PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 42: KORBAN PERSEMBAHAN


__ADS_3

    Podin sudah sampai di pantai, tempat yang biasa ia gunakan untuk menunggu perahu yang menjemputnya, pantai di seberang Pulau Berhala. Podin yang sudah mengajak Dewi anaknya itu, ia sudah merasa senang, karena akan mempersembahkan anaknya pada malam bulan purnama di Pulau Berhala.


    Sore itu, Podin sudah siap membawa Dewi. Podin sudah siap untuk mengajak anaknya menuju ke Pulau Berhala. Podin siap untuk mempersembahkan anaknya kepada penguasa Pulau Berhala.


    Podin berdiri di tempat yang berbatu, di bawah gubuk yang selalu ia gunakan untuk menunggu perahu yang akan datang menjemputnya. Ia menunggu tukang perahu yang akan pengantarnya ke Pulau Berhala. Podin menunggu bersama anaknya. Ya, tangan Podin memegangi lengan anaknya. Ia khawatir kalau anaknya hilang lagi.


    "Kita mau ke mana, Pak ...?" tanya Dewi yang dipegang oleh bapaknya.


    "Kita akan menyeberang ke pulau itu ...." jawab Podin sambil menunjuk ke arah Pulau Berhala.


    "Memang di pulau itu ada apanya ...?" tanya Dewi kepada bapaknya.


    "Kita akan berwisata di pulau itu, kita akan naik perahu untuk menuju pulau itu .... Di sana kita bisa menyaksikan istana yang indah, kita bisa beli-beli makanan yang enak-enak ...." kata bapaknya sambil memeluk anaknya, tentu sambil berharap perahunya segera datang.


    "Di mana perahunya, Pak ...?" tanya Dewi pada bapaknya.


    "Tunggu dulu sebentar .... Tunggu saja di sini, sebentar lagi nanti pasti perahunya akan datang." jawab Podin menyabarkan anaknya.


   Tentu Podin yang ingin membawa anaknya untuk dikorbankan, ia sangat merahasiakan apa yang akan dilakukannya di sana. Podin tidak ingin rencananya yang akan dilakukan untuk mempersembahkan anaknya kepada penguasa Pulau Berhala tersebut gagal lagi. Makanya, Podin merayu anaknya dengan bernbagai iming-iming. Dewi dijanjikan akan diajak melihat istana yang sangat megah, dijanjikan akan diajak makan-makan di tengah pulau. Bahkan juga akan diajak jalan-jalan mengelilingi pulau itu. Pasti Dewi merasa senang. Pasti anaknya merasa gembira. Setidaknya dia ingin naik kapal yang dapat mengantarkannya ke pulau itu.


    Podin tentu sangat senang, harapannya akan terkabul untuk membawa anaknya. Podin akan mempersembahkan anaknya di Pulau Berhala itu. Pastinya Podin nanti akan menyaksikan bagaimana koin-koin emas, bagaimana perhiasan-perhiasan, bagaimana intan permata berjatuhan dari batu kisaran itu mengucur dan masuk ke dalam peti-peti harta karun yang ada di bawah batu kisaran itu, harta karun yang dimasuk-masukkan oleh para ponggawa pembawa peti itu.


    Podin sudah merasa senang, pasti nantinya akan mendapatkan harta kekayaan yang sangat banyak jumlahnya. Lantas Podin menggenggam erat tangan anaknya itu, tentunya ia tidak ingin anaknya melepaskan diri dari pegangannya. Dia tidak ingin anaknya pergi lagi seperti yang dulu itu. Ia pun tidak ingin rencananya gagal lagi seperti dahulu, ketika anak-anaknya pergi meninggalkan dirinya dan menghilang begitu saja. Sehingga saat itu, ia hanya bisa menyaksikan orang-orang yang mendapatkan harta kekayaan dalam jumlah yang berlimpah, sedangkan Podin kala itu hanya bisa menggigit jarinya.


    "Mana kapalnya, Pak ...? Kok lama ...?!" kembali Dewi bertanya kepada bapaknya, yang tentu ia juga sangat berharap bisa naik perahu, bisa naik kapal seperti yang dijanjikan oleh bapaknya.


    Dan tiba-tiba saja, saat Dewi menanyakan kapalnya itu, apa yang ditunggu oleh Podin dan anaknya, tukang perahu itu sudah datang menghampirinya. Tukang perahu itu sudah ada di depannya.


    "Itu dia .... Kapalnya sudah datang ...." kata bapaknya yang menunjukkan perahu yang datang kepada anaknya.


    Tentu Podin langsung gembira, langsung senang, karena apa yang diharapkannya nanti akan terlaksana, apa yang diinginkan akan terkabulkan. Podin pun bergegas untuk mengajak anaknya naik ke perahu yang dikayuh orang dengan pakaian jubah panjang serta caping keropak itu, serta memegang galah yang panjang.


    "Dewi ...." tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggil Dewi.


    Maka Dewi langsung menoleh, Dewi ingin tahu siapa orang yang memanggil namanya itu.  Dan saat ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya, kebetulan saat itu bapaknya juga sedang akan meloncat ke perahu, karena perahu yang menjemputnya sudah tiba, dan tukang perahu itu pun sudah sangat dekat di tempat bapaknya berdiri.


    "Ayo ..., cepat kita berangkat ...." begitu kata tukang perahu itu, yang sudah meminggirkan perahunya di dekat tempat Podin berdiri.

__ADS_1


    Makanya, Podin langsung meloncat ke atas perahu itu, dan tangannya pun tetap menggandeng tangan anaknya. Ia tidak mau kehilangan anaknya lagi. Maka Podin tidak mau melepaskan tangan kecil yang sudah dipeganginya sejak tadi.


    Namun rupanya, saat Podin melompat ke atas perahu yang menjemputnya, tiba-tiba ada keanehan yang terjadi. Tetapi keanehan itu tidak diketahui oleh Podin. Ya, saat Podin melompat ke perahu, anaknya yang ada di belakangnya itu sebenarnya tangannya terlepas. Tetapi tangan Podin tetap merasakan masih memegang tangan yang tak terlepas dari genggamannya. Podin yang tidak mau kehilangan anaknya lagi, ia pun langsung memegang erat tangan itu, dan menyeret tangan kecil itu lantas diajak melompat ke dalam perahu. Podin yang sudah yakin kalau anaknya yang akan di bawanya masuk ke dalam perahu itu, sudah ada dalam genggamannya, ia tenang dan senang. Bibirnya pun tersenyum, saking gembiranya.


    Sebentar kemudian, kapal itu pun berangkat meninggalkan tepian pantai. Perahu itu sudah menengah menuju ke Pulau Berhala. Seperti biasanya, hanya sekali dua kali tukang perahu itu mendorong galah yang ada di tangannya. Perahu itu pun sudah berjalan hingga sampai ke tepian Pulau Berhala.


    Rembulan bulat bundar, yang memancarkan sinar keemasan, sudah keluar dari langit timur. Bulan purnama yang sempurna. Bulan yang terlihat sangat besar di atas lautan. Dalam keremangan suasana senja itu, perahu yang ditumpangi Podin itu langsung menepi ke pantai Pulau Berhala. Betapa senangnya hati Podin bisa sampai ke Pulau Berhala, dengan menggandeng tangan anaknya. Dan tentunya, Podin langsung melompat dari perahu itu, sambil menggandeng tangan kecil yang digenggamnya. Podin terus melangkah, dan berjalan menuju ke tengah Pulau Berhala. Tempat yang dituju oleh Podin adalah ke istana Pulau Berhala.


    Malam memang sudah mulai gelap. Apalagi saat memasuki pulau itu. Rerimbunan hutan bakau pasti menghalangi cahaya yang akan masuk ke tengah pulai. Namun di saat bulan purnama, suasana pulau itu berubah total. Lampu-lampu bertebaran di pinggir jalan yang dilaluinya, seperti ketika malam bulan purnama yang lalu. Podin yang melintas di jalan itu, seakan ia menikmati indahnya pemandangan, seakan ia menikmati indahnya lampu-lampu di taman yang penuh warna warni dan sangat mengasyikkan. Apalagi ditambah dengan lampu yang berada di tengah pulau, yaitu halaman istana yang sangat megah, dengan gemerlap lampu yang sangat terang. Ya, kalau bulan purnama sudah mulai naik setinggi dada, setidaknya bulan purnama itu sudah seperempat jalan, suasana di Pulau Berhala itu seakan berubah total. Dan nantinya, saat bulan purnama tepat berada di atas pulau itu, itulah saat acara persembahan-persembahan di laksanakan.


    "Tuh ..., lihat .... Lampu-lampunya sangat indah .... Warna-warni tersebar di mana-mana ...." kata Podin yang tentunya ingin memberi tahu pada anaknya, agar anaknya merasa senang.


    Tentunya Podin bisa pamer dengan keindahan lampu-lampu yang ada di sepanjang jalan setapak yang dilaluinya. Memang suasana yang sangat indah, dan tentunya sangat menarik bagi anak-anak, seperti halnya Dewi yang masih duduk di bangku kelas dua SD tersebut.


    "Lihat yang di sana itu .... Cahayanya sangat terang .... Di sana itu sangat ramai .... Nah, itulah tempatnya istana yang sangat megah itu .... Pasti kamu akan terkagum-kagum .... Istana itu seperti yang ada di cerita-cerita itu .... Seperti yang ada di filem-filem itu .... Pokoknya sangat luar biasa. Pasti nanti kamu akan terkagum menyaksikannya." kata Podin yang tentu sangat bersemangat menceritakan keindahan istana tersebut.


    Podin terus bercerita, di sepanjang perjalanan itu. Tentunya ingin menunjukkan keindahan di Pulau Berhala, yang dipenuhi dengan lampu-lampu hias dan gemerlap cahaya yang sangat terang benderang. Hingga ia sampai di pelataran istana Pulau Berhala tersebut. Suasana di pelataran itu pun sudah sangat ramai, penuh sesak dengan orang-orang yang tentunya akan mempersembahkan korbanya untuk dijadikan tumbal dalam meminta harta karun kepada penguasa Pulau Berhala.


    Dan akhirnya, tibalah bulan purnama itu pada puncaknya. Bulan berada tepat di atas istana yang megah itu. Bulan memancarkan sinarnya penuh di atas istana. Dan kala itu, pintu istana pun terbuka lebar. Pintu istana itu mulai mengeluarkan cahaya yang sangat terang benderang, cahaya yang sangat menyilaukan mata bagi yang melihatnya. Dari dalam istana pun terlihat gemerlap batu-batu permata yang memantulkan sinar aneka warna dengan keindahannya.


    Orang pertama yang akan mempersembahkan korbannya sudah maju membawa anaknya, mendekat ke batu persembahan. Podin mengamati orang yang sudah bersiap mempersembahkan anaknya itu. Ia ingin tahu bagaimana cara melakukan persembahan di atas batu itu, dan tentunya Podin ingin tahu bagaimana caranya menikam leher anaknya dengan menggunakan pisau belati bermata berhala itu. Ya, pisau belati yang sangat tajam, dengan gagang yang terbuat dari emas dihiasi berbagai permata, serta pada bagian ujung gagang itu terdapat mata yang sangat aneh, seolah-olah mata itu hidup dan bisa melihat orang yang memegangnya. Itulah pisau belati mata berhala.


    Laki-laki bertubuh kurus kerempeng, melakukan persembahan di atas batu besar itu. Yang dipersembahkan hanya merupakan anak kecil, yang langsung diangkat dan digeletakkan di atas batu kisaran tersebut. Lantas dengan cekatan, laki-laki itu mengambil belati bermata berhala yang ada atas batu persembahan itu. Lantas tangannya langsung menancapkan bilah belati itu di leher anak yang dijadikan korban.


    "Aaachhhh ........" hanya sebentar terdengar jeritan lirih anak yang terbaring di atas meja batu itu.


     Seketika itu, sekali menancap pisau belati mata berhala itu pada leher anak yang sudah terbaring di batu persembahan, maka anak itu langsung terkulai tak bernyawa. Darah dari leher anak itu langsung mengalir pada batu persembahan itu, yang selanjutnya berubah menjadi harta karun seperti yang diharapkan oleh orang yang mempersembahkan korbannya.


    Ritual persembahan terjadi berkali-kali. Berbagai macam orang maju ke altar istana. Mereka mempersembahkan korban-korbannya. Mereka menimbun harta benda dan kekayaan dari kucuran darah para korbannya. Mereka semuanya memuja berhala dengan menyembelih anak-anaknya untuk ditukar dengan harta kekayaan yang diinginkannya.


    Hingga akhirnya, tiba pada giliran Podin. Ia pun langsung bersiap untuk mempersembahkan anaknya, Dewi yang masih duduk di kelas dua SD. Podin berharap, dari tubuh Dewi itu, dari leher yang akan ditebas dengan pisau belati mata berhala, nanti akan memancar darah dari lehernya, dan darah Dewi itu nantinya akan berubah menjadi harta kekayaan bagi Podin.


    Bergetar jantung Podin. Ini adalah peristiwa yang sangat mendebarkan. Baru pertama kali ini Podin akan melakukan persembahan untuk penguasa pulau berhala. Tentunya ia masih diselimuti rasa takut. Deg-degan antara akan menyembelih anaknya, sehingga ia nanti akan pulang membawa harta kekayaan yang sangat banyak jumlahnya. Tetapi juga muncul rasa iba, rasa sayang, rasa kasihan kepada anaknya. Podin mulai was-was. Mulai gemetar. Mulai bingung. Tentu karena ini adalah perbuatannya yang pertama kali akan dilakukan. ini adalah ritual tega, upacara persembahan, ritual mengorbankan anaknya. Tentu rasa hati Podin pun menjadi gemetar, karena ia sebagai seorang ayah juga merasakan cinta dan kasih sayangnya. Bahkan saat Eko, anaknya yang pertama dulu tertabrak truk saja, Podin kelabaan. Bahkan Podin juga menangis karena saking sedihnya ditinggal mati anak yang disayanginya.


    Tetapi hari ini, di malam bulan purnama, saat sang bulan menyinarkan cahayanya yang penuh tanpa terhalang oleh awan sedikit pun, yang seolah-olah cahaya bulan itu menjadi saksi dari perbuatannya untuk mengorbankan anaknya yang dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala, maka ritual persembahan itu membuatnya agak gugup, membuat Podin agak takut, dan juga agak ragu-ragu.


    "Ayo ..., cepat ...!!" teriak salah seorang ponggawa istana memerintahkan Podin yang sudah membawa korbannya itu untuk segera digeletakkan di atas batu kisaran.

__ADS_1


    Podin semakin gemetar mendengar bentakan ponggawa Istana Berhala itu. Tentunya karena Podin disuruh untuk cepat-cepat melakukan persembahannya, dan Podin pun harus segera melakukan pengorbanannya demi mempercepat proses persembahan kepada penguasa Pulau Berhala itu. Dan tentunya juga masih ditunggu oleh orang-orang lain yang akan melakukan pengorbanan seperti dirinya.


    Maka dengan tergesa-gesa, Podin langsung membawa korbannya ke tengah altar istana itu. Lantas Podin mengangkat korbannya itu, mengangkat orang yang akan dipersembahkan, mengangkat anaknya, Dewi, yang sudah ia culik pada saat berada di sekolahan. Mengangkat anaknya yang sudah dipegang terus-menerus sejak menyeberang ke Pulau Berhala. Dan Podin pun segera meletakkan calon korbannya itu di atas batu persembahan. Lantas Podin memegang pisau belati bermata berhala itu, yang akan digunakan untuk merobek leher anaknya. Namun karena Podin tidak tega menyaksikan anaknya yang akan terpenggal lehernya itu, Podin pun menutup matanya. Podin sudah bersiap melakukannya.


    "Craaakght ....!!!" pisau belati itu menghunjam leher korbannya.


    Namun, ada yang aneh terjadi di saat Podin menancapkan psau belati itu pada leher korbannya. Semua orang yang ada di tempat itu, terutama para ponggawa dan laskar-laskar yang ada di istana itu, berteriak keras.


    "Kurang ajar ....!!!! Beraninya kamu melawan apa yang diperintahkan oleh penguasa Pulau Berhala ....!!! Apa yang akan kamu lakukan, hah ....??!!" bentak para ponggawa istana.


    "Saya melakukan persembahan .... Saya melakukan pengorbanan ...." begitu jawab Podin yang tentunya bingung saat dibentak oleh para ponggawa istana tersebut. Bahkan laskar-laskar yang ada di istana itu sudah langsung mendekati Podin.


    "Ini bukan persembahan ...!! Ini bukan pengorbanan ...!! Ini penghinaan pada Sang Penguasa .... Kamu sudah menghina penguasa Pulau Berhala ...!! Berani benar kamu datang kemari untuk melakukan penghinaan kepada penguasa Pulau Berhala ...!!" para laskar itu langsung memegangi tangan Podin yang berada di atas altar bersama korbannya.


    "Saya sudah mempersembahkan korban yang terbaik .... Ini anak saya yang sangat saya cintai, yang saya sayangi. Saya korbankan anak saya tersayang di sini .... Kenapa anak kami tidak diterima menjadi persembahan ...?" kata Podin yang tentu bingung.


    Bahkan Podin juga heran, di batu persembahan itu begitu banyak darah yang keluar, begitu deras darah yang mengucur di meja persembahan, tetapi kucuran darah itu tidak berubah menjadi permata, tidak berubah menjadi perhiasan, tidak berubah menjadi koin-koin emas. Tentunya Podin sendiri juga heran, kenapa darah itu hanya mengalir begitu saja dan turun ke tempat penampungan, masuk ke dalam peti harta karun, tetapi yang mengalir masih tetap, hanya berupa darah yang cair.


    Podin yang sudah dipegangi oleh laskar-laskar istana, lantas kepalanya ditarik oleh ponggawa istana itu,  disuruh menyaksikan korban yang dipersembahkannya.


    "Lihat .... Apa ini yang kamu persembahkan ...?!! Kamu sudah menghina penguasa istana Pulau Berhala." kata ponggawa istana itu sambil masih memegangi kepala Podin yang didekatkan ke korba.


    Sungguh, betapa kagetnya Podin saat ia menengok ke meja persembahan itu, saat melihat korbannya. Ternyata apa yang dikorbankan oleh Podin itu bukanlah Dewi, yang dipersembahkan bukan anaknya. Korban yang sudah ia tikam dengan pisau belati bermata berhala di lehernya itu ternyata bukanlah anak yang dia cintai, melainkan hanyalah seekor domba kecil. Yang dipersembahkan oleh Podin hanyalah sekor domba yang tidak berdaya. Ya, domba itu hanya diam saja, bahkan menurut saja ketika dia ditarik oleh Podin, ketika ia dibawa oleh Podin, ketika dinaikkan ke atas batu kisaran itu. Bahkan saat Podin mengambil pisau belati itu, domba itu pun diam saja dan seakan-akan domba itu pasrah tanpa meronta.


    Pasti Podin mengira kalau domba yang dituntunya sejak menyeberang lautan itu adalah Dewi, anaknya. Memang sangat pas besarnya domba itu dengan anaknya. Bahkan memang seakan domba itu bverubah menjadi Dewi. Maka ketika domba itu diseret dan diletakkan di batu kisaran, mata Podin seakan mengangga domba itu adalah anaknya. Tentu Podin tidak tahu sama sekali, bahkan juga tidak mengerti kalau yang disembelihnya adalah seekor domba.


    Para ponggawa dan laskar-laskar istana yang marah, langsung menangkap Podin. Namun begitu tahu kalau dirinya ditangkap, yang pastinya nanti akan dihukum atau dipenjara di Pulau Berhala, maka Podin seketika itu langsung memberontak. Podin berusaha melepaskan diri dari pegangan laskar-laskar yang menangkapnya. Podin berusaha lari untuk menyelamatkan diri. Podin takut akan mendapatkan hukuman dari penguasa Pulau Berhala. Podin takut, pasti ia akan dihukum, dan hukumannya pasti akan lebih berat seperti halnya para penghuni Pulau Berhala yang tanpa kepala, yang berkeliaran dan dijadikan sebagai bahan bangunan istana itu. Demikian juga kepalanya, pasti akan ditata di jalanan, seperti halnya korban-korban yang dipersembahkan itu.  Kepala-kepala itu nantinya akan dijadikan sebagai jalan di Pulau berhala.


    Podin yang membayangkan kejamnya hukuman itu, makanya ia berusaha untuk melarikan diri dari dalam istana itu, melarikan diri sekencang-kencangnya. Melarikan diri dari Pulau Berhala.


    Akhirnya, begitu bisa melepaskan diri dari cengkeraman para laskar, Podin terus melarikan diri. Tentu menuju ke pantai, dan tentu ia akan menyelamatkan diri dengan cara meninggalkan Pulau Berhala. Podin akan mencari perahu yang setiap kali mengantar dan menjemput dirinya.


    Namun tentunya tidak semudah itu untuk melarikan diri dari kejaran para laskar yang jumlahnya tidak sedikit. Berkali-kali ia melarikan diri dengan cepat, Podin yang sudah berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi di belakangnya tetap saja ada laskar-laskar yang mengejarnya. Podin dikejar oleh banyak laskar. Podin dikejar oleh para punggawa. Yang pasti mereka itu akan menangkap dan menghukum Podin.


    Tetapi Podin bukanlah orang bodoh. Dia sangat licik. Podin yang berniat untuk melarikan diri itu tidak mau ditangkap begitu saja. Ia tidak mau mati konyol. Ia tidak mau mendapatkan hukuman. Maka Podin pun larinya semakin kencang. Dan saat itu, ketika ia melihat ada benda semacam perahu, mungkin perahu yang rusak. Podin langsung menyaut, untuk mengambilnya, lantas didorong menuju laut. Podin pun langsung berusaha menjalankan perahu itu semampunya. Tentunya ia mendayungnya sekuat tenaga, agar cepat sampai ke daratan.


    Akhirnya Podin sampai di pantai seberang. Akhirnya Podin terselamatkan. Lega rasanya bisa selamat dari kejara para laskar dan ponggawa istana berhala tersebut.

__ADS_1


__ADS_2