PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 123: MASUK PENJARA


__ADS_3

    "Kepruk saja ...!!"


    "Pukul saja ...!!"


    "Bakar saja ...!!"


    Warga masyarakat langsung berteriak-teriak mengeroyok Podin, mereka meluapkan emosinya saat menangkap pencuri. Tentunya wajah Podin pun langsung menjadi babak belur, dan penuh dengan lebam serta memar. Sehingga wajah Podin tidak dikenali lagi. Bahkan tetangga dekatnya, yang mestinya kenal Podin, kini tidak tahu lagi kalau orang yang dituduh mencuri itu, orang yang sudah digebugi itu adalah Podin, si pemilik rumah itu.


    "Ampun .... Ampuni saya .... Saya Podin .... Saya yang punya rumah ini .... Jangan pukul saya ...." begitu rintih Podin yang tentunya mengiba meminta ampun dan merintih kesakitan, serta menyampaikan kalau rumah itu adalah miliknya.


    "Halah ..., banyak cingcong ...!!" kata salah seorang yang masih emosi


    "Prok ...!!" bogem mentah melayang di wajah Podin.


    "Kebig lagi ...! Nich ...!"


    "Bought ...!"


    "Pukul lagi, ya .... Ini ...!!"


    "Puocht ...!!"


    "Bila perlu, bunuh sekalian ...!!" begitu orang-orang masih berteriak dan masih meluapkan emosinya memukuli Podin dengan sekuat tenaganya.


    "Ampun .... Saya bukan pencuri ...." Podin masih sempat berteriak untuk meminta ampun.


    Tetapi nasib memang sedang sial buat Podin. Warga masyarakat tidak peduli dan tidak mau mendengar kata-kata Podin. Mereka tetap saja memukuli Podin. Podin memang sedang mengalami nasib sial. Ya, saat iya masuk rumahnya sendiri, malah dikira pencuri dan digebuki oleh orang-orang yang meneriaki maling. Bahkan para tetangganya yang kemudian juga ikut memukul, menghajar, mengamuk masa kepada Podin, orang yang dianggap pencuri itu, yang ternyata sebenarnya adalah tetangganya sendiri, yang punya rumah, yaitu Podin.


    Podin memang sudah meminta ampun, sudah berusaha mengatakan kalau dirinya pemilik rumah itu. Namun kenyataannya, orang-orang tetap saja tidak mengenal Podin, orang-orang yang menyangka kalau Podin adalah pencuri, tentu mereka tidak melepaskan begitu saja. Mereka tetap saja menghajar Podin.


    Dan di saat itu, kebetulan ada petugas keamanan, ada mobil patroli polisi yang datang dan langsung menangkap Podin, lalu menyeret dan dilemparkan begitu saja di atas bak mobil. Kemudian membawanya ke kantor polisi. Dan pasti, nanti selanjutnya Podin pun akan dijebloskan ke dalam penjara.


    "Waah ..., kurang puas memukulnya ...."


    "Iya, mestinya tadi dibakar saja ...."


    "Ada apa ini?" tanya seorang perempuan yang lewat di depan rumah Podin, yang tentunya menyaksikan ramai-ramai di tempat itu.

__ADS_1


    "Ada pencuri .... Tadi sudah digebuki ...."


    "Itu ..., pencurinya di bawah polisi .... Biar dihukum sana."


    "Kalau tidak dibawa polisi, tadi akan kami bunuh ...."


    "Ya, akan kami bakar laki-laki itu ...!"


    Walau Podin sudah dimasukkan ke mobil patroli, masih saja ada yang melayangkan bogem mentah di wajah Podin. Walau sudah di pegang oleh Polisi, Podin sudah dibawa oleh polisi itu, berberapa orang masih saja memukuli Podin.


    "Loh, itu kan Bang Podin ...?!" kata perempuan itu, yang tadi barusan ia bertemu dengan Podin dan sempat bicara dengan Podin, saat akan pergi ke pasar. Dan kini, tentunya ia kaget ketika ia pulang dari pasar, dan melintas di tempat itu lagi, menyaksikan Podin sudah dipukuli oleh orang banyak, dan bahkan sekarang Podin diseret oleh Polisi, yang tentunya akan dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara.


    "Bang Podin ...?!" tanya salah seorang laki-laki yang baru saja ikut memukuli orang yang dianggap pencuri tersebut.


    "Iya .... Bang Podin yang yang punya rumah ini ...." kata perempuan itu lagi.


    "Masak iya ...?!" orang-orang mulai kaget, dan tentunya mereka mulai sadar kalau orang yang dianggap pencuri tadi adalah Podin, orang yang punya rumah itu sendiri.


    Tetapi sudah terlanjur. Mobil patroli yang mengankut tubuh Podin sudah pergi. Dan Podin sudah dibawa polisi, pergi jauh, sudah meninggalkan tempat itu. Dan tentunya, warga yang mulai sadar kalau orang yang digebuki tadi adalah Podin, mereka hanya bisa melongo. Mereka hanya bisa mengamati mobil polisi yang membawa Podin itu berlalu dari tempatnya. Yah, nasibnya Podin. Saat orang sudah tahu kalau itu adalah dirinya, tetapi polisi sudah terlanjur membawanya pergi. Dan pastinya, orang-orang pun hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Biar saja nanti di kantor polisi sana, Podin ditanyai oleh polisi. Dulu Podin juga sudah pernah membuat geger, gara-gara mau memperkosa pembantunya. Sekarang bikin geger lagi, Podin bikin ulah lagi, masuk ke rumahnya sendiri saja pakai nyongkel jendela, masuk lewat jendela segala. Pantas kalau orang-orang meneriakinya sebagai pencuri, dan wajar kalau orang-orang langsung mengeroyoknya. Untung tadi tidak jadi dibakar.


    "Memang, Podin tidak membawa kunci rumah?" tanya salah seorang, yang pasti juga agak menyesal dengan perlakuannya.


    "Ya, sudah .... Biar saja nanti dia akan bicara di kantor polisi." sahut yang lain.


    "Nanti kalau polinya udah tahu, kan dilepas ...." sahut yang lain.


    "Ya, biar dia ngrasain digebukin orang .... Itu akibat kecerobohannya." sahut yang lain lagi.


    Dan akhirnya, orang-orang pun bubar meninggalkan tempat itu, meninggalkan lokasi di depan rumah Podin. Dan mereka pun tentunya tidak mempersoalkan Podin lagi. Mereka tidak kecewa, tidak menyesal, dan mempermasalahkan saat mereka keliru dalam memukuli orang. Keliru menganggap Podin sebagai pencuri. Tetapi itu biarlah menjadi pelajaran bagi Podin. Ya, tentu orang-orang di sekitar situ masih ingat dengan peristiwa saat Podin akan memperkosa pembantunya, dan mereka pun mengusir Podin begitu tegas, agar Podin segera pergi dari rumahnya, segera pergi dari tempat itu. Karena Podin dianggap mengotor-kotori kampung tempat tinggalnya. Itulah warga masyarakat yang tentunya memang tidak mau hidup dengan perbuatan-perbuatan yang jelek, perbuatan-perbuatan yang hina, perbuatan-perbuatan maksiat. Dan kini, ketika Podin kembali mencongkel jendela rumahnya sendiri, dan ia membuka jendela itu, lantas masuk rumah melalui jendela, maka wajar kalau orang-orang di sekitarnya, warga masyarakat yang ada di situ langsung berteriak pencuri, berteriak maling, karena hanya pencuri, hanya maling saja yang masuk rumah dengan cara mencongkel jendela.


    Di Kantor Polisi.


    "Siapa nama kamu ...?!" tanya petugas kepolisian kepada Podin.


    "Podin, Pak ...." jawab Podin lemas. Baru kali ini ia ditangkap polisi. Apalagi kondisi tubuhnya sudah ancur dugebukin masa. Mukanya juga lebam-lebam. Bahkan juga ada darah yang menetes di mukanya.


    "Sudah berapa kali kamu mencuri ...?!" tanya petugas polisi itu lagi, tentu dengan bentakan keras.

__ADS_1


    "Saya tidak mencuri, Pak ...." jawab Podin memelas.


    "Bohong ...!!!" polisi itu langsung membentak.


    "Betul, Pak ...." jawab Podin menegaskan.


    "Mana ada pencuri mau ngaku .... Kalau semua pencuri itu mengaku, rumah tahanan penuh ...!" kata polisi itu lagi yang tentunya tidak percaya dengan kata-kata Podin.


    "Betul, Pak Polisi .... Itu rumah saya sendiri ...." jawab Podin, lagi-lagi ingin meyakinkan kepada petugas polisi.


    "Kalau rumah kamu sendiri, kenapa digebukin orang ...?" tanya petugas polisi itu lagi.


    "Itu salah saya, Pak .... Saya masuk rumah melompat lewat jendela ...." jawab Podin yang berterus terang dan mengaku salah.


    "Kok bisa ...?! Masak masuk rumah sendiri pakai lompat jendela segala ...?!" tanya polisi itu.


    "Iya, Pak Polisi .... Saya lupa tidak membawa kunci .... Kuncinya dibawa istri saya ...." jawab Podin yang tentu sangat tepat untuk beralasan. Dan memang kenyataannya demikian.


    "Kok bisa ...?! Awas kalau kamu berbohong ...!" kata polisi itu lagi, yang pasti masih meragukan kata-kata Podin.


    "Benar, Pak .... Sumpah ...." jawab Podin yang mencoba dengan kata-kata sumpah.


    "Oke ...! Sekarang kamu masuk penjara dulu .... Kami akan menanyai saksi-saksi di kampungmu." kata petugas kepolisian, yang langsung membawa Podin dan memasukkan ke dalam tahanan di Polsek Karawang.


    "Pak Polisi .... Saya jangan dipenjara, Pak .... Tolong saya dibebaskan, Pak .... Pak Polisi ...." Podin pun langsung meronta tidak mau dimasukkan ke dalam penjara.


    "Sudah .... Kamu masuk saja dulu .... Jangan ribut ...!!" bentak polisi itu pada Podin.


    "Tapi, Pak .... Saya tidak mencuri .... Saya bukan maling .... Saya masuk rumah saya sendiri ...." Podin masih berusaha protes.


    Namun polisi tidak mau kompromi. Podin tetap disuruh masuk ke dalam penjara. Tentunya petugas kepolisian juga tidak mau melepas begitu saja, tidak mau percaya begitu saja dengan pengakuan Podin sebagai pemilik rumah.


    "Huhuhu ...." Podin menangis di dalam penjara.


    "Hei ..., ngapain nangis ...?! Bisa diam, kagak ...!!" tiba-tiba ada yang membentak Podin dari dalam sel tahanan itu.


    Ya, ternyata Podin sudah dimasukkan dalam sel tahanan sementara di Polsek Karawang. Podin dimasukkan ke dalam penjara. Dan tentunya, di sel tahanan itu sudah ada beberapa orang yang ditangkap oleh polisi, tentu dengan berbagai kasus. Melihat Podin yang baru saja dimasukkan ke dalam sel tahanan itu, dan Podin menangis, padahal sudah cukup tua, tentu orang-orang yang sudah ada di dalam tahanan itu menjadi merasa terganggu. Berisik dan tidak nyaman didengar di telinga. Pantas kalau mereka langsung membentak Podin yang menangis itu.

__ADS_1


    Podin kaget. Podin terkejut. Podin takut karena dibentak oleh para tahanan yang lain. Dan pastinya, saat Podin menoleh ke arah orang-orang yang ada du sel tahanan itu, dengan tubuh yang besar dan kekar-kekar, bahkan lengan dan kakinya bertato, pasti membuat Podin keder. Membuat Podin ketakutan. Ya, ini memang pertama kali Podin masuk ke kantor polisi, dan pertama kali pula ia tahu tentang ruang tahanan. Apalagi kali ini dirinya dimasukkan dalam ruang tahanan, dan ketemu dengan orang-orang yang tampak sangar. Pasti Podin gemetar karena takut.


__ADS_2