
Mengalami siksaan seperti itu, disuruh kerja paksa, kadang dicambuk dan didera, bahkan juga dipukul dan ditendang, pasti Maya tidak sanggup lagi untuk menjadi tahanan di Pulau Berhala. Dan mestinya, tidak hanya Maya saja yang mengalami penderitaan itu. Masih banyak orang lain yang tentu juga sangat menderita, bahkan mungkin juga lebih parah daripada Mata. Pastinya, mereka tidak betah lagi untuk hidup menderita di Pulau Berhala.
Dan memang, kebanyakan para tahanan yang ada di istana Pulau Berhala ini adalah perempuan, dan rata-rata kasusnya sama, yaitu mereka mencuri perhiasan-perhiasan yang ada di istana. Ya, memang pada dasarnya perempuan begitu melihat perhiasan, begitu melihat emas dan permata, maka mereka pasti langsung tergiur. Apalagi di istana Pulau Berhala itu semua perhiasannya indah dan menarik. Permata-permatanya pun gemerlap menyilaukan mata. Emasnya berkilau mencorong. Perhiasannya indah tiada tara. Pasti, perempuan mana lagi yang tidak akan tertarik dan tergoda dengan perhiasan-perhiasan yang indah tersebut. Ya, pastinya mereka akan tergiur. Mereka berkeinginan akan mengambil. Dan mereka pasti akan mencurinya untuk ia kenakan, untuk ia pakai, untuk ia pamerkan kepada orang-orang lain. Ya, itulah sifat dari perempuan yang selalu silau melihat harta kekayaan. Demikian juga yang dialami oleh Maya, yang selalu menuntut dan meminta kepada Podin untuk memberikan berbagai macam harta benda kekayaan, termasuk perhiasan-perhiasan.
Dan ketika Maya menyaksikan betapa indahnya perhiasan yang pada menempel di dinding istana itu, pastilah dia akan tergiur untuk mengambilnya. Kalau di Jakarta ada rekaman CCTV yang bukti nyata bahwa orang itu telah mencuri, tetapi di istana Pulau Berhala, yang memang tidak ada CCTV, di istana Pulau Berhala memang tidak diawasi dengan teknologi moderen, namun kenyataannya, jika ada orang yang mencuri, maka seketika itu juga para penjaga istana langsung menangkap.
Demikian juga Maya, dan memang kala itu Maya tidak tahu kalau dirinya diawasi oleh para penjaga tersebut. Dan pastinya, harta kekayaan yang berlimpah ruah di tembok, dinding maupun pilar-pilar istana itu sudah membuat Maya buta untuk menyaksikan para penjaga istana. Maka seketika itu juga, saat Maya mengambil perhiasan-perhiasan yang sudah ia lirik saat masuk ke dalam istana, Maya langsung diseret oleh penjaga istana. Seketika itu, Maya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sudah mencuri perhiasan di istana. Maya langsung digebugi oleh para algojo.
Tentunya, semua perhiasan yang ia simpan dalam kantongnya, langsung diambil kembali oleh para penjaga istana. Semuanya dikeluarkan. Tidak hanya perhiasan-perhiasan yang ia ambil dari istana itu saja, tidak hanya perhiasan-perhiasan yang ada di kantongnya saja, tidak hanya perhiasan-perhiasan yang ada dalam genggaman tangannya saja yang diambil kembali oleh para penjaga itu. Tetapi bahkan, kalung yang dikenakan Maya, gelang yang ia pakai di lengannya, cincin yang ada di jari-jari tangannya, dan anting-anting yang menempel di telinganya, semuanya diambil, semuanya dicabut paksa. Dan tentu Maya merasa kesakitan saat anting-anting yang ada di telinganya itu ditarik, sehingga mengakibatkan telinga Maya menjadi robek dan berdarah. Ya, Maya tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, karena memang dia harus mengakui dirinya sudah mencuri perhiasan-perhiasan di istana itu.
Dan setelah mendapatkan teman sesama narapidana yang bisa diajak bicara, Maya yang tentunya sudah tidak kuat lagi untuk menahan kesakitan, untuk menahan kepedihan, untuk menahan siksaan-siksaan yang dilakukan oleh para algojo di istana Pulau Berhala, tentunya Maya berkeinginan untuk melarikan diri. Ketika Maya sudah mendapatkan teman untuk diajak bicara, ketika ia sudah mendapatkan pasangan yang bisa diajak curhat, maka Maya pun mulai mengeluarkan ide-ide konyolnya. Ya, Maya ingin melarikan diri. Maya ingin pergi dari penjara yang kejam itu. Maya ingin keluar dari Pulau Berhala itu.
Dan tentunya, perempuan temannya Maya yang sudah mulai akrab dengan dirinya itu, juga tertarik ketika diajak oleh Maya untuk melarikan diri. Ya, Maya bersama teman perempuan yang dekat itu, yang selalu bersamanya itu, ia mulai menyusun strategi. Mereka akan melarikan diri dari Pulau Berhala.
"Apa kamu betah di sini terus?" bisik Maya kepada perempuan yang dekat dengannya itu.
"Bagaimana kamu bisa bilang betah, kalau setiap hari kita dicambuk, kita dipukul, kita ditendang, bahkan kita juga diinjak .... Belum lagi kita juga digigit oleh kepala-kepala keparat ini." jawab temannya itu, yang tentunya juga tidak tahan tinggal di tempat penyiksaan seperti itu.
"Aku juga tidak betah .... Aku ingin pulang." kata Maya yang tentu membuat temannya itu juga berkeinginan untuk keluar dari Pulau Berhala.
"Aku juga .... Aku sudah tidak sanggup tinggal di sini. Aku sudah tidak mampu untuk hidup lagi di tempat ini. Kita tidak bisa bunuh diri di sini .... Kita harus keluar dari tempat ini. Kita harus pulang kembali ke rumah kita, menikmati hidup yang enak, yang nyaman, yang tentram dan serba berkecukupan, bahkan berlebih-lebihan." jawab teman Maya, perempuan yang memang sebenarnya dia adalah orang berada, orang kaya. Ya, namun pastinya, suaminya juga sama seperti suami Maya, yang meminta pesugihan di Pulau Berhala.
"Gimana kalau kita melarikan diri? Bagaimana kalau kita keluar dari tempat ini?" tanya Maya kepada teman yang ada di sampingnya, tentu dengan bisikan yang perlahan, agar tidak ada yang mendengar sama sekali.
__ADS_1
"Iya ..., caranya bagaimana?" tanya temannya yang tentu bingung dengan caranya untuk melarikan diri.
Maklum di tempat itu, penjagaannya sangat ketat. Dan pastinya setiap gerak-gerik para tahanan, diperhatikan terus oleh para penjaga. Selain itu, algojo-algojo yang akan menyiksa, sudah siap untuk menghajar para tahanan yang mencoba kabur. Jangankan melarikan diri untuk kabur, baru bergerak sedikit yang sekiranya tidak diperbolehkan oleh penjaga, mereka langsung dicambuk, dipukul maupun ditendang. Para penjaga itu sangat kejam, melebihi kekejaman zaman penjajahan.
"Nanti kalau kita disuruh bekerja, kita memilih yang dekat pantai. Kita melarikan diri dari sana. Kita pergi ke pantai, nanti di pantai kita naik kapal. Saya ingat, waktu suami saya mengajak ke sini, ada perahu yang bolak-balik dari pantai, mengangkut para penumpang yang datang kemari." kata Maya yang ingat betul saat dia naik perahu bersama suaminya. Tentunya Maya masih ingat, kala itu memang ada tukang perahu yang selalu mengangkut orang-orang yang akan berdatangan dan pulang pergi ke Pulau Berhala.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya perempuan yang kini selalu bersama dengan Maya itu.
"Kita lari saja ...." kata Maya.
"Tidak mungkin .... Banyak algojo yang mengawasi kita .... Banyak penjaga yang bersiap untuk menangkap kita." jawab perempuan yang ada di sebelahnya. Namun sayang, suaranya agak keras, sehingga terdengar oleh penjaga.
"Hei ...!! Siapa itu yang bicara ...?!! Ayo bekerja ...!! Jangan bicara saja ...!!" penjaga itu langsung memukul punggung Maya dan perempuan satu lagi yang ada di sebelahnya.
"Waduh ....!" tentu dua perempuan itu langsung mengaduh kesakitan karena terkena pukulan dari rotan yang mengenai punggungnya.
"Aku punya ide ...." tiba-tiba Maya berbisik, tanpa menoleh ke arah temannya itu.
"Gimana?" tanya temannya.
"Aku mau gelundungkan kepala ini ke arah pantai. Lantas nanti akan saya kejar kepala itu, seolah saya memang akan menangkap dan mengambil kepala yang menggelinding itu. Pasti para penjaga tidak akan marah, bahkan mengijinkan saya untuk mengambil kembali kepala itu. Dan nantinya, saya akan langsung berlari ke pantai dan melarikan diri." kata Maya yang sudah berniat bulat untuk melarikan diri.
"Coba saja .... Nanti kalau kamu berhasil, saya akan menyusul kamu." bisik temannya.
__ADS_1
"Oke ...." sahut Maya.
Berkata begitu, Maya pun langsung menggelundungkan salah satu kepala yang ada di hadapannya. Tentu, kepala itu langsung menggelinding ke arah panyai, yang memang daerahnya lebih rendah. Lantas Maya langsung berdiri dan berusaha mengejar kepala yang menggelinding itu.
"Hei ...!!! Mau ke mana, kamu ...?!!" teriak petugas keamanan yang tentu langsung membentak Maya yang sudah mulai berlari kecil.
"Ini .... Ada yang menggelinding ...!" sahut Maya yang tetap mengejar kepala yang menggelinding tadi.
"Cepat diambil ...!! Segera kembali ...!!" kata penjaga itu, yang tentunya sambil mengawasi Maya.
Maya mendengar teriakan penjaga itu. Namun bagi Maya yang diberi kesempatan untuk mengambil kepala yang menggelinding itu, yang sedianya akan ditata untuk dijadikan sebagai landasan batu makadam jalan setapak dari taman ke taman yang ada di Pulau Berhala itu, ini adalah kesempatan yang ditunggunya. Ini adalah taktik yang memang sengaja ia lakukan, yang rupanya akan berhasil. Dan nantinya, pasti Maya akan berpura-pura untuk mengambil kepala itu, agar ia bisa melarikan diri untuk menuju ke pantai.
Ya, akhirnya Maya yang diberi kesempatan untuk mengambil kembali kepala yang menggelinding itu, ia pun langsung berlari mengejar kepala yang sebenarnya sengaja ia gelindingkan itu. Dan setelah sampai di dekat kepala itu, dan sebenarnya Maua sudah bisa meraihnya, tangan Maya yang pura-pura mencoba untuk meraihnya, namun kepala yang membelalakkan mata dan mulutnya meringis itu, tidak di pegang, tidak diambil oleh Maya, namun justru tangan Maya kembali mendorong kepala itu, yang akhirnya kepala itu pasti menggelinding lagi lebih jauh. Dan Maya pun, kembali berlari mengejar kepala itu.
"Cepat diambil ...!! Cepat kembali ...!! Ayo ..., cepat ...!! Jangan sampai kepala itu hilang ...!!" begitu teriak para penjaga yang meminta agar Maya segera mengambil kepala yang menggelinding itu. Tentunya para penjaga maupun algojo yang ada di situ, tidak ada yang mengira kalau itu adalah sandiwara si Maya.
Maya pun langsung berlari kembali untuk mengejar kepala yang terus menggelinding. Namun lagi-lagi, setelah Maya dekat ke kepala itu, kakinya justru menendang kembali kepala yang ada di bawahnya. Dan pastinya, kepala itu menggelinding tambah kencang dan lebih jauh dari tempatnya.
Ya, Maya terus mengejarnya. Dan pastinya, itu hanya berpura-pura saja. Karena sebenarnya, Maya berlari untuk menuju ke pantai. Dan kini, Maya sudah melihat air laut yang menerpa tepian. Maya sudah dekat dengan pantai. Maya sudah tidak sabar untuk berlari kencang menuju pantai itu.
"Aduh ....!" Maya menjerit.
Tiba-tiba saja, kepala yang diikat dengan rantai, dan menggandul di kaki Maya, menggigit betis Maya. Maya yang kesakitan karena gigitan setan kecil yang rupanya merasa terombang-ambing saat dibawa lari oleh Maya, ia marah dan langsung menggigitnya.
__ADS_1
Maya langsung terjatuh. Maya tersungkur. Maya terjerat oleh rantai yang dibandoli kepala setan, Maya terkapar di pantai yang berpasir itu. Maya tidak berdaya disapu ombak yang datang berkali-kali memandikan tubuhnya.
Lantas ..., bagaimanakah nasib Maya selanjutnya? Apakah ia selamat?