
Sejak pagi, Ajang, pemilik kapal yang disewa oleh Podin untuk mengantarnya ke Pulau Berhala, belum juga kembali ke pangkalan wisata pantai. Kapal itu belum kelihatan hingga matahari sudah mulai bergeser ke arah barat, Tentunya sudah melewati waktu bedug. Dan biasanya, saat mendengar suara bedug siang, orang-orang mestinya berhenti sejenak, untuk menghormati Dzat yang akan lewat.
Maka, teman-temannya, para tetangganya, orang-orang yang ada di kawasan wisata Pantai Cipatujah itu, mulai bertanya-tanya. Kemana sebenarnya perginya Ajang mengantarkan penyewanya tadi? Dan pertanyaan besar pun menjadi ramai ketika ada seorang perempuan setengah baya, yang cantik dan bahenol itu datang ke objek wisata itu, datang langsung di tempat bersandarnya kapal-kapal sewaan. Perempuan itu tidak lain adalah istri Mang Ajang yang juga berprofesi sebagai penyewaan kapal wisata. Perempuan itu bertanya kepada orang-orang yang berada di tempat penyewaan kapal yang sedang beristirahat.
"Mang ..., bapaknya mana ...? Kok tidak kelihatan ...? Dari pagi belum ngabari, dan juga tidak pulang .... Ini makanannya sampai harus saya bawa ke sini .... Apa ramai, kok bapaknya tidak mau pulang ...?" begitu kata perempuan itu yang tidak lain adalah istri dari Mang Ajang, laki-laki gemuk yang kapalnya disewa oleh Podin.
"Tadi pagi kapalnya disewa orang .... Katanya akan diberikan ongkos yang besar, dia akan dibayar sepuluh kali lipat .... Makanya ia langsung mengantarkan orang itu, yang menyewa kapalnya sendirian ...." kata salah seorang temannya yang tahu saat kapal suaminya itu disewa oleh orang, yang pagi-pagi tadi datang ke objek wisata Pantai Cipatujah.
"Disewa ke mana ...?" tanya istrinya yang tentu ingin tahu. Perempuan itu sambil menjinjing rentang berisi makanan yang akan digunakan untuk mengirim suaminya, karena suaminya belum pulang, maka dia pun membawakan makanan untuk makan siang suaminya.
"Waduh ...?! Saya tidak tahu disewa ke mana .... Coba tanya yang lain, mungkin ada yang tahu .... Karena saya tidak mendengar perjanjiannya." begitu Kakak salah seorang dari teman yang menyewakan kapal-kapal wisata di objek wisata Cipatujah tersebut.
"Akang ..., apakah Akang tahu suami saya pergi ke mana?" tanya perempuan itu kepada para pemilik kapal yang lain, yang tentu juga masih pada istirahat. Bahkan ada juga yang sedang menikmati makan siang kiriman istrinya.
"Oh ..., ya .... Suamimu pergi mengantarkan wisatawan yang menyewa kapalnya ...." kata salah seorang dari rekan-rekannya yang ada di situ.
"Iya, Mang .... Perginya ke mana? Disewa ke mana? Yang menyewa itu laki-laki apa perempuan?" tanya istrinya lagi yang tentu ingin tahu ke mana suaminya melaut, dengan siapa suaminya pergi.
"Hahaha .... Cemburu ya ...?!" ledek salah satu teman suaminya.
"Iih ...., Akang .... Gak .... Biar saja kalau mau kawin lagi ...." tentu istrinya itu jengkel karena diledeki.
"Katanya, tadi disuruh mengantarkan laki-laki ke Pulau Berhala." jawab salah seorang yang ada di penyewaan kapal itu.
"Walah ...?! Ya ampun .... Kok ya mau disuruh nganter ke Pulau Berhala ...?! Kok boleh disewa ke Pulau angker itu. Ya ampung Mang .... Kenapa Kamu mau ...?! Kok beraninya pergi ke Pulau Berhala, sih ...?! Huhuhuhu ...." perempuan itu, istri dari pemilik kapal yang disewa oleh Podin, langsung menangis begitu mendengar kalau suaminya mengantarkan orang yang menyewa kapalnya menuju Pulau Berhala. Ya, bagi masyarakat di sekitar daerah itu, memang sangat takut dan sangat khawatir kalau sampai mendengar ada orang yang mendekat atau pergi ke Pulau Berhala. Tentunya karena Pulau Berhala memang sangat menakutkan dan menjadi pantangan bagi masyarakat di situ. Karena Pulau Berhala merupakan pulau larangan yang tidak boleh didekati oleh siapa saja. Pulau itu sangat berbahaya, karena siapa saja yang mendekat ke pulau itu tidak bakal bisa pulang atau kembali ke rumahnya.
"Ini bagaimana, Mang ....?! Ini sudah sampai kelewat siang begini, Mang Ajang belum juga pulang .... Ya ampun ..... Huhuhu .... Ini nanti bagaimana nasib bapaknya? Bagaimana nasib suami saya? Pak, Mang, Akang ..., tolong carikan suami saya ..... Bagimana ini, Pak ...?! Sudah sampai siang begini, bahkan sudah hampir sore, kok juga tidak kasih kabar .... Bagaimana ini, Mang Ajang belum pulang .... Huhuhu ...." perempuan itu tentu menangis, karena sangat khawatir dengan suaminya yang pergi ke Pulau Berhala. Ia takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan suaminya. Makanya ia meminta bantuan teman-temannya untuk mencari.
"Waduh ...?! Kalau saya disuruh nyari ke Ptlau Berhala, saya tidak berani .... Tolong kamu saja ...." kata salah satu dari orang-orang temannya Mang Ajang.
"Tolong lah, Pak .... Tolong, Om .... Mohon tolong bapaknya anak-anak .... Tolong suami saya .... Bagaimana suami saya ...?! Bagaimana nasibnya dia ....?! Tolong dicarikan, bagaimana nasibnya ...? Apakah dia selamat atau bagaimana ...? Huhuhuhu ...." tentu perempuan istri Mang Ajang itu menangis sejadi-jadinya. Ia meratapi nasib suaminya, yang mestinya suaminya itu tidak boleh melintas ke Pulau Berhala, tetapi kenyataannya dia malah mengantarkan wisatawan, dia malah pergi bersama orang yang menyewa kapalnya untuk mendatangi Pulau Berhala tersebut.
"Gimana ini ...?! Mang Ajang sudah sampai hampir sore tidak pulang ...?! Apakah keadaannya baik-baik saja ...?! Atau bagaimana, ya ...?!" kata salah seorang dari pemilik-pemilik kapal yang disewakan itu kepada teman-temannya.
"Wah .... Saya nggak tahu .... Saya juga tidak berani untuk datang ke pulau itu. Makanya tadi pagi saya menolak tidak bakal mau untuk mengantarkan orang itu pergi ke Pulau Berhala." begitu kata salah satu dari pemilik kapal yang disewakan.
"Lha terus ..., ini bagaimana ...?! Apa Mang Ajeng dibiarkan saja ...?! Atau kita mencari Mang Ajang ...?!" tanya orang yang lainnya, yang tentunya juga mulai mengkhawatirkan keadaan temannya itu. Tentu karena hari sudah sampai kelewat siang, tetapi temannya yang pergi melaut mengantarkan penyewanya itu belum juga pulang. Artinya kalau dihitung dengan waktu dari pagi sampai kelewat siang, harusnya dia sudah kembali ke pangkalan. Harusnya dia sudah masuk ke pelabuhan lagi. Tetapi kali ini, bahkan sudah menjelang sore, Mang Ajeng belum juga pulang ke Pangkalan tentunya teman-temannya juga mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimanapun juga mereka adalah temannya, yang tentu mempunyai perasaan senasib seperjuangan, mempunyai solidaritas sesama teman, dan tentu merasa khawatir dengan temannya yang belum pulang itu.
"Lah ..., terus bagaimana ini ...?! Kita harus bagaimana ...?! Apa yang harus kita lakukan ...?! Apakah kita harus menyusulnya ke Pulau Berhala ...?!" berbagai pertanyaan tentu diungkapkan oleh orang-orang yang ada di situ. Mereka memang teman-teman yang saling akrab dan selalu mau membantu kalau ada kerepotan. Mereka merasa satu saudara sebagai kelompok yang menyewakan kapal-kapal di tempat wisata itu. Tentu rasa persaudaraannya sangat kuat.
"Wah .... Terus terang saja, kalau saya tidak berani ...."
"Saya tidak sanggup untuk masuk ke Pulau Berhala ...."
"Terus terang saya takut untuk melintas ke Pulau Berhala ...."
"Jangan ajak saya .... Saya tidak mau .... Anak saya masih kecil-kecil ...."
"Gimana, sih ...?! Kalian itu tidak solider .... Teman kita mengalami nasib kok pada tidak mau menolong ...!" kata salah satu temannya yang tentu merasa kasihan dengan nasib si Ajang. Apalagi saat menyaksikan istrinya yang terus-terusan menangis.
"Iya, ya .... Kasihan si Ajang ...."
"Lha terus bagaimana ...?! Masalahnya saya takut ...." temannya yang tentu juga ketakutan untuk datang ke Pulau Berhala, pasti saja beralasan.
"Wah ..., kamu itu tidak solider dengan teman sendiri .... Itu tidak baik. Masak kepada teman sendiri, masak temannya mengalami bencana, kamu tidak mau membantu, kamu tidak mau menolongnya." kata yang lainnya yang tentu dia juga tidak ingin temannya senasib seperjuangan itu mati konyol di Pulau Berhala.
__ADS_1
"Lha, terus bagaimana ...?! Itu bahaya .... Kalau sampai kita berani ke sana, itu sama dengan kita mau bunuh diri ...." kata yang lainnya.
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk mendekat saja .... Kita tidak masuk, tetapi kita mencari di daerah sekitar pulau itu saja. Ya, kita hanya melihat kesana ...." kata yang lainnya.
"Tapi kita ke sana bersamaan .... Jangan sendiri-sendiri .... Nanti kalau terjadi apa-apa, kita bisa kena bahaya .... Tapi kalau bersamaan, setidaknya lebih aman dan bisa saling membantu." begitu kata yang lainnya, yang memberi solusi untuk mendekat ke pulau itu, mencari temannya yang hilang. yaitu Mang Ajang yang kapalnya disewa oleh orang untuk mengantarkan orang itu masuk ke Pulau Berhala.
Akhirnya, mereka bersepakat untuk membantu istri temannya itu, mengajak mencari suaminya.
"Mang ..., saya ikut ya ...." begitu kata istri Mang Ajang, yang tentu juga khawatir dengan suaminya yang hilang karena pergi ke Pulau Berhala.
"Jangan .... Tidak usah ikut .... Perempuan jangan ikut, nanti malah repot kalau ada apa-apa ..., malah tidak bisa menyelamatkan diri .... Maka sebaiknya, Teteh tinggal di sini saja, tunggu berita dari kami. Jangan ikut pergi mencari, biar kami saja yang mencari di sekitar Pulau Berhala ...." kata salah satu temannya.
"Ya, betul .... Kamu di sini saja ..., tunggu di sini .... Percayakan kepada kami." kata salah seorang yang tentu dia khawatir kalau perempuan itu ikut pasti justru akan merepotkan.
Memang, tentunya perempuan terkadang justru sering merepotkan. Dia tidak bisa mengambil keputusan sesaat ketika terjadi sesuatu. Makanya teman-temannya pun tidak setuju kalau istrinya Mang Ajang itu ikut mencari suaminya, mendekat ke Pulau Berhala. Dan akhirnya perempuan itu pun pasrah. Ia hanya bisa menunggu kabar berita teman-teman suaminya yang mencari Mang Ajang.
Akhirnya siang yang sudah menjelang sore itu, enam orang dengan mengenakan sebuah kapal berangkat mencari temannya yang hilang. Kapal itu pun melaju perlahan, tentu mereka masih dihantui dengan ketakutan cerita-cerita mistis tentang Pulau Berhala yang sangat berbahaya itu. Namun karena dia harus mencari salah seorang temannya yang membawa kapal yang disewa oleh pengunjung, tentunya mereka pun dengan rasa was-was dan dengan berhati-hati, mereka menjalankan kapal perlahan-lahan mendekati ke Pulau Berhala. Tentunya mereka sudah melengkapi dirinya dengan menggunakan baju pelampung, bahkan di dalam kapal itu juga sudah disebiakan ban-ban untuk berjaga-jaga. Ya, mereka pasti juga takut dengan cerita-cerita yang sudah mereka dengar tentang bahayanya mendekat ke Pulau Berhala. Oleh sebab itulah, enam orang yang berada di dalam kapal itu, yang mencari temannya itu, mereka benar-benar menyiapkan diri dengan perlengkapan keselamatan yang sudah mereka kenakan, dan bahkan mereka pun tidak berani menjalankan kapalnya secara cepat. Mereka hanya menjalankan kapalnya yang menggunakan motor tempel itu secara perlahan-lahan.
Kapal yang mereka tumpangi itu terus mendekat ke arah Pulau Berhala.
"Kita ke mana ...?" tanya salah satu dari enam orang itu, yang ada di bagian belakang kapal, yang memegangi motor tempelnya, untuk menjalankan kapal itu ke arah Pulau Berhala. Tentu orang itu ingin tahu arahnya, kira-kira akan mencari Mang Ajang ke daerah mana.
"Jangan terlalu mendekat dengan Pulau Berhala .... Lebih baik kita mengelilingi di sekitarnya saja. Siapa tahu nanti kita akan melihat, akan ketemu kapalnya. Dan siapa tahu dia juga masih berada di sekitar ini." sahut yang lain.
"Kita amati pesisir yang ada di Pulau Berhala saja .... Siapa tahu nanti si Ajang juga sedang mencari bantuan kita, dia sedang menunggu bantuan dari orang lain .... Mungkin saja Mang Ajang ada di pesisir, berdiri sambil menanti kedatangan kita ...." begitu kata yeman yang lainnya.
"Nanti kita kan juga bisa melihat kapalnya. Kemungkinan kapal Mang Ajang macet dan bersandar di pantai." sahut yang lainnya.
"Tapi dimana ya ...? Dari tadi kita kok belum lihat kapalnya ...?" begitu sahut yang lainnya.
Akhirnya mereka perlahan-lahan mengintari Pulau Berhala itu dari kejauhan. Namun tentunya mereka bisa mengamati daerah pesisir yang ada di Pulau Berhala itu. Pasti mereka juga ingin melihat ke pesisir pulau itu, siapa tahu temannya itu beserta dengan kapalnya masih bersandar di daerah pesisir yang ada di Pulau Berhala tersebut. Perlahan-lahan mereka terus mengelilingi pulau yang tidak begitu besar itu, tetapi memang pulau itu sangat rimbun dengan tumbuh-tumbuhan hutan bakau. Sehingga bagian dalam dari pulau itu memang tidak bisa dilihat sama sekali. Karena seluruhnya tertutup oleh rimbunan daun-daun yang sangat lebat dari hutan bakau tersebut.
"Waduh .... Kok tidak ada ya ...? Tidak ketemu .... Kapalnya saja tidak ada .... Padahal kita sudah keliling dua kali ini ...." kata orang yang mengendarai kapalnya.
"Iya, ya .... Kok tidak kelihatan sama sekali .... Apa kita mau mencoba untuk mendekat ke pulau itu lagi ...?" kata salah seorang dari antara mereka, yang tentunya setelah mengelilingi pulau itu mereka belum mendapatkan orang yang dicarinya. Mereka belum menemukan Mang Ajang maupun kapalnya yang ada di sekitar situ.
"Waduh ..... Jangan terlalu mendekat .... Itu berbahaya ...!" sahut yang lain.
"Kita coba sedikit-sedikit .... Nanti kalau misalnya ada bahaya, kita langsung membalik lagi, berputar keluar meninggalkan pulau ini ...." kata temannya yang lain, yang tentu juga ingin mendekati ke pulau itu.
Karena rasa penasarannya, dan tentunya ia juga ingin melihat lebih dekat, agar tahu temannya ada di mana, dan kapalnya juga terletak di mana.
"Ya ..., okelah kalau memang kalian berani .... Kita coba saja, siapa tahu nanti kita akan menemukannya." sahut teman-temannya.
Lantas, orang yang mengemudikan kapal itu, yang memegangi motor tempel pada bagian belakang kapal, perlahan-lahan memajukan kapal itu untuk mendekat ke Pulau Berhala. Dan tentunya sambil mengelilingi perairan di sekitar pulau itu.
Namun tiba-tiba saja, setelah beberapa meter kapal itu mulai berjalan, mereka mulai mendekat ke Pulau Berhala itu, mereka memasuki perairan yang lebih dekat ke Pulau Berhala tersebut, tiba-tiba saja, seakan kapal mereka ada yang menarik. Kapal mereka ada yang menyeret dari dalam laut.
"Ada apa ini ...?! Kenapa ini ...?!" teriak salah seorang dari mereka, yang tentu merasakan ada keanehan pada kapal yang ditumpanginya.
"Ya ..., ada yang menarik kapal kita ...." sahut yang lainnya.
"Awas ..., hati-hati ...!!" seru yang lain lagi.
Ya, tiba-tiba saja, kapalnya ada yang menyeret. Enam orang itu langsung mengamati kapalnya. Mereka melihat di sekeliling kapal itu. Bahkan orang yang memegangi motor tempel itu pun mulai menghentikan jalannya kapal.
__ADS_1
Alangkah kagetnya mereka, ternyata di air, air laut yang ada di bawah kapal itu tiba-tiba saja bermunculan tangan-tangan manusia yang tidak kelihatan tubuhnya. Hanya tangan-tangan saja yang keluar dari air dan berusaha meraih badan kapal itu. Tangan-tangan itu, rupa-rupanya sudah meraih badan kapal. Dan kapal itu sudah diseret oleh tangan-tangan yang bergelantungan di badan kapal itu.
"Walah .... Ada tangan-tangan menyeret kapal kita ...!!" teriak salah seorang yang melihat tangan itu.
"Ini hantu ...!! Ini tangan berhala ...!!" teriak yang lainnya.
"Ayo, cepat pergi ...!! Ayo, tinggalkan tempat ini ...!!" begitu salah seorang berteriak ketakutan saat menyaksikan tangan-tangan yang sudah mengelilingi kapalnya itu, dan tentunya langsung mengajak pergi.
Maka sang pemilik kapal, orang yang memegangi motor tempel itu pun langsung memutar haluan dan langsung menancap gas dari motor tempel yang ada di belakang kapalnya. Dan bahkan kapal itu hampir saja terjengat ke atas karena saking kencangnya gas dari motor tempel yang ditarik begitu saja oleh sang pemilik kapal itu. Mereka langsung melarikan diri, mereka ketakutan, mereka tentu sangat miris menyaksikan kejadian itu.
"Ayo cepat ...!!"
"Aku takut ...!!"
"Aku tidak mau mati ...!!"
Orang-orang yang ada di dalam kapal itu berteriak ketakutan. Mereka ingin cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu, dan tentunya mereka tidak ingin mendekat lagi karena tempat itu ternyata memang benar-benar ada berhala-berhala yang sudah mengancamnya, ada berhala-berhala yang akan memangsanya.
Akhirnya, mereka meninggalkan lautan itu dengan tangan hampa, tanpa hasil apapun. Enam orang yang naik kapal itu, kembali ke pelabuhan tempat persewaan kapal-kapal wisata di Pantai Cipatujah. Tentunya, mereka semuanya pulang dengan wajah pucat, karena ketakutan menyaksikan keanehan yang terjadi di tepi pantai Pulau Berhala tersebut.
"Bagaimana, Mang ...?!" begitu tanya istri Mang ajang yang tentu dia sangat berharap suaminya bisa ditemukan, saat ia melihat kapal dari teman suaminya itu, yang tadi bersedia mencarikan suaminya, sudah datang ke pelabuhan.
Namun enam orang itu tidak ada yang menjawab. Mereka diam saja. Begitu sampai di pelabuhan, tukang kapal itu langsung mematikan mesin motornya. Mereka hanya sanggup untuk merebahkan tubuhnya dan tentu sambil menarik nafas berkali-kali. Ya, mereka masih dihantui dengan rasa ketakutan yang tidak karu-karuan. Mereka masih dihantui adanya tangan-tangan yang banyak sekali, yang sudah berusaha untuk menarik kapal mereka ke dalam laut.
"Bagaimana ...?! Kalian berhasil menemukan Mang Ajang ...?!" tanya teman-temannya yang lain, yang menunggu kedatangan kapal itu.
Dan orang-orang yang ada di Pantai Cipatujah itu, terutama istrinya Mang Ajang, dan para pemilik kapal, mereka pun langsung mendekati enam orang yang masih tergeletak di atas kapal itu. Mereka langsung menolong teman-yemannya yang tak berdaya dengan wajah pucat itu. Mereka pun menanyakan hasilnya.
"Bagaimana ...?!" tanya temannya lagi.
"Haduh .... Ampun .... Saya tidak berani ke sana lagi .... Saya ketakutan ...." begitu kata salah seorang dengan suara yang kelihatan sekali kalau dirinya ketakutan. Sangat kelihatan sekali kalau enam orang itu mengalami sesuatu yang terjadi, yang pastinya peristiwa menakutkan yang menimpa pada mereka.
"Bagaimana ...? Ada apa ...?! Berhasil apa tidak ...?! Ketemu apa tidak ...?! Mana Mang Ajang ...?!" begitu tanya orang-orang, yang ada di sana. Ya, tentunya mereka penasaran. Tentunya mereka ingin tahu apa sebenarnya terjadi.
"Maaf .... Maafkan kami .... Kami tidak sanggup .... Kami tidak berani ...." sahut yang lainnya, yang juga masih tergeletak di atas kapal itu.
"Memangnya kenapa ...?! Ada apa ...?!" tanya teman-temannya yang ingin tahu, kepada enam orang yang berada di atas kapal, yang tentu dia sangat penasaran.
"Di sana menakutkan .... Benar ..., di Pulau Berhala itu benar-benar ada berhala-berhala yang menakutkan. Di sana benar-benar ada hantu .... Ada setan, ada iblis yang menakutkan .... Kami semua ketakutan .... Tadi di atas kapal, kami diseret oleh tangan-tangan yang muncul dari dalam laut. Ya, ada puluhan tangan menyeret kapal dan akan ditenggelamkan. Makanya kami langsung meninggalkan tempat itu. Kami tidak berani mendekat lagi ...." begitu cerita dari si tukang kapal yang ikut mencari Mang Ajang yang hilang di Pulau Berhala.
"Waduh ...?! Lah, terus bagaimana ini ...?! Mang Ajang gimana ...?!" tanya orang-orang yang sudah menolongnya.
"Mang Ajang belum ketemu ...?!" tanya rekannya yang menunggu di pelabuhan.
"Belum .... Mang Ajang tidak ketemu .... Kami hanya sanggup mengelilingi pulau itu dari kejauhan .... Pulau itu menyeramkan .... Kami tidak menemukan Mang Ajang. Bahkan kami tidak menemukan kapalnya." jawab orang yang baru di bantu turun dari kapalnya.
"Mang Ajang .... Huhuhuhu ...." tentu istrinya Mang Ajang langsung menangis.
"Ya ampun .... Bagaimana ini ...?" teman-temannya yang lain ikut kebingungan.
"Ya ..., kami juga bingung .... Tadi saat kami mau mendekat, kapal kami sudah diseret oleh tangan-tangan tanpa ada tubuhnya. Ya, kapal kami akan ditenggelamkan. Mungkin saja, Mang Ajang bersama tamunya itu, sama orang yang menyewa kapalnya, sudah ditenggelamkan di tengah laut saat dia akan masuk ke Pulau Berhala itu. Tangan-tangan itu sangat ganas. Tangan-tangan itu sangat kuat. Dan kami semuanya ketakutan, karena akan ditarik untuk ditenggelamkan di sana. Makanya, kami harus segera melarikan diri dari tempat itu. Kami harus segera meninggalkan Pulau Berhala itu. Kami takut, kami tidak ingin mati sia-sia, kami harus menyampaikan kabar kepada kalian, bahwa semua yang diceritakan oleh masyarakat, bahwa semua yang disampaikan oleh orang-orang tentang Pulau Berhala itu adalah benar adanya. Ya ..., itu pulau yang sangat menakutkan, pulau yang sangat menyeramkan, pulau tempat hunian dari para iblis dan setan, pulau hunian berhala-berhala yang akan memangsa manusia yang berani mendekat ke sana. Makanya saya berpesan kepada kalian semua, jangan sekali-sekali berani mendekat ke pulau berhala itu. Tempat itu sangat berbahaya. Dan itu artinya, kalau kita mendekat ke Pulau Berhala, berarti kita akan bunuh diri. Berarti kita akan menyerahkan diri kita untuk dimangsa oleh berhala-berhala yang menyeramkan ...." begitu kata salah seorang dari enam orang yang tadi sudah bersiap mencari temannya. Namun tentunya, mereka tidak berhasil dan tidak menemukan Mang Ajang yang hilang tersebut. Bahkan jejak kapalnya pun juga tidak ditemukan.
"Huhuhu .... Huahua .... Huhuhu ...." tentu istri Mang Ajang langsung menangis sejadi-jadinya, menangis tidak karuan. Istri Mang Ajang langsung bersduka, dia merasa kehilangan suaminya, tanpa bisa menemukan jenazahnya. Benar istrinya Mang Ajang tidak bisa apa-apa lagi, bahkan temannya tidak ada yang berani mencari jasad suaminya di Pulau Berhala tersebut.
Hari itu, kisah peristiwa tentang Pulau Berhala kembali bertambah seram dengan hilangnya seorang pemilik kapal yang disewa untuk datang ke pulau tersebut. Dan orang itu hilang begitu saja tanpa bisa diketemukan.
__ADS_1