PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 139: MENGUAK RAHASIA


__ADS_3

    Pagi itu Podin yang sudah diselimuti rasa ingin tahu, yang tentu saja merasa sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya semalam, batu besar yang ada di bawah pohon besar di belakang villanya, maka ia langsung menuju ke bawah pohon besar yang semalam telah ditunjukkan oleh arwah gentayangan dari hantu seorang perempuan yang mengenakan gaun putih seperti layaknya gaun pengantin itu. Tentu karena semalam saat ia berada di tempat itu di bawah pohon besar itu, Podin tidak sanggup melihat apa-apa, Podin tidak bisa mengamati apa sebenarnya yang ada di tempat itu, dan Podin hanya bisa meraba kalau di situ ada sebuah batu besar yang tidak bisa ia gerakan sama sekali.


    Pagi itu, Podin yang ingin mengetahui apa sebenarnya yang ada di tempat itu, maka ia pun langsung menuju ke tempat yang semalam sudah datanginya, atas petunjuk dari hantu perempuan itu. Ya, Podin langsung menyibak semak-semak belukar yang ada di sekitar pekarangan itu, yang menutupi bagian bawah pohon itu, bahkan juga menutupi barang yang semalam telah Ia pegang, batu besar yang ada di dekat pohon besar tersebut.


    Benar, Podin menemukan batu sebesar kepala kerbau, tetapi tentunya batu itu susah untuk digerakkan, karena saking besarnya dan tertanam di tanah cukup dalam. Podin tidak sanggup untuk mengangkat batu itu. Namun Podin pastinya tidak patah semangat. Ia mencari linggis, yang ternyata di dalam mobilnya ada peralatan itu. Lantas dengan linggis yang lumayan besar itu, Podin berusaha untuk membongkar batu yang ada di bawah pohon besar itu. Tanah yang ada di sekitarnya, langsung digali menggunakan linggis. Batu itu tampak halus,  seperti batu kali yang sangat keras. Batu hitam yang tidak mempan diterpa arus sungai.


    Memang agak aneh, di tempat yang agak tinggi dengan pepohonan yang besar-besar itu, sepertinya dengan sengaja ditaruh batu besar di bawah pohon itu. Dan pastinya, ini adalah batu penanda. Pasti ada sesuatu di bawah batu itu.


    Podin terus menggali tanah yang menutup batu itu, menggali tanah ada di pinggiran batu itu. Kemudian setelah terlihat separuh dari tubuh batu itu, Podin pun kembali mencongkel batu besar itu dengan linggisnya. Ya, Podin sudah mulai bisa mencongkel batu itu. Podin berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengangkat batu itu yang memang ternyata sangat besar, yang memang ternyata batu itu. Ya, batu itu mulai bergerak. Pastinya Podin mulai senang, karena sebentar lagi ia akan tahu apa sebenarnya yang terdapat di situ.


    Walaupun Podin tidak sanggup, tidak bisa mengangkat batu itu, tetapi setidaknya dengan dijugil memakai linggis itu, ia bisa menggulingkan batu itu untuk bergeser ke sebelahnya, ke tempat yang agak longgar. Ya, Podin terus berusaha untuk menggeser batu itu ke bagian tanah yang lebih rendah, diungkit-ungkit dengan menggunakan linggis yang masih ia pegang. Meski sedikit, tetapi batu besar itu sudah bisa bergeser.


    Dan saat linggis itu digunakan lagi untuk menggali tanah yang ada di bawah batu yang sudah bergeser, ternyata linggis itu menatap benda lain. Benda yang agak lunak mestinya, sehingga menimbulkan suara menjeduk. Semacam ujung linggis yang beradu dengan peti kayu, atau mungkin kotak. Ya, benda itu pastinya bukan terbuat dari besi ataupun batu. Tetapi semacam kayu. Atau mungkin dari bahan lain. Tentu Podin semakin penasaran.

__ADS_1


    "Hah ...?! Ada kotak ...?!" gumam Podin saat mendengar suara benturan linggisnya dengan benda yang ditemukannya tersebut.


    Lantas tangan Podin langsung membersihkan tanah yang ada di atas kotak yang baru saja ia temukan itu. Dan pastinya, ia kembali menggali tanah itu dengan linggisnya, untuk memastikan benda yang terpendam di dalam tanah itu. Dan setelah terlihat, itu semacam koper. Ya, tas koper besar berwarna hitam. Podin menemukan tas koper.


    Maka Podin tentunya tidak sabar untuk segera bisa mengangkat koper yang terpendam dalam tanah itu. Ia pun mulai menggali kembali, membongkar lagi tanah-tanah yang menutupi koper tersebut, mengeluarkan tanah yang menguruk koper itu. Koper yang tidak hanya tertimbun tanah, tetapi juga ditindih dengan batu besar.


    Setelah beberapa tanah itu di kais, dan setelah tanah itu tersingkir, sehingga tampaklah dengan jelas, memang yang ada di bawah batu tadi adalah sebuah koper besar. Setidaknya, yang punya koper sebesar itu adalah orang yang kaya raya. Kalau koper itu digunakan untuk menyimpan pakaian saja, pasti muat banyak. Apalagi kalau koper itu berisi harta karun, jumlahnya pasti lebih dari dua peti milik Podin yang dibawa dari Pulau Berhala.


    Setelah cukup lama Podin berusaha menggali dan mengeluarkan koper itu, akhirnya berhasil juga. Koper itu bisa dikeluarkan. Podin tersenyum senang, angannya sudah terbayang, itu pasti koper yang yang berisi harta karun. Koper itu masih utuh. Pastinya koper itu terbuat dari bahan yang sangat tebal dan bagus, tidak termakan oleh rayap maupun binatang-binatang dalam tanah. Pasti ini koper yang harganya mahal. Setidaknya tahan lama meski dipendam dalam tanah.


    Dengan susah payah, dengan tenaga yang tak terukur kekuatannya, dengan keringat yang sudah mengucur membasahi seluruh tubuh, akhirnya Podin berhasil mengangkat koper yang dipendam di dalam tanah di bawah pohon besar itu. Ia tersenyum puas, jerih payahnya sudah terbayar lunas, saat koper itu bisa keluar dari tempatnya. Lantas, Podin berdiri, tolah-toleh menengok ke kanan dan ke kiri, melihat situasi. Setidaknya mengawasi lingkungan sekitarnya, apakah ada orang yang mengetahuinya atau tidak. Namun rupanya, tempat itu memang sepi. Tempat itu memang tak berpenghuni. Tempat itu memang tidak terjangkau oleh penduduk. Ya, tempat tinggal Podin ini memang villa yang benar-benar terasing. Villa yang benar-benar berada di tengah hutan.


    Merasa keadaannya aman tidak ada orang, merasa tempat itu tidak ada yang melihatnya, koper yang sudah ia angkat dari dalam tanah itu kemudian ia seret untuk dibawa ke dalam villanya. Podin langsung saja membawa masuk koper yang masih kotor itu, yang masih banyak ditempeli tanah itu, yang masih terdapat remah-remah tanah dari tempat penguburannya. Podin itu langsung membawanya masuk melewati pintu belakang. Dan setelah memasukkan peti itu ke dalam villanya, Podin pun segera menutup pintunya rapat-rapat. Pasti agar tidak ada orang yang tahu. Dan tentunya agar apa yang ia bawa, apa yang ia ambil, apa yang ia gali dari dalam tanah di bawah pohon yang sangat besar itu, adalah rahasia dirinya yang tidak bakal diketahui oleh orang lain.

__ADS_1


    Podin tidak sabar untuk segera mengetahui apa isi yang ada di dalam peti koper itu. Podin sudah tidak sabar untuk menyaksikan barang-barang yang dikubur dalam koper itu. Dan pastinya, Podin pun segera mencongkel tutup koper itu dengan menggunakan linggisnya. Ya, koper itu memang tertutup sangat rapat dan sangat kuat. Koper itu sangat kokoh. Walaupun sudah lama terkubur, namun masih bagus dan kuat. Hanya bagian gembok dan kuncinya saja yang sudah karatan semua. Walaupun mungkin sudah lama tertimbun di dalam tanah, meski koper itu sudah termakan usia, termakan tanah yang ada di tempat penimbunannya, namun kenyataannya tas koper besar itu masih kokoh dan kuat. Koper itu masih susah untuk dibuka. Apalagi lis pinggiran dari koper itu serta gembok dan kait penutupnya sudah karatan semua.


    Namun karena Podin sangat penasaran, maka dengan sekuat tenaga ia pun berusaha membongkar koper besar itu. Yah, Podin sudah menggunakan linggis untuk membuka tutup secara paksa. Dan akhirnya koper itu pun terbuka.


    Tetapi rupanya, di dalam koper itu masih ada pembungkus lainnya, yaitu plastik yang cukup tebal, plastik yang cukup lebar, yang rupanya sengaja digunakan untuk membungkus barang yang ada di dalamnya. Ya, isi dalam koper itu dibungkus secara berlapis. Memang packing dari plastik tentunya sangat kuat dan tahan lama. Walau sampai kapan pun usianya, plastik itu tidak bakalan hancur. Karena plastik memang merupakan bahan yang tidak bisa dihancurkan, tidak bisa busuk, dan tidak bisa karatan, kecuali dengan cara dibakar.


    Podin yang penasaran, secara perlahan mulai membuka bungkus plastik dalam koper itu. Dengan hati berdebar, karena ingin tahu apa sebenarnya isi yang ada di dalam koper itu. Dan setelah ia membuka bungkusan itu, setelah beberapa lembar plastik itu dibuka, alangkah kagetnya Podin. Ternyata di dalam plastik itu terdapat sisa-sia jasad manusia, yang sudah tinggal tulang-tulangnya saja. Yah, di dalam bungkusan plastik itu terdapat kerangka manusia. Hanya tinggal kerangka saja, hanya tinggal tulang-tulang saja, sudah tidak ada sisa dagingnya. Namun kerangka itu, tulang-tulang itu masih terbungkus dengan pakaian, gaun putih seperti halnya gaun yang dikenakan oleh hantu yang menemuinya semalam. Ya, gaun putih seperti layaknya gaun pengantin. Dan pada gaun itu, terlihat rambut panjang yang pastinya milik orang yang sudah menjadi kerangka itu. Ini pasti kerangka perempuan.


    Lemas seluruh tubuh Podin. Badannya seperti di lolos sendinya, seperti dilepaskan otot-ototnya. Podin langsung mendelosor di lantai. Kini ia hanya sanggup mengamati benda yang ada di hadapannya itu. Podin hanya sanggup memandang kerangka perempuan yang terbungkus plastik itu. Dugaan Podin di awal, keliru semuanya. Barang yang ditemukan itu ternyata bukan harta karun. Koper itu ternyata adalah tempat menyimpan mayat. Berarti, ini adalah salah satu mayat yang dikubur di villa itu.


    Memang benar seperti yang diceritakan oleh para tetangganya, orang-orang kampung di sekitar situ, kalau dulu di villa itu pernah terjadi pembunuhan. Namun kalau dulu menurut cerita orang orang kampung, mayatnya sudah dibawa oleh Polisi. Tetapi. kenapa ini masih ada lagi? Lantas, siapa perempuan yang dibungkus plastik dalam koper ini? Pasti ada lagi pembunuhan yang lainnya.


    Kini, setelah menemukan koper yang berisi kerangka perempuan itu, ia sadar mengapa villa yang bagus itu, mengapa villa yang pekarangannya luas itu dijual dengan harga yang murah. Pasti si pemilik villa sebelumnya selalu ketakutan saat didatangi hantu perempuan yang menakutkan itu. Atau bahkan, pemiliknya sudah tidak mau lagi tinggal di villa yang pernah dijadikan sebagai tempat pembunuhan.

__ADS_1


    Podin yang sudah menemukan koper berisi kerangka manusia itu, tidak berniat untuk melaporkan kejadian ini ke polisi. Podin tidak berniat untuk menyampaikan temuannya itu kepada pihak yang berwajib. Tetapi Podin justru punya niat lain, yaitu akan melakukan ritual untuk memuja temuannya itu. Yang tentunya, barang berupa koper dan berisi kerangka serta pakaian wanita itu, pasti dihuni oleh arwah perempuan yang gentayangan. Dan yang menjadi tujuan utama dari Podin adalah bisa memanfaatkan arwah itu untuk mencari uang.


    Ya, Podin akan memanfaatkan arwah perempuan itu menjadi pesugihan yang sanggup mencarikan uang bagi dirinya.


__ADS_2