
Meski pingsan, walau sampai seharian tidak sadar, bahkan kalaupun sampai seminggu atau satu bulan, pasti tidak ada orang yang tahu, dan pasti tidak akan ada orang yang menolong Podin. Tentunya karena memang villa yang dibeli oleh Podin itu tempatnya jauh dari perkampungan, tempatnya memang tersembunyi, yang tidak terlintasi oleh warga, seakan berada di tengah hutan dengan tumbuhan pohon-pohon besar dan rimbunnya tanaman-tanaman lainnya. Warga masyarakat atau penduduk kampung, bahkan perangkat desa maupun petugas keamanan, tidak ada yang bakalan tahu, ada kegiatan apa di tempat villa yang kono menjadi milik Podin itu.
Memang benar, rupanya Podin sudah pingsan lebih dari satu hari lamanya. Namun ada yang aneh yang terjadi pada diri Podin. Saat ia ditemui hantu-hantu yang jumlahnya banyak itu, yang mengakibatkan dirinya pingsan itu, posisinya berada di halaman, berada di pintu masuk ke villanya. Tetapi kini, setelah Podin sadar, setelah ia terbangun, rupanya dia sudah berada di atas kasur. Ya, seakan Podin bukan lagi pingsan di halaman rumah, tetapi tidur nyenyak di atas kasur. Bahkan tidurnya itu pun sekujur tubuhnya diselimuti dengan rapi, dan samping kanan kirinya dibatasi dengan guling yang empuk, ibarat bayi, agar tidak menggelundung jatuh dari tempat tidur.
Tentu Podin merasa bingung, tentu Podin penasaran. Siapa sebenarnya yang sudah melakukan ini semua? Apakah ada orang yang datang menolongnya? Apakah ada warga yang tahu kalau dirinya pingsan? Ataukah ia dipindah oleh para hantu itu dari halaman rumahnya hingga sampai di tempat tidurnya?
Podin yang sudah sadar dan bangun, duduk di atas kasur, sambil merenungi keadaan dirinya, dan tentu bingung apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Apakah itu semuanya mimpi? Tetapi ia ingat betul, kalau dirinya yang ditemui oleh banyak hantu, oleh arwah-arwah gentayangan, dan salah satunya adalah perempuan dengan gaun pengantin warna putih yang jasadnya sudah ia temukan di dalam koper, bahkan masih dengan mengenakan gaun pengantinnya yang ada di dalam koper itu.
Ya, hantu perempuan itu yang mengatakan meminta tolong kepada Podin. Itu artinya arwah-arwah gentayangan itu memang ada di sekitar villanya. Itu artinya bahwa villa yang ia beli itu adalah villa yang pernah dijadikan tempat pembunuhan manusia, terutama kaum perempuan, karena kebanyakan hantunya adalah perempuan. Dan itu artinya pula, bahwa jasad-jasad mereka dikubur di sekitar villa itu.
Pantas, villa ini sangat menjauh dari rumah penduduk. Pantas villa ini seakan-akan disembunyikan dari keramaian. Pantas villa ini dikelilingi dengan tumbuhan yang lebat, dikelilingi dengan pohon-pohon besar, pohon yang tinggi-tinggi, dan itu mungkin saja sengaja digunakan untuk menutupi semua aktivitas, semua kegiatan yang terjadi di villa ini.
Setelah bangun, dan tentunya langsung mandi, Podin berkemas, berniat menyampaikan masalah yang ia alami di villa yang ditinggali itu, kepada karyawatinya, yang sudah membantu membelikan villa itu. Pagi itu, Podin menuju Jakarta, meninggalkan villanya untuk meminta pertimbangan kepada karyawati bagian bendahara, Cik Melan. Tentunya perempuan lajang yang sudah dipercaya oleh Podin itu, selalu memberikan solusi yang terbaik.
Cisarua - Jakarta tidak terlalu lama untuk ditempuh dengan mobil, yang hanya melintas di tol Jagorawi. Ya, pastinya Podin juga tidak terlalu ngebut, jalan santai. Lumayan, jalannya tidak begitu macet. Hanya satu setengah jam, sekitar jam sepuluh, Podin sudah sampai di tempat usahanya, tempat hiburan karaoke. Dan di sana, Podin sudah langsung disambut oleh Bang John, yang tentunya paham kalau bosnya itu datang.
"Selamat pagi, Pak Bos ...." begitu sambut Bang John yang langsung mengarahkan mobil Podin untuk parkir.
"Pagi, Bang John .... Gimana kabarnya?" balas Podin yang tentu juga bersikap ramah terhadap karyawan bagian keamanan itu.
"Baik, Pak Bos .... Wah ..., Pak Bos kelihatan ceria ini .... Ada kabar apa ini, Pak Bos?" kata Bang John yang sambil membukakan pintu mobil bosnya itu.
"Mau cari Cik Melan .... Sudah datang, belum?" jawab Podin yang langsung bertanya kehadiran karyawan keuangannya.
"Ada ..., Pak Bos .... Maaf, Pak Bos .... Ini mobil Pak Bos udah terlalu tua .... Ganti yang barum Pak Bos .... Jangan malu-maluin .... Masak orang sehebat Pak Bos, mobilnya masih pakai Panther kuno kayak gini .... Di upgrade dong, Pak Bos ...." kata Bang John pada bosnya itu, yang tentu membujuk bosnya agar ganti mobil.
"Aalah, Bang John .... Mobil ini saja sudah cukup .... Tidak usah terlalu mewah, yang penting jalannya lancar, dan tidak rewel." jawab Podin yang tentu beralasan.
__ADS_1
"Tapi, Pak Bos ..., gaya hidup, Pak Bos .... Ini Jakarta .... Metropolitan .... Kalau Pak Bos mobilnya kayak gini, aduh, Pak Bos .... Orang ndak percaya kalau Pak Podin ini bos saya .... Masak bos saya kok seperti ini mobilnya? Ganti, Pak Bos .... Kalau mau yang second, saya siap carikan, Pak Bos ...." kata Bang John itu, yang tentunya merayu bosnya agar Podin mau ganti mobil. Dan yang pasti, kalau Podin meminta tolong kepada Bang John, pastinya nanti Bang John dapat persenan, dapat komisi.
"Gampang, Bang John .... Itu nanti saja .... Sekarang saya mau bicara dulu sama Cik Melan. Urusan mobil itu nanti gampang." begitu sahut Podin yang langsung naik tangga, menuju ruang lantai dua, tempat di mana Cik Melan biasa bekerja menata keuangan perusahaannya.
Dan setelah sampai di lantai dua, Podin langsung masuk ke dalam ruang karyawatinya itu.
"Pagi, Cik Melan ...." sapa Podin saat membuka pintu,
"Eh ..., Pak Podin .... Selamat pagi, Pak Podin .... Silakan duduk, Pak." sahut karyawan perempuan yang sudah dipercaya oleh Podin untuk mengurusi perusahaannya itu.
Lantas Podin duduk di kursi, berhadapan dengan karyawati yang dipercaya mengelola perusahaannya. "Bagaimana keadaan perusahaan kita? Apakah ada kendala? Atau mungkin ada masalah?" tanya Podin kepada perempuan muda yang cantik dan belum menikah itu, yang sudah sangat dipercayainya itu.
"saat ini, kami masih bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sini, Pak Podin .... Dan yang jelas untuk masalah keuangan, Pak Podin tidak perlu khawatir, walaupun kita belum punya keuntungan, tetapi setidaknya hutang kita sudah terbayar lunas. Dan para karyawan pun tidak ada yang mengeluh soal penghasilan yang mereka terima." kata karyawati bagian keuangan itu.
"Bagus kalau begitu .... Saya senang mendengar kabar seperti ini. Dan tentunya saya berharap Cik Melan terus berusaha untuk meningkatkan kinerja di sini, meningkatkan penghasilan di sini. Anggaplah ini lahan untuk mencari rezeki bagi Cik Melan dan karyawan-karyawan yang lain. Soal keuntungan tidak usah dipikir. Saya tidak butuh keuntungan yang besar, yang penting bagi saya, karyawan-karyawan di sini tercukupi kesejahteraannya, karyawan-karyawan di sini bisa menghidupi keluarganya. Itu saya sudah senang, Cik." begitu kata Podin kepada bendaharanya itu.
"Iya, Pak ...." sahut Cik Melan sambil tersenyum manis.
"Oh ya ..., Cik Melan .... Ini saya ada sedikit masalah." kata Podin yang kemudian mengkerutkan keningnya.
"Masalah apa, Pak Podin?" tanya karyawati yang cantik itu.
"Masalah villa yang saya beli itu, villa yang saya tempati." kata Podin mulai menyebut villanya.
"Memang kenapa, Pak Podin? Ada masalah apa?" tanya karyawatinya yang cantik itu.
"Begini, Cik .... Harga villa itu memang murah, dan sangat-sangat murah bila dibandingkan dengan bangunan dan luas lahan yang ada di sana. Tetapi menurut cerita orang-orang di sana, warga yang tinggal di sana, villa itu dulu pernah jadi geger karena adanya kasus pembunuhan." kata Podin menghentikan bicaranya.
__ADS_1
"Yang benar, Pak Podin ...?!" karyawatinya yang masih muda dan cantik itu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Podin.
"Betul, Cik Melan .... Dan saya sudah menemukan bukti, ada kerangka manusia di sana." kata Podin yang berkata lirih kepada perempuan yang ada di hadapannya itu, bahkan kepala Podin sudah mendekat ke arah Cik Melan.
"Ya ampun .... Ini beneran, Pak Podin ...?!" tentu perempuan itu semakin kaget dengan apa yang dikatakan oleh Podin.
"Benar .... Saya bingung, bagaimana masalah ini? Karena saya sudah membongkar kerangka manusia itu. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" kata Podin yang mulai bingung, karena pastinya ia akan terseret dengan masalah penemuan kerangka manusia yang ada di pekarangan villanya.
"Kalau begitu, sebaiknya kita lapor polisi, Pak." jawab perempuan muda yang selalu memberi solusi itu.
"Tapi saya khawatir .... Saya nanti akan diseret oleh Polisi .... Saya nanti akan dituduh menjadi pembunuh .... Saya nanti akan dilibatkan dalam kasus ini, dan saya nanti pasti akan dimasukkan ke dalam penjara." kata Podin yang mulai khawatir, karena memang ia pernah merasakan masuk dalam penjara, walaupun hanya semalam tetapi mukanya bonyok semua, karena dipukuli oleh orang yang ada di penjara, napi yang ada di sana. Tentu kalau itu terjadi lagi, Podin akan trauma dengan apa yang pernah ia alami.
"Sepertinya tidak mungkin jadi tersangka, Pak .... Pak Podin hanya menemukan saja, jadi nanti soal siapa yang melakukan pembunuhan, ini urusan polisi yang akan menyelidiki. Pastinya pemilik villa yang lama, pemilik villa sebelum Pak Podin. Dan pastinya, itu nanti ada kaitannya dengan orang yang tinggal di villa itu pada masa lalu sebelum villa itu dibeli oleh Pak Podin." kata perempuan itu kepada Podin, dan tentunya menguatkan Podin agar tidak takut dengan masalah itu.
"Tapi saya itu bingung .... Masalahnya saya sudah mengangkat koper yang disembunyikan di bawah pohon itu .... Waktu itu saya hanya mencoba untuk membongkar ada batu yang kelihatan aneh, dan ternyata setelah batu itu saya angkat, di dalamnya ada koper besar. Dan koper itu tentunya saya ambil, karena saya berpikir di dalam koper itu ada harta karunnya. Tapi ternyata setelah saya buka, isinya adalah kerangka manusia yang masih ada gaunnya, kerangka manusia yang mengenakan gaun seperti layaknya pengantin, yang dibungkus plastik dan dimasukkan dalam koper, dan dikubur di bawah pohon itu. Saya sekarang jadi ketakutan .... Bagaimana ini, Cik ...?" kata Podin yang ketakutan. Pastinya takut kalau ditangkap polisi lagi dan dijebloskan ke dalam penjara.
"Ya tidak usah takut lah, Pak .... Cuman menemukan kok ditankap polisi ...." sahut bendaharanya itu.
"Tapi ini Indonesia, Cik .... Cuman menemukan, bisa jadi salah ...." bantah Podin.
"Betul juga ya, Pak .... Orang menangkap jambret saja malah masuk penjara ...." sahut perempuan muda itu.
"Terus, enaknya bagaimana, Cik?" tanya Podin yang semakin bingung.
"Apa perlu kopernya dikembalikan lagi, Pak? Kita pendam lagi .... Lantas villa itu akan saya komplain ke orang yang menjual kemarin. Kalau yang punya tidak mau mengembalikan uangnya, nanti akan saya takut-takuti, setidaknya akan saya laporkan ke polisi. Ancamannya, saya akan membongkar kasus yang ada di villa itu." kata karyawati bagian bendahara tersebut.
Tentunya Podin masih bingung. Podin masih ragu-ragu. Apakah ia akan terbebas dari polisi, seandainya hal itu nanti terbongkar? Ataukah sang pemilik villa yang lama akan dengan gampang begitu saja mengembalikan uang hasil jual beli villa itu?
__ADS_1
"Saya pasrah bagaimana caranya, Cik Melan yang bisa berfikir. Tolong bantu saya, Cik .... Apapun yang terjadi, saya mengikut saja dengan rencana Cik Melan." kata Podin yang tentu masih kebingungan dan ketakutan dengan masalah yang dialaminya. Tentunya Podin takut kalau nanti ditangkap oleh Polisi. Podin sudah pasrah. Ia sudah tidak sanggup apa-apa lagi.