PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 84: MASALAH LAGI


__ADS_3

    Setelah merasa nyaman, setelah badannya tersa segar, setelah pikirannya tenang, akhirnya Podin mengajak istrinya kembali pulang ke kampung halaman. Dan setidaknya, Podin sudah sanggup menyetir dengan leluasa,  tidak stress lagi, setelah semuanya dipaparkan oleh karyawannya bagian keuangan, yang menyatakan bahwa semua tempat usahanya itu ternyata sudah diasuransikan, dan semua itu akan di cover oleh pihak asuransi untuk mengganti semua kerugian. Bahkan juga, termasuk untuk pengobatan pengunjungnya, yang mengalami luka bakar. Namun katanya, luka bakar itu juga tidak terlalu parah, sehingga tidak begitu membahayakan serta hanya mendapatkan perawatan yang tidak begitu mahal.


    Podin merasa tenang, merasa nyaman dan merasa senang, kalau ternyata karyawannya itu, perempuan muda yang bekerja di bagian keuangan, memang pandai dan bisa diandalkan untuk mengelola usahanya. Maka Podin pun pasrah dengan perempuan muda yang mengelola keuangan itu. Bahkan setelah diberitahu kalau usahanya itu akan diserahkan sepenuhnya untuk dikelola oleh perempuan muda yang mengelola bagian keuangan itu, tentu perempuan muda itu senang. Karyawannya itu tenang dan juga akan mengelolanya semaksimal mungkin dan sebaik mungkin.


    Akhirnya Lesti berberes dan bersiap pulang ke kampungnya. Mulai menata barang-barang bawaannya.


    "Kita bersiap, Lesti .... Nanti check out dari hotel ini jam sebelas. Kita akan berangkat jalan pelan-pelan saja. Nanti sambil mencari makan siang di rumah makan. Saya ingin makan yang bisa membuka selera. Kita  menikmati makan siang yang enak, agar energi saya bisa terkumpul kembali, dan tenaga saya dalam badan ini bisa kembali segar, agar nanti kita kembali ke rumah bisa nyaman dan tidak begitu capek." kata Podin kepada istrinya, tentunya Lesti pun setuju dengan ajakan suaminya.


    "Ya, Kang .... Saya akan mengemasi pakaian kita ke dalam koper .... Nanti saya akan segera mandi untuk bersiap pulang." begitu kata Lesti kepada suaminya, dan dia segera berkemas-kemas bersiap untuk pulang.


    Akhirnya, Podin pulang menuju kampung halaman, ke rumah Lesti di Padalarang. Seperti yang direncanakan pada saat akan cek out dari hotel, Podin pun mengajak Lesti untuk makan siang di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta, yang tentunya sambil menikmati suasana yang enak dan nyaman, untuk refreshing. Sengaja Podin mengajak Lesti untuk menikmati hidangan-hidangan masakan ikan di daerah Cibubur, di rumah makan yang berada di tepian alam terbuka dengan tanaman-tanaman yang masih rimbun dan sangat alami. Rumah makan itu memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Tentu Podin sangat betah dan senang di rumah makan itu. Menikmati hidangan ikan bakar yang tentu rasanya akan sangat nikmat kalau dimakan di tempat aslinya, yaitu di daerah pinggir sungai dan danau.


    Sengaja Podin mengajak Lesti ke tempat yang tentunya belum pernah dikunjungi oleh Lesti. Setidaknya mengajak istrinya berwisata, untuk melepas penat, untuk melepas pikiran yang kacau. Dan setidaknya Podin pun sudah bisa merasa lega, karena kata-kata dari perempuan karyawan bagian keuangan yang memberikan harapan baru tentang tempat usahanya itu. Setidaknya, Lesti kini percaya, kalau Podin memang benar-benar punya tempat usaha yang bergerak di bidang dunia hiburan, dan pastinya nanti Lesti yang akan berhubungan dengan karyawannya Podin, yang sewaktu-waktu pasti akan mengirimkan hasil keuntungan dari usaha suaminya.


    Matahari sudah jauh berjalan ke langit barat. Dan sebentar lagi akan terbenam, ketika Podin bersama Lesti sampai di rumah. Podin pun langsung memasukkan mobil ke halaman rumah. Maklum, di rumah Lesti tidak ada garasi. Tetapi setidaknya halaman rumahnya sudah cukup luas untuk memarkirkan mobil.


    Lesti yang turun dari mobil, langsung membawa kopernya dan barang-barang bawaannya masuk ke rumah. Demikian juga Podin, setelah menutup pintu mobilnya dan mengunci, ia pun ikut dengan istrinya masuk ke rumah. Ddan tentu, kedatangan mereka langsung disambut oleh ibunya Lesti, yang tentunya sudah menunggu dari hari-hari kemarin. Ya, Lesti pergi ke Jakarta bersama Podin tiga hari lamanya. Walau Lesti tidak jadi minta piknik atau jalan-jalan di Jakarta. Yah, itu semua karena suaminya sedang banyak kepikiran dengan usahanya.


    "Lesti .... Kamu sudah pulang .... Syukurlah, kamu cepat pulang .... Bagaimana keadaan Jakarta?" kata ibunya yang tentu ingin tahu cerita dari anaknya tentang Jakarta.


    "Iya ..., Bu .... Jakarta macet, Bu .... Penuh sesak dengan mobil .... Ini ..., ada oleh-oleh buat Ibu sama Bapak .... Ini juga, ada ikan bakar untuk kita makan bersama. Bapak sama Ibu, sudah makan apa belum?" tanya Lesti sambil memberikan oleh-oleh dari Jakarta dan juga membawakan ikan bakar yang dibelinya dari rumah makan di pinggir Cibubur.


    "Terima kasih, Lesti .... Kami memang menunggu kalian .... Maunya makan bareng kalian ...." sahut ibunya. Tentu walaupun seperti itu, Lesti dianggap anak yang tahu dengan orang tua, anak yang baik, anak yang perhatian dengan bapak dan ibunya. Lesti kalau bepergian selalu mengingat orang tua. Lesti masih setia, Lesti masih memperhatikan orang tuanya. Apalagi ketika ia punya suami Podin, yang uangnya pasti banyak dan berlimpah, dan Podin tidak pernah menghitung untuk memberikan uang itu kepada istrinya, dan Podin tentunya merasa senang karena Lesti tidak pernah menuntut ataupun meminta, tetapi justru Podin yang memberikannya. Ya, karena Boden sudah merasa senang dengan Lesti, makanya apapun ia berikan kepada istrinya. Termasuk ketika ia makan, dia ingat dengan mertuanya, karena saat di rumah, Podin selalu diajak makan oleh mertuanya itu. Setidaknya di rumah pun mertuanya sudah membantu memasak, menyiapkan makanan untuk dirinya.


    "Wah .... Banyak sekali, Lesti .... Ini kamu beli di mana? Di Jakarta?" tanya ibunya.


    "Kang Podin, Bu .... Kang Podin yang belikan untuk Ibu dan Bapak .... Ayo ..., kita makan Pak, Bu .... Kita makan bersama-sama." ajak Lesti yang langsung menghadapi meja makan.


    "Mana suami kamu ...? Bapak ..., ayo .... Saya sudah laper .... Tadi sengaja tidak makan, nunggu kalian ...." kata ibunya Lesti.


    "Ayo, Kang Podin .... Sini makan .... Ayo makan bersama dengan Bapak dan Ibu ...." kata Lesti yang tentunya langsung memanggil suaminya.


    Lesti pun membantu ibunya untuk menata makanan di meja makan. Ya, malam itu akhirnya Lesti bersama Pudin, dan juga ibu dan bapaknya, makan bersama-sama. Pasti rasanya nikmat. Terasa lezat dan terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


    Namun tiba-tiba, ibunya Lesti berkata pada anaknya, "Lesti .... Saat kemarin kamu berangkat ke Jakarta,  adikmu, si Joni, datang kemari." kata perempuan tua itu pada anaknya.


    "Memang kenapa, Bu? Mau apa mencari saya?" tanya Lesti yang sudah mulai curiga dengan adiknya sendiri. Semenjak kecil, dua orang kakak beradik itu memang tidak pernak akur.


    "Iya, Lesti .... Sebenarnya Joni, adikmu itu, ingin ketemu dengan kamu .... Ya, sama ibu dan bapak." tiba-tiba saja ibunya menghentikan pembicaraannya itu, bahkan juga menghentikan makannya. Pasti ada sesuatu yang tentu mengganjal dalam pikirannya.


    "Memang kenapa, Bu ..., si Joni datang kemari mencari saya ...? Kemarin waktu saya nikah saja, dia tidak mau datang ...." kata Lesti yang tentu masih ingat, ketika pernikahannya, adiknya itu tidak mau datang, bahkan sampai satu bulan pernikahan, Joni juga tidak datang untuk menengok kakaknya yang sudah berumah tangga.


    "Iya, Lesti .... Ini perlu kamu ketahui juga Podin, bahwa si Joni itu adiknya Lesti, sudah rumah tangga, sudah punya anak, tinggal di tempat istrinya. Kemarin dia datang kemari. Tetapi perlu kalian ketahui bahwa Joni punya niatan lain. Dia tidak memberi ucapan selamat pada kamu .... Tetapi dia malah menanyakan masalah rumah inim yang saya berikan kepada kalian. Rumah ini, yang kita tempati." kata bapaknya yang juga sudah mulai angkat bicara untuk membahas masalah adiknya Lesti, si Joni yang datang ke rumah itu.


    "Memang kenapa si Joni menanyakan rumah ini? Ada masalah apa dengan rumah kita?" tanya Lesti pada bapaknya.


    "Joni mau meminta warisan lagi .... Dia minta bagian dari rumah yang kita tempati ini. Dia minta warisan tanah dan rumah ini. Joni menghendaki tanah yang ada rumahnya ini dibagi dua." kata bapaknya kepada Lesti.


    "Kok begitu? Bukannya si Joni sudah diberi warisan? Sudah diberi tanah yang cukup luas?" kata Lesti kepada bapaknya.


    "Tetapi rupanya Joni itu mah, masih merasa kurang .... Dia bilang, katanya Bapak dan Ibu tidak adil dalam membagi warisan. Katanya dia cuman dapat bagian yang harganya murah. Sedang kamu dapat lebih besar. Makanya dia datang kemari meminta bagian lagi, tanah dan rumah yang kita tempati ini." kata bapaknya kepada Lesti.


    "Ya belum, Lesti .... Saya bilang sama si Joni, besok nunggu kamu datang, biar kita bisa bicara bersama, biar kita semuanya bisa berembug, biar nanti bagaimana masalah warisan ini bisa diatasi bersama-sama dengan adil, dengan baik dan tidak ada pertengkaran di antara keluarga." begitu kata bapaknya yang menjelaskan kepada Lesti.


    "Kok begitu ...?! Itu justru yang namanya tidak adil, Bapak ..., Ibu .... Masak Joni sudah dikasih warisan sebegitu luasnya, kok masih minta lagi? Terus kalau rumah ini dibagi, tanah ini dibagi, nanti kita akan tinggal di mana, Pak?" kata Lesti yang tentu mulai emosi, karena merasa akan dirugikan dan akan dizalimi oleh adiknya sendiri yang serakah dan tamak,  dengan meminta banyak warisan.


    "Ya ..., seperti itulah, Lesti .... Makanya saya bingung .... Saya tidak bisa apa-apa, Lesti. Makanya saya minta si Joni bisa bicara lagi masalah warisan itu kalau ada kamu .... Supaya kamu juga mau memberi pendapat." begitu kata ibunya, yang menimpa apa yang sudah dijelaskan oleh bapaknya.


    "Dasar manusia serakah .... Semua warisan mau diminta .... Mau nemu apa orang itu ...?! Nanti kalau sudah dihukum sama Tuhan, baru dia tahu rasa." kata Lesti yang mengumpat pada adiknya.


    "Jangan begitu, Lesti .... Tidak baik .... Kasihan .... Si Joni itu kan juga adik kamu, jangan kamu bersumpah serapah, tidak baik .... Nanti kalau sampai terjadi apa-apa, bagaimanapun juga, kamu yang ikut merasakan .... Kkasihan pada adik kamu. Dia itu adik kamu, Lesti." Podin ikut menimbrung.


    "Adik macam apa ...?! Orang serakah, orang maunya menang sendiri. Dasar adik biadab yang tidak tahu diri. Pasti dia diperalat oleh istrinya. Istrinya saja tidak pernah datang kemari, istrinya saja tidak pernah mengurusi mertua .... Wanita macam apa itu .... Dasar si Joni payah, kalah sama istrinya." begitu Lesti yang masih emosi, tentu dia akan mengatakan adiknya itu orang yang tidak baik.


    "Sudah, Lesti .... Jangan emosi seperti itu .... Tidak baik .... Apalah artinya warisan ini .... Tidak usah kamu pikirin ...." tiba-tiba Podin memberi nasehat kepada istrinya, agar tidak memikirkan maslah warisan.


    Mendengar ucapan suaminya itu, Lesti pun mulai mengendurkan emosinya. Dia mulai duduk tenang, dan bisa menahan bicaranya, bisa menahan emosinya.

__ADS_1


    "Tapi, Kang .... Kalau rumah ini diminta, kita mau tinggal di mana?" kata Lesti yang tentu bingung.


    "Iya .... Kalau rumah ini diminta Joni, saya tidak mau tinggal bersama istrinya .... Istrinya itu orang jahat ...." kata ibunya yang seakan sudah tidak mau tinggal bersama menantunya.


    "Ibu mau tinggal di mana?" tanya Lesti.


    "Lebih baik tinggal di kolong jembatan, dari pada serumah dengan menantu jahat itu." jawab ibunya.


    "Nah, Kang Podin .... Ibu saja tidak mau tinggal bersama menantunya itu .... Terus, kalau rumah ini jadi diminta, kita bagaimana?" tentu Lesti semakin bingung.


    "Biar saja .... Ikhlaskan .... Nanti kita yang pindah rumah .... Kita yang mengalah. Biar tidak terjadi pertengkaran gara-gara rebutan warisan." kata Podin lagi.


    "Lah, iya, Kang .... Tapi kita mau tinggal di mana?" tanya Lesti yang semakin bingung.


    "Kalau Lesti mau, Bapak dan Ibu tidak keberatan ..., kita pindah ke ruko .... Saya belikan ruko. Nanti di ruko itu sekalian untuk tempat usaha Lesti ...." kata Podin yang tentu membuat Lesti gembira.


    "Hah ...?! Yang bener, Kang ...?! Akang Podin mau beli ruko ...?!" Lesti yang hingar bingar itu seakan tidak percaya dengana apa yang dikatakan oleh suaminya.


    "Ruko itu apa ...?" tanya ibunya yang tentu tidak mengerti. Maklum orang tua.


    "Ruko itu rumah dan toko, Bu .... Rumah untuk tempat kita tinggal, yang di situ juga dipakai untuk toko, buat jualan ...." kata Lesti yang menjelaskan kepada ibunya.


    "Wah ..., enak itu .... Saya mau .... Nanti kalau butuh apa-apa di toko tinggal ngambil. Hehehe ...." Ibunya senang dengan pemahamannya yang terbatas sebagai orang kampung yang sudah tua.


    "Trus ..., rukonya ada di mana, Kang?" tanya Lesti pada suaminya, yang tentu ingin tahu.


    "Ada ..., di dekat kota .... Itu, yang mau masuk ke kota ...." kata Podin, yang rupanya saat pulang dari Jakarta tadi, Podin sudah mengamati kanan kiri.


    "ASik .... Lesti mau, Kang ...." kata Lesti yang langsung senang.


    "Berarti ..., warisan ini kamu lepas .... Kamu ikhlaskan?" tanya bapaknya.


    "Apalah artinya berebut warisan .... Itu justru akan menambah masalah kita .... Tidak hanya masalah dengan keluarga .... Tetapi nanti akan jadi bahan pembicaraan orang lain, para tetangga .... Bikin malu ...." begitu kata Podin yang ternyata juga punya sisi baik.

__ADS_1


__ADS_2