PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 158: PERTANYAAN SANG ISTRI


__ADS_3

    Seperti yang direncanakan oleh Podin, uang yang ia dapatkan dari dalam peti, uang yang ia peroleh dari makhluk kecil yang gundul piaraannya yang tinggal di dalam peti keramat miliknya, semuanya akan digunakan untuk berbelanja, untuk membeli barang-barang dagangan, untuk memenuhi isi tokonya. Uang itu akan diserahkan semuanya kepada istrinya.


    Siang itu seperti yang diharapkan oleh Podin, istrinya akan pulang dari Jakarta, akan kembali ke Parung dan tentunya Cik Melan akan langsung menuju ke tokonya, toko sembako miliknya. Podin berharap akan mempersembahkan uang tambahan modal usahanya itu kepada istrinya. Dan tentunya, harapan Podin adalah istrinya akan tersenyum. istrinya akan senang, istrinya akan menerima uang yang banyak itu dengan gembira.


    "Apa ini, Pah?" tanya Cik Melan kepada suaminya, sambil mengamati barang yang diterimanya, saat Podin menyerahkan uang sebanyak satu tas plastik kresek besar warna hitam.


    "Ini uang, Mah .... Untuk Mamah ...." jawab Podin sambil tersenyum.


    "Uang dari mana, Pah?" tanya istrinya pada Podin. Tentu rasa ingin tahu Cik Melan langsung mempertanyakan pada suaminya.


    "Itu sisa-sisa uang saya, Mah .... Uang simpanan saya, semuanya saya serahkan kepada Mamah. Semua uang itu untuk Mamah, silakan digunakan untuk melengkapi toko kita. Terus terang, saya tidak ingin melihat toko kita ini barangnya sedikit .... Ternyata masih banyak barang yang kurang, barang yang belum ada, barang dagangan yang belum lengkap." jawab Podin kepada Cik Melan, yang tentu ia ingin membahagiakan istrinya.


    "Ya ampun ..., Pah .... Masak Papah masih punya uang simpanan sebanyak ini? Uang sebanyak ini Papah simpan di mana? Ini uang yang sangat banyak, Pah .... Bukan uang yang sedikit ...." kata Cik Melan yang tentunya merasa bingung, merasa aneh karena suaminya ternyata menyimpan uang dalam jumlah yang sangat besar.


    "Iya, Mah .... Memang, saya selalu menyimpan beberapa uang untuk berjaga-jaga ..., siap-siap kalau-kalau sewaktu-waktu memang ada kebutuhan-kebutuhan mendesak, ada kebutuhan-kebutuhan penting, ada kebutuhan yang harus segera diatasi. Dan saya melihat, saat ini, Mamah butuh modal besar. Kita butuh tambahan dana untuk memenuhi usaha kita di toko sembako ini. Mamah pasti masih butuh uang untuk mengisi toko kita. Saya kasihan kalau melihat Mamah, tokonya masih banyak yang luang, masih banyak yang kosong, masih banyak barang-barang yang belum ada di toko kita ini." kata Podin yang tentu sambil menunjukkan wajah polos dan tanpa ekspresi, bahkan malah ke arah muka yang agak sedih, karena memikirkan barang dagangan yang ada di tokonya itu memang belum penuh semua.

__ADS_1


    Cik Melan diam. Dia memegangi tas plastik kresek warna hitam yang berisi uang dalam jumlah yang sangat banyak itu. Ya, plastik kresek yang besar yang penuh dengan uang itu dipegang erat. Zaman modern begini, suaminya masih menyimpan uang dalam plastik kresek. Cik Melan tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan ia lebih termangu. Dan tentunya heran kepada suaminya yang masih punya simpanan uang sebanyak itu. Cik Melan merasa suaminya itu memang orang aneh. Laki-laki yang unik. Laki-laki yang selalu membuat kejutan-kejutan dan sangat misterius.


    Benar, Podin memang laki-laki penuh misteri. Sulit untuk ditebak. Sulit untuk dipercaya. Tidak mudah untuk dikatakan dengan ucapan-ucapan saja. Penglihatan orang awam yang hanya memandang dengan mata biasa, tentu tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Podin itu. Terkadang Podin sangat serius sekali. Tetapi terkadang juga terlihat bloon. Bahkan bisa dikatakan Podin itu orang bodoh. Itulah Podin.


    Cik Melan yang kini sudah memeluk tas plastik kresek besar warna hitam yang berisi penuh uang itu, hanya sanggup menatap wajah suaminya, memandangi Podin yang masih tersenyum. Cik Melan hanya sanggup memandang laki-laki yang penuh misteri itu, suaminya yang aneh. Ia menatap seluruh bagian tubuh Podin, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tentunya Cik Melan ingin memastikan bahwa yang memberikan uang satu tas plastik kresek itu adalah benar-benar suaminya.


    "Kenapa, Mah ...? Mamah tidak setuju? Mamah tidak mau menerima uang itu?" tanya Podin yang semakin risih dilihat oleh istrinya tanpa berkedip tersebut, tatapan istrinya yang seakan penuh selidik terhadap dirinya.


    "Tidak apa-apa, Pah .... Saya hanya heran dengan Papah .... Saya selalu bingung dengan Papah .... Setiap kali Papah mengeluh ke saya, setiap kali Papah menyampaikan masalah ke saya, tetapi kenyataannya yang saya alami sekarang, Papah itu laki-laki yang membingungkan saya. Papah adalah laki-laki aneh yang pernah saya temui. Saat saya butuh Papah, tiba-tiba saja Papah hadir di saat yang tepat. Saat tempat usaha kita kekurangan uang, Papah pun memberikan tambahan modal sekian banyak .... Sebenarnya saya ingin menata sedikit demi sedikit dagangan kita ini. Tidak harus dengan modal yang besar. Toh nanti lama-kelamaan dagangan kita juga akan penuh." kata Cik Melan pada Podin, yang tentunya tidak ingin memaksa suaminya terus mencari tambahan modal.


    "Terima kasih, Pah .... Ternyata Papah itu laki-laki yang baik. Tuhan sudah memberikan berkah yang berlimpah kepada Papah, tanpa perlu dipamerkan, tanpa perlu ditunjukkan kepada orang lain. Bahkan saya sendiri sebagai istri Papah, sampai tidak tahu dengan rahasia-rahasia yang selalu Papah simpan, kekayaan yang selalu Papah sembunyikan." kata Cik Melan yang langsung merebahkan kepalanya di dada Podin. Tentu ia merasa senang, Cik Melan merasa bangga dengan suaminya. Dan kini, Cik Melan merasa dirinya sangat tenang dakam pelukan suaminya.


    Memang, berdasarkan penglihatan Cik Melan, Podin itu sangat baik. Meskipun suaminya itu bisa membeli rumah dengan harga milyaran, bisa membangun toko yang juga harganya satu milyar lebih, tetapi mobilnya biasa saja. Hanya mobil tua yang sudah ketinggalan zaman. Bahkan diejek oleh Bang John, kalau mobil bosnya itu usianya sidah kakek-kakek, sudah tidak keren lagi. Podin tidak mau pamer harta kekayaan. Bahkan ia lebih mementingkan karyawannya daripada memikirkan dirinya sendiri.


    "Mah .... Pakai saja uang itu untuk menambah modal usaha, agar toko kita lengkap dan penuh. Biar toko kita dagangannya ada semua." kata Podin pada istrinya, sambil mengelus rambut istrinya yang kepalanya masih menempel di dada Podin.

__ADS_1


    "Iya, Pah .... Terima kasih. Tapi saya itu heran, Papah itu punya uang banyak segini, dapat dari mana?" kembali Cik Melan menanyakan asal-muasal uang yang dimiliki oleh suaminya. Pastinya Cik Melan juga ingin tahu, apa sebenarnya usaha suaminya itu, sehingga Podin memiliki uang yang sangat banyak.


    Memang, sejak awal Cik Melan bekerja di gedung karaoke, tempat hiburan yang menurutnya tidak begitu banyak menghasilkan uang, yang paling-paling hanya cukup untuk membayar karyawan dan kebutuhan operasional, tentunya tidak mungkin suaminya itu bisa punya uang sebanyak itu. Bahkan Cik Melan sendiri juga tahu, kalau bosnya itu jarang, bahkan hampir tidak pernah mengambil keuntungan dari usahanya.


    Bahkan dulu, waktu Maya masih ada, uang perusahaan justru sering dihabiskan oleh istrinya Podin yang dulu, Maya. Ya, memang Maya senang foya-foya. Maya sering meminta uang ke perusahaan. Tetapi uang itu semuanya dihabiskan oleh Maya. Podin tidak pernah mengambil sama sekali. DEmikian juga waktu istrinya yang bernama Lesti, menelepon meminta uang, oleh Podin, Cik Melan justru dilarang memberikan uang perusahaannya. Itu artinya usaha yang dibuka bersama istrinya, Lesti, tidak memiliki keuntungan yang besar. Lantas, usaha apa lagi yang dimiliki oleh suaminya itu yang bisa menghasilkan uang banyak?


    Memang Podin pernah bercerita juga tentang usaha rumah makan. Namun kenyataannya, rumah makan yang dibicarakan itu pun berhenti. Dan Podin tidak pernah menengok atau pun membicarakannya lagi. Itu artinya, usaha rumah makan itu pun gagal. Mungkin saja, uang yang dimiliki oleh Podin itu adalah hasil penjualan semua aset-aset usahanya yang sudah bangkrut.


    "Mamah tidak perlu khawatir dengan uang itu. Saya bukan pejabat, bukan pegawai. Jadi ..., saya tidak pernah korupsi. Saya tidak pernah makan uang negara. Saya tidak pernah menggunakan anggaran pembangunan negara untuk kepentingan pribadi saya." kata Podin yang berseloroh kepada istrinya.


    "Iya, Pah .... Saya hanya ingin tahu saja. Saya tidak ingin menghabiskan semua uang Papah .... Yang namanya usaha itu tidak gampang, Pah .... Kadang kita nemui untung .... Tapi bisa jadi esoknya kita rugi. Sebenarnya saya pengin, Papah tetap menyimpan sebagian uang untuk saving, Pah .... Yah, kita ini orang swasta, untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu ...." kata Cik Melan yang seakan menasehati suaminya tentang masalah keuangan. Maklum, istrinya Podin ini adalah ahli keuangan. Sarjana akuntansi.


    "Iya, Mah .... Nanti kalau sudah ada untung, kita tabung sedikit-sedikit." kata Podin yang tentu menurut dengan Cik Melan, istri yang dipandangnya sebagai orang pandai tersebut.


    "Tapi bener ya, Pah ..., ini uang Papah sendiri ...?!" tanya Cik Melan, yang kembali menegaskan.

__ADS_1


    "Bener, Mah ...." jawab Podin yang meyakinkan.


__ADS_2