mimpi yang ia alami itu benar-benar bisikan setan, yang tentunya agar Podin sadar bahwa anak yang sudah dipenggal kepalanya itu akan mencarinya untuk meminta pertanggungjawabannya. Atau, apakah Podin akan membiarkan begitu saja peristiwa yang dialaminya dalam mimpi, saat ia menyaksikan rembulan yang berwarna merah darah.