
Setelah mengetahui peristiwa yang terjadi di dalam kamarnya rumahnya itu, perbuatan yang dilakukan antara istrinya dengan laki-laki lain, Podin sebenarnya ingin marah, ingin memukul istrinya, ingin menendang laki-laki yang memeluk mesra istrinya itu. Namun di sisi lain Bodin pastinya juga takut kalau terjadi masalah ketika ia melakukan kekerasan terhadap istrinya maupun terhadap orang lain. Dan tentu Podin khawatir kalau sampai itu terjadi dan dilaporkan kepada pihak kepolisian, pasti nanti dirinya akan dihukum di penjara.
Makanya, Podin tidak mau ada masalah dengan hukum. Podin tidak akan melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya maupun laki-laki yang bersama istrinya itu. Ia memilih untuk aman. Podin hanya sempat berpikir untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara ia harus pergi meninggalkan Lesti.
Ya, bagi Podin, mungkin Lesti bukanlah pasangan yang cocok. Lesti mungkin bukan perempuan yang bisa diharapkan untuk mengurus rumah tangga. Lesti mungkin juga bukan perempuan yang bisa diandalkan untuk mengurus usahanya. Bahkan Podin juga beranggapan kalau Lesti hanyalah perempuan uji coba bagi para lelaki yang hanya sanggup melayani kepuasan di ranjang saja. Dan pastinya Podin tahu kalau Lesti sudah pernah meladeni setiap orang yang sudah meminta tolong pijit dan mencoba dirinya.
Podin teringat saat akan menikah dengan Lesti. Kala itu Podin hanya ingin mendapatkan istri yang bisa diajak berumah tangga. Pastinya agar kebutuhan biologisnya bisa tersalurkan. Podin masih ingat betul, saat dirinya akhirnya memilih Lesti untuk diajak menikah. Kala itu, Lesti hanyalah wanita tukang pijat plus-plus. Yang saat itu Podin pijat di tempat kerjanya, yang akhirnya berlanjut ke hotel. Dan Podin mestinya tahu, Lesti selalu dicoba oleh orang lain. Wanita yang dibalik profesinya sebagai tukang pijat, ia juga menjadi penghibur orang lain. Maka wajar, jika ditinggal pergi seminggu oleh Podin, tentu saja Lesti sudah tidak bisa menahan gejolak nafsunya, dan tentunya Lesti akan meladeni laki-laki hidung belang seperti itu. Dan pastinya, Podin akan berpendapat hal semacam itu pasti akan dilakukan oleh Lesti terus, terus, dan terus.
Podin sudah yakin, kalau perempuan semacam Lesti itu tidak bakal bisa bertobat. Bahkan seperti halnya sudah dikatakan oleh adiknya sendiri yang jijik untuk berdekatan dengan Lesti, yang mengatakan najis kalau bersalaman dengan Lesti. Inilah fakta. Inilah buktinya. Inilah kenyataan yang sudah disaksikan oleh Podin sendiri, bahwa apa yang dikatakan oleh adiknya Lesti itu tidak salah, tidak keliru, dan memang benar adanya.
Podin tidak ingin memperpanjang masalah. Podin tidak ingin ribut dengan Lesti. Podin juga tidak ingin mempermalukan keluarga Lesti. Maka ia hanya sanggup berpikir untuk pergi meninggalkan Lesti. Itu saja.
Setelah mengambil sertifikat kepemilikan ruko tersebut, dan tentunya Podin akan segera pergi meninggalkan ruko itu, meninggalkan Lesti, meninggalkan keluarga Lesti, kedua orang tua yang sudah menganggap Podin sebagai orang baik itu. Namun tentunya Podin juga bingung, akan pergi ke mana setelah meninggalkan rumah itu itu.
Akhirnya, dalam keputus asaannya itu, dalam frustrasinya itu, Podin yang bingung, maka ia hanya sanggup menjalankan mobil begitu saja, tanpa arah dan tujuan. Yang penting baginya, ia bisa segera meninggalkan ruko yang sudah meluaki hatinya itu. Bahkan saat keluar dari parkiran, Podin sempat secara sengaja, menyerempetkan mobilnya pada mobil mewah yang diparkir di depan ruko Lesti tersebut, yang tentunya oleh Podin diyakini, itu adalah mobil milik laki-laki yang masih telanjang di dalam kamarnya bersama istrinya. Tentu karena saking jengkelnya Podin. Dan pastinya, mobil mewah itu langsung mengaung-aung suara alarmnya. Dan pastinya, nantu pemiliknya akan membawa mobil yang sudah penyok bodinya itu ke bengkel kenteng dan cat.
Podin hanya mengikuti putara roda. Ia menjalankan mobil tanpa tahu arah dan tujuannya. Namun tentunya, saat itu Podin sangat mengantuk dan capek. Ia yang rencananya akan tidur di kamarnya, tetapi justru saat sampai rumah disodori adegan menjijikkan yang sangat menyakitkan hati. Makanya, Podin harus segera pergi meninggalkan ruko itu. Hingga akhirnya, karena saking ngantuknya, dan juga karena saking capeknya, yang dialami sejak kemarin hari, yang memulai perjalanan dari Jakarta hingga ke Pulau Berhala, dan kembali ke rumahnya di Padalarang. Bahkan juga karena saking jengkelnya menghadapi masalah keluarga. Podin tentu tidak akan fokus dalam menyetir mobilnya. Akhirnya ia menghentikan mobil yang dikendarainya itu, di pinggir alun-alun kota. Kebetulan berada di bawah pohon yang rindang. Pastinya Podin mencari tempat yang nyaman. Dan Podin ingin istirahat di situ.
Namun berkali-kali Podin mencoba untuk memejamkan mata, tidak juga bisa tidur. Bahkan pikirannya semakin gelisah. Podin masih terbayang-bayang dengan peristiwa yang baru saja dilihatnya. Mestinya Podin yang menghentikan mobil ingin tidur di dalam mobil itu, untuk menghilangkan rasa kantuk dan capeknya, namun justru peristiwa yang dilihatnya itu, adegan mesum antara istrinya dengan laki-laki lain, seakan berputar lagi di depan matanya. Adegan-adegan itu seakan kembali muncul dan ia lihat lagi. Tentu Podin tidak bisa tidur, tetapi justru semakin jengkel dan emosi.
Saat ia mencoba keluar sebentar dari mobilnya, tanpa sengaja, mata Podin melihat tulisan yang terpampang di sebuah gedung, pada bagian atas atapnya, "Jasa Pemasaran Properti". Podin langsung teringat dengan sertifikay kepemilikan ruko yang tadi sempat ia ambil dari laci lemari kamarnya. Tentunya pikiran Podin langsung tertuju pada gedung itu. Ya, ia akan menawarkan ruko miliknya di kantor jasa pemasaran itu.
__ADS_1
Podin yang sudah sangat muak dengan Lesti, ditambah memang saat ini ia sudah kehabisan uang, tentu Podin tidak bisa berpikir secara jernih. Podin tidak bisa berpikir jauh ke depan. Podin tidak memikirkan nasib Lesti dan keluarganya. Bahkan saat ini ia sudah sangat membencinya Lesti. Maka ia tidak akan menggubris nasib Lesti kelak. Dan karena sangat butuh uang, terutama untuk menentukan hidupnya saat ini, maka dengan serta merta, Podin pun langsung menuju ke kantor jasa pemasaran penjualan rumah tersebut. Dan pastinya, Podin akan menjual ruko miliknya.
Sama seperti waktu Podin menjual ruko yang dijadikan tempay usaha oleh istrinya yang pertama. Saat itu Maya, istrinya yang ke dua, meminta dibelikan mobil mewah. Karena Podin harus segera dapat uang, maka ruko itu juga dijual dalam waktu yang sangat cepat. Meski harganya juga anjlog, dijual muran=h-murahan. Yang penting segera dapat uang.
"Mang ..., saya mau minta tolong ...." kata Podin saat masuk ke kantor jasa pemasaran properti itu. Kebetulan kantor tersebut dekat dengan posisi Podin saat memarkirkan mobilnya di pinggir alun-alun.
"Iya, Bapak .... Ada yang bisa kami bantu? Bapak mau membeli rumah? Lokasi mau yang di kampung? Atau yang ada di kota? Perumahan yang elit? atau yang tipe biasa?" sahut laki-laki setengah dewasa itu, yang tidak lain adalah pegawai di kantor jasa penjualan properti tersebut.
"Saya tidak akan beli .... Justru saya akan menjual ruko saya ...." jawab Podin, yang mengatakan ingin menjual ruko miliknya.
"Siap, Bapak .... Kantor kami memang siap melayani semua kebutuhan tentang properti. Ada yang mau beli, kami siap membantu mencarikannya, menunjukkan tempat-tempatnya, memberikan informasi bangunannya. Jika ada yang mau menjual, kami siap menawarkan. Bapak mau jual ruko yang ada di daerah mana?" tanya pegawai itu.
"Oo .... Ruko yang baru itu, ya ...?" sahut pegawai itu.
"Betul ...." jawab Podin.
"Kenapa dijual, Pak? Itu strategis, lho .... Dan saya lihat juga bagus .... Prospek ke depannya sangat menjanjikan itu, Pak." kata pegawai itu, yang seakan justru sayang kalau ruko itu dijual. Memang, Ruko milik Podin ini lokasinya sangat strategis.
"Iya .... Dulu saya beli cukup mahal .... Pengembangnya juga mengatakan begitu." sahut Podin.
"Tapi ..., kenapa malah dijual, Pak?" tanya pegawau pemasaran itu lagi.
__ADS_1
"Saya mau pindah ke luar kota .... Dan pastinya saya juga butuh uang." jawab Podin yang tentunya memberikan alasan yang sangat tepat.
"Mau dijual berapa, Pak?" tanya pegawai itu.
"Dulu saya beli, harganya satu milyar .... Tapi karena ini mendesak, dan saya harus segera ke luar kota, maka saya akan menawarkan berapa saja lakinya, yang penting saya jangan terlalu banyak merugi." kata Podin.
"Tapi perlu saya sampaikan kepada Bapak, nanti dari hasil penjualan itu, kantor kami akan meminta jasa, Pak ...." kata pegawai itu.
"Ya, saya paham. Saya juga pernah mengalami seperti ini. Dulu saya juga pernah menjual ruko demikian." kata Podin yang paham dengan jasa maupun komisi hasil penjualan.
"Baik, Pak .... Kami akan langsung menawarkan melalui iklan ...." kata pegawai itu, yang tentunya memang perusahaan jasa seperti itu sangat intens dengan iklan maupun media sosial. Tentunya agar barang dagangannya, tanah maupun rumah, akan cepat diketahui oleh orang-orang yang membutuhkan.
"Ini surat sertifikat kepemilikannya." kata Podin sambil memberikan sertifikat kepemilikan rukonya.
"Baik, Bapak. Ini atas nama Bapak sendiri, ya ...?" kata pegawai yang menerima sertifikat dan langsung membuka dan membaca identitas pemiliknya.
"Dan ini, rekening saya. Seandainya nanti ada yang beli, mohon pembayarannya langsung di transfer ke bank. Maaf, karena saya harus segera ke luar kota." kata Podin yang tentu ingin segera dapat uang.
"Baik, Pak .... Nanti akan saya ungkapkan kepada calon pembelinya. Dan semoga saja ruko Bapak cepat laku. Ini nomer telepon perusahaan kami. Nanti Bapak bisa menanyakan lewat telepon kami." kata pegawai pemasaran tersebut.
Plong rasa hati Podin. Pikirannya sudah menjadi tenang. Dan ia pun kembali ke mobil, dan langsung tidur di dalam mobil yang terparkir di bawah pohin yang rindang tersebut. Podin mendengkur keras. Pertanda tidurnya bisa nyenyak.
__ADS_1