PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 108: MENCURI PETI


__ADS_3

    Podin sudah mendapatkan bagian uang yang diberikan oleh Bang Kohar dari hasil uang yang dikumpulkan oleh makhluk kecil yang oleh Bang Kohar disebut sebagai tuyul tersebut. Ya, tuyul yang sudah mengumpulkan banyak uang, hingga memenuhi dua peti jumlahnya. Tentunya Bang Kohar membagi secara adil. Podin diberi sebagian, dan sebagian lagi untuk dirinya. Tentunya Bang Kohar itu sebenarnya orangnya tidak mata duitan.


    Memang, pada awalnya Bang Kohar hanyalah ingin tahu asal-usul peti itu. Dan tentunya, Bang Kohar juga ingin tahu bayi siapa yang menghuni dalam peti tersebut. Yang mestinya bisa menjawab adalah Podin. Namun kenyataannya, Podin mengaku tidak tahu asal-usul peti itu. Bahkan katanya, ia hanya mengambil di tumpukan barang para seniman yang menggunakan balai desa.


    Namun selanjutnya, setelah Podin ada di situ, mereka justru ingin membuktikan kalau di dalam peti itu dihuni oleh makhluk kecil yang namanya tuyul. Dan tuyul itu bisa menghasilkan uang, bisa disuruh untuk mengambil uang dari berbagai tempat, dan tentunya membuat orang bisa menjadi kaya raya. Hanya sebatas itulah sebenarnya Bang Kohar hanya ingin tahu persisnya dan ingin membuktikan kepada Podin kalau makhluk yang ada di dalam peti itu, yang disebut dengan tuyul itu benar-benar ada dan benar-benar bisa menghasilkan uang.


    Namun tentunya, bagi Podin, orang yang serakah, orang yang pemalas untuk bekerja, tetapi ingin punya uang banyak, ingin hidup enak, ingin kaya raya tetapi tidak mau bersusah payah, ingin uangnya datang terus, maka dalam pikiran Podin tentu saja ingin menguasai kembali peti yang dulu pernah dia miliki itu, yang kini sudah menjadi milik Bang Kohar.


    "Bang Kohar .... Kalau misalnya peti itu saya beli lagi, bagaimana?" tanya Podin kepada Bang kohar.


    "Maksudnya dibeli lagi, bagaimana, Pak Podin?" tanya Bang Kohar pada Podin.


    "Ya ..., peti itu, saya beli lagi .... Saya bayar dengan harga dua kali lipat. Saya juga tidak masalah harus membayar Bang Kohar dengan harga mahal." kata Podin kepada Bang Kohar.


    "Ya janganlah, Pak Podin .... Kan Pak Podin tahu, saya itu penggemar barang-barang antik .... Saya itu penggemar benda-benda keramat. Saya Itu penggemar jimat-jimat. Nah, termasuk peti dari Pak Podin. Peti ini sudah saya beli. Peti ini sangat antik, Pak Podin .... Peti ini sangat keramat, dan ini sangat sangat luar biasa." kata Bang Kohar.

__ADS_1


    "Tetapi untuk apa, Bang Kohar harus menyimpan benda-benda seperti itu, kalau hanya untuk koleksi benda-benda antik saja .... Mendingan saya beli saja .... Nanti uangnya saya kasih dengan uang yang lebih banyak. Pasti Bang Kohar butuh uang, kan? Apalagi rumah ini masih rumah kontrakan .... Kalau misalnya Bang Kohar mau saya belikan rumah, asal peti itu menjadi milik saya lagi, Bang Kohar." kata Podin kepada Bang Kohar.


    "Ya, jangan seperti itu Pak Podin .... Walaupun saya di sini rumahnya masih kontrak, itu memang kemampuan saya. Secara manusia normalm saya bisanya baru kontrak .... Walaupun sebenarnya kalau saya pengen beli rumah yang mewah dengan harga yang mahal, saya bisa, Pak Podin .... Benda-benda saya, barang-barang yang ada di sini ini, kebanyakan benda keramat, benda yang bisa dimintai bantuan untuk mengadakan uang sebanyak mungkin, Pak Podin .... Ini semua, benda yang bisa mendatangkan uang, Pak Podin .... Coba Pak Podin lihat .... Ini adalah lampu wasiat, Pak Podin .... Mungkin Pak Podin pernah dengar cerita tentang Lampu Wasiat milik Aladin, yang bisa mengabulkan semua permintaan .... Lampu wasiat ini, Pak Podin, di dalamnya ada jin penunggunya. Kalau saya mau, saya butuh uang banyak, saya langsung keluarkan jin itu dari lampu wasiat, saya minta apa saja, pasti langsung dikabulkan, Pak Podin." kata Bang Kohar sambil menunjukkan lampu wasiat miliknya. Ya, seperti layaknya lampu yang dikenal dalam cerita-cerita Aladin.


    Podin terdiam. Ia terkesima menyaksikan benda-benda keramat yang ditunjukkan oleh Bang Kohar. Dan tentunya, Podin sudah tahu persis bagaimana peti itu menghasilkan uang. Peti yang dulu menjadi miliknya itu, ternyata bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tentu Podin sangat ingin memilikinya lagi.


    Memang, kalau saja Podin memiliki peti itu kembali, dan pastinya Podin akan memanfaatkan peti itu untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Dan pastinya, Podin akan menjadi orang yang kaya raya.


    "Sudahlah, Bang Kohar .... Dulu, peti ini kan milik saya .... Dan memang waktu itu, saya tidak tahu manfaat atau kelebihan atau kehebatan dari peti itu. Namun sekarang, saya kan sudah tahu, kalau peti itu ternyata peti keramat yang dapat digunakan sebagai jimat. Ya, setidaknya izinkan saya boleh memiliki peti itu kembali. Biar peti itu saya simpan di tempat yang baik, nanti akan saya simpan di tempat usaha saya yang ada di Jakarta sana." kata Podin yang masih merayu pada Bang Kohar.


    "Tapi, Bang Kohar ..., siapa orangnya yang nggak pengen kaya? Siapa orangnya yang tidak pengen harta benda? Siapa orangnya yang tidak kepengen punya uang banyak? Seperti halnya saya, Bang Kohar .... Saya buka usaha di sana sini, saya pergi ke Jakarta, menuju kota-kota lain, pergi ke sana kemari, itu semua demi mencari uang, Bang Kohar .... Kalau ada sesuatu yang bisa menjanjikan, itu kan lebih bagus, Bang Kohar." kata Podin yang sudah berterus terang kepada Bang Kohar.


    Memang sebenarnya Podin ingin memiliki kembali dua buah peti itu, dengan harapan bisa mendatangkan uang dari tuyul yang ada di dalam peti itu.


    "Pak Podin ..., Pak Podin .... Sekali lagi saya mau katakan pada Pak Podin ..., jangan terlalu berlambisi, jangan terlalu terbius oleh mudahnya cara mencari uang dengan menggunakan benda-benda seperti ini. Yang mengisi benda-benda seperti itu, yang tinggal di dalam barang-barang keramat seperti ini, yang mau menempati jimat-jimat gaib seperti ini ..., itu setan, Pak Podin .... Yang bisa mendatangkan uang dalam sekejap, itu jin, Pak Podin. Dan tentunya, kalau Pak Podin mau memanfaatkan benda-benda seperti ini, sebenarnya Pak Podin sudah mengikat perjanjian dengan setan, sudah mengikat perjanjian dengan makhluk-makhluk halus. Dan pasti nantimya, makhluk-makhluk itu akan meminta tumbal, meminta korban untuk dipersembahkan. Dan pastinya, tumbal itu bisa berupa nyawa kita sendiri, Pak Podin. Saya tidak menakut-nakuti, tapi itu yang saya baca dari buku-buku keramat. Memang, apapun yang kita harapkan itu pasti harus melalui proses. Kalau kita berani mengikat janji dengan setan, mau berhutang pada setan, nanti di suatu saat, pastinya kita akan menyerahkan tumbal-tumbal kita kepada setan itu. Kalau kita keliru, justru diri kita sendiri yang nanti akan masuk ke dalam perangkapnya setan." kata Bang Kohar, yang tentunya juga memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada Podin.

__ADS_1


    Akhirnya, Podin memejamkan mata. Tidak bersuara lagi. Mungkin karena saking asyiknya mendengarkan omongan Bang Kohar. Demikian juga laki-laki gemuk yang brewokan itu. Karena merasa sudah tidak ada yang mendengar kata-katanya, tidak ada yang menggubris ceritanya, maka ia pun juga menyelonjorkan kakinya. Tidur diantara barang-barang antik itu. Ya, Bang Kohar sudah terbiasa tidur menggeletak di lantai yang banyak barang antik berjejer di situ.


    Namun, sebenarnya Podin belum tidur. Ia hanya berpura-pura tidur. Dan setelah beberapa saat lamanya ia menunggu waktu, saat ia yakin kalau Bang Kohar sudah tidur pulas, Podin pun bangun. Lantas ia menuju ke tempat di mana peti itu diletakkan oleh Bang Kohar. Lantas dengan berjalan mengendap-endap, tentunya agar tidak diketahui oleh Bang Kohar, Podin mengambil dua buah peti itu.


    Ya, Podin mencuri peti yang bisa mengeluarkan tuyul itu, dan tentu bisa mendatangkan uang.


    Sebenarnya dari awal Bang Kohar sudah menduga dengan niatan Podin. Bahkan sebenarnya Bang Kohar juga tidak tidur. Ia hanya pura-pura tidur. Tetapi sebenarnya, Bang Kohar mengamati gerak-gerik Podin. Dan pastinya, Bang Kohar juga tahu saat Podin bangun dan berjalan mengendap menuju ke tempat peti itu diletakkan. Dan Bang Kohar juga tahu kalau Podin mengambil dan mencuri dua buah peti keramat tersebut.


    Tetapi, Bang Kohar sengaja membiarkan Podin mencuri peti itu. Bang Kohar tidak bangun. Bang Kohar tidak mau memperingatkan Podin. Bang Kohar membiarkan begitu saja Podin mencuri peti keramat yang sudah dibelinya.


    Namun di saat Podin akan mengambil mengambil peti yang sejak awal sudah diincarnya tersebut, Bang Kohar diam-diam membaca mantra, merapal ajian secara lirih, sehingga tidak didengar oleh Podin. Ya, mantra penghilang penunggu benda-benda keramat. Bang Kohar menyingkitkan bayi mungil yang menempati peti itu. Dan tentunya, peti yang dicuri oleh Podin itu sudah tidak ada lagi makhluk penghuninya. Istilahnya Bang Kohar, peti itu sudah kosong. Percuma Podin mencuri benda yang tidak lagi bisa mendatangkan uang.


    Podin yang tidak tahu hal itu, ia merasa senang bisa mencuri peti yang dulu pernah menjadi miliknya. Ia pun langsung pergi meninggalkan rumah Bang Kohar. Langsung kabur menuju ke mobilnya. Dan selanjutnya, Podin mengebut, pergi meninggalkan tempat itu.


    "Aman ...." begitu gumam Podin yang girang bisa mencuri peti. Dan pastinya, nanti setelah sampai Jakarta, ia akan menyuruh tuyul dalam peti itu untuk mencari uang dan mengisi peti-peti itu dengan uang yang banyak dan berlimpah.

__ADS_1


__ADS_2