
"Kok lembur sampai dua hari sih, Mas ...? Apanya yang rusak ...?" tanya Rina saat suaminya pulang.
"Iya, Rin .... Banyak yang harus dibenahi. Malah beberapa alat ada yang rusak dan harus diganti." jawab Podin yang tentu berbohong sama istri sirinya yang ke dua, Rina. Padahal sebenarnya Podin tidak mengerjakan apa-apa. Dua hari dua malam ia hanya bermanja di tempat tidur bersama Maya. Tentunya Podin tidak boleh pergi lagi oleh Maya, karena istrinya yang baru hamil itu butuh bermesraan dengan Podin.
"Sekarang, sudah beres semua?" tanya Rina lagi.
"Sudah .... Kini tinggal capeknya .... Uachm ...." jawab Podin yang langsung menguap. Pertanda mengantuk. Ya, tentu Podin sangat lelah, setelah dua hari dua malam bermanjaan dengan Maya. Seperti itu, mengakunya memperbaiki peralatan karaoke.
"Ya sudah ..., sana tidur dulu .... Biar tidak ngantuk." begitu kata Rina yang tidak tahu kelakuan Podin.
"Iya .... Uachm ...." jawab Podin yang lagi-lagi menguap, memperlihatkan kalau dirinya sangat mengantuk.
Akhirnya, Podin pun terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Rina, kembali ke warung Bu Hendro, terus membantu melayani para pembeli di warung makan.
Hingga malam hari. Setelah Rina pulang dari warung Bu Hendro, Podin belum juga terbangun. Tentu saking ngantuknya setelah dua hari dua malam bertempur tanpa tidur. Dan terpaksa, Rina membangunkan suaminya, agar makan malam lebih dahulu.
"Mas .... Mas Podin .... Bangun, Mas ...." kata Rina sambil menghoyok tubuh suaminya.
"Iya .... Ada apa ...?" kata Podin yang masih mengantuk.
"Makan dulu .... Biar perutnya keisi .... Biar tidak masuk angin .... Ini lho ..., dikasih makan sama Bu Hendro .... Ayo, bangun .... Makan bersama saya." kata Rina yang sudah menyiapkan makanannya di meja makan.
"Iya .... Uachm .... Capek banget ...." Podin bangun, sambil menguap dan menggeliat.
"Kerja kok tidak kena waktu .... Mbok ya kalau kerja itu jangan lembur-lembur tanpa tidur. Kalau lembur tanpa tidur, itu kan ya mesti ngantuk .... Mesti capek. Nah, kalau ngantuk, capek, nyetir kan juga bahaya, Mas." kata Rina pada Podin yang tentu juga mengkhawatirkan keadaan suaminya yang menyetir mobil dari tempat kerja hingga sampai rumah kontrakannya.
"Iya ...." kata Podin yang sudah duduk di kursi, dan meneguk teh hangat.
"Kalau dalam kondisi capek dan mengantuk, itu berbahaya .... Bisa jadi kecelakaan di jalan raya." tambah Rina yang sambil menyiapkan nasi di piring,
"Iya, Rina .... Habis bagaimana lagi .... Saya kan juga harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Karena itu terkait dengan kondisi sarana karaoke yang ada di tempat kerja saya. Kalau tidak segera saya selesaikan, perusahaan kan juga akan rugi, perusahaan bisa tidak dapat pemasukan. Kalau ndak dapat pemasukkan, ndak ada uang, kan juga tidak bisa membayar karyawan." begitu jawab Podin pada istrinya yang tentu ingin memberitahu bahwa pekerjaannya itu memang sangat dibutuhkan untuk segera memperbaiki kondisi tempat karaoke dimana dia mengaku bekerja sebagi teknisi di situ.
"Iya Mas, saya paham. Tetapi setidaknya Mas Podin kan bisa untuk sementara waktu tidur dulu di tempat kerja. Terus, nanti kalau sudah sehat, sudah tidak mengantuk, sudah hilang rasa capek dan lelahnya, baru Mas Podin pulang. begitu kata Rina menasehati suaminya.
"Apa kamu tidak marah sama saya ...? Jika saya pulang berhari-hari, nanti Rina bagaimana?" begitu sahut Podin yang berpura-pura berbaik kepada istrinya yang anggap saja masih bulan madu itu.
"Ya enggak, lah ..., Mas .... Kalau Mas Podin itu memberitahu, kalau Mas Podin itu mengasih kabar, kalau Mas Podin bilang, pasti saya juga nggak apa-apa. Saya mengizinkan .... Daripada seperti ini, kondisi Mas Podin yang capek dan ngantuk, itu bahaya sekali kalau menyetir mobil, Mas Bodin." begitu kata Rina yang tentu dia memang mengusulkan yang terbaik kepada suaminya, karena memang Rina adalah perempuan polos yang tidak pernah macam-macam. Tahunya Podin adalah orang baik. Dan Rina selalu menerima kenyataan dan selalu menerima alasan-alasan dari suaminya.
"Iya .... Saya mohon maaf, Rina ..... Saya tidak bermaksud untuk seperti itu. Tapi kan saya juga menjaga perasaan kamu." begitu kata Podin yang selalu saja bisa beralasan dan mencari kata-kata memelas untuk menaklukkan hati Rina, agar menjadi iba kepada dirinya.
__ADS_1
"Iya, Mas .... Tapi lain waktu hati-hatilah. Saya tidak apa-apa. Yang penting kita itu semuanya selamat." begitu kata Rina yang masih saja tetap berbaik hati kepada Podin.
"Oh iya, Rin .... Saya mau bicara ...." kata Podin sambil makan.
"Bicara apa, Mas?" tanya Rina.
"Begini, Rin .... Terus terang dengan kondisi saya yang semakin menua ini, saya itu sebenarnya sudah bosan untuk bekerja malam hari." kata Podin kepada Rina yang masih sambil menikmati masakan Bu Hendro yang diberikan kepada Rina untuk makan malam bersama suaminya.
"Memangnya ada apa, Mas ...? Terus Mas Podin mau ngapa?" tanya Rina kepada suaminya.
"Saya sudah berpikir berkali-kali, Rin ..., saya ingin berhentiu kerja di tempat hiburan itu ...." kata Podin pada istrinya.
"Hah ...?! Terus, Mas Podin mau kerja apaan?" tanya istrinya yang tentu kaget.
"Penginya saya mau mandiri." kata Podin.
"Maksud Mas Podin?" tanya Rina yang bingung.
"Bagaimana kalau misalnya kita punya usaha sendiri ...? Ya, saya kan ada sedikit uang hasil tabungan dari kerja saya .... Saya punya niat, saya punya rencana ngajak kamu beli rumah kecil-kecilan, tapi ..., ya mestinya tidak di tengah kota seperti ini, Rin. Di pinggiran saja. Kalau di tengah kota harganya pasti mahal. Nah, saya pengen bagaimana kalau kita misalnya beli rumah, terus kita buka warung di rumah itu ...? Kamu kan sudah pinter, sudah diajari oleh Bu Hendro untuk menjadi pedagang warung makan .... Nah, kita mencoba buka warung makan sendiri." kata Podin kepada Rina, yang tentu memberi suatu bahan pikiran untuk membuka hati Rina dengan berusaha sendiri.
"Memang Mas Podin bisa jualan warung makan seperti Bu Hendro?" tanya Rina.
"Iya, Mas .... Tapi kalau misalnya kita beli rumah, terus kita buka warung makan, itu modelnya besar lho, Mas .... Apa Mas Podin sanggup seperti itu?" tanya Rina yang tentu juga memikirkan masalah biaya yang akan dikeluarkan kalau sampai mereka harus membuka usaha sendiri.
"Ya ..., mudah-mudahan tabungan saya cukup, Rin .... Kalau hanya beli rumah di pinggiran kota dan buka usaha semacam warung makan, atau mungkin juga warung kelontong, bisa lah ...." jawab Podin.
"Terus ..., rencananya kapan Mas Podin mau buka usaha kayak gitu?" tanya istrinya.
"Kalau kamu setuju, saya akan keluar dari pekerjaan, dan mencari rumah di pinggir kota secepatnya, Rin .... Kalau bisa dalam minggu ini, saya akan coba cari rumah." jawab Podin.
"Tapi, Mas ..., saya kasihan sama Bu Hendro .... Nanti kalau kita tinggalkan, terus yang menjadi pelayan di tempatnya Bu Hendro siapa? Nanti yang membantu Bu Hendro siapa? Nanti yang meladeni para pembeli siapa?" tanya Rina yang tentu juga berpikir kalau ia pergi dari tempatnya Bu Hendro, pasti Bu Hendro akan keberatan karena tidak punya pelayan lagi.
"Benar juga, Rin .... Tapi yang saya pengen sampaikan ke kamu, apa kamu juga pengen hanya sekadar menjadi pelayan terus-terusan di tempat Bu Hendro? Apa kamu tidak ingin maju dan berpenghasilan lebih besar? Apa kamu tidak ingin punya usaha sendiri, sehingga kamu nanti setidaknya juga akan kaya seperti Bu Hendro? Dan setidaknya, kalau kita punya usaha sendiri, saya bisa kumpul kamu setiap hari. Karena saya nanti juga akan membantu kamu dan saya tidak akan kerja di tempat lain lagi, dan tidak akan pergi setiap malam. Saya sudah capek, Rin .... Saya ini kalau pergi malam, kerja malam, rasanya mengantuk betul, Rin ...." begitu kata Podin pada Rina istrinya, yang tentunya Podin juga ingin mengajak Rina berwirausaha.
Sebenarnya Podin ingin mengajak Rina lari dari kenyataan hidupnya, supaya tidak dikejar-kejar oleh Maya. Bahkan jika ia ingat Isti, istrinya yang pertama, yang sudah memberikan empat anak kepadanya, dan kini anaknya hanya tinggal tiga, karena Eko, anaknya yang pertama sudah meninggal tertabrak truk dan hilang kepalanya, Ia lebih merasa bahagia bersama istrinya yang sah, bila dibandingkan dengan Maya. Hidup dengan Isti, mau diajak bersusah dalam kemiskinan. Tetapi hidup dengan Maya, selalu dituntut untuk memberikan uang dan harta kekayaan. Dan kini, setelah Podin bertemu Rina, menikah dengan Rina, perempuan janda yang belum punya anak, Rina lebih perhatian terhadap Podin. Rina tidak pernah menuntut. Bahkan Rina selalu bertanya tentang keadaan keuangan suaminya jika Podin ingin beli sesuatu. Rina bukan perempuan matre. Itulah sebabnya, kini Podin berusaha ingin membahagiakan Rina, sebagai ganti dari istri-istrinya yang dahulu.
"Iya, Bang .... Besok Rina akan konsultasi dengan Bu Hendro. Kira-kira Bu Hendro pendapatnya bagaimana. Apakah Bu Hendra setuju, atau mungkin ada saran-saran dari Bu Hendro yang bisa kita gunakan untuk memlih yang terbaik." begitu kata Rina yang tentunya tidak ingin melupakan jasa Bu Hendro yang sudah cukup lama Rina ikuti. Dan setidaknya, Rina ini sudah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh Bu Hendro. Bahkan kalau lebaran pun, Rina diberi banyak bingkisan, bahkan juga dibelikan pakaian-pakaian yang baru-baru. Dan juga kalau Rina pulang kampung, pasti dibawain segala macam oleh-oleh untuk orang tuanya serta sanak saudaranya.
"Ah ..., betul seperti itu, Rina .... Jadi kamu tetap harus sampaikan masalah ini kepada Bu Hendro. Kita juga ingin tahu, kira-kira masukkan apa yang akan diberikan oleh Bu Hendro kepada kita. Siapa tahu Bu Hendro memberi alternatif lain, tidak cuman membuka warung makan, tetapi bisa jadi nanti kita juga akan membuka usaha-usaha lainnya. begitu kata Podin, yang tentu juga berharap dapat masukan dari orang lain yang bisa dipercata.
__ADS_1
"Iya, Mas Podin .... Besok pagi-pagi, saya akan ngobrol masalah ini dengan Bu Hendro, di sela-sela orang pada sarapan." sahut Rina.
Pagi harinya, Rina yang membantu Bu Hendro, seperti yang sudah dibicarakan dengan Podin semalam, ia mencoba bicara dengan Bu Hendro.
"Bu ...." kata Rina yang ragu-ragu.
"Ada apa, Rina ...? Dari tadi kok bak, buk, bak, buk ...." sahut Bu Hendro yang masih menyiapkan dagangannya. Memang kalau pagi, persiapan menata dagangan di warung makan itu sangat sibuk.
"Anu, Bu ...." kata Rina lagi, yang kembali terhenti.
"Kamu itu, lho .... Kayak anak kecil saja .... Ngomong aja terus terang ...." sahut Bu Hendro lagi.
"Mas Podin, Bu ...." kata Rina lagi, yang masih belum berani terus terang.
"Podin kenapa ...?!" tanya Bu Hendro penasaran.
"Mas Podin mau ajak Rina pindah rumah ...." sahut Rina, yang belum berani mengungkapkan niatnya.
"Maksudnya pindah kontrakan?" tanya Bu Hendro.
"Mas Podin mau beli rumah, Bu .... Tapi di pinggiran kota, biar dapat harga yang murah." jawab Rina.
"Ya, bagus itu .... Jelek-jelek kalau rumah sendiri, mau dirawat, mau dicat, mau ditambah-tambah, itu milik sendiri .... Bukan punyanya orang lain." kata Bu Hendro yang tentunya ikut senang.
"Tapi, Bu .... Masalahnya saya tidak bisa bantu Bu Hendro lagi." kata Rina.
"Lhoh ...?! Memang kenapa gak bisa bantu lagi ...?! Rumahnya jauh sekali?" tanya Bu Hendro yang tentu kaget.
"Rencananya Mas Podin mau buka usaha untuk saya dan Mas Podin, Bu ...." kata Rina mulai menyampaikan rencananya.
"Oo ..., begitu .... Lha terus, rencananya akan buka usaha apa?" tanya Bu Hendro.
"Belum tahu, Bu .... Makanya, ini saya mau tanya Bu Hendro, kira-kira usaha apa yang cocok untuk kami?" kata Rina yang belum berani mengungkapkan idenya.
"Yang namanya usaha itu banyak macamnya, Rina .... Seperti Pak Soleh itu, usahanya buka kost-kostan. Kalau saya cukup buka warung makan .... Tergantung dari rumahmu nanti .... Kalau dekat dengan pabrik seperti di sini, yang paling cocok ya usaha kost-kostan dan warungan. Kalau dekat dengan kampus, ya cocoknya kost-kostan sama warung makan, atau foto copy. Kira-kira cocoknya untuk apa. Lhah, rencananya mau beli rumah di mana?" tanya Bu Hendro yang ingin tahu.
"Belum tahu, Bu .... Mas Podin baru rencana, kok ...." jawab Rina.
"Oalah ...." Bu Hendro menggerutu.
__ADS_1