PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 58: MENATA WARUNG


__ADS_3

    Kota Jakarta memang semakin menakutkan bagi Podin. Terutama kalau harus berdekatan dengan gedung hiburan, tempat karaoke miliknya, pasti Podin terbayang oleh Maya. Perempuan mantan pemandu karaoke yang harus ia kawin siri. Tetapi bukan sebagai istri sirinya, melainkan setiap kali Podin ketemu Maya, maka tidak ada kata-kata lain dari mulut Maya yang keluar, selain minta uang.


    Ya, ibarat kata, Podin sudah hancur-hancuran setelah menikahi Maya. Walau statusnya hanya sebagai istri siri, tetapi Maya lebih berkuasa untuk mengatur Podin. Bahkan Podin sampai tega mengusir istrinya yang sah bersama dengan anak-anaknya, hanya gara-gara rumahnya harus dijual untuk memenuhi kebutuhan Maya. Setelah menikah dengan Maya, seakan Podin dilupakan segalanya dengan keluarganya. Tidak hanya itu, tetapi Podin juga tega membuat istri dan anak-anaknya hidup sengsara. Semuanya itu demi Maya.


    Namun kini, setelah Podin mendapat ganti istri yang lebih muda, yaitu Rina, meski predikatnya hanya sebagai janda, dan kerjanya juga hanya sebagai pelayan rumah makan. Tetapi yang dirasakan oleh Podin, Rina jauh lebih baik untuk diajak berumah tangga.


    Itulah sebabnya, maka Podin berusaha untuk lari meninggalkan Maya, dan ingin membina rumah tangga yang tentram bersama Rina. Podin tidak ingin mengingat lagi Maya. Bahkan Podin merelakan semua barang yang sudah diberikan kepada Rina, termasuk tempat usahanya. Memang, rumah dan mobil mewahnya sudah diatas namakan Maya. Tentu tidak mungkin diminta lagi oleh Podin. Itulah pandainya Maya untuk menggasak harta kekayaan Podin. Tetapi, masalah tempat hiburan, usaha karaokenya, itu masih harus setor ke pemilik awal. Biar saja Maya yang bertanggungjawab. Kalau nanti angsuran modalnya tidak dibayar, biar yang punya akan meminta balik tempat usaha itu.


    Akhirnya, Podin dan Rina jadi berpindah rumah. Podin membeli rumah baru di luar Kota Jakarta, di kampung pinggiran, di daerah Teluk Jambe, kawasan Karawang, yang meski sudah masuk wilayah Jawa Barat, tetapi masih ramai dengan suasana metropolitan. Karawang yang dulu terkenal dengan sebutan lumbung padi, kini yelah berubah menjadi kota industri yang ditumbuhi pabrik-pabrik dengan aneka hasil produksi. Ya, Podin tinggal di daerah pinggiran industri itu, yang tentunya masih ramai dengan para karyawan pabrik. Podin memilih beli rumah di perkampungan yang sudah mulai ramai.


    Seperti sedia kala, Podin dan Rina yang sudah berkonsultasi dengan Bu Hendro, memang ingin mengembangkan usaha berjualan warung makan. Tentunya Podin tergiur menyaksikan larisnya warung makan Bu Hendro. Apalagi istrinya, Rina, juga sudah berpengalaman di bidang warung makan, karena sudah ikut menjadi pembantunya di Bu Hendro cukup lama. Ya, sama seperti Bu Hendro, ia ingin melayani para pekerja pabrik, untuk urusan makan.


    Rumah yang dibeli Podin itu memang tidak begitu besar. Tetapi Podin sengaja memilih rumah yang memiliki halaman yang cukup luas. Dengan harapan halaman itu yang kemudian akan didirikan kanopi-kanopi sebagai atapnya, untuk tempat makan. Dan Podin pun langsung memasang kanopi, sehingga halaman itu semuanya tertutp atap lanopi. Dan halaman itu pun menjadi tempat yang teduh, dan jika hujan tidak kehujanan. Kemudian di bagian bawah kanopi itu juga diplester. sehingga terlihat rata dan halus. Kemudian dipasangi meja serta kursi kursi. Ya, tentunya meja dan kursi untuk makan para pembeli di warungnya.


    Sementara itu, Rina mulai sibuk menata perkakas peralatan-peralatan dapur, peralatan masak. Mulai dari piring, gelas, sendok, garpu, termasuk panci-panci serta wajan penggorengan, yang semuanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan memasaknya. Termasuk juga menyiapkan kompor-kompor gas. Ada dua kompor gas. Rina ingin menyiapkan peralatannya itu, sama seperti dengan miliknya Bu Hendro. Ya, tentunya itu dari pengalaman Rina yang diperoleh dari warung makannya Bu Hendro.


    Podin juga sudah menyuruh tukang untuk membuatkan lemari rak tempat menaruh aneka macam panci tempat sayuran serta lauk pauk. Yang tentunya di situ nanti para pembeli bisa memilih jenis sayur dan lauk pauk.


    Di dapur sudah terpajang lemari es dan freezer box. Tentunya nantinya untuk menyimpan sayuran serta daging dan bahan-bahan masakan lainnya. Selain itu, Rina juga akan menyiapkan es batu sendiri. Biar tidak kekurangan. stok es batu. Karena biasanya para karyawn itu minumnya es teh atau es sirup. Katanya biar segar.


    Podin dan Rina menyiapkan warung makannya secara maksimal. Setidaknya nanti di sana, Rina bisa berjualan bersama suaminya seperti seakan menyaingi Bu Hendro yang ada di Jakarta. Ya, Rina tidak mau kalah, apalagi saat didukung oleh suaminya yang ingin membantu segalanya. Dalam hati kecilnya, Rina memang ingin punya warung makan sendiri, tidak hanya bergantung kepada Bu Hendro. Tetapi memang, untuk membuka usaha warung makan, tentu butuh modal yang lumayan besar. Beruntung Podin mendukungnya.


    Demikian juga Podin, ia berusaha untuk mencari rezeki secara baik, mencari rezeki dengan cara bekerja keras, mencari rezeki yang penuh dengan usaha, mencari rezeki yang mengeluarkan keringat. Ya, Podin sudah berpikir tidak mungkin untuk terus-terusan datang ke Pulau Berhala. Podin tidak mungkin untuk terus-terusan mengorbankan kepala-kepala bocah-bocah yang tak berdosa. Bahkan Podin sudah niat di dalam hatinya, ingin merubah hidupnya, dari hidup yang hanya bergantung kepada harta benda dan kekayaan dari istana Pulau Berhala, dan kini ia ingin mencoba menata hidupnya bersama Rina, istrinya yang baru beberapa bulan dinikahi itu, dan mengajak untuk berwirausaha dengan cara berjualan makanan, membuka warung makan di pinggiran kota Karawang.

__ADS_1


    "Bagaimana, Rin ..., apakah seperti ini sudah cukup? Apakah sudah layak untuk tempat makan yang nyaman? Apakah ini kira-kira para pembeli, para pelanggan kita nanti akan senang berada di tempat kita ini?" begitu tanya Podin yang sambil menunjukkan tempat yang nantinya akan digunakan untuk makan para pembelinya. Ya, kanopi yang sangat luas di halaman rumahnya itu semuanya sudah dipasangi dengan meja-meja serta kursi-kursi. Walaupun hanya sederhana, tetapi sudah memenuhi syarat sebagai tempat untuk makan bagi para karyawan pabrik.


    "Wah ..., Mas ..., ini bagus, Mas .... Tempatnya Bu Hendro kalah kalau dibandingkan dengan ini, Mas .... Jumlah mejanya sama kursinya saja banyak punya kita .... Tempatnya juga luas tempat kita. Wah ..., ini hasilnya pasti nanti akan lebih banyak dari tempatnya Bu Hendro, Mas ...." begitu kata Rina yang tentu dia senang menyaksikan rencana warung makan yang sudah dipersiapkan oleh suaminya. Senyum pun langsung mengembang di bibirnya.


    "Untuk urusan dapurnya, bagaimana? Apakah peralatan dan perlengkapan dapur sudah siap semuanya? Apa yang kurang? Mumpung kita belum mulai buka, supaya nanti tidak kebingungan. Kalau kita sudah buka ternyata masih ada yang kurang, masih ada yang dicari, harus kita persiapkan dari sekarang, Rina." begitu kata Podin yang menanyai istrinya tentang persiapannya perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan di dapur.


    "Iya, Mas .... Ini untuk piring, sendok garpunya kita menyediakan lima puluh, termasuk gelas, kita juga menyiapkan empat dosen." kata Rina yang menjawab pertanyaan suaminya.


    "Wah, Rin ..., apa tidak kurang sebanyak itu? Kok cuman segitu?" kata Podin yang mendengar kalau peralatan makannya hanya sejumlah lima puluh buah saja. Dikhawatirkan nanti akan kurang. Karena kalau pas ramai, misalnya jam istirahat atau jam pulang kerja, biasanya pembeli itu datang silih berganti. Dan tentunya akan repot kalau piringnya kurang.


    "Lhah ..., apa perlu ditambah lagi, Mas?" tanya Rina pada suaminya.


    "Ya kalau memang harus ditambah, ya kita tambah. Kita beli lagi tidak masalah, Rin .... Supaya nanti pembeli- pembeli kita itu tidak menunggu, tidak antri. Sehingga begitu mereka datang, terus kita sodorin sajian makanan yang siap. Jadi mereka tidak menunggu-nunggu, tidak harus ngantri." begitu kata Podin yang tentunya juga memberi pendapat kepada Rina.


    "Nah ..., terus masalah dapurnya bagaimana? Kompor, panci dan lain sebagainya bagaimana? Apa sudah cukup?" tanya Podin lagi, terkait dengan persediaan peralatan dapur.


    "Kalau panci, saya kira sudah cukup, Mas .... Terus tempat-tempat sayuran seperti baskom, juga sudah cukup. Hanya mungkin yang perlu kita tambah itu tabung gasnya, Mas .... Karena ini kompornya kita punya dua, kalau tabung gasnya cuman satu kan nanti sebentar dipakai langsung habis. Nah kalau perlu kita belinya dua lagi, sehingga kita punya serep, punya cadangan, Mas .... Jadi kalau nanti gas yang satu habis, langsung dibelikan. Jadi yang satunya masih bisa dipakai. Begitu, Mas ...." itu jawab Rina, yang akhirnya bahwa dia akan menambah tabung gas.


    "Ya ..., okelah .... Nanti kita tambahi. Pokoknya yang penting kita usaha itu komplit. Usaha kita itu siap betul. Walaupun nanti sambil jalan, sambil nanti kita menambah sana sini, biasanya begitu, Rin ...." kata Podin yang seakan-akan dia sok tahu.


    "Iya, Mas ...." sahut Rina yang tentunya sangat senang. Karena ia akan membuka usaha sendiri, tidak lagi hanya sekadar menjadi pembantunya Bu Hendro. Walaupun enak, tetapi uangnya cuman dari bayaran saja yang besarnya tidak sebenrapa. Namun kalau usaha sendiri, apalagi suaminya mau membantu, pasti nanti untungnya lumayan besar.


    "Ya, sudah .... Ini saya mau istirahat dulu .... Badan saya capek ...." kata Podin yang langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


    Rina pun langsung kembali menata peralatan warungnya. Tentu dengan rasa senang, dan sambil bersenandung karena saking bungahnya. Ya, ternyata tanpa disangka-sangka, suaminya itu baik hati. Dan juga tidak mengira sebelumnya, kalau ternyata suaminya itu juga punya tabungan yang lumayan banyak, sehingga bisa membeli rumah dan juga menyiapkan usaha untuk membuka warung. Bahkan saat Rina mencoba menawarkan uang tabungannya untuk tambah-tambah usaha, tetapi ditolak oleh suaminya. Katanya uang Rina biar tersimpan di tabungan saja, untuk jaga-jaga kalau dibutuhkan mendadak. Tentu hal itu menambah Rina lebih senang.


    Namun tiba-tiba, saat Rina menata barangnya, dan menengok ke halaman depan, ada hal aneh yang sempat diperhatikan olehnya. Saat Rina menata barang-barangnya termasuk perlengkapan perkakas yang ada di dapur, ia melihat di depan rumahnya ada seorang bocah kecil. Anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh yang tampak memelas. Ya, Rina pasti mengira anak itu adalah pengemis. Setidaknya anak itu disuruh  oleh ibunya untuk meminta-minta. Anak itu berdiri di gerbang masuk, tepat menghadap pintu rumah Rina yang memang saat itu terbuka. Kebetulan saat itu siang hari, saatnya orang makan. Pasti anak itu butuh makan.


    Rina memandangi anak kecil itu. Pastinya anak itu kelaparan dan butuh untuk diberi sesuap nasi. Otomatis Rina, wanita yang baik itu tidak tega melihat anak kecil yang memelas di depan rumahnya itu. Maka Rina pun mengambil sedikit makanan beserta lauk pauk yang dibungkus rapi, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik kresek. Lantas ia melangkah menuju ke depan rumahnya itu, dan memberikan bungkusan makan itu kepada anak perempuan yang berdiri memelas itu.


    "Ya ampun .... Kamu tampak memelas, lapar, ya .... Ini, Nduk ..., makan buat kamu .... Silakan dimakan, biar tidak kelaparan." begitu kata Rina, saat memberikan nasi bungkus kepada anak kecil yang ada di depan halaman rumahnya.


    Anak itu diam tidak menjawab. Tetapi tangannya menggapai bungkusan yang diberikan oleh Rina tersebut. Setelah bungkusannya diterima, Rina pun kemudian kembali ke tempat dapurnya tanpa menghiraukan anak itu. Namun setelah menoleh ke arah depan, anak itu sudah hilang, tidak terlihat lagi.


    Hari berlalu. Podin dan Rina tentunya masih belum selesai untuk menyiapkan warung makannya. Mereka masih menata berbagai peralatan. Bahkan juga menata meja kursi yang nantinya akan dijadikan tempat makan. Hari kedua, saat Rina masih menata sayuran untuk siap-siap masak pagi, Rina ingin memulai mencoba masak menggunakan peralatan warungnya itu, kembali saat melihat keluar, ke arah depan rumahnya, Rina menyaksikan anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh yang kemarin ia beri nasi bungkus itu, sudah berada di depan rumahnya lagi. Kebetulan saat ke pasar, Rina membeli nasi bungkus. Rencananya untuk dibuat sarapan. Namun karena rasa belas kasihannya kepada anak itu, kembali Rina memberikan nasi bungkus kepada anak itu.


    Ya, anak itu menerimanya. Diam tanpa kata-kata. Rina pun tidak mau menanya. Niatnya hanya ingin memberi makanan untuk anak yang terlihat kelaparan itu.


    Namun, baru saja Rina menoleh, anak itu sudah hilang. Tentunya Rina bingung. Ke mana perginya anak itu? Rina menengok ke segala penjuru. Tetapi tidak juga menemukan anak itu.


    "Ach ..., kemana anak tadi ...? Baru saja diberi makan, kok langsung menghilang .... Apa tinggalnya di dekat sini, ya ...?" gerutu Rina yang merasa heran dengan hilangnya pengemis cilik tersebut.


    "Ada apa, Rin ...?!" tanya Podin yang keluar rumah, melihat istrinya yang tolah-toleh kebingungan.


    "Ndak papa, Mas .... Ini, lho .... Tadi ada anak kecil yang mengemis, baru saja saya kasih nasi bungkus, dianya langsung menghilang .... Pergi entah ke mana ...." jawab Rina, yang kemudian melangkah masuk menuju dapur, untuk melanjutkan masaknya.


    "Nggak usah terlalu dipikirin .... Kalau kami berbaik terus, pasti besok anak itu datang lagi. Biasanya orang-orang seperti itu memang demikian. Sudah, masuk saja ...." kata Podin yang langsung menyuruh istrinya ke dapur, dan tidak perlu mengurusi pengemis.

__ADS_1


    "Iya, Mas .... Ladang amal kita ...." sahut Rina.


__ADS_2