PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 80: TERSINGGUNG SINDIRAN


__ADS_3

    Sudah satu bulan Podin menikah dengan Lesti. Namun mereka hanya berada di rumah saja, tanpa kerja. Podin jarang bepergian, paling hanya mengantarkan istrinya ke pasar untuk belanja sebagai bahan masak dalam memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Ya, Lesti memang sudah tidak boleh bekerja lagi di kota besar oleh orang tuanya. Dan tentunya Lesti juga menuruti apa yang diminta oleh orang tuanya agar dirinya tetap menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurusi keluarga dan rumah tangganya. Setidaknya Lesti bisa masak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, serta merawat tanaman-tanaman bunga yang ada di depan rumahnya. Itulah kodrat sebagai seorang wanita. Memang Lesti harus bekerja mengurusi rumah tangga,  seperti halnya yang dilakukan oleh ibunya yang memang tidak bekerja hanya memasak dan menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan anak-anaknya. Terutama dalam hal menyiapkan makanan. Dan tentunya para perempuan di kampung Lesti, memang pekerjaannya hanyalah mengurusi dapur dan keluarganya.


    Demikian hanya Lesti, yang sudah menikah dengan Podin. Akhirnya dia harus menghentikan profesinya sebagai seorang juru pijat jari lentik. Memang menurut masyarakat di kampungnya, pekerjaan semacam itu bukanlah pekerjaan yang baik, bukanlah pekerjaan yang bermartabat, tetapi justru berkonotasi negatif. Karena pada dasarnya juru pijat jari lentik itu hanya sekedar istilah untuk memperhalus. Namun yang sebenarnya, Lesti tidak hanya sekedar memijat badan capek atau pegal-pegal para pelanggannya saja, tetapi lebih banyak dilarikan ke hal-hal yang negatif, hal-hal yang berbau tidak baik, yaitu sebagai tukang pijat plus-plus. Ya, plus-nya itu yang dikonotasikan macam-macam. Itulah pandangan negatif tentang juru pijat jari lentik, seperti halnya yang pernah dialami oleh Lesti. Dan memang Lesti juga melakukan hal yang seperti dugaan masyarakat umum. Dan itu memang benar, bahkan Lesti sudah berganti-ganti orang untuk diajak keluar masuk hotel, yang tentunya pasti ada apa-apanya tersebut. Ngapain berdua dengan laki-laki dalam kamar hotel, kalau tidak gituan?


    Dan kini, setelah Lesti menikah dengan Podin, setelah mereka berkeluarga, ya seharusnya Lesti meninggalkan profesi itu semua. Kata orang tuanya, "Syukurlah kalau Lesti mau bertobat .... Syukurlah kalau Lesti mau menuju ke jalan yang benar, jalan yang baik, jalan yang diridhoi Allah."


    Ya, itulah yang namanya kehidupan. Kadang bisa berubah dengan cepat, tetapi kadang kala juga tidak bisa dirubah bahkan sampai meninggal dunia. Tentu orang tua Lesti sangat senang ketika menyaksikan Lesti yang sudah berumah tangga, Lesti yang sudah punya suami, dan kini hidup tentram, rukun bersama suaminya yang kemana-mana selalu berdua. Baik itu ke pasar, maupun pergi-pergi. Selalu berdua. Syukurlah, orang tua Lesti bisa menyaksikan anaknya menjadi orang yang baik dan rukun dengan suaminya.


    "Suami Lesti itu kerjanya apa, sih?" begitu tanya perempuan-perempuan para tetangga Lesti, terutama teman-teman sebaya Lesti yang rata-rata mereka memang sudah punya anak, bahkan juga ada yang sudah punya cucu. Maklum usia seangkatan Lesti yang sudah mencapai sekitar empat puluh tahun, berarti memang sudah layak kalau anaknya sudah besar-besar. Bahkan yang menikah muda, dia pasti sudah punya cucu.


    Dan tentunya, teman-teman Lesti ini, yang rata-rata tinggal di kampung, mereka iri dengan keadaan Lesti yang bisa menikah dengan Podin, yang saat pernikahan saja sudah diberi perhiasan yang banyak jumlahnya. Bahkan sekarang, Lesti bersama suaminya bisa pergi ke mana-mana naik mobil. Belanja ke pasar setiap hari juga diantar dengan mobil. Setiap sore jalan-jalan, juga naik mobil.


    Dan yang paling mencolok, begitu menyaksikan makanan yang tersedia di rumah Lesti, menu-menu yang tersaji di meja makan, selalu enak-enak dan harganya juga kalau dihitung oleh orang kampung termasuk lumayan mahal. Pasti ini membuat ngiler para tetangganya, yang kebanyakan mereka ini adalah teman sebaya Lesti. Bahkan juga, pasti mereka juga iri karena Lesti kini hidupnya benar-benar enak, mewah dan tidak perlu kerja berat.


    "iya ..., ya .... Saya juga tidak pernah melihat suaminya Lesti itu pergi berangkat kerja, pakai tas koper, pakai jas atau baju yang rapi, pakai pakaian necis, atai ..., yah ..., seperti para bos itu .... Kerja apa ya, suami Lesti itu ...? Saya kok tidak pernah melihat suaminya Lesti itu kerja ...." kata salah satu perempuan, yang tentu teman seangkatan dan juga tetangga Lesti.


    "Saya juga tidak pernah melihat suami Lesti itu bekerja ...." sahut yang lain.


    "Apa dia itu Bos, ya?"


    "Anaknya orang kaya, ya?"


    "Atau mungkin dia itu pengusaha, atau apa ya ...?"


    "Saya juga tidak pernah melihat kalau si Podin itu bekerja."

__ADS_1


    "Kalau memang kerja ..., dia itu kerja di mana ...? Tapi kalau tidak bekerja, kok uangnya banyak ...?" begitu omongan para tetangganya, yang tentunya mereka ingin tahu apa sebenarnya pekerjaan dari suami Lesti itu, sehingga bisa membuat iri dari para tetangganya, terutama perempuan-perempuan yang setidaknya kalau melihat Lesti memakai gelang, memakai kalung, pasti bagi teman-teman dan tetangganya di kampung, hal itu akan menjadikan iri dan akan menjadikan kecemburuan bagi orang-orang lain yang melihatnya.


    Ya, memang di kampung, yang namanya perhiasan adalah perlambang kekayaan, harga diri seorang wanita, juga merupakan martabat seseorang. Seorang wanita akan dikatakan kaya atau mampu, apabila dia mempunyai perhiasan yang dikenakan pada tubuhnya. Tetapi kalau perempuan itu tidak memakai perhiasan, maka ia pun akan dikucilkan, bahkan menjadi bahan omongan orang, karena dianggap sebagai orang miskin.


    Seperti itulah keadaan di kampung. Apalagi kalau pada saat kondangan atau pergi ke pesta pernikahan, pasti para wanita, semua orang akan memperlihatkan pakaiannya yang bagus-bagus, serta perhiasan-perhiasan yang dikenakan. Ya, itulah nilai seorang wanita yang diukur dari apa yang dikenakannya, dinilai dari penampilannya.


    Demikian juga dengan Lesti, yang gelangnya ada banyak, sehingga kalau berjalan bisa mengeluarkan suara bergemerincing, karena gelang-gelang yang dikenakan di lengan Lesti, baik yang ada di lengan tangan kanan maupun yang di tangan kiri, jumlahnya cukup banyak. Dan tentu hal itu, jika tangan Lesti melenggang, bergerak-gerak, akan menyebabkan suara gemerincing yang mengganggu telinga para perempuan-perempuan yang merasa tersaing perhiasannya.


    Pastinya, Lesti menjadi bahan pembicaraan orang sekampung, karena punya suami yang kaya raya, yang sanggup membelikan perhiasan-perhiasan, yang sanggup membelikan gelang, kalung, cincin, serta anting-anting. Dan Lesti tentu bangga bisa mengenakan semua perhiasannya itu. Pasti Lesti juga ingin memamerkan harta kekayaannya yang tergambar dari jumlah perhiasan yang dikenakannya itu.


    "Lesti ..., suamimu itu kerja apa? Kok kaya raya seperti itu? Bisa memberikan perhiasan yang sangat banyak kepada dirimu ...." tanya perempuan yang dulu teman sekolah SD waktu di kampung.


    "Yah ..., dia punya usaha .... Cuman tempatnya ada di Jakarta. Nah, sekarang ini, suami saya itu, setelah kehilangan istrinya, ditinggal meninggal oleh istrinya yang saat melahirkan meninggal bersama dengan bayinya, dia itu frustrasi .... Dia itu merasa kesepian dan merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Itulah sebabnya, ketika ketemu saya dan bisa senang, langsung mengajak nikah dengan saya. Dia itu sangat senang bisa dapat istri lagi, apalagi saat saya mau dinikainya. Makanya, dia ingin memanjakan saya." begitu jawab Lesti, yang tentu menambah orang-orang sebayanya itu menjadi lebih iri, menjadi lebih cemburu, karena ternyata dari pengakuan Lesti, suaminya itu adalah seorang pengusaha di Jakarta.


    "Lah ..., Lesti .... Sekarang saya tanya .... Kalau dia itu pengusaha, kenapa dia di rumah terus? Masak satu bulan lamanya di kampung ini, tidak pernah pergi ke Jakarta? Suamimu itu berada di sini terus, geluyuran sana kemari sama kamu terus .... Bermesraan terus .... Kalau tidak pernah menengok usahanya yang ada di Jakarta ..., terus usahanya itu yang ngurus siapa?" tanya temannya, yang tentu juga tidak percaya begitu saja kalau suami Lesti itu adalah seorang pengusaha.


    "Halah .... Paling-paling kamu itu dibohongi .... Paling-paling kamu itu cuman diambil madunya saja .... Untuk melampiaskan nafsu bejatnya saja .... Nanti setelah puas menikmati kamu, kamu bakal ditinggal pergi begitu saja." kata temannya yang sirik, yang tentu dia juga tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lesti tadi.


    Tentu kata-kata temannya itu sangat keras terderngar di telinga Lesti. Apakah benar yang dikatakan oleh temannya itu? Tetapi kenapa suaminya setia setiap mengantar Lesti pergi ke mana-mana? Bahkan diajak ke pasar, membawakan belanjaan, dia juga menurut saja dan senang. Tentu pikiran Lesti mulai terusik dengan kata-kata temannya itu.


    "Ya, kalau memang nasib saya seperti itu, apa boleh buat .... Saya hanya pasrah dan menerima." begitu jawab Lesti, yang tentunya dia juga tidak enak mendengar kata-kata temannya itu.


    "Ya ..., nanti kamu kan gampang nyari pasangan lain, nyari laki-laki lain. Dasar perempuan gatal." seorang temannya menyindir kata-kata tidak pantas pada Lesti. Tentunya temannya itu ingin menjelek-jelekkan Lesti.


    "Betul .... Nanti bisa jualan daging berbulu lagi ...." lagi-lagi, teman yang lainnya juga menyindir kejelekan Lesti.

__ADS_1


    Tentu Lesti langsung sakit hati dengan kata-kata itu. Ia pun langsung lari pulang ke rumah. Lantas masuk ke kamarnya, dan dia menangis sejadi-jadinya.


    Tahu istrinya ngambek dan menangis di kamar, Podin langsung mengikuti masuk ke kamar. Dan tentu ingin tahu, apa yang tengah terjadi pada istrinya.


    "Lesti ..., kamu kenapa ...?" tanya Podin pada Lesti.


    "Nggak papa, Akang .... Huk ..., hu ..., hu ...." jawab Lesti, yang masih menangis.


    "Gak papa kok menangis ...? Ayo, Lesti ..., bilang saja terus terang sama Akang .... Kamu mau minta apa?" kata Podin lagi, yang tentu merayu istrinya.


    "Teman-teman Lesti, Kang .... Dia kurang ajar .... Dia bilang Akang hanya akan menghisap madu Lesti saja .... Sama mereka tidak percaya kalau Akang saya bilang punya usaha di Jakarta." jawab Lesti yang mulai jelas duduk permasalahannya.


    "Oo .... Kenapa kamu dengar kata-kata temanmu ...? Lesti lebih percaya Akang apa teman Lesti ...?" kata Podin yang tentu mulai membuka kepercayaan terhadap suaminya.


    "Iya, Kang .... Tapi, mereka tidak mau tahu .... Katanya Akang itu bohong kalau punya usaha .... Buktinya Akang gak pernah pergi ke Jakarta ...." kata Lesti yang juga ingin tahu kebenaran usaha Lesti.


    "Jadi Lesti tidak percaya sama Akang ...?" tanya Podin yang mencoba meyakinkan Lesti.


    "Bukan begitu, Akang .... Tapi, ajaklah Lesti ke tempat usaha Akang .... Sekalian ajak Lesti piknik ke Jakarta ...." kata Lesti yang kini sudah memanja di dada Podin.


    Pasti Podin langsung luluh. Podin tidak sanggup menolaknya.


    "Iya .... Kita rencanakan harinya .... Bilang sama orang tua ...." jawab Podin yang tentu membuat lega hati Lesti.


    Lesti pun tersenyum bahagia. Pasti dia akan sanggup membalas teman-temannya yang sudah keterlaluan mengejeknya.

__ADS_1


    "Tunggu pembalasanku, teman-teman ...." begitu kata Lesti dalam benaknya.


__ADS_2