PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 148: BENARKAH CINTA?


__ADS_3

    Podin pun sudah sampai di Jakarta, sampai di halaman parkir tempat usahanya, sampai di depan gedung karaoke miliknya. Dan tentu seperti biasa, Bang John, petugas bagian keamanan itu langsung mendekati mobil Podin yang baru saja datang. Bang John tentu hafal dengan mobil bosnya. Pasti Bang John mengucap salam kepada bosnya itu, sambil mengatur mobil bosnya itu. Ya, walaupun ketika parkir di halaman gedung karaoke itu,  mobil Podin tampak yang paling jelek. Pastinya tamu-tamu yang berdatangan sore itu, yang pada parkir di halaman gedung karaoke itu, mereka mengendarai mobil-mobil yang mewah. Bagus-bagus dan terlihat kinclong, karena masih baru.


    "Selamat sore, Pak Bos ...." begitu sapa Bang John saat melihat bosnya itu keluar dari mobil.


    "Iya, Bang John .... Ramai, ya ...." sahut Podin yang baru saja keluar dari mobilnya.


    "Lumayan, Pak Bos ...." jawab Bang John, yang tentu sambil tersenyum.


    "Cik Melan, ada ...?" kata Podin yang menanyakan bendaharanya.


    "Ada, Pak Bos .... Cik Melan di atas. Baru beberapa jam yang lalu Cik Melan datang. Katanya dari rumahnya Pak Bos yang di Parung .... Kok tadi tidak bersamaan saja ke sininya?" kata Bang John.


    "Iya .... Cik Melan sudah terlanjur sewa taksi .... Diantar taksi dari Jakarta pulang pergi. Mau saya ajak bareng, dia bilang kasihan sama sopir taksi yang sudah dipesan, tidak enak kalau tidak dinaiki." jawab Podin yang tentu memberi alasan yang tepat.


    "Pak Bos ..., coba Pak Bos lihat mobil yang parkir di halaman gedung kita ini .... Di halaman tempat karaoke kita ini .... Semuanya bagus-bagus, Pak Bos .... Mewah-mewah .... Kecuali mobilnya Pak Bos .... Hahaha ...." Bang John meledek bosnya. Tentunya dia membandingkan mobil yang pada parkir di gedung karaoke itu dengan mobil bosnya sendiri.


    "Ya .... Bandingannya antara kakek dan cucu ...." sahut Podin.


    Pastinya, memang mobil Podin sudah sangat tua. Dan mobil para tamu pengunjung karaoke itu masih baru lahir, bahkan masih ada yang pakai plat nomor putih, itu baru saja keluar dari dealer. Sudah ganti generasi berkali-kali. Dan tentu model mobil yang keluar sekarang, bagus-bagus dan keren-keren.

__ADS_1


    "Ketinggalan zaman, Pak Bos ...." sahut Bang John sambil nyengir mengejek.


    "Tidak masalah, Bang John .... Yang penting mobil saya itu masih bisa jalan lancar. Walaupun umurnya sudah tua, tapi mobil itu tunggangannya masih nyaman, masih enak, dan tidak rewel, Bang John." kata Podin yang tentu beralasan dengan mobil yang dimilikinya itu.


    "Wah ..., Pak Bos itu nggak Prestige .... Masak, Pak Bos yang punya gedung usaha karaoke ini, malah mobilnya kalah sama para tamu yang berdatangan ke sini. Itu malu-maluin, Pak Bos .... Setidaknya kalau Pak Bos punya mobil mewah, tamu-tamu yang berdatangan ke sini dengan mobil-mobil mewah itu semakin banyak, Pak Bos .... Dan itu, Pak Udin ..., uang mereka yang dia bawa ke tempat karaoke ini, yang akan dihabiskan untuk berkaraoke, pasti tidak tanggung-tanggung, Pak Bos .... Tapi kalau mobil Pak Bos seperti itu, setidaknya tamu-tamu yang datang, uangnya juga pas-pasan, Pak Bos .... Paling hanya satu dua saja mobil yang bagus. Tapi kalau misalnya Pak Bos pakai mobil mewah, dan mobil Pak Podin itu sering parkir di halaman gedung karaoke ini, Pak Bos ..., pasti orang-orang pada berdatangan kemari. Orang-orang kaya, orang-orang berduit, orang-orang yang membawa mobil-mobil mewah, mereka butuh wisata, Pak Bos .... Mereka butuh eksistensi, ingin memamerkan mobilnya yang mewah dan uangnya yang banyak, Pak Podin .... Nah, kita yang mengeruknya. Setidaknya, kalau mereka bayar parkir tidak meminta kembalian .... Hehehe ...." begitu kata Bang John, walaupun hanya bekerja sebagai tenaga keamanan, tetapi setidaknya otaknya juga tetap jalan.


    "Loh ..., Pak Podin kok ikut nyusul ke Jakarta?" tiba-tiba terdengar suara perempuan yang sudah berada di halaman parkir tempat karaoke itu, ya, suara Cik Melan yang tentu menyambut kedatangan Podin yang sudah sampai di Jakarta juga.


    "Iya .... Ada yang ingin saya bicarakan." kata Podin yang langsung menghampiri Cik Melan, dan selanjutnya mereka berdua naik ke lantai dua. Tentu ke ruangannya. Di sana tentunya Podin akan leluasa untuk mengungkapkan isi hatinya, terutama terkait dengan masalah getaran hati di dalam diri Podin terhadap Cik Melan.


    Dan benar, setelah sampai di ruang kerja Podin, mereka duduk berdua saling berhadapan di meja kerja Podin.


    "Anu ..., Cik .... Anu ...." Podin dalam keadaan gugup, tentu sangat sulit untuk menyampaikan isi hatinya, apalagi kali ini Podin benar-benar tidak berani untuk mengutarakan niatan isi hati itu kepada Cik Melan. Sehingga ada kikuk, ada kebingungan, ada sesuatu yang sangat sulit untuk diungkapkan oleh Podin. Meskipun mereka hanya duduk berdua tanpa ada orang lain yang mendengar, dan bahkan saling berhadapan sangat dekat serta saling pandang di ruang kerja Podin yang tertutup rapat itu.


    "Saya .... Saya ..., anu, Cik .... Saya ...." Podin masih juga belum bisa mengutarakannya.


    "Ada apa, Pak Podin ...? Coba Pak Podin tarik nafas dulu, biar lega, biar Pak Podin bisa bicara secara lancar." kata Cik Melan memberi instruksi kepada bosnya.


    Tapi Podin belum juga bisa bicara lancar. Masih gaguk. Bahkan menjadi bingung.Tentu hal itu juga membuat Cik Melan ikut bingung.

__ADS_1


     "Saya mohon maaf, Pak Podin ..., kalau sekiranya tadi, saya mengganggu Pak Podin yang masih bersenang-senang. Karena bukan maksud saya untuk mengganggu kesenangan Pak Podin, tetapi ini tadi terkait dengan tugas saya, urusan saya dengan pihak pengembang." kata Cik Melan yang tentu dia meminta maaf, karena merasa sudah mengganggu ketentraman dan kesenangan bosnya saat berada di rumahnya bersama perempuan-perempuan yang tak terhitung jumlahnya.


    "Bukan begitu, Cik .... Bukan seperti itu .... Saya justru yang harus minta maaf. Saya keliru. Saya minta maaf." kata Podin yang masih bingung untuk mengutarakan kata-kata yang ingin disampaikan kepada Cik Melan.


    Memang tidak ada apa-apa, tapi kenyataannya kali ini Podin tidak bisa bicara secara leluasa kepada Cik Melan itu. Tidak seperti biasanya yang selalu lancar dalam bicara, terutama sebagai seorang pemilik usaha karaoke kepada karyawannya.


    "Maksud aku, kedatangan Pak Podin kemari sebenarnya ada apa? Apakah ada bangunan rumahnya yang harus dikomplen? Apakah ada yang mengganggu? Atau ada masalah dengan saya, Pak Podin?" kata Cik Melan yang tentu menanyakan maksud tujuan memanggilnya, menemuinya, bahkan berdua di ruang kantornya.


    "Bukan masalah sih .... Aku sayang .... Eh, saya ..., saya bingung .... Tidak .... Bukan .... Saya tidak berani mengatakannya." kata Podin yang berterus terang kalau dirinya sedang bingung dan tidak berani mengutarakan isi hatinya.


    "Memang ada apa, Pak Podin? Apa mungkin ada suatu masalah tentang saya sebagai karyawan Bapak? Katakan saja, Pak .... Kalau memang saya salah, saya minta maaf. Kalau memang saya harus dipecat karena saya sudah mengganggu kesenangan Pak Podin, saya sudah siap, Pak." begitu kata Cik Melan yang tentunya dia sangat bijak, dan merasa keliru sudah mengganggu bosnya yang sedang bersenang-senang denga para tamunya. Bahkan kalau memang itu dianggap keliru, dia sanggup untuk diberhentikan atau dipecat dari kerjanya.


    "Bukan begitu, Cik Melan ....Saya tidak mungkin memecat Cik Melan. Tempat usaha ini yang mengurusi Cik Melan. Bahkan setiap kali ada masalah, yang menyelesaikan juga Cik Melan. Bahkan ketika usaha kita diambang kebangkrutan, Cik Melan yang bisa mengatasinya. Maksud saya itu, saya hanya ingin mengatakan .... Anu ...." Podin kembali berhenti berkata-kata. Tentu ia tidak berani untuk menyampaikan kata-kata yang saat ini mengganjal dalam hatinya.


    Memang, Cik Melan tidak sama dengan Maya. Kalau dulu Maya sengaja merayu Podin, mengejar-kejar Podin, bahkan menunjukkan seronohnya kepada Podin agar bosnya waktu itu tertarik dan tergoda. Tetapi Cik Melan bukan tipe perempuan seperti itu. Seakan dia tidak butuh suami. Perempuan yang posesif. Padahal sudah cukup usia, sudah sangat matang. Tetapi seakan tidak mau mengejar atau dengan sengaja mengobral dirinya untuk laki-laki.


    "Pak Podin, katakan apa saja .... Silahkan saja kalau memang ada sesuatu yang terkait dengan diri saya, yang harus saya terima. Sanksi apapun, hukuman apapun, saya sudah siap, Pak Podin." kata Cik Melan yang tentu dia berpikiran kalau bosnya itu marah kepada dirinya, karena sudah mengganggu kesenangannya bersama perempuan-perempuan di rumahnya. Pikiran itu tentunya masih menghantui perasaan Cik Melan.


    "Tidak, Cik .... Bukan itu .... Tapi saya tidak sanggup mengutarakannya, kalau sebenarnya saya suka sama Cik Melan. Saya tidak berani bilang kalau sebenarnya saya cinta sama Cik Melan." begitu kata-kata Podin yang tercuat tanpa sadar dari mulutnya.

__ADS_1


    Tentunya, Cik Melan langsung mendengar kata-kata itu. Kata-kata suka, kata-kata cinta. Pastinya itu yang hendak diutarakan oleh Podin kepada Cik Melan. Namun tentunya, kata-kata itu justru langsung membuat Cik Melan menundukkan kepalanya. Kini giliran Cik Melan yang tidak sanggup untuk bicara. Tidak sanggup untuk berkata-kata. Tidak sanggup untuk menjawab. Bahkan Cik Melan juga tidak berani lagi menatap wajah Podin.     Ya, kata-kata sayang, kata-kata cinta yang tanpa sadar keluar dari mulut Podin itu, sudah meruntuhkan hati Cik Melan. Baru kali ini ia mendengar kata-kata sayang, kata cinta dari bosnya kepada dirinya. Padahal sebenarnya,  hati Cik Melan sudah lama menunggu kata-kata itu. Dan tentu, kerja keras Cik Melan untuk memajukan usaha karaoke ini, tentunya karena Cik Melan juga mengharap, kalau bosnya itu akan suka kepada dirinya.


    Dan kini, ketika Podin mengatakan hal itu, ternyata Cik Melan justru bingung sendiri. Bagaimana menjawabnya? Benarkah seperti itu yang namanya cinta?


__ADS_2