
Setelah mendengar cerita dari Cik Melan tentang kesaksiannya terkait ruangan yang dirahasiakan oleh Podin, tentu pendeta itu, dan juga bersama dengan jemaat-jemaat yang lain, menjadi penasaran dengan ruang rahasia itu. Ya, yang diceritakan oleh Cik Melan kalau di ruang rahasia itu katanya tidak boleh dimasuki oleh siapa saja, termasuk Cik Melan sendiri tidak boleh membukanya. Keanehan ruang rahasia yang hanya boleh dimasuki oleh Podin. Dan tentunya Pak Pendeta bersama dengan jemaat-jemaat yang lain ingin tahu, apa sebenarnya isi dari ruang yang dirahasiakan itu.
Memang agak aneh tentunya, kenapa sampai ada kamar di sebuah rumah yang tertutup rapat dan dirahasiakan oleh Podin. Bahkan sampai istrinya sendiri saja tidak boleh mendekati, tidak boleh membukanya. Pastinya, menurut keyakinan dari Pak Pendeta, menurut insting pendeta itu, menurut perkiraan Pak Pendeta, di ruang itu ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Podin. Pasti ruangan itu bukan ruang sembarangan. Ruang yang dirahasiakan oleh Podin itu pasti ada keganjilan yang mencurigakan di sana. Dan tentunya, Pak Pendeta ingin menyaksikan secara langsung, ingin tahu secara pasti, kalau di ruang rahasia itu menurut perkiraan Pak Pendeta adalah ada ruang persekongkolan antara Podin dengan makhluk lain di luar kuasa Tuhan yang diyakininya.
Ya, pasti Podin sebagai jemaat gereja yang baru, jemaat yang masuk ke gerejanya karena menjadi istri dari Cik Melan, pasti masih banyak memiliki urusan dengan masalah duniawi, yang bukan urusan dengan Tuhan yang harus disembah. Tentu Podin masih melakukan kegiatan-kegiatan kepercayaan lamanya yang berbau animisme maupun dinamisme. Dan pendeta itu yakin, Podin masih memuja berhala.
"Bolehkah saya melihat ruang rahasia yang sempat membuat Bapak Podin itu hilang?" kata Pak Pendeta itu, yang tentunya ingin tahu bagaimana keadaan ruang yang dikatakan sebagai tempat rahasia milik Podin tersebut.
"Boleh ..., Pak Pendeta .... Ada di rumah saya ...." kata Cik Melan yang tentunya juga bersedia untuk ditengok oleh pendetanya. Dan tentunya Cik Melan yang sudah tahu apa isi yang ada di dalam kamar itu, tentunya ia tidak berani secara langsung menegur suaminya, yang dulu memang bosnya sendiri yang tetap ia hormati.
Meskipun belum bisa bicara, Podin yang sudah bisa melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, Podin yang sudah mulai sadar itu, Podin yang sudah bisa melihat Pak Pendeta yang hadir di ruang tempat perawatan di ruang rumah sakit itu, ia hanya bisa menganggukkan kepala, pertanda setuju dan membolehkan. Tentunya dia tidak bisa menolak keinginan dari Pak Pendeta yang ingin melihat ruangan yang dikatakan sebagai tempat rahasia itu. Apalagi Podin yang masih tergeletak itu tahu kalau pendeta dan para jemaat yang sudah mendoakan dirinya yang katanya dua hari dinyatakan koma, ia percaya dengan pendeta itu sebagai orang yang baik, sebagai orang yang sangat dekat dengan Tuhan, sehingga doanya untuk meminta kesembuhan Podin dikabulkan. Tentunya dia tidak berani untuk mengatakan jangan, tidak berani melarang pendeta itu untuk berencana masuk ke ruang yang sempat dirahasiakannya tersebut.
Akhirnya, setelah bicara dengan suaminya, menyampaikan niatan untuk melihat tempat yang sudah sempat menghilangkan dirinya, Cik Melan mengajak pendetanya untuk ke rumahnya. Sedangkan beberapa orang dari jemaat yang ikut membezuk, ada yang tetap berada di rumah sakit untuk menunggui Podin. Dan tentunya mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Cik Melan. Sedangkan beberapa orang juga ikut Cik Melan bersama dengan pendeta itu, untuk pergi datang ke rumah Cik Melan. Pastinya mereka ingin tahu, seperti apa kamar yang katanya dirahasiakan oleh Podin tersebut, seperti apa kamar yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun itu.
Akhirnya, Pak Pendeta yang didampingi beberapa orang jemaat, bersama Cik Melan, rombongan satu mobil van, sudah sampai di rumahnya Podin. Cik Melan langsung mengajak para tamunya itu masuk ke dalam rumahnya, dan tentu mempersilahkan tamu-tamunya itu duduk di ruangan tamu. Dan Cik Melan juga memberikan minum serta suguhan bagi para tamunya itu, yang semuanya sangat dekat dan akrab dengan Cik Melan.
"Wao .... Rumah Cik Melan besar sekali ...." kata salah seorang jemaat yang ikut.
"Punya Pak Podin .... Tapi di kampung, jauh dari kota ...." jawab Cik Melan.
"Enak dong, sepi ..., tidak terganggu suara bising ...." sahut yang lain.
"Iya .... Kalau malam masih bisa mendengar jengkerik ...." tambah Cik Melan.
__ADS_1
"Tapi, Cik Melan masih sering di Jakarta, kan ...?" tanya teman yang lain.
"Ke sana kemari .... Maklum, tempat usaha Pak Podin ada di beberapa tempat, dan harus saya urusi semua." jawab Cik Melan, yang tentu sambil mempersilahkan para tamunya untuk mencicipi hidangan yang ia sediakan.
"Cik Melan ..., di mana ruangan yang dirahasiakan oleh Pak Podin?" tanya pendeta itu kepada Cik Melan yang tentu ia ingin tahu seperti apa tempat yang dirahasiakan oleh suami Cik Melan tersebut.
"Iya ..., Pak Pendeta .... Ada di sana .... Agak ke belakang. Mari ikut saya, Pak ...." kata Cik Melan yang langsung beranjak dari tempat duduknya, dan mengajak pendetanya itu menuju ke ruangan yang dua malam lalu, saat terjadi gerhana bulan sempat dibuka oleh Cik Melan, ketika ia harus mencari suaminya yang diseret oleh entah apa yang tidak diketahui wujudnya.
Lantas Pak Pendeta itu pun mengikuti langkah kaki Cik Melan, dan juga diikuti oleh orang-orang yang tadi bersama datang ke rumah Cik Melan. Dan tentunya mereka semua ingin tahu tentang kamar rahasia itu yang diceritakan oleh Cik Melan, terkait dengan ruangan yang sempat suaminya hilang di sana.
"Ini ..., Pak Pendeta .... Ruangan ini yang sempat saya buka, saat suami saya hilang, saat suami saya diseret masuk di dalam ruangan ini, dan akhirnya jadi sakit seperti itu." kata Cik Melan yang sudah membuka pintu kamar itu, pintu kamar yang selama ini dirahasiakan oleh Podin.
Dan tentunya Coaching juga was-was dan khawatir dengan kamar yang baru saja dibukanya tersebut, entah ada apa di kamar itu. Tapi yang jelas, Cik Melan sudah melihat adanya barang-barang aneh yang tidak lazim dan tidak pernah dikenal sebelumnya.
Sang pendeta itu tentu melihat hal yang tidak boleh dilakukan oleh jemaatnya. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut-pengikut Kristus. Di ruang itu, sang pendeta bersama dengan jemaat lain yang menyaksikan, melihat betapa di ruangan itu ada peti-peti harta karun, semacam barang yang dikeramatkan. Dan yang jelas sangat menyesakkan dada para jemaat serta pendeta itu adalah di tempat itu ada timbunan bekas bakaran kemenyan. Pasti selama ini Podin sudah berseteru dengan iblis. Pertandanya adalah tumpukan bekas bakaran kemenyan itu, yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang memuja arwah atau berhala. Pasti itu adalah bekas ritual yang dilakukan oleh Podin untuk menyembah berhala. Padahal perbuatan semacam itu di dalam ajaran agama Cik Melan, di dalam ajaran agama yang disampaikan oleh pendeta itu, adalah perbuatan yang menyekutukan orang dengan setan, perbuatan yang dilarang oleh Tuhan, perbuatan yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan oleh anak-anak Kristus.
Tentu Pak Pendeta menggeleng-gelengkan kepala, pertanda sangat menyesalkan perbuatan yang sudah dilakukan oleh Podin selama ini.
"Cik Melan .... Selama ini Pak Podin melakukan ritual apa? Menyembah apa dia?" tanya sang pendeta kepada Cik Melan, tentu ingin tahu yang dilakukan oleh Podin selama ini.
"Saya tidak tahu, Pak Pendeta .... Selama saya menikah dengan Pak Podin, saya belum pernah melihat dia melakukan apa-apa dengan tempat ini .... Ia hanya memesan agar saya tidak membuka kamar ini .... Begitu saja." jawab Cik Melan yang memang tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Cik Melan tidak pernah tahu atau menyaksikan ritual atau semacam doa-doa saat Pak Podin ke kamar ini?" tanya pendeta itu lagi.
__ADS_1
"Tidak pernah, Pak .... Saya jadi istri Pak Podin, rumah ini sudah seperti ini .... Dan memang saya patuh saat tidak diperbolehkan membuka kamar ini ...." jawab Cik Melan.
"Kalau melihat ada bekas tempat membakar kemenyan, ada bekas bunga-bunga ..., pasti Pak Podin punya semacam kepercayaan, yang mungkin semacam animisme atau dinamisme .... Yah, kepercayaan nenek moyang sebelum mengenal agama." jawab pendeta itu.
"Terus ..., saya harus bagaimana, Pak Pendeta?" tanya Cik Melan.
"Kita ini anak-anak Tuhan .... Sudah sepatutnya kita meninggalkan itu semua. Ketika kita sudah punya baju baru, maka tinggalkanlah pakaian kita yang jelek dan sudah tidak pantas dikenakan. Kita sudah punya Tuhan yang berjanji akan menyelematkan .... Maka hanya percaya kepada-Nya saja, pasti kita akan selamat. Jadi, jangan menyeterukan Tuhan." kata sang pendeta itu, yang tentunya mengingatkan ajaran agamanya.
Cik Melan tertunduk diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya sanggup mendengar nasihat pendeta itu. Dan tentunya ia juga sadar, kalau selama ini memang suaminya sangat buta dengan agama. Bahkan Podin sendiri pernah bilang kepada Cik Melan, kalau dirinya masuk ke rumah ibadah itu karena diajak oleh Cik Melan. Baru pertama kali berdoa saat diajak ke gereja oleh istrinya. Tentu Cik Melan sadar, kalau selama ini pasti suaminya masih menganut ajaran-ajaran yang tidak mengenal Tuhan, tetapi masih menyembah dan memuja benda-benda keramat.
"Cik Melan .... Ajaklah suamimu ke jalan yang benar, jalan yang ditunjukkan oleh-Nya, jalan kebenaran melalui Sang Putra Tunggal .... Saya yakin, peristiwa yang menimpa Pak Podin ini pasti ada kaitannya dengan benda-benda ini." kata sang pendeta itu lagi.
"Iya, Pak Pendeta .... Mohon didoakan agar suami saya sadar dan pasrah kepada Tuhan ...." sahut Cik Melan yang tentu mohon dibantu doa.
"Tentu, Cik Melan .... Kami semua akan membantu dalam doa ...." jawab para jemaat yang lain.
"Ini kamar yang tidak pantas dimiliki oleh anak-anak Kristus ...." kata pendeta itu lagi.
"Sebaiknya saya harus bagaimana, Pak Pendeta ...?" tanya Cik Melan, yang tentunya saat ini bingung dengan keadaan kamar rahasia suaminya itu.
"Ini adalah berhala-berhala .... Anak-anak Kristus tidak boleh bersekutu dengan setan .... Buang saja semua barang-barang ini, agar tidak ada lagi berhala di dalam rumah ini." jawab sang pendeta, yang tentunya meminta agar Cik Melan menyingkirkan barang-barang milik Podin yang tersimpan di ruangan kamar rahasia itu.
"Baik, Pak Pendeta .... Saat ini izinkan saya konsentrasi mengurusi suami saya yang ada di rumah sakit terlebih dahulu. Nanti setelah suami saya pulih, akan saya beresi semua. Doakan saya, Pak .... Doakan suami saya ...." kata Cik Melan yang tentu agak berat dengan urusan milik suaminya itu.
__ADS_1
"Ya, sudah .... Jangat terlalu lama di sini, kasihan Pak Podin ditinggal di rumah sakit .... Mari kita berdoa, untuk meminta pertolongan Tuhan, mengusir roh-roh jahat yang sudah menempati ruangan dan rumah Cik Melan ...." kata sang pendeta itu, yang selanjutnya berdoa bersama jemaatnya yang ikut. Dan tentu juga Cik Melan. Mereka berdoa mengusir roh-roh jahat yang tentunya bergentayangan di rumah Cik Melan.