
Warung Pok Rina sudah lumayan terkenal. Sudah punya banyak pelanggan. Dan tentunya pembelinya lumayan ramai. Apalagi di pagi hari saat orang-orang mencari sarapan. Demikian juga pada siang hari saat karyawan pabrik pada istirahat untuk makan siang. Dan tentunya juga petang hari, saat orang-orang pada makan malam.
Oleh sebab itulah, Rina sudah tidak mungkin untuk bekerja sendirian mengurusi dapur. Meski ada suaminya yang juga sering membantu, tetapi kalau urusan masak-memasak, Podin angkat tangan. Ia tidak sanggup masak. Paling-paling hanya membantu mengambili piring dan gelas kotor bekas orang makan. Dan yang jelas membantu mengantar istrinya ke pasar untuk berbelanja segala kebutuhan, setiap dini hari di Pasar Pagi.
"Mas Podin .... Pelanggan kita sekarang ini sudah terlalu banyak. Masakannya harus ditambah terus. Bagaimana kalau kita cari orang untuk membantu pekerjaan kita di warung ini? Biar bisa lebih cepat dan bisa memenuhi pesanan semua pelanggan kita, Mas ...." kata Rina pada suaminya, tentunya minta pertimbangan untuk mencari pembantu di warungnya.
"Iya .... Saya sebenarnya juga sudah berpikiran seperti itu, biar kamu tidak terlalu berat, biar kamu ada yang membantu. Dan setidaknya juga akan meringankan pekerjaan kita. Ya ..., seperti Bu Hendro yang meminta kamu untuk membantu itu, tujuannya pasti juga ingin meringankan pekerjaan di warungnya. Ya kalau memang kamu sudah berniat seperti itu, sekarang tinggal cari, ada ndak orang yang mau membantu pekerjaan di warung kita ini?" begitu kata Podin kepada istrinya, yang tentunya setuju kalau istrinya ingin mencari pembantu di warungnya.
"Iya, Mas .... Nanti saya akan coba tanya-tanya, kalau sekiranya ada yang berniat dan mau membantu kita, nanti biar mereka ikut bekerja di sini. Dan di rumah kita juga masih ada satu kamar, biar nanti dia tinggal di kamar kita, tinggal di rumah ini, sekalian mengurusi semua pekerjaan rumah. Itu kalau ia tidak pulang, juga nggak masalah kan .... Tapi kalau misalnya dia itu orang dekat-dekat sini, mau pulang juga tidak apa-apa. Yang penting pekerjaan kita cepat beres, cepat selesaim dan tidak terlalu berat, Mas. Saya sebenarnya kasihan juga dengan Mas Podin, karena setiap hari, pagi-pagi sebelum fajar, Mas Podin sudah mengantar saya ke pasar. Dan tentunya masuh membantu lagi untuk menyiapkan peralatan, untuk mengangkut barang-barang, mengusung belanjaan, dan juga meladeni para pembeli yang pada berdatangan. Saya sendiri juga tidak tega melihat Mas Podin kecapean, kelelahan, apalagi ngantuk. Saya kasihan sama Mas Podin." begitu sahut Rina yang tentunya juga melihat bahwa suaminya sudah banyak membantu dan pasti kecapean.
"Sebenarnya sih, tidak apa-apa .... Ini kan sudah menjadi kewajiban kita dalam rumah tangga, saling membantu dan bekerja sama. Tetapi kalau memang kita ada tambahan tenaga yang bisa membantu di tempat kita, setidaknya akan mengurangi beban kita. Mengurangi kecapean kita. Apalagi kalau menyaksikan Rina, yang pasti terlalu capek, dari petang sampai pagi, hingga petang lagi, kerja terus, kurang tidur. Saya juga merasa kasihan sama dirimu, Rina ...." begitu sahur Podin, yang tentunya juga melegakan hati Rina.
"Iya, Mas .... Terima kasih sudah bisa menerima usulan saya. Semoga saja nanti kita cepet dapat orang yang mau membantu di warung kita." kata Rina.
Akhirnya, Rina menyampaikan niatannya untuk mencari orang yang mau membantu bekerja di warungnya itu kepada orang-orang yang berdatangan ke warungnya. Dan tentu karena para pelanggan di situ banyak, ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Rina, maka di antara mereka pun ada yang langsung menawarkan diri untuk memberi tahu tetangganya, ada juga saudaranya yang ada di kampung.
Ya, benar seperti yang sudah direncanakan, akhirnya Rina dan Podin menerima salah satu dari orang-orang yang ditawarkan oleh para pelanggan itu, untuk jadi membantu Rina di warungnya. Ya, tentu bayarannya tidak begitu besar, tetapi setidaknya orang itu bisa makan minum dan tidur di tempatnya Rina. Memang, enaknya orang bekerja di warung makan adalah tidak bakal kelaparan, karena selalu mendapatkan makan sepuasnya.
Hari itu, seorang perempuan muda, masih gadis, yang berasal dari daerah Jawa datang bersama dengan saudaranya yang bekerja di pabrik. Yang tentunya perempuan itu diajak merantau untuk bekerja di tempatnya Rina, membantu berberes, membantu memasak, membantu melayani para pelanggan di warungnya.
Perempuan itu masih berusia sekitar sembilan belas tahun. Namanya Puput. Masih seorang gadis, belum punya suami, juga belum punya pacar. Tentunya diajak yang sebutannya ke Jakarta, meski hanya di pinggirannya saja, setidaknya bisa meringankan beban ekonomi keluarganya yang ada di desa. Memang, orang-orang pada pergi ke Kota Metropolitan, orang-orang pada pergi ke kawasan Jakarta, maupun daerah-daerah di sekitarnya yang termasuk pinggiran Jakarta, semuanya adalah demi mencari ekonomi. Itu alasan utamanya. Maka gadis yang hanya lulusan SMP itu pun bersedia menjadi pekerja, membantu meladeni di warung makan tempatnya Rina. Yang penting bisa bekerja untuk mencari uang.
"Nama kamu, siapa Neng?" tanya Rina waktu pertama kali anak itu datang di warungnya, diantar oleh saudaranya yang menjadi karyawan pabrik.
"Puput, Bu." jawab anak perempuan itu, yang namanya adalah Puput.
Puput ini merupakan anak nomor tiga dari lima bersaudara. Dua orang kakaknya sudah berkeluarga, sudah berumah tangga. Sedang dua adiknya masih sekolah SMP dan SD. Tentu orang tuanya butuh biaya untuk menyekolahkan adik-adiknya. Kini, dia menjadi tumpuan dari keluarganya untuk membantu ekonomi orang tuanya yang ada di kampung.
"Puput sudah bisa masak?" tanya Rina pada anak perempuan yang sudah bersedia membantu di warungnya itu.
"Sedikit-sedikit, bisa, Bu .... Tapi, ya rasanya masakan desa tidak karuan." jawab Puput yang tentunya masih minim pengalaman dalam memasak, karena memang dirinya belum berumah tangga, masih gadis lajang yang belum paham tentang pekerjaan dapur. Paling-paling kalau di rumah, ia hanya membantu ibunya memasak di dapur, seadanya saja, masakan orang desa. Puput memang masih sangat minim pengalamannya dalam masak-memasak.
"Ya .... Tidak apa-apa. Saya dulu juga tidak bisa masak. Yang penting nanti kamu bisa membantu saya, bisa membuatkan minuman untuk para pembeli, bisa membuatkan es teh kalau ada yang mau pesan, atau bikin kopi. Yang penting kamu di sini betah. Yang penting kamu di sini bisa menikmati suasana di pinggiran kota Jakarta ini, yang masih ramai seperti di sini. Dan kamu nanti juga membantu kami untuk menyediakan dan menyiapkan makanan para pelanggan warung ini. Kemudian juga membantu cuci-cuci piring dan cuci gelas." begitu kata Rina yang memberikan instruksi kepada anak itu. Pastinya Rina tidak akan memaksa anak itu untuk pandai memasak, tetapi setidaknya anak itu nanti akan belajar sambil berjalan.
"Iya, Bu .... Terima kasih sudah bisa diterima kerja di tempat ini." jawab gadis itu.
Puput yang tentunya senang, punya pengalaman pertama kali bekerja di pinggiran Metropolitan. Suasana yang sangat jauh berbeda dengan di kampungnya. Apalagi ia bisa bekerja, bebas tanpa harus membayar uang kost maupun makan minum. Tentu bayarannya nanti akan utuh. Dan orang tuanya di kampung pasti senang mendengar anaknya bekerja di Jakarta.
"Kamu sudah pernah ke Jakarta apa belum?" tanya Rina pada anak itu.
"Belum, Bu .... Ini kemarin juga dijemput oleh Pak-Lek, saudara saya. Katanya saya akan diberi pekerjaan di sini. Ya, daripada nganggur di rumah, tidak punya pekerjaan apa-apa, yang penting Sekarang saya bisa cari uang untuk membantu bapak dan ibu di desa." begitu jawab anak itu.
"Tidak apa-apa .... Sekarang kalau kamu berniat bekerja, yang penting kerja itu harus sungguh-sungguh. Kerja itu harus yang benar, jangan asal-asalan .... Kerja apapun, yang penting halal .... Pasti rezekinya akan berkah dan barokah .... Nanti kalau kamu kerjanya sungguh-sungguh, besok suatu ketika, saat kamu sudah berumah tangga, kamu akan tahu betapa pentingnya orang itu rajin di dalam bekerja. Kamu bisa pinter masak, dan juga pinter cari uang. Untuk menopang kebutuhan keluarga kamu ...." begitu nasehat Rina pada gadis itu.
Puput pun mulai bekerja, membantu Rina sebagai pelayan rumah makan di warung makan tempatnya Rina. Dan tentunya, Puput mulai senang bisa bekerja, karena tentunya akan dapat uang yang nantinya bisa digunakan untuk membantu ekonomi keluarganya yang ada di desa. Puput mulai bekerja dengan senang hati.
"Puput ..., tolong ini bantu. Panci-panci sayuran ini ditaruh di arak-arak makanan itu." kata Rina yang menunjukkan masakan-masakan dalam panci untuk diletakkan di rak tempat jualannya.
"Iya, Bu." begitu jawab Puput yang langsung beranjak menata panci-panci dan baskom berisi sayur serta lauk pauk di rak makanan dagangan Rina.
"Wah ..., ini dia .... Pok Rina sudah punya pelayan baru ya?" kata seorang pembeli yang baru saja datang di warungnya. Pasti akan sarapan pagi.
"Iya .... Ini saudaranya Kang Mitro, dari desa."
__ADS_1
"Oh ..., pantesan kemarin Mitro izin nggak berangkat kerja. Berarti menjemput saudaranya ini, ya ...." kata laki-laki yang memang temannya saudara Puput itu.
"Katanya begitu ...." sahut Rina.
Kemudian laki-laki itu duduk di tempat makan, dan langsung memesan untuk sarapan pagi.
"Sarapan, Pok ...." kata laki-laki itu memesan.
"Pakai apa?" tanya Rina yang sudah siap meladeni.
"Nasi sama orek tempe .... Lauknya telur goreng." jawab yang pesan.
"Telurnya yang ceplok apa yang dadar?" tanya Rina yang akan mengambilkan lauk telur.
"Yang dadar saja, biar tebal dan ada pedas-pedasnya." sahut si pembeli.
"Minumnya apa, Mang?" tanya Rina lagi.
"Kalau ada, kopi panas." kata orang itu.
"Pasti ada .... Puput ..., tolong buatkan kopi panas untuk Mang Jajak." kata Rina yang menyuruh Puput untuk membuatkan kopi panas buat pelanggan pertamanya yang datang di pagi itu.
"Iya, Bu ...." jawab Puput, yang tentu agak grogi, karena ini adalah kali pertama ia membuatkan minuman kopi kepada orang lain di warung makan. Tentunya agak khawatir kalau rasanya kurang enak.
Lantas Rina meladeni, membuatkan nasi dengan sayur orek tempe yang dikasih lauk telur dadar. Kemudian menyerahkan pesanannya itu ke pembeli. Demikian juga Puput, yang mengantarkan kopi panas ke meja orang itu.
"Waah ..., enak sekali kopinya .... Mantap .... Semanis orang yang bikin ...." kata laki-laki yang menikmati sarapan itu.
Puput tersenyum malu, merasa terlalu dipuji. Padahal tadinya sangat takut kalau kopi bikinannya itu tidak enak.
Sebentar kemudian, para pelanggan yang lain pun mulai berdatangan. Warung Rina mulai ramai. Warung makan itu mulai penuh sesak. Rina mulai sibuk meladeni permintaan para pelanggan. Demikian juga Puput, yang baru pertama kali bekerja, sudah merasakan sibuknya orang meladeni para pembeli.
"Mas Podin ...! Tolong di bantu, Mas ...!" kata Rina memanggil suaminya untuk membantu di warung.
"Iya, Rin .... Saya dapat bagian apa?" tanya Podin yang sudah datang, dan tentu langsung melihat gadis yang membantunya di warung istrinya itu.
"Ambili piring-piring dan gelas kotor di meja makan, terus bantu cuci ...." kata Rina yang menyuruh suaminya.
"Beres ...." sahut Podin yang langsung beranjak mengambili perkakas kotor, tempat makan para pelanggannya. Dan tentunya, Podin seolah membantu istrinya sambil bergaya. Ya, ada gadis di warung istrinya. Pasti mata Podin berkali-kali melirik perempuan itu.
Hingga sekitar jam delapan, warung Rina mulai terlihat agak lengang. Tentunya para pelanggan sudah pada masuk kerja di pabrik. Sehingga lumayan, Rina bisa tenang sejenak. Bisa agak santai untuk melemaskan ototnya, setelah sejak dini hari tadi ia bersibuk di dapur.
"Oh, iya .... Aku kok lupa ...?!" tiba-tiba Rina tersentak. Ada sesuatu yang membuatnya terjingkat.
"Ada apa, Rin?" tanya Podin yang belum beranjak masuk rumah, tentu karena di warungnya ada gadis hitam manis yang baru saja dikenalnya, Puput, perempuan yang membantu Rina.
"Anu, Mas .... Anak itu .... Anak itu terlupakan ..." kata Rina yang ingat sesuatu.
"Anak itu siapa?" tanya Podin.
"Anak perempuan cilik yang sering datang di depan kita .... Tadi pagi saya tidak sempat melihatnya .... Waduh ..., tadi pagi kemari apa tidak, ya ...?" Rina lupa kalau pagi tadi ia belum sempat memberikan sebungkus nasi untuk pengemis cilik yang selalu datang di depan warungnya.
"Apa anaknya kemarI?" tanya Podin pura-pura, padahal ia mulai khawatir.
__ADS_1
"Saya lupa, Mas .... Belum sempat melihat anak itu .... Semoga saja sebentar lagi ia kemari." kata Rina lagi.
"Iya, Rin .... Kalau begitu, saya masuk rumah dahulu .... Saya tidak tega." kata Podin yang langsung masuk rumah.
"Iya, Mas .... Semoga saja ia datang." kaya Rina yang justru penuh harap dengan kedatangan anak itu. Makanya, kini Rina mulai menyiapkan bungkusan nasi dengan lauk pauk, tentunya sambil memandangi jalanan terus. Siapa tahu anak itu akan melintas.
"Anak siapa, Bu?" tanya Puput ingin tahu.
"Pengemis cilik .... Kasihan, anak itu bisu dan tuli." jawab Rina.
"Apa anak itu, Bu ...?" tanya Puput sambil menunjuk.
"Mana ...?" tanya Rina.
"Itu ..., yang duduk di kursi pojok itu ...." kata Puput yang kembali menunjuk ke arah pojok ruang makan Rina.
"Hah ...?! Iya, benar .... Ya ampun ....Sejak kapan anak itu duduk di situ ...?!" kata Rina yang bingung karena tadi tidak melihatnya.
"Sudah lumayan lama, Bu .... Sejak masih ada orang-orang yang pada makan di sini tadi ...." jawab Puput yang ternyata sudah cukup lama melihat anak itu.
"Ya ampun .... Kok Puput tidak bilang kalau ada anak itu ...." kata Rina yang langsung membawa bungkusan plastik kresek berisi makanan dan lauk buat anak itu.
"Saya tidak tahu kalau anak itu mencari Ibu .... Maaf, Bu ...." kata Puput yang merasa bersalah.
"Ndak papa .... Besok kalau kamu melihat anak itu, kasih tahu saya, ya ...." kata Rina yang akan memberikan bungkusan itu kepada anak kecil itu.
"Maaf, ya .... Ibu tidak melihat kedatanganmu .... Ini nasinya. Dimakan, biar kenyang ...." kata Rina yang menyerahkan bungkusan nasi pada perempuan cilik itu.
Seperti biasa, anak itu diam tidak menjawab. Hanya menerima bungkusan itu. Lantas turun dari kursi makan yang didudukinya, dan pergi meninggalkan warung Rina.
Rina tersenyum puas, sudah bisa memberikan jatah makan untuk anak itu.
"Lhoh, Bu ..., anak itu ke mana ...?!" tanya Puput yang kaget, karena barusan melihat Rina memberikan bungkusan makanan kepada anak itu, tetapi tiba-tiba saja sudah tidak ada di tempatnya.
"Sudah pulang ...." sahut Rina yang yakin kalau anak itu tadi turun dari kursi dan pergi meninggalkan warungnya.
"Pulangnya ke mana ...?! Kok saya tidak melihatnya ...?!" Puput mulai heran.
Rina langsung berlari keluar. Ia menengok jalan. Memandangi jalan yang menuju ke arah perempatan itu. Namun, memang anak itu sudah tidak terlihat. Anak itu sudah tidak ada.
Demikian juga Puput, yang ikut berlari ke jalan, dan ikut memandangi jalan yang ditatap oleh makilannya. Tetapi toh juga tidak melihat anak itu.
"Aneh .... Cepat sekali anak itu menghilang. Apa ia berlari ...?!" Rina juga heran.
"Rumahnya mana, Bu ...?" tanya Puput yang masih memandangi jalanan.
"Biasanya dari perempatan itu membelok ke kiri." jawab Rina.
"Masak baru sebentar sudah membelok dan tidak kelihatan? Apa larinya sangat kencang?" kata Puput yang terheran.
"Ya, sudah .... biar saja .... Besok ia juga akan kemari lagi, kok ...." kata Rina yang langsung mengajak Puput kembali ke warungnya.
Hari itu. Pagi itu, pertama kali Puput bekerja di tempat Rina, sudah menyaksikan keanehan yang terjadi di sana. Entah esok hari, akan ada kejadian aneh apa lagi yang akan dialaminya.
__ADS_1