
Malam bulan purnama ini, kembali Podin akan berangkat menuju Pulau Berhala. Ia berniat akan mempersembahkan korban bagi penguasa istana Pulau Berhala. Ya, pikiran Podin sudah yakin, ia harus kembali mengorbankan bocah yang nantinya akan dijadikan persembahan di altar istana Pulau Berhala, untuk mendapatkan harta kekayaan dari penguasa istana Pulau Berhala itu. Dan Podin yakin, kali ini ia juga akan mendapatkan jumlah harta kekayaan yang berlimpah. Pastinya, nanti saat pulang dari Pulau Berhala, istrinya akan senang, dan tentunya usaha yang dikembangkan oleh Lesti akan semakin besar, karena nanti jika Podin pulang ke rumahnya, ia akan membawa uang yang banyak, harta kekayaan yang berlimpah dari Pulau Berhala itu. Podin pastinya akan menambahkan uang untuk modal usaha istrinya yang cukup banyak.
Pagi itu, setelah Podin berjanji akan mengajak anak jalanan yang mengemis di tempat stasiun pompa bensin, walaupun mengajak anak itu dengan alasan untuk makan di sebuah rumah makan yang mewah yang dianggap sebagai restoran. Podin yang sudah menjanjikan kepada anak itu, ia pun kembali ke stasiun pompa bensin saat ketemu dengan pengemis cilik itu, ia datang kembali untuk mengajak anak itu makan-makan di restoran. Makanya, setelah Podin sudah mengajak anak kecil yang mengemis di pompa bensin itu, dan pengemis cilik itu sudah masuk ke dalam mobilnya, lantas Podin pun langsung menuju ke rumah makan yang sudah diincarnya. Ya, rumah makan bagus, tetapi harganya lumayan murah.
Lantas Podin pun memasukkan mobilnya ke halaman rumah makan yang sangat besar dengan bangunan ala rumah joglo model Jogja. Podin memarkirkan mobilnya di depan rumah makan itu. Kemudian mengajak anak cilik yang sudah terlihat rapi dan sudah mengenakan pakaian yang diberikan oleh Podin. Tentunya orang tidak akan mengira kalau anak kecil yang diajak oleh Podin itu sebenarnya adalah anak jalanan yang setiap hari pekerjaannya mengemis di pompa bensin.
"Ayo .... Kita makan di restoran .... Silakan masuk sini, kita duduk di sini." kata Podin yang mengajak anak itu duduk menjauh dari keramaian orang. Tentu Podin khawatir nanti pembicaraannya akan didengar orang.
Anak laki-laki kecil itu pun melongokkan kepalanya, berputar memandangi bangunan rumah makan yang sangat megah itu. Anak ini terkagum dan heran melihat restoran yang sangat mewah itu. Pasti ia berpikir, harga makanan di tempat itu pasti mahal-mahal.
"Kamu, mau makan apa?" tanya Podin menanyai anak kecil yang sudah duduk berhadapan dengannya.
Tapi anak itu diam. Tentunya ia bingung mau makan apa. Ia tidak tahu menu makanan yang ada di restoran mewah itu.
"Heeh ..., kok malah bengong .... Mau memesan apa, silakan pilih ...." kata Podin kepada anak itu lagi.
Tetapi, anak itu tidak bisa menjawab. Ia masih bingung dengan makanan yang ditawarkan.
"Ini, lho .... Kamu pilih makanan seperti di gambar ini .... Kalau bingung, tunjuk saja .... Mumpung makan gratis, saya bayarin semuanya ...." kata Podin kepada anak kecil yang sudah diajak duduk berhadapan di meja makan di restoran itu, yang sanmbil menyerahkan buku daftar menu yang ada di rumah makan itu. Pastinya anak itu disuruh memilih menunya sendiri, sesuka anak itu, tinggal menujuk gambar yang ada dan tersaji di dalam buku menu yang sudah dibuka oleh Podin di atas meja makan itu. Pastinya Podin menduga, kalau anak itu tidak bisa baca tulis. Ya, karena anak itu hanya sebagai pengemis yang tidak bersekolah.
"Saya mau makan ini, Om." kata anak itu sambil menunjuk gambar di buku, nasi dengan ayam bakar, ada sambal dan lalapan.
"Minumnya, apa?" tanya Podin lagi, yang tentu sambil membukakan gambar-gambar minuman dalam daftar menu itu.
"Minumnya, ini ..., Om." anak itu pun menunjukkan gambar gelas yang menyajikan minuman soda gembira.
__ADS_1
"Oke .... Mas ..., ini Mas .... Kami pesan ini .... Yang ini satu ..., yang ini satu ..., minumannya soda gembira dua. Ditambah air mineral dua botol, ya, Mas ...." kata Podin kepada pelayan rumah makan itu, yang tentunya pesanan itu langsung dicatat oleh pelayan itu.
Sebentar kemudian, pastinya makanan pesanan Podin tadi langsung tersaji di atas meja. Ya, pelayanan yang sangat cepat. Pasyinya membuat pelanggannya menjadi puas.
Begitu hidangan tersedia di meja, anak itu pun mulai menikmati makanan yang sangat lezat. yang tentunya belum pernah ia makan dan nikmati. Apalagi, ini adalah di restoran. Rumah makan yang sangat mewah. Pasti anak itu senang, karena punya pengalaman bisa makan di restoran.
"Bagaimana rasanya? Kamu suka?" tanya Podin pada anak laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Enak, Om ...." jawab anak laki-laki itu yang wajahnya berkeringat karena kepedasan. Ia terlalu banyak makan sambal yang tersaji dalam menu ayam bakar itu.
"Kalau kamu masih kurang, boleh tambah." kata Podin kepada anak itu, yang tentunya itu adalah rangkaian dari perangkap bagi Podin, agar anak itu senang kepadanya. Dan tentunya nanti kalau anak pengemis kecil itu sudah percaya kepada Podin, maka anak itu akan menurut kepadanya. Mau diajak kemana saja pasti, pasti tidak menolak. Karena anak itu merasakan enak, dan laki-laki yang mengajaknya itu adalah orang yang baik dan orang yang mau memberikan apa saja. Bahkan laki-laki yang dipanggilnya Om itu, selalu memberikan berlebihan kepada dirinya.
"Saya, tambah, Om .... Makan segini nasinya masih kurang, Om." begitu kata anak itu yang tentunya dia minta menambah lagi.
"Mas, sini ...." kata Podin memanggil pelayan rumah makan itu.
"Ini ..., anak ini minta, nasi dan lauknya ditambahi satu piring lagi." kata Podin pada pelayan itu.
"Baik, Pak .... Mohon ditunggu sebentar." kata pelayan itu, yang selanjutnya tentu akan menyiapkan pesanan untuk tambahan dari anak itu.
Sambil menikmati makan, dan tentunya sambil menunggu tambahan nasi dan lauk untuk anak laki-laki yang ada di hadapannya itu, Podin mulai melancarkan aksinya. Tentu untuk membawa anak tersebut ke tempat yang sudah dirancang oleh Podin.
"Kamu sudah pernah piknik ke pantai, apa belum?" tanya Podin pada anak laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Kalau hanya main-main di muara sungai yang pantai, biasa Om .... Tapi kalau ke tempat piknik, saya belum pernah." jawab anak itu, yang tentunya paling tidak pernah bermain dengan teman-temannya ke muara sungai dekat pantai. Tetapi bukanlah tempat wisata yang sering dikunjungi orang. Hanya tempat dekat pantai yang tidak terurus, dan biasanya tempat itu kotor dan menjijikan. Tetapi begitu mendengar pertanyaan Podin untuk piknik ke pantai, pastinya anak itu tertarik juga.
__ADS_1
"Kalau misalnya kamu saya ajak piknik ke pantai, bagaimana?" tanya Podin.
"Mau, Om ...." jawab anak itu cepat dan tegas, dan pastinya dia akan mau ketika diajak berpiknik ke pantai.
"Kalau kamu mau piknik ke pantai, saya akan ajak kamu berpiknik ke pantai. Nanti kamu bisa bermain-main di pantai. Dan terlebih lagi, kalau kamu mau, saya akan ajak kamu naik perahu ke pulau. Kita naik perahu menyeberang laut, kemudian kita menuju ke sebuah pulau, dan di pulau itu, nanti kita akan makan-makan dan berpesta, bersenang-senang sepuasnya" kata Podin yang tentu memberikan iming-iming yang menarik pada anak itu. Tentunya Podin mulai merayu, memberi harapan-harapan tentang keindahan pulau yang akan dituju, dan enaknya bisa piknik bersama dengan dirinya.
"Mau, Om .... Saya mau .... Tapi tempatnya di mana, Om? Jauh apa tidak? tanya anak itu, yang tentunya dia sudah mulai menanyakan tempat.
Pastinya, anak ini sangat cerdas. Karena dia bisa melogika dan menalar. Bahkan bisa menanyakan kepada Podin tentang tempat yang akan dituju. Dan tentunya, dia juga pandai untuk beralasan.
"Ya, lumayan .... Kita pergi ke pantai, ya pastinya menuju laut .... Apalagi kita akan ke pulau. Yang jelas nanti di sana kita berpiknik, naik perahu dan menuju pulau wisata. Di sana nanti, kita bisa menikmati indahnya pulau wisata tersebut. Dan di tengah pulau itu ada restoran yang lebih enak dari sini. Kita bisa makan enak di sana." begitu jawab Podin yang tentunya dia tidak akan menyebutkan tempat tujuannya itu. Namun yang jelas, Podin menawarkan tempat piknik yang menarik buat anak kecil, yang biasanya hanya mengemis itu. Kalau anak sekecil ini diiming-imingi dengan piknik ke tempat wisata, diiming-imingi dengan makan enak di restoran, pasti anak itu akan tertarik, dan pastinya anak itu akan mau diajak oleh Podin.
"Tapi ..., tempatnya jauh apa tidak, Om ...? Kalau jauh, nanti pulangnya bagaimana? Saya capek." lagi-lagi, anak itu masih saja beralasan.
Tentunya Podin mulai gusar dengan alasan-alasan anak itu. Ia khawatir kalau anak ini tidak mau diajak untuk pergi ke Pulau Berhala.
"Bagaimana, sih kamu itu? Kan cuman duduk di kursi mobil. Jika ngantuk tinggal tidur saja. Jika capek tinggal istirahat. Ngapain bingung? Yang nyetir kan saya .... Kamu santai saja, tidak bakalan capek. Kalau lapar, tinggal bilang, kita makan. Bagaimana?" kata Podin kepada anak itu, yang tentunya juga memikirkan kalau sampai anak itu tidak mau diajak dengan alasan jauh, maka semuanya bisa berabe. Rencananya untuk mempersembahkan anak itu di istana Pulau Berhala pasti akan gagal.
"Iya ..., Om .... Nanti saya dicari sama teman-teman saya. Masalahnya kalau malam, teman-teman saya sering ajak ngumpul, Om ..., ngajak main bersama. Kalau nanti tempatnya jauh dan saya tidak pulang-pulang, teman-teman padanya nyari, Om." begitu alasan anak itu kembali muncul. Tentunya anak itu akan takut kalau meninggalkan teman-temannya kumpul bersama. Biasa, anak-anak jalanan kalau sudah sore atau malam, dan tidak bekerja meminta-minta lagi, tidak mengemis lagi, maka biasanya dia kumpul-kumpul, dan kadang juga ada yang mengkoordinir, semacam bos yang mengaku sebagai sukarelawan pekerja sosial.
"Halah .... Sekali-sekali tidak kumpul kan nggak masalah. Sekali-sekali kamu piknik kan juga tidak masalah. Masak kamu harus mengemis terus setiap hari. Kapan kamu mencari hiburan? Kapan kamu bisa bersenang-senang? Ini mumpung saya mau ke sana, pulang kampung .... Kamu saya aja sekalian untuk berpiknik ke sana. Dan tentunya nanti soal uang, tanggungan hasil kamu mengemis, saya kasih .... Tidak usah khawatir kalau kamu harus pulang membawa uang. Nanti akan saya ganti semua uang yang harus kamu bawa pulang itu. Bagaimana?" kata Podin yang tentu ia mulai memberi gambaran lagi yang lebih menjanjikan. Podin akan menanggung uang yang biasa diperoleh dari hasil mengemis. Podin akan menggantinya, bahkan bila perlu mau menambahnya.
"Bagaimana, ya ...? Sebenarnya saya kepengen piknik ke pantai .... Apalagi kalau sampai diajak pergi ke pulau naik kapal, saya itu kepingin naik kapal untuk pergi ke pulau itu. Tapi nanti teman-teman saya, bagaimana kalau mencari saya?" lagi lagi, anak laki-laki kecil itu sudah pandai melogika, memikirkan kemungkinan-kemungkinan, membuat berbagai macam alasan, dan tentunya sekarang teman kumpul-kumpulnya yang dijadikan alasan.
"Halah .... Kamu itu loh, anak kecil kok sudah senang kumpul-kumpul dengan teman-teman. Sebaiknya kamu itu sekali-sekali piknik .... Sekali-sekali bergembira .... Sekali-sekali senang-senang .... Sekali-sekali refreshing cari hiburan .... Jangan mikirin kumpul sama teman. Belum tentu temanmu juga berpikir sama seperti kamu. Pasti teman kamu juga ada yang diam-diam pergi bersenang-senang tanpa sepengetahuan kamu." begitu kata Podin yang mulai menggiring anak itu agar mau ikut dengannya.
__ADS_1
"Ya ..., Om .... Saya ikut piknik sama Om .... Tapi nanti di mobil saya boleh tidur ya, Om .... Terus kalau lapar, kita makan lagi ya, Om ...." kata anak laki-laki kecil itu, yang akhirnya menuruti ajakan Podin.
"Naaah .... Begitu .... Itu namanya berpikir panjang .... Jarang kamu punya kesempatan bertemu dengan orang seperti saya, yang mau mengajak makan di restoran ..., ngajak piknik .... Semuanya gratis." kata Podin yang tentu hatinya menjadi girang, karena apa yang direncanakan bakal terlaksana. Podin akan mengajak bocah pengemis itu berwisata ke Pulau Berhala. Bahkan untuk menyenangkan anak itu, agar tidak ribut di jalan, Podin pun memborong banyak jajanan, yang tentunya disediakan untuk anak yang susah diajak piknik itu. Ya, demi lancarnya skenario yang sudah disusunnya.