
Malam itu, saat Podin berbincang bersama Cik Melan di tempat tidurnya, saat membicarakan tentang pengakuan Podin, ternyata ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan itu. Yah, seorang laki-laki separo baya, Kang Zaki namanya. Memang, rumah tangga Kang Zaki masih sangat kekurangan. Niat awalnya Kang Zaki datang ke rumah Podin mestinya ingin ikut bersilaturahmi seperti para tetangganya yang lain. Namun pikirannya berubah entah karena apa, tiba-tiba saja Kang Zaki tidak ikut masuk ke dalam rumah, tetapi justru menyelinap ke samping rumah. Pastinya Kang Zaki akan mencari sesuatu dengan niatan yang kurang baik.
Namun niatan jelek Kang Zaki itu berubah ketika berada disamping jendela kamar Podin. Dimana Kang Zaki mendengar Podin yang sedang ngobrol dengan istrinya, yang ternyata obrolan Podin itu tentang penguasa istana Pulau Berhala yang katanya sudah memberikan kekayaan kepada dirinya. Tentu Kang Zaki yang masih hidup dalam kekurangan, ia langsung tertarik dengan perkataan-perkataan Podin tentang pesugihan yang didapatnya tersebut. Maka Kang Zaki langsung menempelkan telinganya di jendela. Ia menguping semua perkataan yang diungkapkan oleh Podin.
Berdebar jantung Kang Zaki, setelah mendengar betapa mudahnya mendapatkan harta kekayaan dari Pulau Berhala. Serta merta, Kang Zaki pun berlari pulang, meninggalkan rumah Podin.
"Aku harus kaya .... Aku harus kaya ...! Aku harus kaya ...!!!" Kang Zaki berteriak keras melampiaskan kegembiraannya.
"Ada apa ..., Kang ...?! Kok teriak-teriak seperti itu ...?!" tanya istrinya yang tentu kaget dan heran menyaksikan tingkah suaminya yang baru saja datang tersebut.
"Pokoknya aku harus kaya ..., Nyak ...." kata Kang Zaki yang tentunya bersemangat dan sangat yakin kalau dirinya bisa menjadi kaya seperti Podin.
"Kalau Kang Zaki saja kerjanya cuman srabutan dan tidak tentu seperti sekarang ini ..., bagaimana kita bisa kaya ..., Kang ...?!" sahut istrinya yang tidak begitu bisa menerima kata-kata suaminya.
"Jangan khawatir, Nyak .... Pokoknya saya harus kaya .... Kita akan menjadi orang kaya .... Besok ..., saya akan menjadi orang yang kaya raya, Nyak .... Rumah kita yang reyot seperti kandang ini, akan saya bangun menjadi gedung bertingkat yang mewah dan megah .... Kita tinggal di gedung mewah .... Kita bisa makan enak setiap hari, Nyak ...." kata Kang Zaki yang sangat optimis dan percaya diri.
"Kang .... Kang Zaki .... Bangun Kang .... Jangan mengigau ...." kata istrinya yang tentu heran dan bingung dengan sikap suaminya itu.
"Saya tidak mengigau .... Saya tidak tidur, Nyak .... Saya sadar .... Pokoknya besok saya akan menjadi orang yang kaya raya ...." bantah Kang Zaki yang merasa diejek oleh istrinya.
"Iya .... Mau jadi orang kaya itu dasarnya apa ...? Coba berkaca .... Uang dari mana yang bisa dipakai unuk membangun gedung mewah ...?! Uang dari mana yang mau dipakai untuk foya-foya makan enak ...?! Ngaca ..., Kang ...!" istrinya lebih emosi mendengar jawaban suaminya itu.
"Kamu selalu begitu, Nyak .... Selalu membantah .... Tidak mau mendengar kata-kata suami .... Tidak percaya pada suami ...." kata Kang Zaki yang tentunya juga jengkel dengan istrinya.
"Habis .... Kang Zaki itu kalau ngomong nggak pernah pakai nalar .... Asal saja nyeplos ...!" sahut istrinya yang tetap tidak percaya dengan kata-kata suaminya.
"Tapi yang ini beneran .... Saya tahu rahasia Pak Podin bisa jadi kaya .... Ternyata Pak Podin itu punya pesugihan ...." kata Kang Zaki setengah berbisik pada istrinya.
"Hushhh ...!!! Tidak boleh begitu, Kang ...." bentak istrinya yang tentu tidak ingin suaminya menuduh orang.
"Beneran .... Ini tadi saya mendengar pembicaraannya Pak Podin ...." sahut suaminya.
"Trus ...?! Akang diajak ...?!" tanya istrinya.
"Tidak .... Hal kayak gitu kan mesti dirahasiakan .... Bila perlu, tidak boleh ada orang lain yang tahu ...." jawab Kang Zaki.
__ADS_1
"Kok, Kang Zaki bisa tahu ...?!" tanya istrinya.
"Tanpa sengaja, saya tadi mendengar pembicaraannya Pak Podin .... Makanya, saya langsung menguping ...." kata Kang Zaki yang menjelaskan kepada istrinya.
"Trus ...?! Apa kata Pak Podin?" tanya istrinya lagi.
"Yah .... Intinya, Pak Podin itu bisa jadi kaya raya, karena dapat harta kekayaan dari Pulau Berhala ...." jawab Kang Zaki.
"Pantesan ..., mereka tidak pernah ke masjid .... Ternyata dia punya pesugihan ya, Kang ...." sahut istrinya.
"Iya .... Makanya, Nyak ..., saya mau ke Pulau Berhala, seperti yang disebut oleh Pak Podin itu ...." kata Kang Zaki pada istrinya.
"Ya ampun ..., Kang Zaki mau cari pesugihan ...?! Dosa, Kang ...!" kata istrinya yang tentu tidak setuju dengan rencana Kang Zaki.
"Tapi .... Saya tidak ingin hidup miskin terus-terusan, Nyak .... Saya tidak ingin menderita terus-terusan, Nyak .... Saya ingin hidup yang cukup .... Saya ingin tinggal di rumah yang layak, tidak seperti kandang kambing demikian ini, Nyak .... Saya juga ingin makan enak, memberi pakaian yang bagus pada anak-anak kita ...." sahut Kang Zaki yang tentunya ingin merubah hidupnya yang miskin menjadi lebih layak, bahkan kalau bisa menjadi kaya raya seperti halnya Pak Podin.
"Kang .... Tapi saya takut .... Nanti kalau harus dimintai tumbal, bagaimana?" kata istrinya.
"Aah .... Saya yakin tidak ada tumbalnya .... Nyatanya, Pak Podin juga tidak pernah cari tumbal. Karyawan-karyawannya, yang kebanyakan remaja-remaja dari kampung kita di sini ..., nyatanya juga baik-baik saja .... Bahkan mereka senang dan penghasilannya lumayan .... Bahkan si Upik saja sudah bisa beli motor ...." kata Kang Zaki yang menunjukkan bukti-buktinya.
"Ya, namanya orang sakit itu kan biasa .... Nyak tiap hari juga minta dikeroki ...." sahut Kang Zaki yang juga mengingatkan istrinya.
"Terserah Kang Zaki saja, dech .... Kalau susah dibilangin, ya udah ...." kata istrinya yang akhirnya pasrah.
Namun sebenarnya, tentunya istrinya Zaki juga berpikiran ingin merubah nasib hidupnya. Setidaknya ia sudah bosan dengan hidup miskin. Apalagi selalu kekurangan uang. Pasti hidup susah seperti itu tidaklah menyenangkan. Adanya hanya susah dan sedih. Makanya, raut mukanya cepat terlihat tua. Karena tidak pernah tersenyum menerima kenyataan hidup yang menyusahkan tersebut. Makanya, sebenarnya perempuan yang terlihat tua itu, meski umurnya baru tiga puluh tahun, ia juga ingin suaminya mencoba mendatangi tempat yang diceritakan kepadanya, ingin tahu apakah benar bisa memberikan kekayaan. Tentu perempuan itu juga menjadi penasaran dengan cerita suaminya. Maka diam-diam, istri Kang Zaki itu sebenarnya mengizinkan suaminya jika memang akan berangkangkat ke Pulau Berhala, seperti yang sudah diceritakan oleh suaminya.
Pagi harinya, Kang Zaki mulai bertanya-tanya, di mana sebenarnya Pulau Berhala itu berada. Ia mencoba bertanya kepada teman-temannya. Dan pastinya, Kang Zaki tidak mau menyebutkan ada apa di Pulau Berhala itu.
"Mang ..., pernah dengar gak, Pulau Berhala itu tempatnya ada di mana?" tanya Kang Zaki pada temannya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Sesama buruh bangunan di proyek perumahan.
"Pulau Berhala ...? Saya baru dengar ini .... Memang kenapa?" tanya balik temannya yang ditanyai.
"Ndak apa-apa .... Hanya tanya saja .... Siapa tahu kamu tahu ...." jawab Kang Zaki yang tentu beralasan.
"Ndak papa kok tanya .... Aneh, kamu itu Zaki ...." sahut temannya yang kesal.
__ADS_1
"Katanya tempat wisata yang yang indah .... Siapa tahu kamu pernah bertamasya ke sana." sahut Kang Zaki yang tentu mengalihkan perhatian temannya.
"Kayak orang kaya saja ..., piknik-piknik segala .... Piknik itu besok kalau sudah punya uang banyak ...." sahut temannya yang justru menceramahi Kang Zaki.
"Ngomongin apa ini ...? Pagi-pagi kok sudah kelihatan serius sekali ...." tanya temannya, sesama pekerja bangunan yang baru saja datang.
"Ini, lho .... Kang Zaki tanya tempat Pulau Berhala ...." jawab teman yang tadi.
"Siapa yang mau ke Pulau Berhala ...? Hati-hati .... Itu pulau yang sangat bahaya ...." kata tukang bangunan yang barusan datang tersebut.
"Nhaaa .... Ini dia .... Kang Zaki, ini yang mau piknik ke Pulau Berhala ...." sahut teman yang satunya.
"Memangnya, Amang tahu tempatnya ...?" tanya Kang Zaki, yang memang ingin tahu tempat itu.
"Ya ..., tahu presis .... Saya kan orang Cibalong, daerah Tasik ...." jawab tukang bangunan yang baru datang itu.
"Jadi ..., Pulau Berhala itu ada di sana ...? Di sebelah mana ...?" tanya Kang Zaki yang penasaran.
"Di Pantai Selatan .... Di ujung selatan .... Jauh .... Dari kampung saya masih ke selatan terus .... Memang siapa yang mau ke sana ...?" jawab tukang dari Tasik itu.
"Ah, tidak .... Cuman mau tahu saja ...." jawab Kang Zaki, yang tentunya merahasiakan niatannya akan pergi ke Pulau Berhala tersebut.
"Jangan pernah datang ke Pulau Berhala .... Tidak ada orang yang berani datang ke sana .... Bahkan orang-orang di sekitar pulau itu, tidak ada yang mau mendekat ke pulau itu." kata si tukang yang berasal dari Tasik tadi.
"Memangnya kenapa ...?!" tanya dua orang secara bersamaan. Mereka ingin tahu ada apa di Pulau Berhala.
"Kata orang-orang sana ..., kalau ada yang berani masuk ke Pulau Berhala, biasanya mereka tidak akan kembali ke daratan .... Alias hilang ...." kata si tukang itu.
"Hah ...?!"
"Yang benar ...?!"
"Iya ..., betul .... Katanya dimakan oleh penunggu pulau itu .... Oleh sebab itulah, maka pulau itu dinamakan Pulau Berhala .... Karena anggapan masyarakat, ada berhala yang menunggu di pulau itu, yang memakan setiap orang yang berani masuk ke pulau itu." jawab si tukang bangunan yang dari Tasik itu.
Tentu cerita tentang Pulau Berhala dari tukang bangunan yang berasal dari Tasik itu, membuat temannya ketakutan. Namun tentunya, bagi Kang Zaki petunjuk arah atau tempat keberadaan Pulau Berhala itu.
__ADS_1
Dan pastinya, secara rahasia, agar tidak diketahui oleh orang lain, Kang Zaki tetap akan berangkat menuju Pulau Berhala. Ia ingin hidup kaya seperti Pak Podin. Toh kenyataannya, Pak Podin juga selamat dan masih hidup berkumpul bersama istrinya yang cantik, serta usahanya juga laris dan semakin besar.