
Akhirnya Podin berhasil mengajak pengemis cilik itu, anak laki-laki yang masih kecil, yang besarnya sama dengan anak pertamanya, yang sudah menjadi korban tumbal pesugihan. Ya, anak laki-laki yang biasa mengemis di pompa bensin itu akhirnya mau mengikuti kemauan Podin, dan kini mereka sudah sampai di tepi pantai. Tentunya sangat girang rasa hati Podin yang bakalan dapat mempersembahkan korbannya untuk tumbal bagi penguasa istana Pulau Berhala. Kini mereka tinggal menunggu kedatangan perahu yang akan menjemputnya, membawanya untuk menyebrang laut, menuju ke Pulau Berhala.
"Om ..., saya boleh bermain air di lautan ini, Om?" tanya bocah kecil itu kepada Podin yang sudah menggandeng tangannya ke tepi pantai, dan berada di tempat tumpukan batu yang biasa ia gunakan untuk menunggu perahu yang akan datang menjemputnya.
"Jangan .... Tidak usah main air, nanti kamu malah basah semua .... Kita akan pergi ke pulau itu, menyeberang lautan. Sebentar lagi, dari sini kita akan naik perahu." kata Podin kepada anak itu, yang melarang bocah kecil itu untuk bermain air di pantai.
"Wow .... Airnya sangat jernih, Om .... Sayang, Om ..., kalau ndak main air di pantai ini. Pantainya sangat bersih, pantainya sangat jernih, tidak ada kotoran sama sekali, Om .... Beda yang sering saya buat main dengan teman-teman di Jakarta .... Di sana pantainya kotor, airnya saja warnanya kayak coklat ...." kata anak itu yang tentu kecewa karena tidak dibolehkan untuk bermain air di pantai yang pasirnya bagus, lembut, halus dan airnya pun sangat jernih. Memang, tempat itu merupakan pantai dengan air yang tidak tercemar oleh kotoran masyarakat.
"Iya .... Tapi kan kamu tidak membawa salin, tidak membawa ganti pakaian .... Nanti malah basah semua. Nanti kalau ke restoran yang ada di pulau itu, masal pakai pakaian basah .... Kamu malah tidak bisa makan-makan di sana, karena bajumu basah, tidak boleh masuk restoran. Kotor-kotor dengan pakaian basah di restoran malah malu-maluin." begitu alasan Podin yang melarang anak itu untuk bermain air di pantai.
"Lah, terus kita mau ke pulau itu?" tanya anak laki-laki kecil itu pada Podin.
"Iya .... Kita akan menuju ke pulau itu." jawab Podin, sambil menunjuk ke arah pulau yang ada di sebrangnya.
"Tapi bagaimana kita bisa ke situ? Nggak ada kapal penyeberangnya? Bagaimana mau menuju pulau itu?" tanya anak itu lagi, yang memang sebenarnya dia itu anak yang sangat cerdas, pikirannya sangat jauh dibandingkan dengan anak seusianya. Apalagi dengan anak-anak pengemis jalanan yang biasanya memang tidak sekolah.
"Tenang .... Kamu di sini sama saya. Nanti, sebentar lagi akan ada perahu yang datang kemari. Biasanya tukang perahu itu begitu melihat kita menunggu di sini, dia akan datang menjemput kita, untuk diantar ke pulau itu, mengantarkan kita ke pulau itu." kata Podin yang tentu harus bisa menjelaskan kepada anak itu, agar anak itu pun tenang dan tidak bertanya terus.
"Lama menunggunya ya, Om .... Kok dari tadi belum kelihatan kalau ada kapal yang mau ke sini, Om?" tanya anak itu lagi yang masih penasaran.
"Sebentar lagi .... Nanti akan datang kemari .... Nah, tuh kan .... Lihat itu .... Tukang perahunya sudah datang kemari, akan menjemput kita, mengantarkan kita menuju ke pulau itu." kata Podin sambil menunjukkan telunjuknya ke arah datangnya tukang perahu yang menuju ke tempatnya.
Anak itu pun percaya, karena dia sudah melihat tukang perahu itu, yang pastinya sebentar lagi anak itu akan berpiknik naik perahu menuju ke pulau yang ada di seberangnya.
"Wah ..., bener, Om .... Tapi ..., ini kan hari sudah mulai sore, Om .... Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Masa kita piknik ke pulau itu di tengah malam, Om?" tanya anak itu lagi, yang tentunya dia juga berpikir agak aneh, karena berpiknik ke tengah pulau, tetapi sebentar lagi harinya sudah menjelang malam.
__ADS_1
"Tidak apa-apa .... Nanti di pulau itu rame .... Lampunya juga gemerlap terang. Tidak usah khawatir, di sana terang benderang .... Pokoknya kamu pasti senang ke pulau itu." jawab Podin yang harus meyakinkan anak itu lagi.
"Ayo ..., naik ....!!!" akhirnya, tukang perahu itu datang menghampiri Podin bersama bocah pengemis kecil yang siap untuk dipersembahkan oleh Podin tersebut.
Lantas Podin memegang tangan si pengemis kecil itu, menariknya dan masuk ke dalam perahu yang sudah siap untuk berangkat menuju ke pulau yang ada di seberang lautan itu. Tanpa curiga, anak itu pun langsung meloncat dan masuk ke perahu. Anak itu duduk, sambil tangannya dicelupkan ke air laut. Pastinya ia sangat senang bisa merasakan segarnya air laut yang jernih itu. Apalagi ia juga menyaksikan indahnya lembayung senja yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap malam.
Tukang perahu yang mengenakan jubah klombroh, tanpa kelihatan wajahnya itu pun langsung menjalankan perahunya. Sekali, dua kali, tiga kali. Tukang perahu itu mendorongkan galah panjang untuk menjalankan perahunya. Dan perahu kecil yang memuat Podin bersama bocah pengemis cilik itu pun langsung melaju ke tengah laut, dan hanya sebentar, perahu itu langsung sampai ke pulau yang dituju oleh Pudin.
"Cepat, kan .... Kita sudah sampai .... Nah, ayo bangkit berdiri .... Hati-hati, kita turun perlahan, kita akan masuk ke pulau itu." kata Podin sambil menarik tangan anak kecil itu dari perahu, dan lantas mengajak anak itu melangkahkan kakinya menuju jalan setapak yang terlihat sangat bagus, sangat halus, dan sangat mempesona dengan gemerlap lampu taman yang warna-warni.
"Wow .... Bagus sekali, Om .... Ini, kita berjalan-jalan di taman ya, Om ...." kata anak kecil itu, yang tentunya langsung terkagum menyaksikan keindahan tempat itu, dengan melihat lampu-lampu gemerlap warna-warni yang menghias tepian jalan yang ia lalui.
"Ya .... Ini belum seberapa .... Nanti, sebentar lagi, kamu akan lebih heran dan pasti kagum menyaksikannya. Karena di sana, di tengah pulau ini, ada sebuah istana yang sangat megah. Ya, kamu nanti bisa bersenang-senang di sana." kata Podin pada anak kecil itu, yang tentunya anak kecil itu pun sudah penuh harap ingin segera menyaksikan keindahan di tengah pulau itu, seperti yang dikatakan oleh Podin. Pasti anak itu menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Podin.
"Yang benar, Om .... Di sana ada apa saja, Om?" tanya anak itu yang semakin penasaran.
Dan Podin pun mengajak anak itu untuk berjalan ke arah tengah. Di mana pada bagian tengah pulau itu, terdapat istana yang sangat megah, yang pastinya akan ditunjukkan kepada bocah kecil itu, sebagai bukti bahwa kata-kata Podin adalah benar belaka. Anak itu menurut saja pada ajakan Podin. Tentunya ia juga menyaksikan, memang semakin berjalan masuk, suasananya semakin terlihat meriah dan menarik. Cahaya dari lampu-lampu semakin terang, dan semakin bergemerlap. Sangat indah dan tentunya menarik bagi para pengunjung. Anak yang diajak oleh Podin itu tentunya juga terlihat senang.
"Bagaimana? Keren tidak ...?" tanya Podin meminta pendapat dari bocah kecil itu.
"Iya .... Keren banget .... Seperti di taman lampion. Lampu-lampunya sangat banyak dan penuh warna-warni." jawab anak itu yang tentu kagum.
"Nanti .... Sebentar lagi .... Di tengah, di pelataran istana, ada yang lebih menarik." sahut Podin yang masih menjanjikan keindahan istana yang dituju kepada anak itu.
"Di mana, Om ...?" tanya anak itu yang ingin tahu.
__ADS_1
"Sebentar lagi .... Di sana itu ...." kata Podin sambil menunjuk ke arah tengah pulau, yang sudah terlihat terang.
Tentunya bocah pengemis cilik yang masih digandeng tangannya oleh Podin itu langsung membelalakkan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Podin. Memang di tempat yang ditunjuk oleh Podin itu terlihat sangat terang benderang. Mungkin itu yang dimaksud oleh Podin, yang ingin diperlihatkan kepada bocah kecil yang selalu penasaran tersebut. Dan pastinya, anak itu langsung terlihat tergesa, ingin segera menyaksikan keindahan istana yang diceritakan oleh Podin tersebut.
Begitu anak itu mulai menyeret tangan Podin, dengan harapan ingin segera sampai ke tempat yang ditunjukkan tadi, Podin pun langsung mengikuti langkah cepat anak itu. Justru Podin semakin senang, karena perangkap yang dibuatnya untuk membawa bocah pengemis cilik itu, yang sebentar lagi akan dipersembahkan kepada penguasa istana pulau berhala, ternyata sangat mudah sekali. Podin tersenyum senang. Sehingga dalam waktu sekejap, Podin dan bocah calon persembahan itu, sudah sampai di pelataran istana yang sangat ramai dan meriah.
Memang, namanya saja anak jalanan. Bocah cilik yang sudah hidup dengan kebiasaanpkebiasaan buruk yang dilakukan kelompoknya. Anak-anak jalanan yang notabene hidup dalam alam kebebasan, tanpa aturan apapun. Mereka sudah biasa hidup liar. Seperti halnya bocah pengemis cilik yang dibawa oleh Podin tersebut, yang dirayu dengan makanan, jajanan, uang, bahkan bersenang-senang diajak wisata. Pasti bocah itu senang, Dan saat ia menyaksikan irama jedag-jedug serta banyak orang yang berjoged serta berpesta pora, menikmati sajian yang sudah disediakan oleh penguasa istana Pulau Berhala, tentu bocah itu menampakkan sifat aslinya. Tamak dan serakah.
Podin yang menyaksikan kelakuan bocah yang terus digandengnya itu, benar-benar kewalahan. Bagaimana tidak, anak itu mengambil makanan-makanan yang tersaji di situ, di seluruh penjuru pelataran istana. Tanpa ragu dan tidak malu. Semua jenis makanan yang tersaji ia nikmati. Bahkan ada makanan yang diambilnya sepiring, tetapi karena tidak begitu doyan, langsung saja dibuang. Ya, anak ini benar-benar kegilaan dengan hidangan yang ada di tempat pesta para tamu Pulau Berhala tersebut.
Ya, mungkin pemahaman anak itu, memang dia diajak berpiknik oleh Podin ke tempat itu, pastinya untuk diajak bersenang-senang. Dan tentu anak itu memanfaatkan kesempatan. Dasar bocah tengik itu pastinya jarang makan enak, tidak pernah mengikuti pesta, makanya, begitu menyaksikan berbagai macam hidangan istana kerajaan Pulau Berhala itu, nafsunya untuk melampiaskan semua macam makanan terlaksana di tempat ini.
Namun tentunya, yang diherani oleh Podin adalah perut si bocah itu. Makanan sebegitu banyak, bisa masuk ke perutnya semua. Seolah-olah anak itu makan tanpa kenyang, dan perutnya tidak ada ukurannya. Betul-betul sangat rakus bocah pengemis cilik itu.
Hingga tiba saatnya, bulan berada tepat di atas istana Pulau Berhala. Seperti biasanya, pintu istana pun terbuka lebar. Gemerlap cahaya dari dalam istana, seakan menjadi magnit bagi para pengunjungnya, yang kemudian mereka pada masuk ke dalam istana tersebut. Dan tentunya, di altar istana, sudah disiapkan batu kisaran tempat menyembelih kurban untuk dipersembahkan kepada sang penguasa istana Pulau Berhala.
Satu persatu orang-orang yang masuk ke istana itu mempersembahkan kurbannya, tentu untuk mendapatkan harta kekayaan yang mengucur dari batu kisaran, dan masuk ke dalam peti harta karun.
Demikian pula Podin, yang tiba gilirannya untuk mempersembahkan kurbannya. Ia melangkah maju, sambil membawa bocah laki-laki cilik itu. Podin pun langsung mengangkat bocah itu, dan menaruh di atas meja batu persembahan. Lantas tangan kanan Podin melolos pisau belati mata berhala, akan dihunjamkan ke leher bocah yang sudah diam tidak berdaya itu.
Namun tiba-tiba, sebelum bilah belati itu sampai pada leher korban persembahannya ....
"Auuuughht ....!!!! Ghheeeeerrrrrr .....!!! Korban persembahan ini tidak diterima ....!! Anak ini bukan anak suci ....!! Anak ini kotor ....!!! Buang keluar ....!!! Jangan digunakan untuk mengotori istanaku ....!!!! Grrrrrrrr .....!!!"
Terdengar suara aneh, besar menggema, dan kencang yang sangat menakutkan orang. Namun tidak kelihatan siapa yang membentak Podin itu. Tetapi saat Podin melongok kaget, dan ingin tahu apa sebabnya, ternyata dua algojo yang ada di dekat batu persembahan itu, sudah mengangkat anak yang tergeletak di atas batu persembahan itu, dan melempar anak itu ke luar istana.
__ADS_1
"Pergi sana ...!!" teriak para algojo yang melemparnya.
Serta merta, Podin berlari mengejar pengemis cilik yang dibawanya ke Pulau Berhala itu, dan tentunya ingin tahu keadaan anak itu. Dan jugam Podin ingin tahu, kenapa anak ini ditolak untuk dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala? Podin ingin menanyakan, apa alasannya kurbannya ditolak?