PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 149: MENIKAH LAGI


__ADS_3

    Akhirnya setelah Podin sanggup menyampaikan rasa perasaan cintanya kepada Cik Melan, tentunya Cik Melan tidak sanggup menolak apa yang dikatakan oleh bosnya itu. Bahkan perasaan hatinya sangat senang bisa mendapatkan suami bosnya sendiri. Dan itu juga yang sebenarnya menjadi beban Cik Melan, untuk bisa meyakinkan kepada bosnya, bahwa ia telah bersusah payah menyelamatkan tempat usahanya, semuanya itu demi Podin.


    Namun satu masalah yang di alami oleh Podin, yaitu dalam melangsungkan acara pernikahan. Tentunya Cik Melan tidak mau dinikah secara siri, dan juga dia tidak mau menikah dengan cara yang tidak sah. Karena di dalam ajaran kepercayaan, menurut agama yang dianutnya, menikah itu hanya sekali dalam hidup, dan tidak untuk berdua atau bertiga suami. Tetapi hanya satu suami, dan tidak boleh dipisahkan untuk selamanya, kecuali oleh kematian saja.


    Memang, dalam ajaran Cik Melan, ibarat kata perempuan itu adalah tulang rusuk dari laki-laki, yang dikembalikan menjadi istri untuk bersanding di sisi kirinya. Seperti itulah pada hakekatnya ajaran yang diterima oleh Cik Melan, bahwa manakala Nabi Adam yang sendirian di Taman Eden, tanpa mempunyai jodoh seperti halnya binatang-binatang yang ia beri nama. Dan masing-masing binatang yang datang kepadanya adalah sepasang, yaitu betina dan jantan. Tetapi saat itu, Nabi Adam yang seorang diri, ia pun mempertanyakan kepada Tuhan, lantas siapa jodohku? Pada saat itulah, Tuhan menidurkan Nabi Adam, dan selanjutnya Tuhan mengambil salah satu tulang rusuk sebelah kiri yang dimiliki oleh Nabi Adam, kemudian oleh Tuhan tulang rusuk itu ditiup, dan jadilah wanita yang cantik. Dan itulah jodoh bagi Nabi Adam, yaitu Hawa.


    Tentu Cik Melan yang mengikuti ajaran dalam kepercayaannya itu, dalam keyakinannya ia percaya bahwa setiap manusia memiliki jodoh satu persatu. Dan setiap manusia akan mendapatkan jodohnya masing-masing. Demikian juga Cik Melan, meski boleh dikatakan agak terlambat, yang ternyata harus berjodoh dengan Podin.


    Tentunya, Podin tidak bisa mengelak. Podin tentu tidak bisa membantah. Podin tentu tidak bisa menolak permintaan dari cemilan, kalau ia harus mengikuti ajaran dan keyakinan serta kepercayaan yang diikuti oleh Cik Melan. Maka Podin harus menikah dengan Cik Melan secara sah di kantor catatan sipil, dan memperoleh pemberkatan di depan seorang pendeta. Podin menikah secara tatanan agama Cik Melan.


    Hari itu, adalah hari pernikahan Podin dengan Cik Melan. Pasti walaupun tidak besar-besaran, ada pesta pernikahan. Itulah tradisi masyarakat untuk mengumumkan sahnya sebuah pernikahan. Yaitu sah berdasarkan hukum agama, sah berdasarkan tata aturan pemerintah, dan sah oleh pengakuan dari masyarakat, yaitu sanak saudara, dan para tetangga.


    Dan tentunya, semua teman-teman yang ada di tempat usaha karaoke milik Podin itu, ikut bersenang-senang,  ikut merayakan pesta pernikahan antara Cik Melan sebagai karyawati di tempat karaoke itu, bersama dengan bosnya sendiri, yaitu Podin pemilik tempat hiburan karaoke itu. Tentunya, walaupun tidak diadakan pesta besar-besaran, namun tempat karaoke itu, gedung usaha milik Podin tersebut penuh sesak dan ramai. Semua karyawan, semua pemandu karaoke, semua orang yang ikut terlibat dalam usaha karaoke, para tetangga di sekitar tempat itu, bahkan ada juga para langganan berkaraoke, hari itu bersenang-senang. Hari itu mereka berpesta. Tidak hanya makan-makan, tetapi juga menyanyi, berjoget, bergembira bersama.


    Senyum lebar mengembang di bibir Podin. Tentu ia sangat senang bisa menikah dengan seorang perempuan karyawatinya sendiri, yang dari dulu ia menganggap sebagai gadis cantik, gadis pintar, dan gadis yang selalu menyelamatkan perusahaannya. Ya, itulah Cik Melan, yang sejak dulu digadang-gadang oleh Podin untuk bisa mengembangkan tempat usahanya itu. Dan kini, tentu Podin yang sudah senang, yang sudah memendam rasa terhadap Cik Melan itu, kini terlaksana untuk menikahi karyawatinya sendiri.


    Tetapi tentunya berbeda dengan saat menikahi Maya. Kedudukannya pun berbeda juga dengan Maya. Ya, kalau Maya adalah perempuan dengan profesi sebagai pemandu karaoke, tidak pernah mengerti tentang bagaimana seluk beluk mengatur keuangan usahanya. Makanya, Maya hanya bisa berfoya-foya, hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Hal ini sangat berbeda dengan Cik Melan, yang saat usahanya akan mengalami kebangkrutan, yang saat usahanya sedang mengalami musibah kebakaran, Cik Melan inilah yang bisa mengatur segalanya. Bahkan ia rela berkorban demi tempat usaha itu agar bisa berjalan dan bisa menghidupi dirinya beserta dengan teman-temannya.

__ADS_1


    Tentu Podin bangga dengan karyawatinya yang cantik itu. Dan sekarang akan lebih bangga lagi, karena Cik Melan sudah menjadi istrinya. Dan tentunya seluruh tempat usaha itu, nantinya semua kegiatan usaha yang ada di gedung karaoke itu, pastinya oleh Podin akan diserahkan sepenuhnya kepada Cik Melan. Podin tentunya sudah pasrah. Podin tentunya sudah percaya. Dan Podin tentunya yakin, kalau tempat usaha itu diberikan sepenuhnya kepada Cik Melan, yang kini menjadi istrinya, pasti akan meningkat pesat tanpa harus meminta uang dari dirinya. Ya, keyakinan itu tergambar dalam wajah Podin yang selalu tersenyum dan kelihatan gembira.


    "Selamat ya, Pak Podin ...."


    "Selamat, Bos ...."


    "Selamat, Cik Melan ...."


    "Selamat, Cik ...."


    "Wah ..., ini yang namanya Bos bisa menggaet karyawatinya yang paling cantik ...."


    Teman-temannya, para karyawan, para tetangga, sanak dan saudara, menyalami dan memberi ucapan selamat kepada Podin bersama Cik Melan, yang tentunya mereka bangga, mereka senang ketika menyaksikan pasangan suami istri itu, yang tentu bahagia.


    Podin yang mengenakan setelan jas beludru warna merah hati, dengan dasi warna hijau, terlihat sangat tampan, sangat keren. Pasti itu jas yang sangat mahal harganya. Dan tentu bagi Podin hal itu tidak masalah. Karena uang bagi Podin tidak perlu ditanya. Mau minta berapa saja, Podin sanggup memberikannya.


    Sedangkan Cik Melan, gadis berkulit putih yang cantik itu, mengenakan gaun pengantin warna putih, yang sangat menambah keangguan Melan. Gaun yang sangat indah, gaun yang terbuat dari kain sutra dengan bordiran yang indah bertumpuk-tumpuk rempelnya. Kemudian di bagian kepalanya, masih mengenakan hiasan kepala semacam pita yang berumbai dari kain putih dan pita Jepang yang juga berwarna putih. Sangat serasi dengan dandanannya yang cantik. Tidak begitu menor, tetapi sudah terlihat sangat cantik. Yah, memang Cik Melan gadis yang cantik. Hanya sedikit polesan make up saja, pasti sudah terlihat sangat cantik. Dan tentu semua temannya iri menyaksikan pengantin yang selalu tersenyum bahagia itu. Apalagi bagi perempuan-perempuan yang setiap hari berada di gedung karaoke itu, terutama para pemandu karaoke, tentunya mereka iri dengan Cik Melan. Tentu mereka iri, karena Podin si pemilik tempat hiburan karaoke itu, orang yang kaya raya itu, bisa ditaklukkan dan menjadi suami Cik Melan. Padahal kalau bicara rayuan, mestinya para pemandu karaoke itu lebih jitu dan lebih lihai. Mereka sudah biasa merayu laki-laki hidung belang. Namun yang namanya cinta, tidak bisa dibilang seperti itu. Apalagi bagi Podin yang biasanya dikejar-kejar perempuan, kini dengan Cik Melan. Podin justru bertekuk lutut dengan kepribadian Cik Melan.

__ADS_1


    Ya, Cik Melan adakah perempuan yang beruntung, perempuan yang baik, perempuan yang bisa diandalkan untuk mengelola perusahaan, perempuan yang cerdas dan pandai. Dan tentunya, Cik Melan adalah perempuan yang bisa mengatur keuangan perusahaan. Itulah sebabnya, sehingga Podin pantas kalau jatuh cinta kepada Cik Melan.


    "Selamat, ya .... Pengantin baru, semoga Samawa."


    "Tuhan memberkati ...."


    "Selamat .... Semoga bahagia kekal abadi ...."


    "Selamat menempuh hidup baru Cik ...."


    "Wah ..., Pak Podin hebat .... Dapat istri muda yang sangat cantik ...."


    "Terima kasih ...."


    Begitu para teman, sanak saudara, dan para tamu undangan yang pada datang, memberi ucapan kepada Cik Melan dan Podin. Kebanyakan para tamu ini memang kenal dekat dengan Podin dan Cik Melan. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang sering berkunjung ke tempat karaoke itu. Dan hari itu, memang tempat hiburan karaoke milik Podin dibebaskan. Siapapun boleh masuk untuk ikut berpesta, bernyanyi dan bersenang-senang. Semuanya boleh bergoyang dan berjoget, bergembira ria. Karena hari itu adalah hari pesta pernikahan Podin dan Cik Melan. Pestanya yang senagaja menggunakan gedung karaoke itu, untuk merayakan pesta pernikahannya, dan tentunya itu semua dilakukan oleh Podin, demi menyenangkan karyawannya, demi bergembira bersama dengan para karyawan, dan tentunya juga para pelanggan karaoke yang sudah sangat akrab di situ.


    Sebenarnya Podin memang orang yang baik. Orang yang murah hati. Orang yang suka memberi. Itulah Podin yang sesungguhnya. Apalagi hari itu dia sedang berbahagia. Podin tidak segan-segan untuk memberikan apa saja yang pantas ia suguhkan kepada para tamunya. Meski katanya hanya pesta kecil-kecilan, nyatanya semua makanan tersaji dalam hidangan di pesta itu.

__ADS_1


    Podin sudah menikah lagi. Kali ini ia menikah dengan perempuan yang pintar dan cerdas. Karyawatinya yang bisa diandalkan.


    Akankah kehidupan Podin akan berubah? Atau semakin parah?


__ADS_2