PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 133: MINTA TUMBAL


__ADS_3

    Malam itu Podin sangat kecewa. Yang jelas, malam itu Podin tidak mendapatkan uang sama sekali. Kotak-kotak petinya, peti harta karun yang dikeramatkannya, tetap saja kosong, tidak berisi uang sama sekali, tidak selembar pun uang ada di dalamnya. Dan yang lebih mengecewakan lagi, Podin tidak bisa berkomunikasi dengan bocah perempuan cilik yang diharapkan bisa mengumpulkan uang yang lebih banyak daripada bayinya. Walau bocah itu keluar dari dalam peti, namun kenyataannya, arwah bocah itu langsung menghilang sebelum  Podin sempat mengajak bicara, sebelum Podin sempat menyuruhnya mencari uang.


    Namun tentunya, bukan Podin kalau putus asa, hanya gara-gara tidak bisa menyuruh bocah perempuan cilik itu mencari uang. Ya, Podin memang orang yang gigih dalam mencari harta kekayaan, kalau hanya sekedar lewat cara-cara mencari pesugihan. Tentunya Podin tidak akan menyerah, kalaupun gagal sekali, dia masih punya banyak kesempatanDan yang pasti, Podin tetap akan melakukan cara-cara seperti itu, terus dan terus.


    Dan malam berikutnya pun, Podin mulai mencoba lagi untuk memanggil arwah bocah perempuan cilik itu untuk mendatangkan kembali arwah itu keluar dari dalam peti. Dan kenyataannya, kini Podin sudah tidak perlu lagi untuk takut dengan bayangan arwah itu. Tidak perlu takut dengan munculnya bocah cilik yang bisa melepaskan kepalanya itu. Tidak perlu takut dengan bocah perempuan yang akan memberikan kepala kepadanya itu. Kenyataannya, Podin semakin lama semakin berani, semakin lama Podin semakin akrab dengan permainan arwah-arwah yang dipeliharanya. Itulah yang namanya orang yang sudah melibatkan dirinya dengan dunia lain. Orang yang suka dengan cara-cara mencari rezeki dengan menggunakan pesugihan.


    Akhirnya, Podin kembali melakukan ritual. Podin kembali melakukan sesaji untuk memanggil arwah, yang nanti akan ia minta untuk mencarikan uang, ia suruh untuk mencarikan harta kekayaan bagi dirinya. Ya, seperti biasanya, di tengah malam yang hening dan sunyi, di tengah malam yang sepi, saat orang-orang pada tidur, di tengah malam saat kehidupan semuanya berhenti, di tengah bangunan villanya yang jauh dari pemukiman, di tengah tempat tinggalnya yang tidak terjamah oleh orang lain, di tengah dinginnya udara kawasan Puncak dan mencekamnya suasana malam itu. Podin menghadapi dua buah peti yang sangat ia damba-dambakan dan ia keramatkan. Podin sudah bersila dan menata posisi duduknya, untuk kembali melakukan ritual, kembali melakukan semedi, kembali melakukan pekerjaannya, yaitu memuja arwah untuk disuruh mencari pesugihan.


    Dan di malam itu, apa yang dibayangkan oleh Podin, yang diharapkan bocah perempuan cilik itu akan hadir begitu saja, tanpa menakutkan, tanpa mengerikan tanpa membuat Podin kaget. Podin sudah mulai merapal mantra-mantra gaib, kata-kata mujarab untuk memanggil arwah bocah perempuan itu. Dan dalam waktu sebentar saja, tutup peti harta karun itu pun sudah mulai membuka. Lantas arwah bocah perempuan cilik itu keluar. Sama seperti biasanya, bocah itu langsung menatap Podin, bocah itu langsung memandangi orang yang memanggilnya. Dan tentunya Podin yang sudah bersiap, Podin yang sudah menunggunya, ia pun langsung mengucapkan rapalan-rapalan ajaran dari Bang Kohar, mantra-mantra untuk meminta agar arwah itu mau mencari uang, agar arwah gentayangan itu, mau mencari harta kekayaan.


    "Hai ..., arwah yang menempati peti ini .... Arwah yang aku puja, arwah yang aku pelihara .... Carikan aku uang sebanyak-banyaknya .... Carikan aku duit untuk memenuhi peti-peti ini .... Carikan aku harta kekayaan sebanyak-banyaknya ...!" begitu kata Podin yang menyuruh arwah bocah perempuan cilik yang baru saja keluar dari peti keramatnya tersebut.

__ADS_1


    Namun rupanya, bocah itu masih terdiam. Bocah perempuan cilik itu masih saja memandangi Podin. Bocah itu tidak beranjak dari tempatnya. Bocah perempuan yang pernah disembelih oleh Podin itu tidak melayang pergi. Bocah itu tidak menghilang untuk mencari uang. Tetapi bocah perempuan cilik itu terus saja diam memandangi Podin, berdiam seperti mematung dan terus menatap Podin dengan wajah yang menyeramkan. Bocah perempuan itu justru seakan mandangi Podin dengan penuh kebencian kepada orang yang sudah menyuruhnya untuk pergi mencari uang tersebut.


    Podin kembali mengucapkan rapalan mantranya. Mulutnya kembali komat-kamit meminta arwah bocah perempuan cilik itu untuk pergi dan mencari uang. Podin kembali memerintahkan bocah yang menatapnya terus-terusan itu untuk mengumpulkan harta kekayaan, untuk memenuhi peti-peti tempat singgahnya itu dengan lembaran-lembaran uang.


    Namun bocah itu tetap tidak mau pergi. Bocah itu tetap tidak mau beranjak. Dan kini, bocah itu mulai mendekat ke arah tempat duduk Podin. Bocah itu mulai menuju ke arah Podin. Tentunya, seperti waktu-waktu yang lalu, yang biasanya bocah itu akan menakut-nakuti Podin. Dan puding yang sudah bersiap pun, ia tidak gentar. Podin justru kembali berkomat-kamit. Ia justru kembali membacakan mantra-mantranya untuk meminta anak itu pergi mencari uang.


    "Hai ..., arwah gentayangan .... Hai tuyul bocah kecil .... Hai arwah yang menempati peti harta karun ini .... Jangan hanya gentayangan saja .... Cepatlah pergi, carikan aku uang sebanyak-banyaknya .... Isilah peti-peti ini dengan uang yang banyak, dengan uang yang berlimpah ...!" Podin terus saja merapal mantra-mantra itu, menyuruh bocah kecil yang ada di hadapannya itu untuk mencari uang.


    "Hai ..., Podin ...! Dasar manusia serakah ...! Masih kurang banyak harta benda yang aku berikan kepadamu ...?!  Masih kurang banyak kah kekayaan yang kamu miliki ...?!" begitu kata-kata yang keluar dari bocah itu, tetapi bukan suara perempuan, bukan suara seorang bocah kecil, itu suara laki-laki yang tentu suaranya besar menggelegar dan menakutkan.


    Podin terkejut. Podin kaget. Ia ingat suara itu. Podin masih terngiang dengan suara itu. Podin tidak lupa dengan suara yang menggelegar itu. Ya, Podin masih mengingatnya. Itu adalah suara penguasa Pulau Berhala. Ya, itu bukan suara seorang bocah. Itu bukan suara perempuan kecil yang ada di hadapannya. Tetapi itu adalah suara penguasa Pulau Berhala. Podin masih lekat dengan suara itu, saat persembahannya anak laki-laki, pengemis cilik yang ia culik dari pompa bensin di Jakarta, bocah kecil yang sudah terkontaminasi dengan liarnya anak-anak nakal metropolitan.

__ADS_1


    Sungguh aneh. Sungguh mengherankan. Kenapa bocah perempuan kecil itu suaranya berubah menjadi besar menggelegar, suara dari penguasa Pulau Berhala. Tentunya Podin kembali gentar. Podin kembali takut. Ada apa sebenarnya? Bagaimana mungkin penguasa Pulau Berhala itu bisa masuk ke dalam tubuh bocah perempuan kecil ini? Apakah ini benar? Apakah Podin hanya terngiang dengan suara itu?


    "Podin .... Kalau kamu memang menghendaki harta kekayaan seperti ini ..., berikan tumbal untukku ...! Bawa ke istana di Pulau Berhala ...! Dan perlu kamu tahu, Podin ..., kamu sudah punya banyak hutang kepadaku ...!! Saya menunggumu .... Besok malam bulan purnama, kamu harus datang untuk menyerahkan korban persembahan kepadaku, sebagai imbalan untuk mendapatkan harta kekayaan ...!" bocah perempuan kecil itu kembali menghilang. Bocah perempuan cilik itu kembali masuk ke dalam peti.


    "Jdokght ...!!"


    Tiba-tiba, peti harta karun itu menutup dengan keras, sehingga menimbulkan suara yang mengagetkan Podin.


    Podin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya termangu, diam tanpa kata-kata. Podin terngiang dengan suara yang besar dan menggelegar tadi. Podin masih bingung dengan keanehan suara bocah itu tadi. Dan tentu saja, Podin masih terngiang dengan kata-kata yang menakutkan itu, kata-kata yang terus menempel di telinganya. Dan tentunya, Podin menjadi bingung, Podin menjadi gelisah. Karena Podin ditagih oleh penguasa Pulau Berhala, Podin harus kembali mengantarkan korban persembahan di setiap malam bulan purnama.


    Ya, penguasa Pulau Berhala meminta tumbal. Podin tentu harus menepati janjinya. Podin harus mencarikan korban untuk persembahan bagi penguasa istana Pulau Berhala, sebagai imbalan dari harta kekayaan yang sudah ia minta.

__ADS_1


__ADS_2