PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 28: OMELAN ISTRI MUDA


__ADS_3

    Podin kembali ke Jakarta, namun tentunya belum membawa uang. Podin tidak membawa apa-apa, karena ketika ia pergi ke Pulau Berhala, ia tidak sanggup untuk mendapatkan harta karun. Ya, ternyata tentunya Podin juga jengkel, bahkan mengumpat dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk membawa peti-peti harta karun itu. Demikian juga ketika ia akan menjual rumah, tentu tidak semudah menjual pisang goreng. Menjual rumah itu tidak secepat yang dia kira. Tidak seperti saat dirinya membeli dulu, yang begitu bertanya, langsung dibayarnya. Namun tentunya, menjual rumah itu butuh waktu dan kesabaran. Tidak mungkin sehari dua hari rumah itu langsung laku. Tentu akan menunggu waktu yang cukup lama dalam proses penjualannya. Meski Podin sudah menawarkan harga rumahnya itu dengan nilai jual yang sangat murah, tetapi orang beli rumah itu pasti mempertimbangkan banyak hal. Apalagi rumah dengan harga satu miliar lebih, pasti hanya orang-orang kaya dan berduit banyak yang sanggup membelinya.


    Akhirnya, Podin harus kembali ke Jakarta, tanpa membawa apa-apa. Ia pulang ke rumah istri mudanya dengan tangan kosong. Tentu Podin akan direngek oleh Maya yang sudah menunggu untuk dibelikan mobil tersebut.


    "Mana mobilnya, Bang?" tanya Maya yang tentu menanyakan mobil yang dijanjikan oleh Podin, ketika ia menyambut kedatangan suaminya. Ya, Maya pasti tidak bisa tidur saat menunggu kedatangan suaminya, di mana kala itu suaminya sudah berjanji akan membelikan mobil baru buat Maya.


    "Sabar, lah ..., Sayang .... Abang belum dapat uang untuk beli mobil dengan harga yang tentu juga butuh uang banyak .... Ini Abang baru mau jual rumah yang di kampung, tetapi belum ada yang menawar. Tunggulah ..., nanti kalau rumahnya sudah terjual, pasti Abang akan belikan Maya sebuah mobil yang bagus ...." begitu jawab Podin yang ingin menenangkan hati Maya yang selalu menanyakan mobil barunya itu.


    "Ih, Abang .... Beli mobil saja harus nunggu lama .... Harus nunggu jualan rumah .... Aku terus bagimana, Bang ...? Kapan mobil itu mau dibelikan untuk Maya ...? Aku sudah pengin pakai mobil, Bang .... Aku sudah pengin punya mobil baru, Bang ...." kata istri mudanya itu, yang tentu jadi sewot karena belum juga dibelikan mobil oleh suaminya.


    "Sabar dikit kenapa, Maya .... Kan abang udah janji, kalau uang hasil penjualan rumah itu sudah ada, pasti aku belikan mobil yang cocok untuk kamu .... Untuk saat ini, Abang kan belum punya uang .... Nantilah ..., sabar dulu sebentar .... Kalau rumah itu sudah laku terjual, pasti Abang segera belikan." kata Podin yang tangannya sambil mencoba untuk mencolek dagu istrinya.


    Namun, lagi-lagi Maya berusaha menghindar dari colekan itu. Tentu Maya tidak mau dicolek, Maya tidak mau digodain suaminya, ia ngambek karena mobil yang dijanjikan itu ternyata gagal, belum dibelikan oleh Podin.


    "Yah, Abang .... Main colek-colek .... Kalau belum dibeliin mobil nggak usah deket-deket sama aku, Bang ...." begitu kata Maya yang berusaha menghindari didekati oleh suaminya.


    "Lho ..., kok begitu ...? Terus saya ini datang kemari tidak dapat apa-apa ...? Saya nggak dapat jatah ...? Saya nggak bisa tidur bersama kamu lagi ...?" begitu tanya Podin yang tentunya kecewa, karena niatnya untuk tidur bersama istri mudanya itu, ternyata tidak digubris oleh Maya. Istri mudanya itu tidak mau meladeni suaminya. Bahkan Podin disuruh tidur di ruang tamu, tidur di kursi tamu.


    Tentu hal itu membuat Podin kecewa. Harapannya balik ke Jakarta agar bisa bermanjaan dengan istri mudanya, untuk bisa bermesraan bersama Maya, akhirnya gagal karena istrinya tidak mau diberkati hanya gara-gara ia belum dibelikan mobil oleh Podin.


    Sebenarnya yah, seperti itulah kelakuan istri muda yang hanya berharap untuk mendapatkan harta kekayaan dari suaminya. Memang kalau Podin mau melihat kenyataan, bahwa sebenarnya Maya itu mendekati dirinya, tentu hanya ingin mendapatkan harta benda yang dimiliki oleh Podin. Ya, Maya hanya ingin menguras harta Podin saja. Selebihnya dari itu hanyalah caranya, sarananya untuk bisa memperoleh harta benda itu. Yaitu dengan memanjakan nafsu Podin.


    Tentu bagi seorang Maya, perempuan muda yang masih seksi dan cantik itu, mau menjadi istrinya Podin, semua itu berdasarkan kebutuhan Maya. Karena Maya memang ingin mendapatkan harta benda dari korbannya saja. Ini permainan cantik seorang pemandu karaoke yang bernama Maya. Awalnya hanya makan, dengan diajak makan bersama, kemudian berlanjut minta pakaian. Setelah pakaian, maka berlanjut minta agar bisa mendapatkan uang untuk biaya perawatan tubuhnya. Setidaknya ongkos untuk pergi ke salon, untuk creambath, untuk manicure pedicure, juga untuk perawatan kulit. Ya, tentu semuanya agar Maya terlihat cantik, agar wajahnya terlihat lebih glowing, agar Maya terlihat lebih seksi, dan tentunya menarik bagi setiap laki-laki yang melihatnya. Termasuk perawatan body yang tentunya semakin tinggi lagi tuntutannya. Yah, wanita pekerja di tempat hiburan karaoke, sebagai pemandu karaoke, yang memang selalu ingin tampil menarik, selalu ingin tampil cantik, hanya sekedar untuk bisa menggaet laki-laki para pelanggan di tempat karaokenya.


    Seperti halnya Maya, yang tentunya profesi awalnya sebagai seorang pemandu karaoke, tentu para pelanggan yang masuk ke tempat hiburan itu, akan memilih dirinya yang lebih terlihat cantik dan seksi bila dibanding dengan wanita-wanita yang ada di tempat kerjanya itu. Di tempat karaoke yang dipandu oleh wanita-wanita yang seksi, dilayani oleh wanita-wanita yang ramah, diladeni oleh wanita-wanita yang mampu melayani dengan cara yang menyenangkan hati. Tentu untuk menggaet para pelanggan, para pemandu karaoke itu harus tampil menarik.


    Demikian juga dengan Maya, seorang pemandu karaoke yang pandai merayu pelanggannya, yang pandai menyenangkan hati para pelanggannya, dan tentunya kali ini, setelah Maya bisa menyenangkan hati bosnya, tentunya ia tidak sekedar hanya mendapatkan makan gratis saja, namun tentunya, Maya ingin lebih dari itu. Tidak sekedar dekat dengan bosnya saja, Maya juga ingin mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Tentu segala-galanya yang ingin dimiliki oleh Maya, akan ia minta kepada orang yang sudah menyayanginya. Makanya, saat itu Maya berusaha bagaima caranya agar Podin, bosnya itu, tunduk dan bertekuk lutut dalam dekapan Maya.


    Dan kini, Podin sudah terlanjur mencintai Maya. Tentu untuk melanjutkan tujuannya agar dapat menikmati segala yang dimiliki oleh Podin, Maya akan rela menikah dengan Podin, walaupun Bosnya itu sudah berkeluarga. Meskipun Podin jauh lebih tua darinya. Dan tentunya yang diharapkan bukanlah hanya sekedar menikah saja, melainkan Maya akan bangga ketika dia bisa menaklukkan bosnya. Maya akan merasa hebat ketika dia menjadi istri dari bosnya. Yang jelas, Maya bangga karena dia akan menjadi bagian dari pemilik tempat hiburan karaoke tersebut.


    Namun untuk menjadi istri Podin, Maya hanya bisa menjadi istri siri. Apa sebabnya maka Maya rela hanya dinikah siri oleh Podin? Memang sebenarnya Maya menuntut untuk menjadi istri yang sah, istri yang dinikah di KUA. Tetapi Podin bersikeras tidak mau minta izin kepada istrinya. Itulah maka Maya mau dinikah siri. Bahkan, sebenarnya yang meminta untuk dinikah adalah Maya. Meskipun hanya nikah siri. Tentu harapannya, kalau Maya sudah dinikahi oleh Podin, maka ia pun akan leluasa, Maya akan bisa minta segala sesuatu dari suaminya. Karena hubungannya sekarang bukan lagi sebagai wanita simpanan, bukan lagi wanita selingkuhan, bukan lagi wanita gondolan, melainkan sudah menjadi istri, walaupun sekedar istri kedua atau istri siri. Memang kala itu, Maya terus menuntut agar Podin cepat-cepat menikahi dirinya, yang tentunya kalau sudah menikah, kalau sudah menjadi istri yang sah, dia akan bisa meminta segala macam dari suaminya.


    "Maya .... Apakah Abang boleh tidur di kamar sama Maya ...? begitu kata Podin yang meminta agar bisa tidur di kamar bersama dengan istrinya.

__ADS_1


    "Tidaklah, Bang .... Kalau Abang belum membelikan aku mobil, maka Abang jangan tidur bersamaku .... kata Maya yang tentu ngambek, karena belum dibelikan mobil.


    "Ya ampun ..., Maya .... Abang jauh-jauh datang ke Jakarta, dan penginnya Abang ini diciumi sama Maya, penginnya Abang ini dipeluk-peluk sama Maya, penginnya Abang ini dimanjakan oleh Maya, penginnya Abang ini bermesraan dengan Maya .... Tapi kenapa Maya tidak mau didekati oleh Abang .... malah Abang disuruh tidur di luar .... Apa kamu tidak kasihan dengan Abang, Maya ...? begitu kata Podin yang tentu juga kecewa karena keinginannya untuk bisa tidur bermesraan dengan istri mudanya itu ternyata justru ditolak oleh Maya.


    "Tidaklah, Bang .... Pokoknya kalau Abang belum belikan saya mobil, jangan harap Abang tidur sama saya." begitu tegas Maya yang tentu memang dia benar-benar ngambek karena belum dibelikan mobil oleh suaminya.


    "Tunggu lah, Maya .... Besok pasti Abang belikan .... Tunggu lah, nanti kalau rumah Abang yang di kampung itu laku terjual, pasti Abang akan belikan mobil buat Maya .... Please, deh .... tolong Abang boleh tidur di kamar ya ...." kata Podin yang merayu istri mudanya itu.


    Maya diam tidak menjawab. Podin pun bingung, kenapa istrinya diam? Apakah istrinya benar-benar ngambek? Apakah istrinya benar-benar marah padanya?


    Maka Podin perlahan melangkahkan kaki, berjalan dari ruang tamu itu, mendekat ke kamar tempat Istrinya tidur. Tentu karena perumahan sederhana, jarak ruang tamu dengan kamar tidur hanya satu langkah saja. Kemudian Podin mencoba untuk membuka pintu kamar itu. Dan ternyata, pintu kamar itu memang tidak dikunci. Podin pun bisa membuka dan masuk. Lantas ia mendekati istri mudanya yang sudah terbaring di tempat tidur.


    "Maya ..., ijinkan Abang tidur di sini, ya ...." begitu kata Podin yang sudah mendekati istrinya di pembaringan.


    Tetapi, Maya tetap diam tidak menjawab. Maya memejamkan mata, berpura-pura tidur. Namun sebagai laki-laki yang masih butuh banget tentang pemenuhan hasrat biologis, Podin mencoba untuk menyentuh bagian dari tubuh Maya. Maya juga diam saja. Bahkan ketika tangan Podin sudah berpindah menyentuh bagian pantat istrinya, Maya juga tetap diam tidak bergeming. Bahkan juga tidak bergerak sama sekali.


    Akhirnya, Podin merebahkan dirinya di samping tubuh Maya. Saat itu pula nafsu laki-lakinya mulai keluar, setelah dia memeluk tubuh istrinya yang berbaring di tempat tidur tersebut. Ternyata Maya tidak marah. Tentu tangan Podin pun mulai menggerayang ke mana-mana. Tetapi Maya tidak membalas setiap apapun yang dilakukan oleh Podin. Hal itu justru membuat Podin semakin gemas. Akhirnya Podin pun mulai merambah ke tempat-tempat lain yang tentu akan membuat Maya menjadi berubah pikiran. Dan sesaat kemudian terjadilah pergumulan antara Maya dan Podin.


    Setelah beberapa menit, mereka berdua pun terkapar di tempat tidur itu. Lapi lagi-lagi Maya yang memang ingin dibelikan mobil, dia kembali mengucapkan permemintaannya kepada suaminya yang sudah tak berdaya di KO oleh Maya.


    Tentu setelah diberikan kenikmatan oleh Maya, Podin pasti seperti terbius, Podin seperti terhipnotis. Podin seakan takluk begitu saja dengan apa yang diomongkan oleh Maya.


    "Iya, Sayang .... Abang tahu .... Tetapi saya butuh waktu, karena rumah yang akan saya jual itu belum laku .... Itu nanti, uang hasil penjualannya untuk membelikan mobil buat kamu .... Yakin, lah .... Kalau misalnya untuk sementara waktu, Maya pakai mobil Abang, bagaimana ...? Itu bisa kamu pakai kemana-mana untuk menemui orang-orang penting yang akan kamu ajak ke tempat hiburan kita. Maya bisa menemui artis-artis yang mungkin mau datang ke tempat hiburan kita .... Kamu pakai mobil itu saja, biar Abang yang mengalah naik taksi." begitu kata Podin yang tentu dia yang mengalah, mobilnya disuruh untuk memakai istrinya.


    "Yaah ..., Abang .... Itu kurang keren, Bang .... Mobilnya terlalu kuno .... Untuk ketemu artis-artis hebat, biar kita dipercaya, biar kita dipandang keren, kita harus berpenampilan menarik, Bang .... Kita harus menggunakan mobil-mobil yang bagus, Bang ...." begitu kata Maya yang tentu menganggap mobil suaminya itu kurang bagus.


    "Mosok mobil panther kayak gini kurang keren ...?" sahut Podin.


    "Ya, enggak lah, Bang .... Setidaknya sedan yang masih baru .... Mobil Abang ini untuk bisnis ke pasar, Bang ...." kata Maya yang tentu mengejek mobil Podin.


    "Tapi kan muat banyak .... Itu dimasuki orang sepuluh saja bisa, Maya ...." balas Podin yang tidak mau kalah.


    "Memangnya angkutan, Bang ...?" sahut Maya.

__ADS_1


    "Iya .... Sabar dikit ngapain sih .... Saya kan sudah bilang, kalau rumah yang saya tawarkan itu sudah laku, saya akan belikan mobil baru yang keren ...." kata Podin yang hanya bisa berjanji dan pasrah kepada Maya.


    "Ih, Abang .... Kalau minta gituan saja enggak mau ditunda-tunda .... Giliran Maya minta mobil, ditunda-tunda terus .... Coba kalau misalnya abang minta gituan, Maya tidak mau, Abang minta gituan, langsung ditunda oleh Maya .... Bagaimana perasaan Abang ...? kata Maya yang tentu menanyakan hal itu kepada Podin, karena Podin kalau datang, selalu meminta kenikmatan itu kepada Maya.


    "Ya, kan beda, Maya .... Kalau yang kayak gitu, itu kebutuhan pokok, tidak bisa ditunda-tunda, hehehe .... Dan tentunya Maya juga senang .... Hehehe ...." begitu kata Podin yang tentu sambil mencolek Maya kembali.


    "Colek-colek mulu .... Awas kalau aku nggak dibelikan mobil baru, Abang gak akan aku kasih gituan lagi ...." kata Maya mengancam.


    "Iya ..., iya ..... Sabarlah, Sayang .... Abang pasti belikan." begitu kata Podin yang tentu dia juga bingung karena saat ini dia sudah tidak punya uang sama sekali. Apalagi untuk memberikan mobil baru, sekedar untuk hidup saja, mungkin juga mulai kebingungan.


    Memang, itu salah Podin juga, ketika waktu itu peti harta karun itu dia bawa ke rumah istri mudanya, dan juga diperlihatkan kepada Maya, maka ketika harta karun yang berupa perhiasan-perhiasan yang ada di dalam hati itu dilihat oleh Maya, tentu akan langsung dicengkeram oleh Maya, dan tidak bakalan boleh untuk diminta lagi. Meskipun kala itu Podin berniat akan menjualnya, tentu oleh Maya tidak bakalan boleh untuk dijualnya.


    Sudah jelas, ketika perhiasan-perhiasan itu sudah dilihat oleh Maya, dan dikenakan oleh Maya, baik itu gelang, kalung maupun cincin serta perhiasan-perhiasan lainnya, pantang untuk diberikan lagi kepada Podin. Apalagi saat itu, Podin mengatakan kalau perhiasan-perhiasan itu akan dijual untuk beli mobil, pastinya Maya akan sayang melihat perhiasan yang bagus-bagus itu, perhiasan dengan permata-permata yang indah itu, perhiasan yang sangat langka itu, pasti akan ia kenakan sendiri untuk penampilan dirinya.


    Memang, sebagai seorang perempuan, mempunyai perhiasan yang indah, mengenakan perhiasan yang cantik adalah penampilan yang di harapkan. Kini semua perhiasan yang bagus dan indah itu, sudah jatuh ke tangan Maya, sudah dikuasai oleh Maya, sudah menjadi milik Maya, yang tidak boleh diganggu gugat lagi. Podin pun hanya bisa nelangsa.


    Dan kini, Podin sudah tidak punya apa-apa lagi. Dia bingung, apalagi ketika diancam oleh Maya tidak bisa tidur bersamanya kalau belum bisa membelikan mobil baru. Ya, itulah ancaman istri muda kalau ngambek. Itulah kemarahan istri muda kalau tidak diikuti apa yang menjadi keinginannya.


    Pagi itu, saat bangun tidur, Podin yang semalaman sudah puas menikmati kebutuhannya bersama dengan istri mudanya itu, tentu ia merasa lapar. Namun saat di tempat makan, ternyata di meja makan kecil itu tidak ada makanan sedikitpun. Tidak ada apa-apa di sana.


    "Maya .... Kok belum masak? Kok tidak ada makanan? Bagaimana kita mau sarapan?" tanya Podin pada istrinya tentang makanan untuk sarapan pagi.


    "Apa yang mau dimakan, Bang ...? Apa yang mau buat sarapan, kalau Abang nggak pernah memberi uang kepada saya? Mau belanja pakai apa? Mau beli makanan pakai apa?" jawaban Maya yang tentu tidak menyenangkan untuk didengar Podin. Tentu Podin kecewa, karena ingin makan untuk mengisi perutnya yang lapar saja, istri mudanya itu tidak menyiapkan makanan untuknya.


    Podin diam. Tidak mau membahasnya. Tentu khawatir kalau dia memprotes, istri muda itu akan marah kepadanya, justru nanti akan berbalik menjadi petaka lagi. Dan ujung-ujungnya, Podin tidak bisa tidur bersamanya lagi.


    Mestinya, kalau Podin merasakan sikap istri mudanya itu, pasti sangat jauh berbeda dengan Isti, istri tuanya yang kini justru ia usir dari rumahnya. Tapi, seperti itulah kalau laki-laki sudah kena guna-guna istri muda.


    Podin pun melangkah pergi. Masuk ke garasi, menghidupkan mesin mobilnya. Ia akan meninggalkan rumah itu. Rumah yang ditempati oleh istri mudanya.


    "Abang mau ke mana ...?" tanya Maya kepada Podin yang sudah bersiap akan menjalankan mobilnya.


    "Cari uang ...." jawab Podin lugas.

__ADS_1


    "Bang ..., tempat karaoke kalau jam segini sepi, Bang .... Tidak ada orang cari hiburan di pagi hari .... Orang-orang itu mencari hiburan, berkaraoke, bersenang-senang di malam hari ...." kata Maya yang tentu mengingatkan pada suaminya.


    Tetapi Podin diam tidak menjawab. Ia langsung menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan rumahnya. Podin sudah kehabisan pikiran. Podin sudah kehilangan nalar. Maka satu-satunya cara untuk mendapatkan uang yang banyak lagi, adalah mendatangi Pulau Berhala, kembali mengambil peti-peti harta karun yang ada di sana.


__ADS_2