
Kondisi Podin sudah mulai membaik. Podin sudah bisa diajak bicara, meskipun belum begitu lancar untuk menjawab ataupun berkata-kata. Suster yang merawat Podin mengatakan kepada Cik Melan, kalau kondisi Podin yang sakit seperti ini nanti, pemulihannya agak lama. Boleh dikatakan sakit ini semacam serangan stroke ringan. Tetapi belum sampai mengkhawatirkan. Dan pastinya kondisi Podin nanti akan pulih seperti biasa.
"Tidak usah khawatir, Bu .... Bapak Podin baik-baik saja .... Nanti pasti kesehatannya akan pulih seperti sedia kala." kata suster perawat yang sedang memeriksa kondisi Podin.
"Terima kasih, Suster ..., atas bantuannya selama ini." sahut Cik Melan yang tentu senang mendengar penghiburan dari Suster itu.
"Ini, Pak Podin .... Sarapan paginya sudah siap .... Dimakan sampai habis, ya ..., Pak .... Biar cepet sembuh, cepat sehat, cepat boleh pulang ...." kata seorang suster bagian konsumsi, yang baru saja masuk ke ruang Podin, mengantarkan makanan ransum untuk para pasien. Dan tentu saat masuk ke ruangan Podin, suster itu pun meminta agar pasiennya itu segera memakan sarapan yang sudah disediakan. Tentu mereka ramah-ramah semuanya, bertujuan agar pasien yang sedang sakit termotivasi dan segera pulih kesehatannya.
"Iya, terima kasih, Suster." jawab Cik Melan yang tentunya berterima kasih sudah disediakan sarapan untuk suaminya.
Lantas Cik Melan mengambil piring yang berisi bubur dengan lauk opor ayam itu, untuk disuapkan kepada suaminya.
"Pah ..., makan yuk .... Biar sehat, biar cepet sembuh, biar cepet dibolehkan pulang .... Tidak tidur di rumah sakit terus .... Saya sudah bosan mendengar orang pada menangis, mendengar orang pada sedih .... Bahkan kadang-kadang ada yang menjerit-jerit karena kesakitan .... Enakan di rumah kita sendiri, sepi dan nyaman .... Ayo, Pah ..., saya suapin ...." kata Cik Melan yang pasti memberikan kemesraan dan kelembutan kepada suaminya, sambil menyuapkan sarapan pagi yang sudah dibagikan oleh suster bagian konsumsi.
__ADS_1
"Sedikit saja, Mah ...." kata Podin yang menerima suapan dari istrinya.
Tentunya, Podin menuruti kata-kata istrinya. Dan Podin pun meninggikan kepalanya, yang diganjal dengan bantal dan guling. Tentunya biar memudahkan saat makan. Lantas menerima suapan dari istrinya, sarapan bubur yang diberikan oleh pihak rumah sakit, yang tentunya itu untuk kesehatan, agar Podin cepat pulih kesehatannya.
Ya, memang sementara ini, tiang penyangga infus masih berada di bed tempat tidur, dan botol infus itu masih menggantung di sana. Itu artinya bahwa Podin masih harus mendapatkan cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya, asupan gizi yang banyak memasukkan, serta obat-obatan agar kondisi tubuhnya segera pulih, agar kondisi tubuhnya segera kembali sehat. Tentunya, saat Podin yang digondol oleh gerhana, Podin yang hilang semalaman dan ketemu sudah bersandar di dahan pohon dalam kondisi tak sadarkan diri hingga sampai dua hari dua malam, Podin yang berada di Rumah Sakit pun juga belum menyadarkan dirinya, bahkan sempat dikatakan Podin dalam keadaan koma, yang tentu sudah membuat hati Cik Melan terataban, khawatir, karena kalau sampai suaminya tidak tertolong, maka ia pasti akan menjadi janda.
Akhirnya, setelah mendapatkan doa dari pendetanya, didoakan oleh para jemaat yang ikut membezuk Podin, maka saat itu Podin menerima pertolongan dari Tuhan. Podin bisa siuman, dan Podin bisa sadar. Bahkan saat ini, walaupun keadaan Podin masih dalam kondisi yang sangat lemas, ia sudah bisa bicara. Ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Setidaknya Podin sudah mulai membaik kesehatannya. Tinggal menunggu waktu, yang tentunya untuk memulihkan kesehatan itu tidaklah hal yang mudah. Apalagi kondisi Podin seperti itu. Sempat juga dikatakan kalau dirinya mengalami gejala stroke. Setidaknya, di dalam dunia medis, penyakit yang diderita ini adalah stroke ringan.
Ya, tetapi fakta lain mengatakan bahwa malam itu di saat terjadi gerhana bulan, Cik Melan melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau suaminya di malam itu jatuh dari tempat tidur, dan seakan tubuh suaminya itu diseret oleh makhluk gaib yang tidak kelihatan mata, yang dibawa masuk ke dalam kamar Ruang Rahasia milik Podin, yang tidak boleh dimasuki oleh siapa saja. Tetapi kenyataannya, setelah Cik Melan mencari suaminya ke dalam kamar itu, kenyataan yang ia alami, yang ia lihat, suaminya menghilang begitu saja.
Dan yang lebih aneh lagi adalah ketika Podin ditemukan tersampir di dahan pohon besar dan tinggi. Yah, ini seperti diluar nalaer manusia. Podin yang menghilang di dalam kamar, tetapi ditemukan di atas dahan pohon yang tinggi. Itulah realita. Ingin tidak percaya, kenyataannya semuanya terjadi seperti itu. Dan bahkan itu memang sangat aneh. Tidak bisa dinalar dengan akal pikiran manusia biasa.
Tetapi berdasarkan keyakinan orang-orang di kampungnya, Podin dimakan gerhana, saat terjadi gerhana bulan. Biasanya, masyarakat desa melakukan pemukulan kentongan pada saat terjadi gerhana, agar si gerhana tersebut tidak mengganggu kehidupan warga. Tidak menggondol anaknya, hingga tidak memakan tanaman pertanian miliknya. Maka pada saat terjadi gerhana, ada juga warga yang memukul batang-batang pohon, agar tanamannya tidak dimakan.
__ADS_1
Namun rupa-rupanya, Podin oleh warga kampung tidak menghiraukan peristiwa gerhana itu. Mungkin juga Podin tidur sejak sore. tidak ada aktivitas untuk menghalau gerhana yang mendekat ke rumahnya. Apalagi rumah Podin sangat jauh dari para tetangga. Tentu sunyi dan sepi. Makanya Podin dimakan oleh gerhana itu. Karena mungkin gerhana itu kemungkinan tidak kuat membawa tubuh Podin, maka hanya dihisap bagian dalamnya saja. Dan sisa tubuhnya itu diletakkan di atas dahan pohon. Beruntung tubuh Podin masih utuh, tidak ada yang hilang. Tidak ada yang termakan. Tidak ada yang dibawa pergi oleh gerhana. Mungkin saat sang gerhana akan membawa tubuh Podin, orang-orang sudah ramai memukul kentongan, karena Cik Melan yang berteriak menjerit minta tolong. Makanya warga kampung langsung beramai-ramai mengusir gerhana dan mencari tubuh Podin yang digondol. Seandainya saja gerhana jahat itu berhasil memangsa tubuh Podin, maka kemungkinan besar Podin tidak akan ditemukan. Dan mungkin juga tubuh Podin sudah tercabik-cabik atau mengalami luka berat.
Namun kenyataannya, meski tubuh Podin masih utuh, walaupun ia harus mengalami sakit semacam tidak sadarkan diri, sempat dinyatakan sekarat, Podin masih beruntung tubuhnya masih utuh. Tetapi warga Kampung pun berpendapat juga kalau Podin sudah seperti dihilangkan ingatannya. Biasanya, orang kampung yang mengalami hal seperti itu, mengalami nasib dimakan gerhana, kalaupun tubuh itu masih utuh, tidak ada yang cacat, tetapi biasanya dia akan menjadi orang gila.
Tetapi bagi Cik Melan yang sudah meyakini agama kepercayaannya sejak bayi, yang kemarin hari juga datang ke rumahnya bersama pendeta dan para Jemaat lainnya, yang memeriksa kamar rahasia yang dimiliki oleh suaminya, yang melihat tempat yang di keramatkan oleh Podin, justru mempunyai pandangan lain, kalau tempat itu adalah tempat bersekutunya Podin dengan makhluk-makhluk berhala, makhluk-makhluk yang dibenci oleh Tuhan, makhluk-makhluk yang harus disingkirkan jauh-jauh oleh anak-anak Tuhan.
Ya, Cik Melan pun berpikiran, kalau suaminya itu sebenarnya sudah bersekutu dengan setan. Tetapi tentunya ia belum mengerti apa yang sudah dilakukan oleh suaminya selama ini. Apa yang sudah diperbuat oleh Podin sehingga ia harus mengalami siksaan seperti itu. Mungkin Podin harus menderita sakit, Podin harus menderita stroke, Podin harus menderita seperti kekurangan ingatan, itu semua peringatan dari Tuhan. Mungkin Tuhan menunjukkan perbuatan suaminya kepada Cik Melan. Dan pastinya, Cik Melan harus bisa menyadarkan suaminya, menunjukkan terang dari Kristus, membawa ke jalan kebenaran.
Dalam keadaan seperti itu, Cik Melan selalu berdoa, agar Tuhannya selalu memberikan kemudahan pada suaminya, memberikan kesehatan kepada suaminya, memulihkan semua tenaga yang ada pada tubuh suaminya. Dan terutama, agar Tuhan menyadarkan perbuatan suaminya yang menyimpang dari ajaran Kristus. Cik Melan percaya dan yakin, pasti Tuhan akan membantu, Tuhan pasti akan menolong.
Yah, itu adalah keyakinan Cik Melan. Seperti pepatah yang ia baca dari kitab sucinya, iman sebesar biji sawi bisa memindahkan gunung. Apalagi, setelah ia bisa mengajak suaminya masuk ke gereja, membawa suaminya percaya kepada Tuhannya, maka Cik Melan pun percaya, bahwa pertolongan dari Tuhan itu sangat-sangat kuasa dan ampuh untuk memberikan kemudahan kepada suaminya.
Cik Melan tidak peduli dengan kata-kata warga masyarakat, yang menganggap Podin stroke, Podin hilang ingatan, otak Podin dimakan gerhana, bahkan ada juga yang memperkirakan kalau Podin nanti pasti jadi orang kurang waras alias gila. Ada juga yang menyarankan kepada Cik Melan untuk pergi mencari dukun agar bisa menyembuhkan suaminya. Cik Melan tidak menghiraukan itu semua. Ia tetap berdoa dan percaya kepada Tuhan. Cik Melan yakin, pasti Tuhan akan menolongnya.
__ADS_1